
Zhia mendatangi kamar para pelayan dapur lebih dulu karena ia sudah sangat kesal dengan perutnya yang sangat lapar. Kalau tidak segera di selesaikan masalah malasnya pelayan dan kepalanya itu akan semakin menjangkit nantinya.
Jadi Zhia memutuskan untuk membuat keributan di kamar pelayan dapur dulu.
Tanpa kata dan permisi apa lagi ketok pintu, Zhia langsung membuka pintu kamar yang di isi oleh beberapa pelayan dapur itu. Bukan membuka dengan kasar tapi sangat kasar hingga pintu kamar itu rusak dan jebol. Lepas dari tempatnya dan terhempas di lantai akibat tendangan dari Zhia.
Sontak saja pelayan yang ada di dalam sedang tidur jadi kaget dan langsung gelagapan turun tempat tidur mereka yang bertingkat.
"Apa itu? siapa yang berani mengagetkan kami hah?" bentak salah satunya dengan marah dan mata melotot.
Zhia yang sudah di kuasai marah dan kesal langsung melotot balik pada pelayan yang sudah melototi dirinya. Bahkan tampang yang di tunjukkan Zhia benar-benar tidak bersahabat.
Wajah sinisnya nampak benar-benar kejam dengan mata yang tajam menusuk.
Sontak saja para pelayan dapur itu menunduk takut dan badan mereka gemetaran.
"Tu tuan Putri.. maaf saya tidak tahu kalau itu anda" ucapnya ketakutan.
"Jadi kalau pelayan lain kalian akan memarahinya? atau kalian akan menyiksanya?" sentak Zhia yang semakin membuat pelayan dapur itu menunduk dalam.
"Yang lain sudah mulai bekerja kalian masih enak tidur! apa kalian tidak tahu aturan sampai lalai dalam bekerja? atau kalian tidak di ajari etika lebih dulu sebelum di terima bekerja di sini hingga kalian bisa sesuka hati" lanjutnya masih dengan wajah yang benar-benae marah.
Zhia menatap tajam keenam pelayan dapur yang nampak pucat pasi dengan wajah yang menunduk. Tak lama terdnegar bentakan dari belakang dengan marah.
Siapa lagi kalau bukan kepala pelayan yang marah karena tidur nyenyaknya terganggu. Bahkan adanya keributan di rumah pelayan itu yang begitu mengganggu ketenangannya.
"Siapa yang membuat keributan hah? apa aku harus menghukum cambuk kalian sampai mati baru bisa tenang?" bentaknya dengan marah tanpa tahu siapa yang ada di dalam sana.
Sontak saja Zhia balik badan dan melihat kepala pelayan yang langsung mundur kala melihat keberadaan Zhia di sana. Bahkan wajah marahnya tadi berubah pucat dan gemetaran.
"Tu.. tuan putri!" kagetnya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
__ADS_1
"Kenapa? ingin mencambukku sampai mati?" sindir Zhia yang langsung di balas gelengan kuat dari si kepala pelayan.
Sedetik kemudian kepala pelayan itu mengangkat wajahnya tinggi dan menatap Zhia dengan pandangan menantang.
"Tunggu tunggu tunggu! siapa kau hah? tuan Putri Zhia pergi bersama Yang Mulia dan baru nanti malam mereka kembali, siapa kamu yang berani memakai pakiaan Putri Zhia bahkan berdandan sepertinya hah?" bentak kepala pelayan yang membuat Zhia semakin memasang wajah sinisnya.
"Cepat katakan! siapa kau berani menyerupai Putri Zhia?" ucapnya lagi.
Zhia tetap diam menahan gejopak amarah di hatinya yang siap meledak itu. Di sisi lain juga menahan lapar di perut yang sudah sakit karena lapar sungguh membuatnya tak kuasa lagi menahan segala rasa.
"Bawa mereka ke halaman dapur" Zhia menatap tajam kepala pelayan lalu berlalu begitu saja dari sana.
Prajurit yang tadi mengikuti Zhia langsung menggiring enam pelayan dapur dan kepala pelayan ke tempat yang di katakan Zhia.
"Apa yang kalian katakan pada perempuan itu hah? siapa dia ada di sini?" kepala pelayan menatap marah prajurit yang mengiringnya.
Prajurit nampak acuh tak acuh tidak perduli dengan apa yang di katakan kepala pelayan. Mereka sudah kesal dengan kepala pelayan itu yang bisanya hanya marah dan memerintah.
Untungnya mereka memiliki pimpinan sendiri di keprajuritan jadi kepala pelayan tidak berani berbuat kasar pada mereka kalau menolak perintahnya.
Zhia sampai di halaman depan dapur dan melihat Raja Bhian dan beberapa prajuritnya yang sedang sibuk membuat api untuk membakar daging.
"Apa itu?" tanya Zhia dengan wajah yang penuh minat kala daging mulai di beri bumbu.
"Ini daging kijang, kalau di bakar lebih enak lagi" sahut Raja Bhian yang membuat Zhia berbinar bahagia.
"Wah benarkah! apa masih lama matangnya? aku sudah benar-benar lapar" ucapnya yang langsung mendapatkan senyuman tipis dari Raja Bhian.
"Sabar ya, makan buah itu dulu untuk sementara" Raja Bhian menunjukkan buah yang ada di meja kecil di teras yang tak jauh dari mereka.
Zhia berdiri dan mengambil buah pir lalu kembali berjongkok di dekat Raja Bhian yang mulai meletakkan daging di atas bara api.
__ADS_1
"Berapa lama baru matang?" tanya Zhia yang benar-benar sudah tidak sabar lagi.
"Kamu harus sabar, itu pelayan udah masak di dalam" Zhia melongok melihat ke dalam dari pintu dan mendapati pelayan yang sedang memasak di dapur.
Tapi bukan pelayan dapur yang sesungguhnya.
"Pelayan kamu harus ku habisi supaya tidak menular" kata Zhia santai sembari makan pirnya.
Raja Bhian melihat Zhia lalu melihat ke arah di mana para pelayan dapur dan kepala pelayan yang datang bersama dua prajurit yang tadi mengawal Zhia.
"Memangnya mereka penyakitan harus menular!" Raja Bhian tersenyum tipis lalu melihat prajurit yang masih sibuk mebolak balik daging yang di bakar agar matang merata.
"Memang! penyakit malas dan tidak bertanggung jawab pada pekerjaan mereka, kalau di biarkan bisa-bisa yang lain ikutan apa lagi kepala pelayannya yang nularin penyakit, bisa lebih parah lagi sakitnya" kata Zhia.
"Terserah kamu aja" pasrah Raja Bhian menyerahkan masalah itu pada Zhia karena ia terlalu malas berurusan dengan pelayan.
Biasanya kalau ada masalah apapun pada pelayan maka kasim yang akan turun tangan mengatasinya.
Tapi kini kasim Raja Bhian dan Zhia sedang ada kerjaan dari sang Raja. Kerjaan yang harus segera mereka selesiakan dengan cepat karena itu adalah sesuatu yang sangat penting.
Itulah sebabnya kepala pelayan berani bersantai karena kasim sedang sibuk hingga tidak sempat mengurus mereka.
Zhia berdiri mendekati pelayan dan kepala pelayan yang terus menunduk ketakutan. Apa lagi tadi wanita paruh baya itu sempat memarahi Putri Zhia yang di anggapnya palsu. Tapi setelah melihat Raja Bhian berada di antara para prajurit membakar daging membuatnya gemetar ketakutan.
"Jongkok" ucap Zhia yang membuat para pelayan itu langsung menuruti.
"Diam di situ dan renungkan kesalahan kalian" lanjutnya seraya mengunyah pir di mulutnya.
"Maafkan saya tuan Putri, saya mengaku salah" ucap kepala pelayan.
Zhia tidak perduli dengan ucapan kepala pelayan itu dan terus berjalan meninggalkan kepala pelayan dan pelayan dapur yang sedang berjongkok itu.
__ADS_1