
Merasa tubuhnya sudah di letakkan, dan mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Zhia yang pura-pura pingsan mengintip dari celah matanya dan mendapati pria berbaju hitam berjalan menjauh keluar dari ruanga sepetak itu.
Setelah pintu tertutup barulah Zhia membuka matanya lebar. Melihat sekeliling Zhia mendapati dirinya ada di satu ruangan kecil yang terlihat seperti kamar. Hanya saja tempat tidurnya beralaskan tikar.
Samar-samar Zhia mendengar suara orang sedang berbicara. Entah karena rumah itu yang kecil atau karena suasana yang sunyi jadi Zhia bisa mendengar apa yang di bicarakan orang di luar sana.
"Apa kalian sudah berhasil menghabisi rombongan itu?" tanya seorang pria dengan suaranya yang terdengar berat tapi terkesan seram.
"Belum tuan, tadi saat yang lain sedang bertarung saya langsung mendekat dan menculik calon istri Raja muda itu" sahut pria lainnya yang di yakini orang yang tadi membawa Zhia.
"Bagus, tidak masalah kalau mereka menang karena sesungguhnya kita lah pemenangnya karena bisa mendapatkan calon istri Raja itu, dengan adanya wanita itu kita bisa menekan dan mengalahkan mereka semua"
Suara tawa keras terdengar menggema di tempat itu.
Zhia bergidik ngeri membayangkan seperti apa wajah orang yang sedang tertawa itu. Kalau suaranya saja seram mungkin wajahnya lebih menyeramkan batinnya.
Mendengar langkah kaki yang sepertinya mengarah ke tempatnya di kurung. Zhia dengan cepat kembali ke posisi semula dan memejamkan mata.
Benar saja kalau dua orang itu masuk ke dalam dan melihat Zhia.
"Apa dia calon istri Raja itu?" tanya si pria bersuara menyeramkan mendekati Zhia.
"Iya tuan, dia orangnya" sahut si penculik tadi.
"Hmmm... sangat cantik dan auranya sangat kuat" kagumnya pada Zhia melihat dengan teliti wajah Zhia yang memejamkan mata dengan damai seakan meyakinkan mereka kalau Zhia memang pingsan.
"Dari apa yang saya pernah dengar dia ini putri dari kerajaan Month tuan, putrinya Raja Hilla" ucap si penculik itu lagi.
"Benarkah! wah wah wah.. sepertinya keberuntungan sedang memihak pada ku, calon istri dari Raja muda itu adalah putri dari Raja Hilla yang artinya kita menaklukan dua kerajaan besar sekaligus hanya melalui dia" ucap si suara seram itu dengan suara kekehannya.
"Saya rasa dia juga cocok di jadikan pendamping tuan, karena dia sangat cantik dan saya belum pernah melihat seseorang yang kecantikannya menandinginya" usul si penculik.
"Yah, kau benar dia sangat cantik dan menawan sangat sayang kalau harus di sia-sia kan, setelah kita menguasai dua kerajaan besar itu aku akan menjadikannya ratuku dan dia akan menjadi ratu yang paling cantik di seluruh kerajaan ini, selain kerajaan yang sangat berjaya dan besar juga seorang wanita cantik hahahaha aku adalah orang yang sangat beruntung" tawa si suara menyeramkan menggema kuat di rumah kecil itu.
__ADS_1
Kedua orang itu saling berhadapan dan tertawa bersama tanpa tahu siapa yang ada di hadapan mereka.
"Wah nasibmu benar-benar beruntung ya" ucap Zhia yang sudah berdiri di dekat ke dua orang yang tadi tertawa.
"Tentu saja aku sangat beruntung, aku adalah Poda si pemberani yang memiliki banyak keberuntungan hahaha" sahutnya tanpa sadar siapa yang tadi bicara.
"Hm.. kalau kau seberuntung itu kenapa tempat tinggalmu gubuk reot yang sempit seperti ini? ihh.. ini menjijikkan!" ejek Zhia yang membuatnya langsung mendapatkan tatapan tajam dari Poda.
"Siapa kau berani menghinaku hah? ini hanya tempat tinggal sementara sebelum aku menguasai dua negara berkuasa dan menjadi penguasa besar yang di takuti seluruh kerajaan lain hahahaha"
Zhia bertepuk tangan dengan wajah datarnya seraya mengangguk.
Pado menghentikan tawanya saat sadar akan sesuatu. Perempuan yang tadinya menutup mata karena pingsan sudah berdiri di dekat mereka dan ikut berdiskusi dengan mereka.
"Kau! sejak kapan kau sadar hah?" kagetnya begitupun dengan si penculik.
Zhia menunjuk dirinya sendiri dengan santai.
"Aku! sejak awal aku sadar" jawabnya.
"Apa kau pikir mudah membuatku pingsan?" tantang Zhia pada si penculik yang membuat pria itu marah.
"Kurang ajar! beraninya kau mempermainkanku" ucapnya marah dan maju hendak menangkap Zhia lagi.
Dengan cepat Zhia menangkis tangan penculik itu dan memukul mundur.
"Oh! ternyata kau bisa melawan ya" kata Pado yang kini maju gantian melawa Zhia.
Tapi kali ini bukan Zhia yang membalas serangan Pado. Raja Bhian meneobos masuk dari jendela dan merusak sekat-sekatnya untuk membantu Zhia.
Meski Zhia mampu melawan keduanya tapi sebagai pria Raja Bhian tidak mungkin membiarkan wanitanya bertarung sendirian.
Pado terpental hingga keluar kamar kecil itu. Bukan dari pintu yang terbuka tapi dari dinding yang jebol akibat di tabarak punggung Pado yang terpental.
__ADS_1
"Tuan!" panggil si penculik berlari keluar kamar mengejar tuannya.
Zhia melihat Raja Bhian yang berdiri di depannya dengan alis yang mengkerut. Setelah meyakini kalau pria di depannya adalah pria yang di tunggu, gadis itu menghela napas.
"Kenapa baru muncul? aku tahu kamu sudah sedari tadi di sini" gerutu Zhia seraya melangkah keluar ingin melihat musuh mereka.
"Entahlah, tadinya aku tidak ingin keluar dan hanya ingin menonton, tapi apa kata ayah mertua nanti kalau aku hanya jadi penonton sementara putrinya berkelahi melawan musuh?" sahut Raja Bhian santai mengikuti langkah Zhia.
"Ck! kalau begitu aku akan katakan pada ayah kalau kamu membiarkan ku di culik musuh" ancam Zhia.
"Kamu sendiri yang membiarkan dirimu di culik bukan aku" sahut Raja Bhian lagi yang membuat Zhia lagi-lagi berdecak karena apa yang di katakan pria itu memang benar.
Pado berdiri di bantu bawahannya sembari melihat dua orang yang baru saja melangkah keluar dari kamar penyekapan tadi.
"Wah wah wah.. lihat siapa yang datang berkunjung di gubuk reot ini" ejek Pado saat melihat kehadiran Raja Bhian di belakang Zhia.
"Sayang sekali tamu tak di undang masuk dan malah membuat kekacauan" lanjutnya.
Zhia yang sudah merasa lelah dan ingin istirahat langsung maju menyerang kedua pria di depannya. Terjadilah pertarungan antara Zhia dengan Pado dan anak buahnya.
Raja Bhian duduk di kursi yang ada di sana sebagai penonton. Dirinya hanya akan membantu nanti setelah Zhia mengalami kesulitan, kalau kesenangan gaids itu di ganggu bisa-bisa Raja Bhian akan di diamkan seharian penuh. Atau lebih parahnya lagi bisa berhari-hari.
Dalam waktu sekejab saja si penculik tadi sudah jatuh tersungkur di hadapan Raja Bhian tepat di depan kaki pria itu. Dengan segera Raja Bhian mengangkat satu kaki kirinya dan menginjak kepala si penculik.
"Lepaskan aku sialan!" bentaknya berusaha mengangkat kaki Raja Bhian tapi sulit.
Raja Bhian mengangkat kakinya lalu dengan gerakan cepat pula menendang si penculik begitu berdiri hingga terpental jauh dan tewas seketika kala tubuhnya membentur pohon besar di luar.
"Itu balasan karena sudah lancang menyentuh calon istriku" ucap Raja Bhian santai dengan wajah datarnya. Tapi kedua matanya masih tetap memantau bagaimana perkelahian antara Zhia dan Pado.
Perkelahian itu masih seimbang, belum ada yang kalah dan belum ada yang menang.
"Ternyata kau cukup kuat juga untuk seorang wanita cantik dan lembut sepertimu, apa kau yakin kalau kau anak dari Raja Hilla? mana mungkin anak seorang Raja kuat dan tangguh?" ucap Pado mencoba memprofokasi Zhia.
__ADS_1
"Jangan anggap bunga yang cantik dan menawan lemah, karena di balik itu semua ada sesuatu yang dapat membuat lawan mati seketika, dan jangan anggap aku akan terpancing dengan omonganmu, mulut busukmu sangat bau saat berucap" kata Zhia balik mengejek yang membuat Pado marah dan menyerang dengan emosinya hingga...
JLEB...