
Raja Bhian sedang duduk bersama Panglima Qai dan membicarakan sesuatu yang rahasia mengenai penyelidikan yang akan mulai di lakukan malam ini.
Sedangkan Zhia yang ada di kamar menggunakan baju yang sedikit terbukan. Meski terbuka tidak seksi juga karena masih berlengan pendek dan panjangnya yang selutut. Cuaca malam yang panas membuat Zhia nekat menggunakan baju itu.
Baju yang sengaja di bawa oleh Zhia karena sudah dapat menebak kalau di daerah ini pasti akan panas. Raja Bhian pernah mengatakan padanya kalau daerah yang akan mereka datangi sedang di landa kekeringan, itu artinya cuaca sedang panas-panasnya meski malam hari.
"Untung aja kemarin kepikiran untuk bawa baju ini" gumam Zhia melihat bajunya lalu duduk di dekat jendela melihat ke langit yang nampak sangat gelap.
"Sepertinya akan turun hujan malam ini"
"Iya dan pastikan kamu menutup jendelanya, jangan sampai ada orang lain yang melihat kamu seperti ini" Raja Bhian tiba-tiba sudah berada di belakang tubuh Zhia.
Menutup jendela lalu menarik gadis itu menuju ke arah tempat tidur. Zhia duduk di pinggir, mengangkat kepalanya melihat pria di depannya yang bersedekap memperhatikan penampilannya.
"Kenapa?" tanya Zhia kala mendapati tatapan aneh Raja Bhian.
"Kenapa pakai baju itu?" tanya Raja Bhian balik lalu bergerak ke arah lainnya, bisa gawat kalau dirinya lama-lama melihat Zhia dengan pakaian itu.
Walau masih tertutup tapi melihat kedua tangan yang putih dan kaki yang cukup jenjang untuk seorang wanita. Mampu membuat jiwanya bergetar, tidak ingin terus meresapi perasaan asing di dadanya membuat Raja Bhian lebih memilih untuk menghindar.
"Panas" sahut Zhia singkat.
"Bukannya kamu bilang mau turun hujan, kenapa bisa panas? biasanya juga dingin" ucap Raja Bhian.
"Entahlah, sepeertinya di daerah ini memang ada yang aneh"
Terdengar suara menggelegar dari atas bersamaan dengan turunnya hujan cukup deras.
"Hujannya deras juga" kata Zhia kala mendengar suara hujan di luar.
"Dengan begini kita akan tahu kebenaran dari cerita Gubernur itu" Raja Bhian keluar dari kamarnya membuat Zhia langsung mengejar.
Sadar Zhia ikut keluar dari kamar, Raja Bhian balik badan.
"Ikut" ucap Zhia mendekati pria yang menatapnya.
Raja Bhian melepaskan rompi panjang miliknya lalu memakaikannya pada Zhia. Jika di tubuh Raja Bhian rompi itu hanya sampai mata kaki saja maka di tubuh Zhia menutup seluruhnya bahkan masih lebih panjang dan besar rompi yang di tubuhnya.
"Kenapa?" tanya Zhia sembari melihat pria di depannya yang masih mengikatkan sesuatu di tubuhnya untuk menahan rompi agar tidak terbuka bagian depannya.
"Supaya tidak ada yang lihat kamu memakai baju tadi" sahut Raja Bhian santai.
Kemuda dirinya menggandeng tangan Zhia menuju keluar penginapan.
"Yang Mulia" kaget Panglima Qai akan kedatangan Raja nya yang tadi berkata hendak istirahat. Tapi sekarang malah berada di hadapannya.
"Ambil wadah cukup besar letakkan di luar" ucap Raja Bhian di angguki Panglima Qai yang langsung bergerak.
__ADS_1
Raja Bhian dan Zhia berdiri di teras penginapan dan melihat hujan yang memang cukup deras. Air juga mengalir di tanah ketempat yang lebih rendah lagi.
"Semuanya terlihat biasa saja" ujar Zhia.
"Mungkin belum, kita perlu melihat sampai hujan reda" sahut Raja Bhian.
"Kapan hujannya akan reda?"
"Tidak tahu"
Zhia memajukan bibirnya akan jawaban pria di sampingnya.
Panglima Qai datang dan langsung turun untuk meletakkan tong berukuran sedang di bawah guyuran hujan yang jatuh dari atas atap.
"Sudah Yang Mulia"
Raja Bhian mengangguk lalu memperhatikan lagi tanah di bawah yang masih di genangi air.
Arrggghh
Semua yang ada di luar sana kaget mendengar teriakan kesakita itu dan langsung pergi mencari sumber suara.
"Suaranya dari arah belakang" seru seorang prajurit yang datang dari samping memberi tahu yang lainnya.
Sontak saja semua orang berlari ke arah sana dna menyisakan beberapa tetap di posisi jaga untuk tetap berjaga-jaga.
"Tadi suaranya berasal dari sini!" heran prajurit tadi kala tidak mendapati apa-apa di sana.
"Periksa semua tempat, jangan sampai ada yang terlewatkan" perintah Panglima Qai.
Zhia melihat sekitarnya dengan seksama, hidungnya mengendus mencari sumber bau yang masuk di hidungnya. Bukan hanya Zhia saja yang melakukan hal itu, Raja Bhian juga melakukan hal yang serupa.
Keduanya berjalan menuju arah yang sama dan berhenti di tempat yang sama pula.
"Apa kamu merasakan baunya juga Catri?" tanya Raja Bhian di angguki Zhia.
"Di situ!" tunjuk Zhia pada lantai yang nampak menghitam seperti habis terkena sesuatu.
Panglima Qai mendekati arah telunjuk Zhia dan memeriksanya. Tangannya menyentuh lantai yang hitam itu lalu mencium tangannya.
"Seperti bekas sesuatu yang terbakar" ucap Panglima Qai melihat Raja Bhian dengan tangannya yang masih di depan hidung.
"Kamu yakin!" tegas Raja Bhian di angguki Panglima Qai.
"Sangat yakin Yang Mulia, hitam di lantai ini seperti bekas sesuatu yang terbakar, bahkan dari baunya saja sudah terasa sangat jelas" tegas Panglima Qai pula meyakinkan.
"Perketat penjagaan di sekitar, segera periksa dan lapor kalau ada sesuatu yang mencurigakan" Kata Raja Bhian.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia" sahut prajurit membubarkan diri mengambil posisi jaga masing-masing, ada juga yang berkeliling.
Kali ini kamu lolos, tunggu saja nanti batin Raja Bhian kala mata tajamnya melihat bayangan berlari menembus hujan semakin menjauh.
Raja Bhian memeluk pinggang Zhia membawanya kembali menuju kamar.
"Apa mereka sudah bergerak?" tanya Raja Bhian.
"Sudah Yang Mulia, sejak sore tadi mereka sudah bertugas" sahut Panglima Qai.
Raja Bhian mengangguk.
Sampai dikamar Zhia membuka rompi di tubuhnya.
"Huh! akhirnya sedikit dingin cuacanya" ucap Zhia merasa lega setelah tadi kepanasan di balik rompi besar yang menutup tubuhnya.
"Tidurlah, besok pagi sekali kita akan pergi ke suatu tempat" Zhia melihat pria yanh sedang minum di dekat meja.
Tanpa membantah Zhia langsung naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya tanpa memakai selimut. Udara yang mulai dingin belum mampu membuatnya menggigil karena dinginnya cuaca yang baru panas tidak sampai membuat kedinginan.
Namun ada seseorang yang justru merasa sangat kedinginan melihat Zhia yang seperti itu. Kala berbaring dengan tubuh telentangnya, kaki Zhia terlihat panjang dan menggoda iman.
Cepat-cepat Raja Bhian memakaikan selimut hingga batas pinggang pada Zhia yang membuat gadis itu membuka matanya kaget.
"Kenapa? udaranya belum cukup dingin" ucap Zhia melihat Raja Bhian yang sudah tegak lagi dan berjalan menuju kursi yang tidak jauh dari tempat tidur.
"Jangan perlihatkan kaki kalau tidur atau ular akan mematuk kamu Catri" kata Raja Bhian.
Yang pastinya itu kalimat yang sangat tidak masuk akal yang pernah di ucapkannya.
"Sejak kapan ada aturan seperti itu?" bingung Zhia namun tidak melepaskan selimut di kakinya.
"Sejak malam ini, sudah tidur" Zhia memajukan bibirnya sedikit kembali berbaring setelah tadi sempat duduk.
Raja Bhian mengambil air dan minum lagi, bahkan kali ini minum langsung dari tekonya. Membiarkan air dari teko yang di angkat sedikit ke atas wajahnya mengalir ke dalam mulutnya. Berusaha mengenyahkan pikirannya dari sesuatu yang mengusik jiwanya.
Tahan tahan tahan batinnya.
------------
Hay teman-teman pembaca semuanya, sembari menunggu yang ini update jangan lupa baca karya author yang lain ya.
Jangan lupa baca karya baru author yang ini juga ya😁😁
Terimakasi😊😊
__ADS_1