
"Kapan kita kembali ke istana?" tanya Zhia di sela perjalanan mereka.
Raja Bhian dan Zhia naik satu kuda bersama, sedangkan Pangliam qai sendirian di belakang keduanya. Meski merasa sedih melihat kemesraan Raja nya yang berhasil membuat jiwa jomblonya meronta.
Panglima Qai tetap nampak tenang walau dalam hati meronta melihat yang di depannya.
"Kenapa? kamu sudah tidak betah di sini?" tanya Raja Bhian yang takut Zhia merasa bosan.
Apa lagi mereka yang berada di sana sudah beberapa hari dna selalu bertarung melawan musuh.
"Bukan itu!" sangkal Zhia dengan cepat.
"Lalu?" tanya Raja Bhian penasaran.
"Hanya ingin tahu saja, karena keadaan di sini juga sudah mulai pulih seperti semula jadi mungkin kita sudah bisa meninggalkan daerah ini, kamu pasti tidak hanya akan mengurus ini saja kan!" jelas Zhia.
"Tunggu dua hari lagi sampai benar-benar pulih ya! warga sudah mulai mengolah sawah dan pertanian mereka, hutan juga sudah mulai kembali seperti dulu, semuanya sudah berangsur normal bahkan yang sakit sudah kembali kerumah masing-masing, tapi masih ada sedikit pekerjaan lagi yang harus di selesaikan sebelum kita kembali" kata Raja Bhian membuat Zhia menolehkan kepalanya ke samping karena wajah Raja Bhian yang berada si samping wajahnya.
"Apa itu?" tanya Zhia penasaran.
Raja Bhian tersenyum mendengar pertanyaan Zhia.
"Rahasia" bisiknya membuat Zhia mencubut pelan tangan pria itu yang berada di perutnya karena satu tangan Raja Bhian memegang tali kuda dan satunya memeluk Zhia. Sedangkan Zhia memegang tangan yang ada di perutnya.
Tentu saja cubitan Zhia itu tidak terasa sama sekali bagi pria itu yang malah semakin tersenyum.
Bukan tidak mau memberitahu Zhia pekerjaan apa yang harus di selesiakannya. Raja Bhian hanya tidak ingin Zhia kembali pergi dari penginapan tanpa dirinya. Meski kepergian gadis itu tetap mengikuti dirinya tapi ada rasa khawatir juga di diri Raja Bhian.
Takut-takut akan ada musuh yang menyerang dalam jumlah banyak. Meski tidak meragukan kemampuan yang di miliki Zhia, tetap saja rasa khawatir itu ada.
Raja Bhian mengecup pipi Zhia sayang dan tersenyum setelahnya. Zhia hanya menunduk malu saja, karena bagaimanapun biasanya yang mencium pipinya itu ayah atau para kakak dan ibunya.
Tapi kali ini yang mencium pipinya bukan keluarganya melainkam calon suaminya. Meski akan menjadi satu keluarga juga namun tetap saja malu, apa lagi Zhia yang tidak pernah memiliki hubungan dengan pria lain.
"Apa anda tidak kasihan denganku yang tidak punya pasangan Yang Mulia? jiwa kesepianku meronta melihat anda bersikap manis terhadap putri Zhia" gumam Panglima Qai pelan dan hanya di dengar oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
Wajahnya sedih meratapi dirinya yang masih belum punya pasangan.
"Kemana jodohku ya?? ada dimana dia?" lanjut Panglima Qai masih meratapi nasib jomblonya.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di penginapan pada malam hari. Dan sesuatu yang aneh membuat ketiga orang yang baru saja tiba itu heran.
"Yang Mulia! Yang Mu... Tuan Putri!" prajurit yang menghampiri Raja Bhian dan Zhia nampak kaget kala melihat Zhia bersama Raja Bhian.
"Kenapa?" tanya Panglima Qai yang malah mendapatkan tatapan heran dari prajurit yang di tanya.
"Ada apa denganmu? apa yang terjadi di sini?" tanya Panglima Qai lagi kala melihat semua prajurit nampak kaget sekaligus lega dan ada raut takut di wajah mereka.
Sampai akhirnya kedua pelayan Zhia keluar dari penginapana dengan wajah bahagia dan lega.
"Tuan Putri! syukurlah anda baik-baik saja" ucap salah stau pelayan kala Zhia sudah turun dari kuda dengan di bantu Raja Bhian.
"Apa maksudmu? saya memang baik-baik saja" ucap Zhia lebih heran lagi dengan semua orang yang melihatnya seolah kaget dan tidak percaya.
"Berkumpul kalian semua" ucap Raja Bhian dengan wajah datar dan suara yang dingin.
"Jelaskan!" ucap Raja Bhian.
Seorang prajurit menunduk sebentar lalu menjawab seperti apa yang telah terjadi di sana.
"Maaf Yang Mulia kami telah lalai menjaga tuan Putri" ucapnya menunduk takut.
Raja Bhian, Zhia dan Panglima Qai yang berada di hadapan mereka masih belum mengerti. Apa mungkin tadi Putri Zhia kabur pikir Panglima Qai. Raja Bhian pun menikirkan hal yang sama pula.
"Tadi siang setelah Yang Mulia dan Panglima Qai pergi ada penyusup yang masuk ke sini Yang Mulia, mereka mencari tuan Putri dan mengacaukan ke adaan di sini, pelayan mencari tuan Putri kemana-mana tapi tidak melihat, kamipun melakukan pencarian di dalam penginapan sementara sebagian menangkap penyusup itu, kami bahkan mencari di daerah luar penginapan tapi tidak juga menemukan Tuan Putri" jelas salah satu prajurit.
"Kami ingin memberi kabar itu pada Yang Mulia tapi kami tidak tahu kemana Yang Mulia dan Panglima pergi, akhirnya kami hanya bisa nelakukan pencarian di daerah ini Yang Mulia, kami juga sampai menghabisi salah satu penyusup karena tidak mau memberitahu kami di mana Tuan Putri, karena kami mengira Tuan Putri sudah di tangkap oleh mereka" lanjut yang lain menjelaskan.
"Dimana penyusup itu?" tanya Raja Bhian.
"Kami tahan di ruang sempit itu Yang Mulia" tunjuk prajurit pada sebuah bangunan kecil yang ada di pojokan halaman depan itu.
__ADS_1
"Kenapa kalian masukkan kesana? apa penyusup itu kambing?" tanya Zhia dengan aajah polosnya kala melihat bangunan yang kecil dan hanya bisa di masuki oleh dua orang dewasa saja.
"Penyusupnya manusia Tuan Putri, kami masukkan di sana supaya mereka mau buka mulut tentang alasan kedatangan mereka tadi" sahut prajurit.
Zhai hanya mengangguk walau masih berpikir, apa tempat itu muat? berapa orang di dalam sana?. Tapi ia tidak mau banyak bertanya lagi karena masih ada yang ingin di sampaikan oleh Raja Bhian lagi.
"Berapa orang mereka?" tanya Panglima Qai yang di setujui Zhia tanpa respon.
"Mereka ada lima orang Panglima tapi sekarang tinggal empat karena yang satu sudah tewas" sahut prajurit.
"Apa mereka belum memberi keterangan apapun?" Tanya Raja Bhian.
"Belum Yang Mulia, itu sebabnya kami tidak mengeluarkan mereka dari sana"
Raja Bhian mengangguk lalu beralih melihat Zhia yang ada di sampingnya masih memasang wajah polos.
"Putri Zhia! apa tadi tidak memberitahu mereka dulu sebelum pergi?" tanyanya tegas pada Zhia yang membuat gadis itu merasa gemetar karena baru kali ini Raja Bhian menunjukkan sikap itu padanya.
Zhia hanya menggeleng masih dengan tampang polosnya.
"Meskipun itu pelayanmu?" lagi, Zhia menggeleng.
"Itu artinya kamu kabur dari tempat ini tanpa di ketahui siapapun?" Zhia mengangguk.
Raja Bhian menganggu dengan senyum tipis di bibirnya yang membuat Zhia menatap curiga pria di sampingnya.
"Kembali ketempat masing-masing, perketat lagi penjagaan jangan sampai ada penyusup lagi" ucap Raja Bhian tegas.
"Baik Yang Mulia" sahut semua prajurit lalu membubarkan diri.
"Kalian siapkan makan malam" Raja Bhian melihat kedua pelayan Zhia yang langsung menunduk dan mengiyakan.
Setelah semua bubar sesuai perintah, Raja Bhian menarik Zhia masuk ke dalam penginapan.
"Kamu harus mendapat hukuman karena sudah pergi tanpa ijin hingga menyebabkan kekacauan disini" ucap Raja Bhian tegas pula pada Zhia yang langsung memasang wajah sedih.
__ADS_1
Tidak ingin membantah apa lagi membela diri, karena merasa memang bersalah Zhia hanya pasrah jika di beri hukuman oleh Raja Bhian.