Calon Ratu

Calon Ratu
81


__ADS_3

Tak terasa hari berlalu dengan cepat, hari ini di mana acara besar yang akan di adakan di istana akan di laksanakan. Tapi ada yang aneh bagi Zhia, dirinya tidak di ijinkan keluar dari kamar dan malah di minta untuk memakai pakaian berwarna merah yang sangat indah.


Belum lagi dirinya yang sedang di rias tidak seperti biasanya. Terlihat lebih wah dan mewah, belum lagi hiasan rambutnya yang cukup beragam hingga lumayan berat di kepala untuk Zhia yang tidak pernah pakai hiasan rambut berlebihan selain tusuk rambut dan jepitan saja.


"Kenapa harus di rias seperti ini sih? sudah seperti acara pernikahan saja" gerutu Zhia dengan bibir yang di majukan cukup kesal.


Apa lagi sejak ia bangun sudah mulai di atur-atur tidak boleh begini tidak boleh begitu. Mandipun ia di bantu dan tubuhnya sempat mendapatkan perawatan atas perintah Ratu Nila yang masih saja mengawasinya layaknya tahanan.


Belum lagi di luar penjagaan sangat ketat dan keluarganya semua berada di kediaman yang tidak terlalu jauh dair kediaman utama. Zhia juga sudah pindah ke sana sejak kedatangan keluarganya untuk melepas rindu.


Tapi siapa sangka kalau dirinya malah akan di kurung.


"Sebenarnya ini ada acara apa sih bu?" tanya Zhia pada Ratu Nila yang duduk santai sembari memegang membaca buku yang ada di tangannya.


"Perayaan penyerahan gelar dan pernikahan" sahut Ratu Nila santai dengan mata yang masih fokus pada buku.


"Penyerahan gelar apa? apa Raja Bhian mau mundur dari gelar Rajanya trus di serahkan ke orang lain gitu? trus yang nikah siapa?" tanya Zhia beruntun.


Ratu Nila akhirnya menutup buku di tangannya dan menatap Zhia yang juga menatapnya lewat pantulan cermin di depannya.


"Sudah selesai?" tanya Ratu Nila pada pelayan yang menghias Zhia.


"Sudah Ratu" sahut pelayan itu.


Ratu Nila mengangguk lalu memerintahkan mereka untuk pergi dengan gerakan tangannya saja.


Ratu Nila mendekati Zhia lalu memegang kedua pipi Zhia dengan kedua tangannya dengan lembut.


"Hari ini kamu akan menikah dengan Raja Bhian dan setelahnya kamu akan di angkat menjadi Ratu" jelas Ratu Nila yang tentu saja membuat Zhia kaget.


"Apa? menikah! sekarang! trus.. trus di angkat jadi Ratu!" shoknya dengan suara yang cukup keras.

__ADS_1


"Kenapa kamu berteriak Zhia?" protes Ratu Nila dengan tatapan kesal pada putrinya itu.


"Maaf bu habisnya kan Zhia kaget" alibi Zhia agar tidak kena marah Ratu Nila.


Tiba-tiba...


Brak...


"Apa yang terjadi?" ucap Raja Hilla dengan suara yang terdengar panik.


Di belakang sang Raja Ada kedua permaisurinya dan juga keempat anak laki-lakinya.


"Ada apa? kenapa bu?" panik Pangeran Ballu melihat sekeliling ruangan.


"Kalian! cepat periksa seluruh kamar, jangan sampai ada yang terlewatkan" perintah Pangeran Ballu pada ke tiga adik laki-lakinya yang langsung bergerak memeriksa kamar Zhia dengan seksama.


"Katakan ada apa sayang?" tanya Permaisuri Zie mendekati Zhia dan Ratu Nila yang masih cengo.


"Trus kenapa tadi kamu teriak nak? kak! sebenarnya ada apa ini?" tanya Permaisuri Vela pada Ratu Nila.


Ratu Nila yang sudah paham akan situasi menghela napasnya panjang. Sedangkan Zhia yang sudah paham juga hanya cekikikan pelan setelah membuat keluarganya heboh hanya karena teriakannya yang tidak di sengaja tadi.


"Tidak terjadi apapun, tadi aku menjelaskan pada Zhia kalau hari ini dia akan menikah dan di angkat menjadi Ratu" jelas Ratu Nila.


"Lalu! kenapa Zhia teriak sayang?" tanya Raja Hilla yanh sudah mendekat dengan Zhia dan menarik anak bungsunya itu mendekat padanya.


"Maaf ayah Zhia tidak sengaja, kaget saja dengar penjelasan ibu tadi jadi tanpa sadar Zhia bicara dengan suara yang keras" sahut Zhia dengan bibir yang tersenyum tanpa dosanya.


Mendengar penjelasan Zhia membuat keempat kakaknya berhenti melakukan penggeledahan dan mendekati Zhia pula.


"Ooo... jadi ceritanya ngerjain kita ya! dasar kurang ajar" kesal Zhio menatap Zhia yang hanya mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


"Sudahlah, syukur kalau memang tidak terjadi apa-apa" ucap Pangeran Ballu tegas agar kedua adik kembarnya itu tidak meneruskan perdebatan mereka yang nantinya malah bisa semakin panjang.


Raja Hilla menatap Zhia dengan perasana haru dan sedih. Haru karena ternyata putri satu-satunya yang di milikinya telah tumbuh dewasa dan sangat cantik. Zhia juga memiliki sikap yang berbeda dengan para anak penguasa lainnya. Hal yang di syukuri oleh Raja Bhian anaknya tidka pernah melakukan tindakan tercela menggunakan kekuasaannya.


Sedih karena sebentar lagi ia bukan lagi satu-satunya tempat bermanja bagi Zhia. Walau memang dia bukan satu-satunya tempat Zhia bermanja karena masih ada saudara laki-laki Zhia lainnya yang juga memanjakannya.


Tapi Zhia memang lebih manja pada Raja Hilla kalau anak gadisnya sedang malas melakukan apapun dan hanya ingin bersamanya saja seharian.


Waktu terus belalu cepat dan menumbuhkan seorang anak kecil menjadi dewasa dan kini siap tifak siap Raja Hilla harus siap melepaskan anak gadisnya untuk menjadi tanggung jawab orang lain yang akan menjadi suaminya.


"Jadilah istri yang selalu mendukung suamimu nak, dewasalah bersikap dan berpikir, hadapi semua masalah dengan tenang dan jangan mudah terprovokasi, jangan terlalu mempercayakan sesuatu pada orang yang baru kamu kenal karena sesungguhnya musuh paling nyata itu orang yang ada di sekitar kita, berpura-pura baik hanya untuk menutupi niat jahatnya saja" nasehat Raja Hilla dengan mata yang sudah mulai basah.


"Iya ayah, Zhia bakalan ingat selalu pesan ayah, Zhia sayang ayah" ucap Zhia dengan suara manjanya memeluk sang ayah yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.


"Putriku sayang" ucap Raja Hilla mengecup kening Zhia penuh cinta hingga air matanya menetes cukup deras karena perasaan cintanya pada sang putri yang tak terkira dan akan mungkin pudar meski mereka berpisah.


Raja Hilla melepaskan pelukannya pada Zhia dan kini Permaisuri Zie yang gantian memeluk putrinya.


"Putri kecil ibu yang nakal mau nikah, berbahagialah putriku sayang, kebahagiaanmu merupakan kebahagian kami juga" ucap Permaisuri Zie yang sudah tidak bisa membendung air matanya sejak tadi.


Zhio ikut memeluk kembarannya dan juga ibu kandungnya. Akhirnya mereka saling berpelukan untuk melepaskan kesayangan mereka, putri satu-satunya dan adik perempuan kesayangan.


Hingga setelah mereka melepaskan pelukan itu, Zhio tertawa melihat wajah Zhia yang riasan wajahnya luntur dan alhasil wajah Zhia jadi terlihat berantakan.


"Astaga anak siapa ini? wajahnya sangat berantakan" ejek Zhio yang langsung mendapat lirikan tajam dari Pangeran Jagar.


"Jangan merusak suasana" ucap Pangeran Jagar dengan suara datarnya yang langsung membungkam adiknya yang usil itu.


"Sudah biar ibu yang bantu beresin lagi hiasannya" ucap Permaisuri Zie.


"Ayo-ayo cepat sebentar lagi calon menantu kita tiba" semangat Permaisuri Vela ikut menuju meja hias Zhia dan mulai memperbaiki hiasan di wajah Zhia bersama Ratu Nila yang juga tidak mau ketinggalan.

__ADS_1


__ADS_2