Calon Ratu

Calon Ratu
17


__ADS_3

Pagi ini Zhia dan keluarganya sedang mengantarkan keluarga barunya yang akan kembali ke kerajaan Sun. Ibu Suri dan kedua adik iparnya serta Wiya sedang berpamitan untuk pergi lebih dulu.


"Segeralah ke sana anakku, ibu akan menunggumu" ucap Ibu Suri pada Zhia yang sedang di peluknya.


"Iya ibu, kami pasti akan segera kesana" sahut Zhia.


"Berhati-hatipah ibu dan yang lainnya di jalan" ucap Raja Bhian kala sang ibu memeluknya.


"Iya, kamu juga hati-hati besok membawa menantu ibu kembali ya, jangan sampai lecet" Ibu Suri tertawa pelan.


"Itu sudah pasti bu"


Setelah berpamitan rombongan Ibu Suri bergerak meninggalkan istana Month. Cukup banyak prajurit yang pergi bersama rombongan Ibu Suri karena Raja Bhian yang meminta semua prajuritnya kembali lebih dulu mengawal ibunya.


Karena mereka yang akan melalui jalur udara besok jadi tidak terlalu memerlukan prajurit. Perdana Mentri Ji tidak melarang keponakannya yang akan membawa Zhia terbang besok saat kembali. Apa lagi ketika ingat kalau Zhia sangat menyukai terbang naik burung Nae sebelum hari pertunangan.


Setelah rombongan Ibu Suri meninggalkan istana, Zhia langsung menarik Raja Bhian pergi begitu saja dari keluarganya. Tentu saja hal itu membuat heran keluarganya yang memang tahu kalau Zhia tidak akan semudah itu dekat dengan orang baru.


"Apa yang terjadi pada Zhia? biasanya dia paling susah dekat dengan orang baru" gumam Jagar heran.


"Mungkin inilah yang di namakan cinta pertama kak Jagar, walaupun baru pertama bertemu tapi itu lebih indah rasanya kalau bisa selalu berdua dengan ikatan yang sudah pasti" sahut Zhio menganalisis.


"Sok tahu kamu masalah cinta pandangan pertama, punya kekasih saja tidak" ejek Ballu.


"Bahkan Hani yang sudah jelas-jelas selalu perhatian saja tidak peka akan perasaan gadis itu" sambung Jagir.


"Maklumi saja lah, Zio lebih cinta pada tumbuhan langka dan ramuan, jadi aku rasa mungkin nanti dia akan menikahi salah satu tanaman langka miliknya itu" ucap Jagar pula yang membuat keempat pria itu tertawa.


Sedangkan para orang tua mereka sudah jalan lebih dulu di depan jadi tidak mendengar obrolan mereka.


"Hey kakak-kakak sekalian, aku ini masih normal da masih menyukai wanita, mana mungkin aku menikahi tanaman ada-ada saja" sangkal Zhio tidak terima.


"Lalu bagaimana dengan Hani? dia itu menyukaimu, kamu tahu itu!" kata Jagir yang memang tahu perihal Hani teman Zhio di tempat peracikan obat dan gadis itu sangat handal seperti Zhio.

__ADS_1


Karena Hani pula Zhio jadi tertarik dengan dunia pengobatan dan tanaman. Hani yang merupakan anak dari tabib senior di kerajaan Month itu membuat Zhio penasaran dengan dunia medis dan tanaman karena saat itu Zhio pernah merusak bungan kesukaan Permaisuri Zie, ibu kandungnya.


Takut akan kena marah, Zhio kecil membawa bunga itu kesana kemari di halaman belakang agar tidak ada yang tahu. Dan di sana jugalah Zhio dan Hani bertemu, Hani yang kebetulan lewat melihat Zhio memeluk pot bunga langka rusak langsung mendekatinya.


Awalnya Zhio menyembunyikan bunga itu di belakang tubuhnya lalu mengusir Hani agar pergi dan tidak melihat bunga ibunya yang rusak. Tapi saat Hani mengatakan ia bisa membantunya memperbaiki bunga itu, akhirnya Zhio mau menunjukkan bunganya dan ikut dengan Hani ke tempat di mana para tabib meracik obat dan mngolah tanaman menjadi sesuatu yang berguna.


Zhio di beri tanaman yang baru dengan tinggi yang sama persis dengan yang di bawa Zhio, hanya potnya saja yang sama karena bunga rusaknya di keluarkan dari pot dan yang baru di masukkan.


Entah apa yang di lakukan Hani pada bunga yang sudah rusak kelopaknya itu, bahkan daunnya banyak yang sobek akibat ulah Zhio. Zhio tertarik dengan segala yang di lakukan Hani juga orang-orang yang ada di dalam sana.


Itu sebabnya Zhio jadi lebih mempelajari tentang pengobatan dan segala yang berhubungan dengan itu. Tapi Zhio sama sekali tidak sadar kalau Hani menyukainya dan memendam perasaan padanya karena bagi Zhio Hani hanya teman saja.


"Bagaimana kalau sampai Ibu Zie tahu ya kalau bunga kesayangannya itu palsu, maksudku bukan bunga miliknya yang sesungguhnya tapi bunga yang sudah di tukar" ucap Ballu jahil menatap Zihio yang melotot.


Zhio tidak percaya kalau kakak sulunga tahu masalah bunga itu.


"Apa maksud kakak? Zhio tidak mengerti!" ucap Zhio memasang wajah polos.


"Dan hasilnya sungguh mengejutkan, ada seseorang yang melihatmu merusak bunga ibu lalu kamu pergi bersama Hani anak tabib May dan tidak lama kembali membawa bunga itu yang sudah bagus lagi" ucap Jagar pula.


"Jangan bilang kalau kalian ke tempat itu dan bertanya pada mereka!" kaget Zhio.


"Yap tepat sekali" sahut Ballu membuat wajah Zhio pias seketika.


Walaupun kejadian itu sudah sangat lama dan akibat ulah tangan kecilnya yang nakal, tapi Zhio masih saja merasa takut kalau ibunya tahu soal itu dan menghukumnya.


"Tamatlah riwayatku" gumamnya kala membayangkan hukuman dari ibu kandungnya.


Ketiga kakak Zhio tertawa melihat Zhio yang memasang wajah sedih. Tentu mereka tahu apa yang membuat Zhio mengatakan hal itu, sudah pasti adik mereka itu membayangkan hal yang akan terjadi kalau sampai ibu mereka tahu bunga kesayangannya rusak.


Walau hanya hukuman berdiri sembari memegang telinga saja, itu sudah cukup membuat mereka takut dan jera.


Di sisi lainnya, setelah tadi Zhia menarik tangan calon suaminya pergi menuju kamarnya, kini keduanya sedang bersiap-siap untuk keluar dari istana.

__ADS_1


Ya, Zhia mengajak calon suaminya itu pergi keluar iatana, tapi bukan sebagai seorang tuan putri dan Raja. Melainkan sebagai orang biasa dan mengenakan pakaian biasa. Zhia yang masih mempunyai satu simpanan pakaian laki-laki miliknya langsung saja memakainya.


Untung saja pelayan ibunya tidak tahu kalau Zhia menyimpan satu pasang lagi di bawah kolong tempat tidurnya jadi aman. Sedangkan Raja Bhian hanya melepaskan beberapa aksesoris kerajaannya dan juga rompinya.


Zhia juga memakaikan selendang kecil di pinggang Raja Bhian. Sangat sederhana dan tidak kelihatan kalau dirinya seorang Raja meski pakaiannya tetap terlihat mahal. Paling hanya di kira saudagar saja batin Zhia.


"Mana sepatu untukku? apa aku harus seperti saja keluar istana?" tanya Raja Bhian pada Zhia.


Zhia melihat kaki calon suaminya yang tidak menggunakan alas kaki sama sekali karena Zhia memang tidak punya yang ukuran besar. Kalau meminjam milik kakaknya tidak mungkin, karena bisa menimbulkan kecurigaan.


"Nanti kita beli dulu, yang penting sekarang kita keluar" bisik Zhia yang saat ini mereka akan melompati tembok.


Raja Bhian memutar bola matanya malas, sejak kapan seorang Raja adikuasa seperti dirinya tidak memakai alas kaki saat keluar?. Bahkan alas kakinya saja harganya sangat mahal, dan hanya Zhia yang bisa melakukan hal ini padanya.


Mau taruh di mana wajahku kalau sampai orang-orang menyadari siapa diriku, untung bukan di kerajaanku sendiri, tapikan tetap saja malu gumam Raja Bhian dalam hati.


Kini mereka berdua mulai berlari menjauhi tembok istana menuju hutan di dekat sana untuk melanjutkan ke kota. Tapi sebelum masuk kota, Zhia lebih dulu mengolesi wajah mereka dengan sesuatu yang sedikit gelap untuk menyamarkan wajah mereka agar tidak di kenali.


"Apa ini?" tanya Raja Bhian heran tapi tidak melawan.


"Ini masker wajah, kita harus mamakai ini supaya tidak di kenali orang" sahut Zhia masih sibuk memakaikan Raja Bhian masker berwarna coklat itu.


"Yang ada kita di kira gembel karena dekil"


"Sudah diam saja, ini sudah biasa bagiku"


Zhia juga mamakai di wajahnya, tidak tebal, bahkan terkesan sangat tipis namun mampu menutupi wajah asli mereka.


Memang ciptaan Zhio tidak perlu di ragukan lagi batin Zhia merasa puas dan senang.


"Ayo kita ke kota membeli sepatu untukmu" ajak Zhia menggandenga tangan Raja Bhian agar tidak tersesat, karena baru kali ini Raja Muda itu datang ke istana mereka dan di bawa pergi oleh Zhia tanpa pengawalan.


Padahal bagi Raja Bhian ini bukan kali pertama dirinya ke kerajaan Month, hanya saja itu sudah berlalu lama jadi banyak yang lupa juga.

__ADS_1


__ADS_2