Calon Ratu

Calon Ratu
40


__ADS_3

"Bagaimana tadi kegiatan kamu? apa ada sesuatu yang menyulitkan?" tanya Raja Bhian.


Saat ini pasangan yang sedang mulai merasakan aroma cinta dan asmara itu sudah berada di kamar untuk istirahat. Menghabiskan malam dan menunggu pagi datang untuk hari yang baru.


"Semua lancar meskipun ada beberapa kendala, mungkin bukan kendala sih tapi lebih ke bentuk tidak terima mereka saja" ucap Zhia santai sembari menatap tirai putih yang menutup tempat tidur mereka (lebih mudahnya namanya kelambu kalau di daerah saya).


"Ya sudah pasti mereka akan melakukan protes apa lagi pertandingan yang kamu berikan itu tidak biasa, kebanyak para wanita itu mengikuti pertandingan menyanyi, menari, menyulam, berpuisi atau apapun itu yang sangat biasa di lakukan oleh wanita" kata Raja Bhian.


Zhia mengangguk setuju.


"Cami tahu! tebakan Cami waktu itu benar adanya dan memang terjadi" Zhia berbalik menghadap pria di sampingnya yang sejak tadi sudah menghadap kepadanya.


"Benarkah! lalu?" kaget Raja Bhian karena kabar dari Zhia itu, awalnya dia kata-katanya itu keluar begitu saja secara spontan, tapi siapa sangka kalau itu menjadi nyata.


"Iya, mereka menghina dan mengejek Catri bahkan mengatakan kalau Catri tidak pantas untuk Cami dan banyak lagi yang mereka katakn pada Catri sebagai protes mereka, atau mungkin usaha mereka supaya pertandingan itu di ganti seperti harapan mereka" jelas Zhia.


"Lalu bagaimana Catri mengatasi mereka? pasti mereka sangat berisikkan!" tebak pria itu.


"Ya kamu benar, mereka memang berisik tapi dengan mudah pula Catri membalikkannya dan membungkam mereka semua" ucap Zhia mengeluarkan sedikit semangatnya dan satu tangan yang di kepalkan kedepan seakan dirinya baru memenangkan sesuatu dan sangat bahagia bahkan posisinya sudah kembali terlentang.


Raja Bhian menopang kepalanya dengan satu tangannya untuk lebih mudah melihat wajah Zhia. Sedangkan tangan satunya menaikkan selimut Zhia hingga bawah ketiak, karena tadi selimut itu sedikit tersingkap karena Zhia yang bergerak tiba-tiba. Raja Bhian tidak ingin Zhia kedinginan akibat malam yang memang lebih dingin ini.


"Benarkah!"


"Mereka mengejek dan menghina karena pertandingan yang mereka anggap hanya pantas untuk laki-laki saja, bahkan tidak ada diamnya saling bergantian mereka bicara, sampai akhirnya Catri bilang kalau mereka itu juga sudah menghina kamu Cami karena surat peraturan dan pertandingan itu di sahkan sama kamu, jadi secara langsung atau tidak mereka sudah menghina kamu juga kan" senyum kecil Zhia menatap Raja Bhian yang tersenyum juga.

__ADS_1


"Wah rupanya Calon Istriku ini sangat bijak dan pintar ya, bisa mengatasi sesuatu dengan tenang tanpa emosi, bahkan tidak menggunakan kedudukannya untuk menekan mereka" kagum Raja Bhian yang sebenarnya sudah tahu akan apa yang terjadi di aula tempat Zhia menemui para wanita tadi karena kedua pelayan yang menemani Zhia merupakan orang yang menjadi sumber informasinya akan semua kegiatan Zhia.


Zhia hanya tersenyum manis menanggapi ucapan Raja Bhian karena matanya yang sudah terasa berat hingga akhirnya terpejam.


Raja Bhian mengecup kening Zhia dengan perasaan bahagianya karena bisa bersama wanita seperti Zhia yang cantik dan bisa membuatnya tersenyum dengan perasaan baru yang belum pernah di rasakannya selama ini.


Raja Muda itu merapatkan tubuhnya pada Zhia dan ikut memejamkan mata. Mengejar mimpi indah Zhia dan menyapa pagi esok yang akan kembali membuat mereka sibuk.


 


Zhia tersenyum melihat pemandangan indah di depannya, betapa pemandangan di hadapannya ini baru sekali ini di lihatnya karena biasanya mereka bangun bersama. Tapi kali ini Zhia terbangun lebih dari Raja Bhian yang masih tidur menghadap padanya dengan satu tangan di atas perut Zhia.


Tampannya..bahkan tidur saja tampan apa lagi saat bangun, sungguh meresahkan hati gumam Zhia dalam hati masih dengan senyum manis dan malu-malunya.


Terdengar lenguhan kecil dari pria di hadapan Zhia membuat gadis itu kaget dan secepat kilat bergerak untuk turun dari tempat tidur sebelum ketahuan kalau sedang mengagumi pria itu.


Setelah selesai urusan mereka bersiap diri dan makan pagi, keduanya melanjutkan kegiatan masing-masing.


"Ingat! kalau sudah selesai langsung kembali, masuk ke dalam dan pastikan kelakuan kamu semalam terulang ya, karena Cami akan dengan senang hati memberikan hukuman yang lebih manis dan mesra dari sebelumnya" ucap Raja Bhian tersenyum menggoda pada Zhia.


Gadis yang mengerti maksud hukuman yang di ucapankan Raja Bhian hanha menghela napas saja. Itu sih maunya kamu batin Zhia.


"Mimpi saja sana" ucap Zhia malu kala mengingat ciuman kemarin yang di berikan oleh Raja Bhian untuknya.


Raja Bhian tersenyum melihat Zhia yang berlalu dengan wajah sedikit bersemu malu. Pria itu juga melangkah keluar dari kediaman mereka yang langsung di sambut oleh Panglima Qai dan kasim Poc yang sudah menunggunya.

__ADS_1


Di lihatnya Zhia yang sudah berjalan menjauh bersama pelayan dan prajuritnya mulai mendekati gerbang kediaman.


"Apa kedua penjaga itu sudah di ganti?" tanya Raja Bhian datar.


"Sudah Yang Mulia" sahut Panglima Qai.


"Bagus, kalau sampai penjaga yang kalian berikan tidak sesuai maka kalian yanh akan mendapat hukuman" ancam Raja Bhian serius.


Padahal tadi Raja Bhian baru saja meminta Zhia mengulang kelakuannya kemarin, tapi sekarang sudah lain lagi yang di katakannya pada kedua bawahannya itu.


Kedua bawahan Raja Bhian itu menelan ludah mereka kasar tanpa menjawab, hanya mengikuti langkah kaki sang Raja yang mulai keluar kediaman.


Zhia yang sudah keluar dari gerbang kediaman utama melihat kedua penjaga pintu yang sudah ganti orang. Tidak ada niatan untuk mengulang yang kemarin gadis itu tetap berjalan saja menuju area tempat di mana para wanita yang akan bertanding sudah menunggunya.


"Sejak kapan kedua penjaga itu di ganti?" tanya Zhia pada pelayan yang di belakangnya.


"Sejak kemarin sore Tuan Putri" sahut salah satu pelayan.


Zhia hanya mengangguk, tidak perduli juga dirinya dengan kedua penjaga itu mau di ganti atau tidak. Tadi dirinya hanya heran saja karena penjaga sudah berganti orang, padahal biasanya penjaga di pagi sampai sore hari kedua orang yang di ganggu Zhia semalam, tapi ya terserahlah pikirnya.


Sementara kedua pelayan Zhia saling pandang, teringat akan kejadian kemarin sore di mana mereka di beri peringatan oleh Raja Bhian untuk lebih menjaga Zhia dan memastikan tidak ada kejadian seperti kemarin. Dan beberapa peringatan serta pertanyaan lainnya lagi.


Kalau Putri Zhia seperti putri Raja pada umumnya maka pekerjaan mereka akan mudah, tetapi ini Putri Zhia yang sangat berbeda dengan yang lainnya. Tingkahnya bisa saja tidak terduga dan terjadi begitu saja batin kedua pelayan Zhia itu.


Zhia mendatangi lapangan di mana tempat pertandingan di lakukan, semuanya sudah di siapkan dan tinggal di pakai saja lapangannya. Di sana sudah berkumpul para wanita yang akan bertanding serat kasim yang sudah menunggu kedatangan Zhia.

__ADS_1


"Salam Tuan Putri" ucap kasim dan para prajurit dan pelayan yang ada di sana membantu pelancaran kegiatan.


Sedangkan para wanita hanya diam saja tanpa menyapa Zhia, tapi itu bukan masalah untuk Zhia.


__ADS_2