
Keluarga raja Hilla sedang berada di taman belakang kamar Zhia. Mereka akan mengantarkan Zhia dan Raja Bhian pergi, tapi ketiga ibu merasa aneh dengan tempatnya.
"Yah, kenapa kita ke sini? pintu gerbangnya kan di depan bukan di di sini" ujar Ratu Nila menyerukan keheranannya.
"Nanti juga kamu tahu" sahut Raja Hilla tersenyum santai pada istri tuanya.
Ratu Nila terlihat memutar bola matanya malas mendengar jawaban itu. Untuk apa bertanya kalau jawabannya hanya itu pikirnya.
"Anak sama ayah sama saja" ucap Permaisuri Zie malas menarik perhatian yang lainnya.
"Apa maksudmu Zie?" tanya Permaisuri Vela.
"Tadi aku menanyakan hal yang sama pada Zhia, seperti apa yang kak Nila tanyakan pada suami kita, dan jawabannya sama saja" gerutu Permaisuri Zie.
"Mereka memang terkadang menyebalkan" ucap Permaisuri Vela yang sempat mendapatkan jawaban itu juga saat bertanya pada anaknya Jagar. Bahkan anak laki-lakinya itu menjawab dengan wajah yang datar. Membuat Permaisuri Vela semakin kesal dibuatnya.
Tidak lama setelah ketiga wanita itu terdiam, terdengar suara burung yang cukup nyaring dan kuat membuat ketiganya kaget. Dan lebih kaget lagi saat melihat burung besar yang turun di hadapan mereka.
"Bu burung apa itu?" tanya Permaisuri Vela sedikit ngeri.
"Besar sekali dia, apa ini yang di namakan leluhur burung?" sambung Permaisuri Zie.
"Kalian yakin itu burung! tapi kenapa kepalanya mirip naga begitu" ucap Ratu Nila pula.
Ketiganya kompak bergidik ngeri kala membayangkan kalau mereka di gigit atau bahkan di tatap oleh hewan besar itu. Hih seram batin ketiganya.
"Ibu! Zhia pergi dulu ya" pamit Zhia pada ketiganya dengan memeluk satu persatu.
"Pergi kemana nak?" tanya Permaisuri Zie heran kala Zhia masih memeluknya erat.
"Ke kerajaan Sun ibu" sahut Zhia.
"Jangan bilang kalau kamu mau naik itu!" seru Ratu Nila saat pikirannya menangkap sesuatu di sana.
Mereka yang ketaman belakang kamar Zhia yang katanya untuk mengantarkan Zhia dan Raja Bhian kembali ke kerajaan Sun. Jawaban ambigu dari suaminya, kedatangan burung besar dan pamitnya Zhia membuat Ratu Nila menyimpulkan kalau anaknya dan calon menantunya itu akan pergi menggunakan burung besar itu.
__ADS_1
"Iya bu, Zhia yang ingin" sahut Raja Bhian mendekati calon ibu mertuanya dan berpamitan.
Mata ketiga ibu itu melotot tidak percaya dengan ucapan Raja Bhian. Bagaimana mungkin anak gadis mereka bisa meminta hal mengerikan itu pikir mereka.
"Tapi..Tapi bagaimana mungkin? sejak kapan kamu tahu ada binatang besar itu nak?" tanya Permaisuri Vela shok.
"Zhia bahkan sudah pernah menaikinya bu, dan binatang besar itu namanya Nae, milik Bhian" sahut Pangeran Ballu memeluk Permaisuri Vela yang langsung melena ludahnya kasar.
"Kamu pernah naik itu nak! apa kamu jatuh? apa ada yang luka? kamu tidak di sakitinya kan?" tanya Ratu Nila beruntun seraya memeriksa tubuh Zhia bersama Permaisuri Zie.
Zhia menghembuskan napasnya lelah mendengar semua ucapan ibunya. Tapi apa yang bisa di lakukannya selain bersabar, karena bagaimanapun juga itu bentuk sayang serta khawatir ketiga ibunya itu.
"Ibu Nila, Ibu Vela dan ibu Zie, ibu ibu ibu yang Zhia sayangi" ucap Zhia menekan setiap katanya.
"Zhia baik-baik saja dan sangat sehat, leluhur burung itu tidak jahat, lagian kan Zhia naiknya juga sama pawangnya langsung jadi jangan kahwatir lagi ya" lanjutnya meyakinkan ketiga ibunya yang nampak masih sangat cemas.
"Sudah, kalian berdua cepatlah pergi keluarga di sana pasti sudah menunggu kalian, dan Zhia berbaktilah kepada keluarga barumu nak, perlakukan mereka dengan baik jika orang itu baik tapi harus tetap sopan dan jangan jadi gadis lemah agar tidak ada orang yang berani menindasmu sesuka hati mereka, kamu pahamkan" ucap Raja Hilla menengahi acara kaget ketiga istrinya seraya menasehati anaknya.
"Siap ayah, Zhia akan ingat semua ucapan ayah" sahut Zhia mantap, Raja Hilla menarik Zhia kepelukannya seraya menahan air mata agar tidak jatuh.
Setelah berpamitan pada semua keluarganya, Zhia dan Raja Bhian naik ke atas punggung burung Nae. Karena Zhia yang kecil dan pendek sedangkan burung itu cukup tinggi. Alhasil Zhia harus di gendong Raja Bhian dan di bawa naik.
Zhia tersenyum lebar saat sudah di atas punggung burung besar itu. Pandangan Zhia sendu menatap semua keluarganya yang melihatnya.
"Selamat tinggal ibuku semua, selama tinggal ayah, kakak semua dan kamu Zhio jelek" ucap Zhia sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati Zhia, Bhian" teriak ibu Zie.
Hatinya lah yang paling sakit saat ini karena berpisah dengan putri bungsunya. Walau bukan dirinya sendiri yang mengurus Zhia, melainkan bersama kedua istri suaminya yang lain. Tetapi setiap pertumbuhan Zhia tidak pernah lepas dari pantauannya di sela-sela kesibukannya mengurus Zhio juga.
Permaisuri Zie selalu memberikan yang terbaik untuk putrinya dan tidak menuntut banyak hal. Permaisuri Zie membebaskan Zhia untuk melakukan hal-hal yang di sukainya termasuk bermain permainan laki-laki seperti pedang dan yang lainnya.
"Zhia" lirihnya dengan air mata yang menetes kala melihat burung yang di naiki anaknya sudah naik ke langit.
Zhio memeluk ibunya erat yang di balas oleh wanita itu dengan perasaan sedih. Bukan hanya Permaisuri Zie saja yang merasa sedih dan kehilangan, tapi Permaisuri Vela dan Ratu Nila juga. Mereka juga ikut andil membesarkan Zhia dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
__ADS_1
Putri bungsu nereka yang tidak pernah melawan dan selalu menurut apapun yang mereka katakan, walaupun terkadang Zhia selalu punya cara mencari cela agar bisa lari. Tapi ibu mana yang akan sanggup berpisah dengan anak yang sudah mereka urusi sejak bayi hingga dewasa walaupun bukan anak yang lahir dari rahim sendiri.
Raja Hilla segera berlalu meninggalkan taman itu agar tidak ada yang tahu akan kesedihan hatinya juga air matanya. Bahkan bayang-bayang Zhia kecil yang saat sedang manja padanya kembali berputar di ingatannya.
"Berbahagialah anakku" gumamnya lirih menghapus air mata yang tetap tidak bisa di tahan untuk tidak jatuh itu.
Tidak jauh berbeda dengan keluarga yang di tinggalkan, Zhia yang nampak sangat senang saat naik pun kini terlihat murung dan sedih. Ia tidak pernah benar-benar pergi meninggalkan keluarganya seperti ini, apa lagi ia yang memiliki ikatan batin kuat dengan sang kembaran pasti dapat merasakan kalau saat ini Zhio sedang bersedih.
Mungkin kembarannya itu sedang berpelukan dengan ibu mereka meluapkan kesedihan. Sedangkan dirinya menatap lurus dengan pandangan kosong.
Diamnya Zhia justru membuat perasaan Raja Bhian sedikit tidak enak hati. Apa yang harus ku lakukan ya batinnya. Dirinya yang tidak pernah merayu wanita dan tidak pernah dekat dengan wanita selain ibunya jadi bingung sendiri cara membujuk Zhia agar terlihat senang lagi.
"Kamu tahu, ada sebuah danau yang sangat cantik di bagian Selatan kerajaan Sun, di sana juga banyak buah hutan yang pasti sangat enak, apa kamu mau kita ke sana dulu dan menikmatinya" tawar Raja Bhian mencoba membujuk.
Zhia menolehkan kepalanya kebelakang untuk melihat calon suaminya.
"Benarkah!" ucapnya kurang yakin.
"Tentu, itupun kalau kamu mau kalau tidak ya..."
"Ayo kesana" sambar Zhia dengan cepat.
Mendengar kata danau dan buah hutan yang enak membuatnya penasaran dan sangat ingin mencoba. Dirinya juga tidak mau terus bersedih karena berpisah dengan keluarganya, kalau kangen bisa kembali kesana atau minta mereka yang datang pikirnya.
"Tapi di sana ada larangannya" ucap Raja Bhian membuat kening Zhia mengkerut.
"Larangan apa?"
"Siapa yang datang ke sana tidak boleh menunjukkan wajah sedih, karena tempat itu sangat indah dan hanya orang-orang bahagia saja yang boleh kesana"
"Aku tidak sedih, ayo kita kesana sekarang" Zhia memasnag wajah senangnya yang membuat Raja Bhian menahan senyum.
"Baiklah kita ke sana dulu baru ke istana"
Raja Bhian mengarahkan burung Nae untuk ketempat tujuan yang di inginkannya untuk menghibur Zhia.
__ADS_1