
Raja Bhian dan Zhia pergi menuju bendungan utama daerah Parena. Bendungan terbesar di daerah itu yang dulu pernah di bangun sebelum musim kemarau tiba. Dan mampu menampung banyak air untuk mencukupi semua kebutuhan warganya.
Baik untuk kebutuhan pertanian ataupun kebutuhan sehari-hari melalui aliran air yang di buat ke segala arah.
Sesampainya di sana keadaan sudah lebih terang karena matahari mulai memperlihatkan dirinya pelan-pelan.
Raja Bhian dan Zhia turun dari kuda, berjalan sebentar menuju tempat pengaturan air yanga da di pinggiran bendungan.
Tidak ada siapapun di sana yang berjaga, bahkan kondisi air di dalam bendungan luas dan dalam itu hanya sedikit. Padahal malam tadi hujan sangat deras dan hal sangat tidak memungkinkan kalau bendungan itu tidak mendapatkan air.
Sementara pintu air yang mengaliri sungai menuju perumahan dan kebun tertutup meski tidak rapat. Air masih bisa merembes keluar sedikit.
"Apa tidak ada yang menjaga di sini?" tanya Zhia heran kala mendapati tempat penjagaan pintu air kosong tidak ada orang sama sekali.
"Seharusnya ada tiga orang yang berjaga di sini, bergantian siang dan malam" sahut Raja Bhian meneliti seluruh sudut ruangan.
"Benar-benar tidak beres" ucap Zhia.
Zhai keluar dari bangunan kecil di mana Raja Bhian masih di sana. Melihat ke dalam bendungan yang masih ada airnya. Gadis itu meletakkan satu tangannya di perut dan satu tangan lagi di bawah dagu.
Malihat dengan mata tajamnya kedasar bendungan.
"Apa ada sesuatu di dalam sana?" tanya Raja Bhian yang sudah berdiri di belakang Zhia.
"Mata air di bendungan ini mengalir deras, bahkan di setiap sisinya ada mata air, tempat ini bagus untuk bendungan memang, hanya yang aneh memang kenapa airnya tidak berkumpul banyak?" sahut Zhia.
"Ada yang berputar di atas air" bisik Raja Bhian pada Zhia sembari melihat objek yang menarik perhatiannya.
__ADS_1
"Catri juga melihatnya sejak tadi" bisik Zhia pula.
Memang sejak kedatangan keduanya tadi sudah dapat melihat ada sesuatu yang sedang berputar di atas bedungan. Bersamaan dengan uap air yang naik sedikit-sedikit, kalau hanya orang biasa atau pendekar biasa tidak akan dapat melihatnya.
Hanya orang yang memiliki sihir jenis apapun yang dapat melihatnya. Itu sebabnya warga Parean tidak pernah ada yang tahu apa penyebab keringnya semua air di daerah mereka dan menganggap itu hal yang sangat misterius. Bahkan tidak sedikit yang menganggap daerah mereka terkena kutukan yang menyebabkan air tidak cepat hilang di sana.
Untuk mengelabui sesuatu yang sedang bekerja di atas sana menggeringkan air bendungan, Raja Bhian dan Zhia pura-pura tidak tahu akan keberadaan mereka.
Zhia menatap tajam kearah atas bendungan lalu menggerakkan tangannya mengangkat air yang tersisa di bendungan itu. Hingga air naik tinggi mengenai sesuatu di atasnya yang terdengar berteriak.
Raja Bhian menggerakkan tangan kirinya hingga angin berhembus membawa air berputar dengan cepat menhabisi musuh dari bagian sihir api itu.
Teriakan terdengar cukup keras sampai akhirnya menghilang dengan sendirinya. Raja Bhian menghentikan angin sihirnya sedangkan Zhia menurunkan air lagi ke dalam bendungan.
Tanpa aba-aba Zhia melompat kedalam bendungan yang membuat Raja Bhian kaget hingga berteriak memanggilnya.
"Tenanglah Cami, apa kamu lupa siapa Catrimu ini?" seru Zhia dengan santainya membuat Raja bhian menghembuskan napasnya.
Bukannya tidak ingat kalau Zhia memiliki sihir air, hanya saja tindakan tiba-tiba yang di lakukan Zhia cukup membuatnya lupa siapa gadis yang bersamanya dan bagaimana kemampuannya.
Mengingat tentang sihir yang di miliki Zhia membuat Raja Bhian teringat akan simbol yang ada di dada gadis itu. Simbol yang berada di atas gundukan menggoda milik Zhia, meski tidak semua di tunjukkan dan hanya bagian atasnya saja sedikit. Itu mampu membuat Raja Bhian panas dingin juga.
Bagaimanapun dirinya pria normal dan belum pernah melihat hal seperti itu, jadi wajar saja kalau dirinya merasa bergetar kala melihat apa yang di tunjukkan Zhia padanya tadi.
Raja Bhian menggelengkan kepalanya dengan mata terpejam sejenak untuk menghilangkan pikiran kotornya dan berusaha fokus pada tugas mereka yanga da di depan mata.
Sedangkan di bawah sana, Zhia mulai berjalan pelan di atas air. Menggerakkan tangannya untuk mengumpulkan air yang memancar dari mata air di sana. Zhia memutar tubuhnya hingga bergerak naik dengan pusaran air di bawah kakinya yang mengikuti pergerakannya.
__ADS_1
Hingga tinggi air yang di bawa naik oleh Zhia melebihi tingginya bendungan. Bahkan Raja Bhian yang melihat dari pinggir bendunganpun harus mengangkat kepalanya demi bisa melihat Zhia yang ada di antara pusaran air sedang memejamkan matanya.
Sangat cantik batin Raja Bhian menatap kagum Zhia yang nampak sangat bersinar di antara air yang mulai bercahaya terkena sinar matahari.
Zhia mmebuka matanya dan menurunkan kedua tangan yang tadi di angkat naik perlahan. Airpun mulai turun mengisi bendungan perlahan pula mengikuti gerakan tangan Zhia. Hingga semua air sudah berada di dalam bendungan yang kini sudah terisi penuh dan berjalan normal kembali.
Pintu bendungan terbuka seiring dengan air yang keluar dari sana mengaliri sungai-sungai yang mengarah ke pemukiman dan perkebunan warga. Air yang penuh itu terlihat sangat jernih hingga dasar bendungan bisa terlihat dari atasnya.
Zhia melihat Raja Bhian yang masih berdiri di pinggir sana menatapnya dengan senyuman senang dan bangga. Tentu saja Zhia membalas senyuman itu dengan manis. Perlahan Zhia berjalan di atas air mendekati Raja Bhian.
Namun di setiap langkah gadis itu selalu di tumbuhi dengan bunga teratai. Bahkan daunnya muncul di tempat yang di lijak oleh Zhia. Gadis itu berhenti melihat di bawah kakinya yang terdapat daun teratai lebar.
Pandangannya beralih pada pria di depan sana yang masih menatapnya dengan pandangan yang sangat menawan.
Apa dia yang melakukan ini? batin Zhia melihat Raja Bhian.
Zhia tahu kalau Raja Bhian tidak hanya memiliki satu sihir saja, selain angin ada sihir kayu juga yang di milikinya. Sihir kayu sendiri bukan berfokus hanya pada kayu semata seperti namanya. Melainkan sebuah sihir yang bisa mengendalikan segala tanaman dan sejenisnya.
Di tambah dengan sihir tanah yang di miliki Raja Bhian, pria itu mempu mengendalikan tanah seperti apapun untuk mengikuti perintahnya. Itulah sebabnya kerajaan Sun ini sangat subur karena Raja Bhian yang mampu mengatur tanah dan tumbuhan agar tetap subur dan memiliki cadangan air yang banyak di dalam tanah.
Bukannya segera menghampiri Raja Bhian yang sudah menunggunya di sana, Zhia malah tersenyum nakal pada pria itu yang membuat Raja Bhian heran dengan senyuman yang di tunjukkan Zhia. Ada apa dengannya pikirnya.
Gadis itu memutar tubuhnya berbalik arah dan menapakkan kakinya di atas permukaan air ke segala arah. Di setiap pijakannya menumbuhkan teratai cantik yang membuat Zhia semakin senang bermain-main di atas air itu sampai permukaan air di bendungan terisi oleh teratai cantik di atasnya.
Raja Bhian hanya bisa geleng kepala melihat apa yang di lakukan oleh Zhia. Setelah di rasa cukup teratai yang di atas air, Raja Bhian melakukan sesuatu yang sama sekali tidak di duga oleh Zhia.
"AAKKKKHHH..." teriak gadis itu kaget.
__ADS_1