
Perhatian Moa dan panglima Qai teralihkan pada sumber suara yang tidak jauh dari mereka. Nmaun harus melihat keatas karena suara itu dari atas.
"Tuan Putri!" gumam Panglima Qai pelan dengan wajah kagetnya.
Bagaimana mungkin tuan putri mereka bisa sampai di tempat itu juga. Sedangkan tadi saat dirinya pergi bersama sang Raja hanya berdua dan sang putri entah ada di mana.
Seingat Panglima Qai, tadi sebelum mereka berangkat pergi meninggalkan penginapan. Semua prajurit sengaja di tinggal untuk memperketat keamanan di penginapan dan menjaga sang tuan putri agar jangan sampai ada penyusup.
Tapi kalau yang di jaga malah sudah sampai di tempat mereka yang ada para penjaga bukan mendapatkan penyusup. Tapi yang di jaga sudah menyusup pergi meninggalkan penginapan tanpa di ketahui oleh siapapun.
Panglima Qai melirik Raja Bhian di belakangnya yang terlihat biasa saja dengan wajah datarnya. Malah ikut melihat ke arah di mana gadis yang tadi berbicara itu dengan santainya.
"Siapa kamu?" tanya Moa dengan kening yang mengkerut.
"Entahlah, saya pun tidak tahu" sahut Zhia acuh tidak ingin mengatakan siapa dirinya.
"Apa maksud ucapanmu tadi hah?" tanya Moa.
"Yang mana?" tanya Zhia balik seolah ingin memancing amarah wanita di bawah sana yang sudah berani menggoda calon suaminya.
"Apa yang sudah kalian lakukan terhadap ayah saya?" api amarah mulai terlihat dari Moa yang merasa di permainkan.
"Siapa ayahmu?" Zhia melihat heran wanita di bawah.
"Ayahku seorang tabib yang berada di desa Parean, apa yang sudah kalian lakukan padanya?" teriak Moa kesal.
"Uuugh galaknya" ucap Zhia dengan satu mata yang sedikit di sipitkan.
"Jawab pertanyaan saya! jangan main-main!" bentak Moa yang sama sekali tidak di tanggapi oleh Zhia.
Gadis itu malah melompat dari atas goa dengan menjadikan beberapa pohon sebagai pijakan hingga akhirnya bisa turun tepat di gendongan Raja Bhian.
Ya sebenarnya seharusnya Zhia menapakkan kakinya di tanah. Tapi karena Raja Bhian ingin mengatakan sesuatu dengan Zhia, jadilah pria itu menangkap tubuh Zhia di gendongan kedua lengannya.
"Gadis nakal! kenapa tidak diam di penginapan?" bisik Raja Bhian kala tubuh Zhia sudah di gendongannya.
"Catri mau lihat selingkuhan kamu Cami" canda Zhia berbisik balik.
"Cami setia orangnya" ucap Raja Bhian singkat lalu menurunkan Zhia dari gendongannya.
Melihat pria yang di incarnya di dekati wanita lain, bahkan sampai terlihat bermesraan dengan slaing berbisik. Moa merasa tidak terima dan semakin marah.
__ADS_1
"Kurang ajar! berani kamu mendekati calon suamiku!" bentak Moa.
Kedua alis Zhia terangkat mendengar bentakan Moa. Bukan karena takut tapi kaget dengan perkataan wanita itu.
"Siapa calon suami kamu? ini?" tunjuk Zhia pada Raja Bhian di sampingnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Moa, Zhia merangkul leher Raja Bhian dan mengecup pipi kanan pria itu dengan mesra lalu menempelkan pipi mereka berdua.
"Kamu calon suami siapa?" tanya Zhia pada Raja Bhian dengan wajah polosnya.
"Kamu" sahut Raja Bhian menatap Zhia penuh cinta.
Tentu saja Zhia tersenyum manis mendengar ucapan Raja Bhian yang sudah pasti memilihnya.
"Ini calon suami saya, yang mana calon suami kamu? apa kamu Panglima?" Zhai mengalihkan pandangannya dari Moa ke Panglima Qai yang sejak tadi bengong melihat tingkah Zhia dan Raja Bhian yang seakan sudah janjian untuk memancing amarah lawan.
"Hah? apa? saya tidak mau dengannya Tuan Putri" ucap Panglima Qai menolak secara spontan kala mendapat pertanyaan dari Zhia.
Zhia tersenyum miring melihat wanita di depannya yang terlihat semakin marah. Bahkan sudah mulai terlihat api di sekitar tubuhnya.
"Wah kamu mengakui siapa sebagai calon suami? tidak ada yang mengaku sebagai calon suami kamu, apa mungkin kamu cuma berkhayal saja!" ucapnya yang semakin membuat marah Moa.
Sekeliling tubuh Moa di selimuti api, kening Zhia mengkerut melihat itu.
Dulu saat akan mendapatkan sihir dengan simbol mahkota, Zhia juga melakukan meditasi dulu. Hanya saja cara yang di beri tahu Raja Hilla, Zhia harus masuk ke dalam danau dan membuat dirinya bisa bertahan di dalam air tanpa basah dengan sihirnya.
Butuh waktu enam bulan bagi Zhia untuk bisa sampai puncak mendapatkan simbol mahkota di dalam air danau seperti saran ayahnya. Waktu yang singkat itupun di dukung oleh kemampuan Zhia yang memang kuat layaknya petarung.
Itulah sebabnya Zhia sedikit heran melihat wanita di depannya yang malah meditasi di dalam goa alih-alih di kobaran api. Butuh waktu lebih lama memang kalau tidak di media sihirnya langsung.
Seperti Moa yang belum juga sampai mendapatkan simbol sihir mahkota meski sudah enam bulan semedi. Dan beberapa bulan sebelumnya ayahnya menjaganya di sana.
Namun karena memiliki ambisi sendiri ayahnya menyamar jadi tabib dan menguasai desa Parean dan meninggalkan putrinya sendirian di goa.
"Belum waktunya dia keluarkan! meditasinya belum selesai" gumam Zhia pelan.
"Itu justru menguntungkan bukan! tidak sulit menghabisinya" bisik Raja Bhian.
Zhia hanya mengangkat satu alisnya saja sebagai respon.
"Katakan apa yang sudah kalian pada ayahku?" teriak Moa marah karena sejak tadi di permainkan dan di sepelekan.
__ADS_1
"Ayahmu sudah kami kalahkan" ucap Panglima Qai.
Mata Moa melotot tajam dan semakin terlihat marah.
Tentu Moa tahu apa yang terjadi pada ayahnya jika sudah di kalahkan. Sebagai sesama memiliki sihir Moa tahu kalau pemilik sihir yang kalah akan di segel dan kehilangan semua ingatannya serta kemampuan sihirnya.
"Ayah! kalian berani mengalahkan ayahku!" semakin besar api yang mengelilingi tubuh Moa.
Moa mengangkat kedua tangannya yang berapi menunjukkan pada lawannya agar merasa takut.
"Rasakan lah kemarahku ini.."
Byur...
Moa yang belum selesai berucap sudah terdiam karena tiba-tiba tubuhnya basah semua dari atas hingga bawah. Bahkan api di yang tadi mengelilinginya pun sudah padam. Mulut Moa yang masih terbuka meneteskan air yang tadi masuk ke dalam.
"Uups! maaf ya sengaja, kirain badan kamu terbakar" ucap Zhia dengan senyum miring di wajahnya.
"Darimana datangnya air ini? kenapa apiku bisa padam?" tanya Moa pada dirinya sendiri.
Pandangan Moa beralih pada Zhia yang masih menatapnya. Raja Bhian juga menatapnya datar dengan kedua tangan di belakang tubuh.
"Apa kamu pemilik sihir air?" tanya Moa pada Zhia yang hanya di respon dengan mengangkat kedua bahunya acuh.
Moa menyeringai tajam pada Zhia yang masih terlihat santai tanpa rasa takut.
"Bagus! saya sednag membutuhkan lawan untuk menguji kemampuan sihir api ini" ucapnya dengan tubuhnya berasap akibat penguapan air yang tadi membasahi tubuhnya.
Setelah tubuhnya kering, Moa kembali mengeluarkan api dari tangannya dan mengarahkan pada Zhia yang sedang di peluk Raja Bhian dari belakang.
"Rasakan ini!" teriaknya.
Kobaran api menerjang Zhia dan Raja Bhian, keduanya berpisah menghindari api itu.
Panglima Qai yang melihat Raja serta calon ratunya di serang langsung maju melakukan perlawanan. Meski dirinya tidak memiliki sihir tetapi dia cukup mahir menghindar dari serangan api yang di lakukan oleh Moa.
Raja Bhian menggerakkan tangannya hingga tanaman merambat mengikat kedua tangan Moa. Panglima Qai langsung memukul di bagian bahu hingga Moa terjatuh.
Moa menggunakan apinya untuk melepaskan ikatan yang mengikat di tangannya. Cukup kesulitan kerena selain ikatan yang tidak mudah di lepas, Panglima Qai juga terus maju melawan.
Hingga ikatan tangannya bisa terlepas, Moa langsung menyemburkan api besar di sekitarnya agar Panglima Qai mundur.
__ADS_1
"Beraninya kalian main keroyokan" ucap Moa ngos-ngosan dengam api yang masih mengelilinginya sebagai perisai.
"Baiklah, kalau begitu sekarang pertarungannya antara kita saja" ucap Zhia maju mendekati Moa yang semakin membesarkan perisainya.