Calon Ratu

Calon Ratu
61


__ADS_3

Bruk..


Tabib pemimpin sihir api itu jatuh setelah angin menghilang. Tempat yang tandus dan panas menjadi tempat yang di pilih Raja Bhian untuk melawan musuh. Selain lebih aman dari segala makhluk hidup, tempat yang tandus itu juga ingin mereka suburkan nanti setelah urusan selesai.


Raja Bhian dan Zhia berdiri tidak jauh dari tempat pemimpin sihir api itu jatuh.


"Sial" desisnya berdiri, menatap tajam pasangan di depan sana yang menatapnya tak kalah tajam pula.


Pemimpin sihir api itu menggerakkan tangannya hingga mengeluarkan suar api yang meledak di atas. Pria itu tersenyum sinis menatap Raja Bhian dan Zhia.


"Pasukanku akan datang sebentar lagi, kalian berdua akan mati mengenaskan terbakar api yang besar, apa lagi di sini tidak ada air dan cuaca yang panas ini akan sangat mendukung kemenangganku hahaha" tawa pemimpin sihir api itu senang.


Raja Bhian dan Zhia hanya saling pandang saja. Tidak ada pengaruhnya cuaca seperti apa bagi pemilik sihir air bersimbol mahkota seperti Zhia, bahkan tanah tandus ini bisa kembali basah dalam sekejab kalau dia mau gumam Raja Bhian dalam hati.


Tidak lama setelah si pemimpin sihir api selesai berkata dan tertawa, suasana terasa semakin panas karena pasukan yang di maksud sudah datang dan berbaris di belakang pemimpinnya.


"Kalian ringkus mereka, tangkap wanita itu hidup-hidup karena dirinya sangat berharga untuk kelompok kita" ucapnya.


Pasukan sihir api maju dengan pedang masing-masing. Mereka tidak semua menggunakan api kalau sedang berperang, kala masa terdesak baru sihir dapat di gunakan. Itulah peraturannya bagi para pengikut seperti pasukan penyihir api ini.


Hanya pasukan terpilih saja yang bisa menggunakan sihir api seperti yang sudah di habisi Zhia di bendungan. Sedangkan pasukan yang sekarang maju menyerang mereka yang mendapatkan tugas membuang semua air yang di tampung warga.


Entah apa tujuan mereka melakukan semua itu, hanya merekalah yang tahu.


Zhia dan Raja Bhian memisahkan diri mengambil lawan masing-masing. Zhia yang memang memiliki pedang sendiri langsung mengayunkan pedangnya melawan musuh tanpa kenal ampun.


Di sanalah terlihat kalau Zhia bukan hanya sekedar cantik saja, tapi juga pandai bertarung dan mampu menghabisi musuhnya tanpa bantuan. Pedang milik Zhia juga ternyata adalah tusuk rambut yang selalu di gunakannya.


Siapa yang menyangka kalau ternyata tusuk rambut itu pedang yang bisa berubah wujud. Pedang yang berwarna biru di garis tengahnya dan bagian pinggir yang agak ung, serasih dengan pakaiannya.



Pimpinan sihir api menatap Zhia tanpa berkedip, sungguh dirinya sangat terpesona dengan Zhia yang cantik dan tangkas. Meski Zhia memiliki sihir yang bertentangan dengannya, itu bukan masalah bagi pria itu. Dirinya akan menggunakan sesuatu untuk menyegel sihir Zhia agar tidak bisa di gunakan lagi.

__ADS_1


Dengan begitu dirinya bebas memiliki gadis itu sesukanya dan tanpa takut sihir Zhia akan menyerangnya.


"Maju" ucap Zhia.


Pasukan sihir api itu maju menyerang Zhia, bahkan ada yang menggunakan pedang api.


Zhia tersenyum smirk lalu mengesekkan jari telunjuk dan jari tengahnya pada pedangnya. Seketika air menyelimuti sekitar pedang yang di pegangnya.


Gadis itu menyerang dengan cepat semua lawannya tanpa kesulitan. Walapun cuaca agak panas, di tambah lagi dengan lawan yang memang dari klan panas-panasan jadi semakin panaslah kondisi.


Ketika sedang fokus menghadapi pasukan lawan, tiba-tiba pemimpin sihir api maju menyerang Zhia. Raja Bhian hendak membantu namun di hadang oleh semua pasukan sihir api, bahkan yang tadi melawan Zhia berpindah melawan Raja Bhian.


Meski tidak kerepotan tetap saja membutuhkan waktu melawan musuh yang banyak. Sampai akhirnya para prajurit Raja Bhian datang membantu melawan musuh.


Zhia yang berhadapan dengan pimpinan sihir api tidak merasa kesulitan sama sekali. Meski dirinya wanita juga tak mau kalah dalam menghadapi musuh.


"Menurutlah manis, jadilah pasanganku" ucap pimpinan sihir itu penuh minat pada Zhia yang masih melawannya.


"Heh! pria tua sepertimu seharusnya banyak berdoa agar tidak masuk neraka, bukan malah mencari masalah" sinis Zhia.


"Hehehe manisku, aku tidak ingin melukaimu, tapi karena kamu ini bukan wanita yang lemah maka terpaksa aku harus mengeluarkan jurus pelumpuhku untukmu" ucap pemimpin sihir api itu dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda Zhia.


"Cih!" ejek Zhia tidak terpengaruh sama sekali oleh rayuan dan godaan dari pria di depannya.


Pimpinan sihir api menggerakkan tangannya hingga mengeluarkan bola api besar di atas kepalanya.


Zhia tidak tinggal diam melihat hal itu, pedangnya di tancapkan ketanah lalu Zhia menggerakkan tangannya keatas membuat pedang yang tadi menancap di tanah langsung naik ke atas bersamaan dengan air yang mengikuti di ujung pedangnya.


Gadis itu melompat menangkap pedangnya dan menarik air lebih banyak lagi keluar dari tanah gersang itu. Pedang Zhia memang bisa mencari sumber air dengan cepat meski di tempat yang gersang. Pedang Zhia sudah memiliki sihir air yang pastinya untuk memudahkan Zhia mendapatkan air di mana saja.


Semburan air memancar cukup deras di tempat gersang itu. Pemimpin sihir api kaget melihat pancaran air yang menghujani daerah gersang itu.


"Hey! selamat tinggal" Zhia menggerakkan jarinya pada pemimpin sihir api sebagai salam kehancurrannya.

__ADS_1


Pemimpin sihir api kaget dengan keberadaan Zhia yang sudah di dekatnya. Bahkan ada benteng air di atasnya yang mulai mendekat pada bola api yang di keluarkan pemimpin sihir api.


Zhia menggerakkan pedangnya membuat lingkaran yang menyebabkan pemimpin sihir api itu masuk ke dalam bola air yang besar hingga menenggelamkan tubuhnya.


"Lepaskan aku! lepaskan aku! akhh!" teriak pria itu.


Hanya Zhia dan Raja Bhian yang dapat mendengar teriakan itu.


"Apa yang kamu rasakan saat ini masih belum ada apa-apanya dengan para perempuan yang sudah kamu siksa itu" geram Zhia kala mengingat apa yang sudah di lakukan pria itu pada para gadis dan anak-anak di daerah Parean.


"Lepaskan aku! aakkkhhhh!" teriakan kencang itu sama sekali tidak di perdulikan oleh Zhia maupun Raja Bhian.


Raja Bhian malah membuat pusaran angin hingga membuat air yang membungkus pemimpin sihir api itu berputar di dalam air dan semakin menjerit kesakitan.


"Aakkkkhh bagaimana mungkin di tempat gersang ini mendapatkan air?" teriaknya.


Bruukkk


Tubuh pemimpin sihir api itu jatuh setelah sangat lemah. Bahkan banyak luka di sekujur tubuh pria itu yang membuatnya terlihat sangat mengenaskan.


"Apa.. apa kamu pemilik sihir dengan simbol mahkota?" ucapnya terbata bahkan sudah seperti gumam yang kurang jelas.


Namun Zhia masih mampu mendengar meski tidak sepenuhnya.


"Tidak ada jawaban untukmu" Raja Bhian menjauhkan pemimpin sihir api itu dengan anginnya setelah menyegel sihir api milik pria itu.


Raja Bhian mengayunkan tangannya hingga angin itu bergerak pergi menjauh.


"Kemana kamu buang dia?" tanya Zhia penasaran mendekati Raja Bhian.


"Tempat di mana dia bisa dapat pertolongan" sahut Raja Bhian menatap Zhia.


"Kenapa tidak di habisi langsung saja? bukannya kalau di biarkan hidup dia malah akan balas dendam nantinya" ucap Zhia dengan kening berkerut bingung.

__ADS_1


"Kamu pernah dengar tidak! kalau seseorang yang memiliki sihir lalu sihirnya tersegel maka dia akan hilang ingatan!" kata Raja Bhian di angguki Zhia.


"Ya sudah, sekarang kita harus memulihkan keadaan di sini" lanjutnya melihat sekitar yang sudah mulai basah tanahnya karena Zhia yang tadi mengeluarkan air.


__ADS_2