
Raja Bhian dan Zhia masih terlihat asik menangkap ikan dari atas jembatan yang lebih rendah hingga dekat air. Dari sana Zhia dengan senangnya menangkap ikan dengan di bantu Raja Bhian mengangkat jaring saat ikan besarnya terus bergerak dan Zhia kesulitan mengangkatnya.
"Sudah cukup?" tanya Raja Bhian saat Zhia meletakkan jaring di tangannya.
"Iya, ini sudah banyak, bahkan kita bisa membuat acara bakar-bakar dengan keluarga yang lain sepertinya" sahut Zhia tersenyum melihat ikan yang di masukkan ke ember oleh pelayan.
"Tapi itu cuma tiga ekor tidak mungkin cukup kalau untuk buat acara bakar-bakar dengan keluarga" kata Raja Bhian. Bahkan cuma tiga ekor di bilang banyak dan cukup untuk keluarga, tidak sadar apa kalau dirinya sudah makan ikan pasti tidak cukup satu ekor batin Raja Bhian menahan senyum saja.
"Pasti cukup kalau hanya Zhia saja yang makan" cengir Zhia menatap Raja Bhian yang mengulurkan tangannya mencubit pipi Zhia gemas.
"Ayo kita mandi biar pelayan yang mengurus ikannya" Raja Bhian menarik tangan Zhia membawa gadis itu masuk ke dalam kediamannya.
Zhia sudah fokus pada kata 'kita mandi' yang menurut Zhia artinya mereka mandi berdua.
"Ah tidak Cami duluan saja, Catri ingin istirahat dulu" ucap Zhia menolak ajakan Raja Bhian.
"Tapi kamu harus mandi, tadi basah kena air kolam juga belum ganti atau bebersih kan, hem Catri bau air kolam" ejek Raja Bhian menutup hidung setelah tadi sempat mendekatkan wajahnya pada tubuh Zhia sejenak.
Zhia yang melihat tingkah Caminya ikutan mengendus aroma tubuhnya. Benar saja kalau dirinya bau air kolam bahkan amis ikan terasa juga di bagian lengan pakaiannya karena tadi Zhia sempat memegang ikan juga saat ikan tangkapannya akan masuk kembali ke dalam kolam.
Banyaknya ikan di dalam kolam memudahkan Zhia menjaring ikan di sana, juga bantuan dari Raja Bhian tanpa di ketahui oleh Zhia.
"Tapi kamu jangan ikut mandi ya, kalau kamu mau mandi di tempat lain saja" ucap Zhia berjalan duluan meninggalkan Raja Bhian yang masih diam memandangnya karena ia mulai paham apa yang di pikirkan Zhia saat ia mengajaka mandi tadi.
Pantas saja tadi tidak mau mandi batin Raja Bhian.
"Ayo Cami, Catri kan tidak tahu di mana tempatnya" teriak Zhia saat menyadari kalau Raja Bhian masih diam di tempat sedangkan dirinya sudah hampir tiba di ujung jembatan.
Raja Bhian berjalan mendekati Zhia yang masih menunggunya hingga ketika sudah berdekatan keduanya berjalan bersama.
Sampai di kamar yang tadi sempat di masukinya, Zhia melihat sekeliling yang nampak begitu mewah namun elegan. Hampir mayoritas berwarna emas dan merah hati.
"Apa ini kamarku?" tanya Zhia masih melihat sekelilingnya.
"Kamar kita"
__ADS_1
"Kenapa begitu? kitakan belum menikah" protes Zhia.
"Memangnya ada peraturan di larang satu kamar dengan calon istri! bahkan kalau kita melakukan malam pertama malam ini juga tidak masalah bahkan keluarga kita akan sangat senang kalau memiliki cucu lebih cepat" ucap Raja Bhian santai seraya melepaskan penjepit rambut di kepalanya sendiri. Dua pelayan laki-laki mendekat dan menerima penjepit sang Raja.
Empat orang pelayan berdiri di sana, dua laki-laki dan dua wanita. Sengaja Raja Bhian siapkan pelayan untuk Zhia karena ia tahu kalau Zhia tidak suka segala kebutuhannya di layani. Tapi mulai saat ini Zhia harus membiasakan diri dengan itu.
"Tapi Catri tidak mau kalau kita belum menikah dan jangan coba macam-macam Cami" ancam Zhia dengan wajah serius.
"Ya ya ya baiklah, wanita memang makhluk yang paling sulit di bantah titahnya" Raja Bhian berucap dengan wajah yang di buat sedikit malas.
"Kalian berdua! bawa nona cantik ini ke pemandian dan siapkan segala kebutuhannya, mulai sekarang kalian harus selalu bersamanya untuk memenuhi apapun yang di inginkannya" ucap Raja Bhian pada kedua pelayan wanita itu.
"Baik Yang Mulia, kami akan mengapdi kepada nona sebaik mungkin" sahut keduanya.
"Tuan Putri bukan nona, Catriku ini seorang putri Raja bukan anak bangsawan" koreksi Raja Bhian yang tidak ingin orang-orang salah memanggil Catrinya.
"Maaf Yang Mulia kami tidak akan melakukan kesalahan lagi"
Raja Bhian mengangguk dan melambaikan satu tangannya tanda agar mereka segera pergi menyiapkan segala kebutuhan Zhia lebih dulu. Dua pelayan laki-laki yang selalu membantu menyiapkan kebutuhan Raja Bhian pun ikut pergi menyelesaikan pekerjaan mereka sendiri.
"Mau tidak mau Catri harus mau dan menerima mereka selalu di samping kamu Catri, sebagai calon Ratu dari kerajaan adijaya yang berkuasa, Cami juga akan memberikan prajurit penjagaan yang ketat apa lagi saat kita tidak bersama, Cami takut Catri di sakiti musuh yang tidak kita sadari keberadaannya, apa lagi nanti Cami akan memberi pengumam kepada seluruh rakyat tentang kamu jadi terima semua yang Cami berikan tanpa menolak ya" jelas Raja Bhian pada Zhia agar gadis itu mengerti kenapa semua itu di lakukannya.
Zhia menghela napas panjang dan pasrah, sepertinya kehidupan istana dan segala hal yang berbau kerajaan dan semua peraturannya tidak bisa di elakkan dan di tinggalkan begitu saja. Nasib seorang putri Raja memang tidak bisa jauh-jauh dari kemewahan, pelayanan dan kehormatan jadi ya sudahlah pikir Zhia.
"Baiklah, tapi sesekali bisakah kita keluar istana untuk bersenang-senang seperti terakhir kali kita di kerajaan Month!" Zhia menatap Raja Bhian penuh harap dengan mata yang berkedip lucu.
Cara ampuh yang selalu di gunakannya untuk merayu keluarganya saat keinginannya tidak di penuhi atau memiliki keinginan yang sudah pasti jawabannya 'Tidak'.
"Hanya kita berdua saja dan tanpa Cami, Catri jangan coba-coab untuk meninggalkan istana, mengerti"
Zhia mengangguk patuh, yang penting boleh pikir Zhia.
"Gadis baik" Raja Bhian mengelus rambut Zhia yang di ikat di bagian tengah lehernya menggunakan selendang kecil milik gadis itu. Tentu saja Raja Bhian tidak akan membiarkan semua orang melihat calon istrinya ini dengan rambut tergerai.
"Tuan Putri, airnya sudah siap" ucap pelayan memberitahukan sembari menunduk takut karena sudah merusak suasana manis kedua orang penting itu.
__ADS_1
"Pergilah" ucap Raja Bhian.
"Ini juga mau pergi, tapi seseorang terus memegang tanganku" Raja Bhian melepaskan pegangan tangannya pada bahu Zhia dan beelalu entah kemana, Zhia juga tidak tahu.
Gadis itu mendekati kedua pelayan yang sudah menunggunya dan mereka memasuki ruang pemandian yang sudah di beri aroma bunga relaksasi yang menenangkan.
"Kalian tunggu di sana saja, nanti saya panggil kalau butuh" ucap Zhia menunjuk tempat pembatas yang menutup di depan pintu, jadi orang yang datang tidak dapat melihat orang yang sedang berendam walau berada di dalam ruangan yang sama.
"Tapi kami belum membantu membuka pakaian Tuan Putri" ucap pelayan itu.
"Tidak perlu, saya bisa sendiri jadi pergilah tanpa bantahan lagi" tegas Zhia dengan nada dinginnya karena dia yang memang tidak suka ada orang lain yang melihat tubuh polosnya.
"Baik tuan Putri" sahut keduanya kemudian pergi.
"Memangnya Zhia anak kecil, pakaian saja masih harus di bantu memakai dan melepas, berlebihan sekali mereka dalam melayani" gumam Zhia setelah kedua pelayan itu tidak terlihat.
******
HAY HAY
Salam kenal dari Author untuk para pembaca cerita ini ya😁
Terimakasih bagi yang sudah membaca, memberi komen, like, vote dan di jadikan favorit.😊
Kalau suka beri like nya ya
Kalau ada saran dan masukan bisa komen, walau tidak di balas tapi Author baca kok, apapun komennya Author terima jadi jangan sungkan.
Kalau tidak keberatan bisa beri vote juga😊😊
Semoga para pembaca suka dan masih setia pada cerita ini.
Dan sedikit info, di cerita ini Author tidak menggunakan suku atau ras apapun, juga peraturan yang harus sama dengan suatu negara ataupun kerajaan. Ini cerita murni haluan Author aja, jadi peraturannya dari Author bukan terpatok pada sesuatu apapun.
Jadi tunggu kelanjutannya ya😉😉
__ADS_1