
Zhia terlihat masih merengut kesal akibat kejadian tadi, dan kini gadis cantik itu hanya diam saja tanpa suara sedikitpun di hadapan keluarganya juga keluarga Raja Bhian. Gadis yang biasanya tidak betah jika harus duduk lama itu kini duduk tenang, bukan tanpa sebab juga.
Tadi saat mereka keluar dari area pacuan kuda ayahnya mengatakan pada mereka kalau akan mengatakan sesuatu terkait perjodohan dan meminta semua orang untuk keruang keluarga. Saat tiba di sana Ratu Nila mendekati Zhia dan sedikit membisikan sesuatu yang membuatnya lemas.
Apa lagi kalau bukan masalah celana kesayangan Zhia yang tidak akan di kembalikan karena gadis itu sudah melanggar perintah ibunya untuk tidak naik kuda dan melakukan pertarungan seperti tadi, walaupun tidak serius tapi bagi Ratu Nila melanggar perintah harus mendapat hukuman.
Dan putrinya itu tidak akan pernah jera untuk selalu mendapatkan sela kelengahannya dan kembali melakukan hal yang di larang. Jadi kali ini Ratu Nila harus bersikap sangat tegas dan sedikit keras pada Zhia, bahkan saat gadis itu akan mengajukan protes langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ratu Nila sebagai tanda ' tidak ada bantahan apapun'.
Zhia hanya bisa pasrah dan terdiam karena sikapnya yangs edikit membangkang itu memang kerap kali muncul kala merasa bosan dan memiliki kesempatan. Di mana ada peluang di sana pula ia berulah, bagitulah sekiranya pemikiran Zhia selama ini.
Kini Raja Hilla dan Perdana Mentri Ji sedang mengatakan menanyakan beberapa hal kepada pasangan di depan mereka. Yang satu duduk tegap dengan wajah tegasnya yang terlihat datar sedangkan yang satunya terlihat cemberut dan tidak semangat lagi.
"Bhian dan kamu putriku Zhia, ada yang ingin kami tanya pada kalian berdua" seru Raja Hilla menatap pasangan di depannya bergantian.
"Iya paman"
"Iya yah"
Mendengar suara Zhia yang lirih dan tidak bersemangat bahkan terkesan tidak bertenaga itupun mencuri perhatian keluarganya dan juga keluarga Raja Bhian tentunya. Tidak biasanya gadis yang sangat energik itu begini pikir mereka, walau keluarga Raja Bhian baru dua hari bertemu dna mengenal Zhia mereka selalu melihat kecerian dan ketegasan pada gadis yang saat ini seperti kehilangan sesuatu hingga tidak semangat.
"Ada apa sayang? apa kamu sakit?" tanya permaisuri Zie khawatir lalu mendekati putrinya memeriksa keadaan si bungsu.
"Tidak panas" lanjutnya setelah menyentuh kening Zhia.
"Zhia baik-baik saja ibu" ucap Zhia tersenyum tipis untuk meyakinkan ibunya.
__ADS_1
Permaisuri Zie mengangguk dan kembali ke tempat duduknya, sebenarnya ia tidak percaya kalau putrinya itu baik-baik, tapi karena tidak ingin merusak suana jadi ia memilih mengalah lebih dulu dan akan bertanya nanti saja. Sedangkan Ratu Nila menatap iba pada putrinya tapi ia tidak mungkin menarik ucapannya lagi dan harus tetap tegas, ia melakukan itu agar Zhia tidak lagi melanggar perintah.
"Kalau kamu merasa kurang sehat nanti kita ke ketempatku, ada yang ku buat khusus untukmu" ucap Zhio pada Zhia yang hanya di angguki saja.
"Baiklah agar lebih cepat dan Zhia bisa beristirahat juga langsung saja kita bertanya, Bhian! apa kamu mau bertungan dengan Zhia? selain meneruskan wasiat kakek kita juga bisa semakin mempererat tali persaudaraan, pernikahan ini bukan untuk memperkuat kerajaan agar semakin di takuti atau karena politik tapi murni perjanjian antara dua sahabat di masa lalu untuk semakin menjadi saudara dengan jalan pernikahan, jadi apa kamu mau nak bertunagan dengan Zhia lalu menikahinya tiga bulan kemudian!" seru Perdana Menteri Ji pada keponakannya.
"Demi wasiat kakek dan juga kerajaan yang menginginkan seorang ratu maka Bhian setuju paman, lagi pula sudah saatnya bagi Bhian untuk memiliki istri" ucap Raja Bhian mantap tanpa keraguan.
Kini tinggal mendengar jawaban dari si gadis yang membuat mereka tegang dan takut kalau si gadis menolak.
"Bagaimana denganmu Zhia? apa kamu mau menerima Bhian menjadi tunganmu dan kemudian menjadi suamimu kelak?" tanya Raja Hilla pada putrinya yang sejak tadi menunduk meratapi nasib barang kesukaannya yang tidak bisa pulang padanya lagi.
"Apa ada unsur keharusan dan keterpaksaan yah?" tanya Zhia balik menatap ayahnya yang seperti penuh harap padanya.
"Kalau Zhia menolak bagaimana?"
Semua orang kaget mendengar ucapan Zhia itu .
"Apa kamu memiliki kekasih anakku?" tanya Permaisuri Zie penasaran.
"Tidak ibu, hanya ingin lebih meyakinkan hati saja" ucap Zhia, punya kekasih dari mana sih ibu! yang ada si putih tuh di kandang batin Zhia. Si putih yanh di maksudnya itu ia lah kuda kesayangannya hadiah dari para kakaknya saat ia bisa menaiki kuda dulu.
"Kalau Zhia menolak maka kita akan mengganti perjodohannya dengan kakakmu Ballu dengan putri dari paman Ji, Wiya" ucapan ayahnya itu sontak saja membuat mata Zhia melotot tidak percaya.
Apa-apaan itu? masa iya kakaknya yang sangat tampan dan baik hati harus mendapatkan istri yang sinis dan sombonh seperti Wiya, tidak bisa di biarkan gumam Zhia dalam hati. Walaupun keempat kakaknya itu masih sendiri tapi ia juga tidak mau kalau kakaknya di jodohkan dengan wanita modelan seperti Wiya itu.
__ADS_1
Sedangkan Wiya yang mendengar ucapan Raja Hilla langsung melotot tidak terima. Apa-apaan dia yang harus menjadi objek penerus wasiat perjodohan, walaupun Pangeran Ballu calon penerus tapi ia tidak mau karena sesungguhnya di hati Wiya sudah ada nama Raja Bhian, saudaranya sendiri, namun ia pendam semua itu sendiri dan mencoba menghancurkan semua wanita yang mendekati Raja Bhian.
Saat Wiya akan buka suara untuk protes , ibunya sudah lebih dulu menahannya dan menggelengkan kepala dengan lirikan tajam. Bibi An tentunya tahu bagaimana watak anaknya yang sangat pembangkang dan keras kepala, tidak bisa memahami situasi dan bertindak sesuai emosi.
"Jadi bagaimana Zhia? apa mau menjadi menantu ibu nak?" tanya ibu Suri angkat suara.
"Zhia mau" sahut Zhia akhirnya, biarlah ia menerima perjodohan ini dari pada kakaknya mendapatkan wanita seperti Wiya itu.
Semua keluarga mengucap syukur setelah mendengar jawaban dari Zhia. Ternyata trik mereka berhasil juga menaklukan gadis pecicilan seperti Zhia. Pengalihan perjodohan terhadap pangeran Ballu dan Wiya itu hanya sebagai gertakan dan pemaksaan tak langsung dari keluarga agar Zhia mau menerima perjodohan ini tanpa memaksa dengan keras.
Karena Raja Hilla tahu bagaimana sikap putrinya yang selalu bisa mencari celah untuk mengelak maka ia membuat rencana itu dan membicarakannya pada keluarga Raja Bhian dan anak-anak serta ketiga istrinya.
Hanya yang akan di jadikan tumbal sementara saja yang tidak tahu dan target utama tentunya. Namun Pangeran Ballu hanya diam saja saat di katakan akan di jodohkan dengan Wiya, karena ia yakin itu hanya gertakan semata untuk Zhia. Sebagai kakak tertua ia tentu memahami sikap adik-adiknya.
"Kalau begitu dua hari lagi kita akan melangsungkan acara pertunangan untuk mengikat keduanya sampai nanti di hari sakral itu tiba.
"Baiklah ayo kita segera persiapkan sekarang" semangat semua orang untuk menyiapkan acara pertunangan yang bahkan masih dua hari lagi.
Namun karena nanti pernikahannya di kerajaan Sun, maka Raja Hilla menggelar acara pertunangan dengan megah untuk putrinya.
Zhia menatap sinis dan tajam pada Wiya yang sejak tadi menatapnya remeh.
Jangan merasa menang hanya karena menikahi sepupu, lihat saja nanti! aku akan membuatmu tunduk padaku setelahnya akan ku depak jauh-jauh dari sepupu batin Wiya.
Jangan remehkan kemampuanku membasmi ulat sepertimu, jangan panggil aku Zhia jika harus tunduk padamu batin Zhia pula yang tahu maksud dari tatapan remeh Wiya.
__ADS_1