
Seorang gadis sedang melangkah dengan cepat dan terlihat dari wajahnya jika dia sedang buru-buru, tapi juga terlihat kesal. Matanya menatap nyalang setiap tempat yang ia lalui dan melihat kesana kemari mencari suatu.
"Apa kalian melihat Raja muda itu?" tanya Zhia pada pelayan yang kebetulan lewat.
"Beliau tadi menuju kearah pacuan kuda tuan putri" sahut salah seorang pelayan, sedangkan kedua temannya hanya diam sembari menunduk hormat.
"Terimakasih" Zhia melangkah dengan cepat menuju tempat pacuan kuda di mana orang yang di carinya terlihat di sana.
Bukan hanya Raja muda itu saja yang ada di sana, kakaknya Ballu juga ada di sana. Mereka terlihat sedang mengobrol dengan sesekali megelus kuda di samping mereka. Zhia semakin mempercepat langkah kakinya menghampiri kedua ornag itu.
"Loh, kamu sudah tidak melakukan pelatihan dari para ibu lagi! apa sudha bisa menyelesaikannya?" ucap Pangeran Ballu penasaran.
"Sudah tidak lagi" sahut Zhia pada kakaknya lalu melirik pria di sebelah yang nampak acuh dan tidak perduli.
"Ada apa Zhia?" tanya Pengeran Ballu yang merasa kalau adiknya itu ada masalah dengan Raja Bhian di lihat dari lirikan matanya yang cukup tajam itu.
"Bisa kita bicara!" ucap Zhia mengabaikan pertanyaan kakaknya.
Tidak ada jawaban dari Raja Bhian yang malah masih asik dengan kuda kesayangan temannya itu. Ya, Pangeran Ballu dan Raja Bhian memang berteman, bahkan sangat dekat. Walau dengan ketiga saudara Pangeran Ballu juga dekat tapi tak sedekat mereka berdua.
"Hey Raja muda! dengar tidak! ayo kita bicara" geram Zhia karena di acuhkan oleh Raja Bhian.
"Jadi kamu ingin bicara denganku, kenapa tidak bilang sejak tadi!" santainya tanpa melihat wjaah Zhia yang sudah sangat kesal.
"Ck, kok bisa jadi Raja sih dia! sudah tidak peka, kurang pendengaran, cuek lagi, gimana caranya dia bisa jadi pemimpin kalau begitu" ucap Zhia terang-terangan mengejek Raja Bhian.
"Zhia, jaga ucapan kamu" ucap Pangeran Bhian mengingatkan adiknya yang sangat bernyali besar menghina Raja adikuasa seperti Raja Bhian ini.
__ADS_1
Yang bahkan selama masa kepemimpinannya setahun belakangan sudah semakin memajukan negaranya hingga menjadi lebih kuat dan besar lagi. Tapi kenapa adiknya Zhia justru dengan begitu entengnya mengatakan hal yang bisa menyinggung si penguasa itu.
Kalau Pangeran Ballu sedang khawatir temannya itu marah. Raja Bhian yang di ejek Zhia malah menatap Zhia dengan ekspresi yang tidak dapat di tebak apa yang dipikirkannya.
"Aku bisa menjadi Raja karena sudah takdir dan memang aku pewaris satu-satunya, kalau masalah bagaimana aku menjadi pemimpin, aku memimpin dengan sangat adil, rakyatku hidup berkecupan dan angka kemiskinan di kerajaanku sangat kecil" jelas Raja Bhian menatap Zhia.
"Terserah, aku hanya ingin membahas masalah tadi malam" acuh Zhia tidak perduli.
"Aku hanya ingin membahas masalah tadi malam" lanjutnya.
Mendapati sikap acuh Zhia membuat Raja Bhian heran kesal juga. Padahal dia sudah memberitahukan sedikit kebolehannya memimpin rakyat, tapi seolah hal itu bukan sesuatu yang menarik bagi gadis di hadapannya ini.
"Kalau kamu bisa mengejarku naik kuda akan ku pertimbangkan" Raja Bhian langsung menaiki kuda milik Pangeran Ballu dan memacunya.
Zhia yang merasa di remehkanpun langsung meminta kuda kesayangan sang kakak yang sedang di elus sejak tadi. Pangeran Ballu memang memiliki dua kuda tapi yang paling di sukainya yang saat ini di naiki Zhia.
Pangeran Ballu menyingkir dari area pacuan kuda menuju pinggir pembatas untuk melihat kedua orang yang sedang saling mengejar itu.
"Untung aja Bhian tidak marah mendengar ucapan Zhia tadi, kalau marahkan repot" gumam Pangeran Ballu.
"Tapi sikapnya tadi nampak sedikit berbeda, biasanya dia tidak banyak bicara dengan wanita, tapi kenapa dengan Zhia dia bahkan tidak marah walau sudah di singgung! apa ini yang di namakan takdir jodoh!" lanjutnya.
Sedangkan di area pacuan kuda, dua kuda pilihan dan kesukaan Pangeran Ballu sedang melaju saling mengejar. Zhia begitu bersemangat saat bisa kembali menaiki kuda setelah beberapa hari kemarin terkurung.
Bahkan gaun yang di gunakannya pun tak mampu menghalanginya untuk terus memacu kudanya mengejar Raja Bhian di depan.
Raja Bhian melihat sejenak kebelakang di mana Zhia dengan semangatnya mengejar dirinya. Hal itu membuatnya semakin sennag dan bersemangat, ia jadi ingin lebih tahu bagaimana pertahanan Zhia kala mendapatkan serangan mendadak.
__ADS_1
Dengan sengaja Raja Bhian berbalik arah dan melakukan penyerangan pada Zhia. Bukannya kaget atau takut, gadis itu justru membalas serangan dari Raja Bhian hingga terjadilah peperangan kecil antara mereka di atas kuda.
Raja Bhian memacu kudanya menjauh dan berbalik lagi menyerang Zhia, dan kali ini bahu Zhia kena pukul. Tapi itu belum cukup untuk menjatuhkan gadis itu, Zhia melompat dari kudanya yang masih melaju dan langsung melakukan serangan pada Raja Bhian hingga keduanya jatuh dari kuda bersamaan karena Zhia yang menerjang tubuh tinggi tagap itu.
Walau perempuan tapi tenaga dan kemampuan Zhia tidak bisa di anggap remeh, sering melatih diri dengan para kakaknya menjadi lawan membuat Zhia bisa sedikit menjatuhkan lawan yang cukup tangguh. Bagaimanapun juga Zhia adalah perempuan jadi sekuat apapun dia kalau melawan pria dengan tenaga kuat dan besar seperti raja Bhian tentu akan kesulitan juga karena dia memang tidak pernah menang murni dari para kakaknya sebab kakaknya selalu mengalah pada adik perempuan mereka agar senang.
Sementara orang-orang yang menyaksikan hal itu di pembatas pacuan menatap tidak percaya dengan apa yang kedua orang itu lakukan di sana. Tapi mereka tidak menghentikan, hanya melihat saja, karena mereka percaya jika Raja Bhian dan Zhia mampu mengontrol diri agar tidak terlalu berlebihan.
Tapi bagi Zhia saat ini dia sangat bersemangat untuk menjajal kemampuan dan keahliannya melawan teman kakaknya yanh sekaligus calon suaminya.
Kedua orang itu berguling beberapa kali di tanah setelah jatuh, dan Raja Bhian membiarkan tubuhnya yang lebih dulu menyentuh tanah. Sementara Zhia di atasnya, kalau Zhia yang di bawah dan ia yang di atas saat jatuh maka pasti tubuh kecil Zhia yang hanya setinggi pundaknya tidak akan mampu bertahan.
Zhia kembali melakukan penyerangan terhadap Raja Bhian begitu sesi guling-gulingnya selesai. Raja Bhian menahan serangan Zhia dan hanya bisa melakukan itu. Raja Bhian memang tidak mengeluarkan tenaga untuk membalas serangan Zhia.
Pria itu hanya menangkis dan mengelak saja dengan sesekali melakukan serangan kecil agar Zhia tidak merasa di sepelekan. Karena semangatnya yang masih membara saat ini.
Hingga Zhia melepaskan salah satu selendang yang ada di pinggangnya dan menyerang Raja Bhian menggunakan selendang itu. Sangat mudah bagi Raja Bhian untuk menangkap serangan itu.
Kali ini Raja Bhian memberikan perlawanan sedikit kuat untuk mengetahui pertahanan tubuh calon istrinya. Dan hasilnya Zhia mampu bertahan dari semua serangan yanh di berikan oleh Raja Bhian.
Setelah merasa cukup bermainnya maka Raja Bhian menarik selendang Zhia yang saat itu di gunakan untuk menyerangnya. Raja Bhian menarik selendang itu cukup kuat hingga tubuh gadis cantik itu tersentak mendekat pada Raja Bhian dan jatuh di pelukan calon suaminya.
"Sudah cukup bermainnya sayang" bisik Raja Bhian lalu membopong tubuh kecil Zhia di pundaknya membuat gadis itu berteriak marah.
"Turunkan aku! turunkan aku!" kedua kaki Zhia bergerak tidak mau diam hingga Raja Bhian menahannya agar tidak mengenai wajah tampannya itu.
Di pembatas sana sudah ada keluarga mereka yang ternyata jadi penonton sejak tadi. Raja Bhian terus berjalan melewati keluarga mereka dengan Zhia yang masih di pundaknya berteriak-teriak hingga meminta tolong pada para kakaknya dan ayahnya yang hanya tersenyum saja.
__ADS_1
Kenapa tidak ada yang menolongku batin Zhia.