Calon Ratu

Calon Ratu
44


__ADS_3

Malam kembali datang, Raja Bhian sedang duduk memegang buku di kursi dekat jendela kamar. Cahaya bulan yang masuk menambah cahaya di dalam kamar yang tidak terlalu terang itu. Zhia yang duduk di tepi ranjang merasa gundah antara harus mengatakan apa yang ada di pikirannya atau diam saja.


Bukan masalah takut akan apa yang di pikirkannya, hanya saja Zhia tidak ingin gegabah bertindak nantinya. Apa lagi di kerajaan ini dirinya masih berstatus calon dan belum memiliki hak penuh dalam bertindak tanpa persetujuan dari calon suaminya.


Akhirnya setelah menimbang-nimbang Zhia memutuskan untuk mengatakan apa yang di pikirkannya.


Raja Bhian mengangkat pandangannya melihat gadis di depannya yang duduk menatap keluar.


"Apa ada sesuatu Catri?" tanya Raja Bhian yang melihat ada sesuatu yang ingin di utarakan Zhia.


Gadis itu menatap pria di sampingnya serius.


"Memang ada sesuatu" Zhia menarik napas panjang lalu menghembuskannya lagi.


"Apa kamu tahu tentang Jendral Loican?" tanyanya mendapat anggukan dari Raja Bhian.


"Putrinya ikut acara yang sedang berlangsung" lanjut Zhia.


"Lalu?" tanya Raja Bhian serius pula kala mendapati wajah serius Zhia. Pasti ada sesuatu yang mengganggu hingga gadis itu terlihat begitu serius pikirnya.


"Anak Jendral itu bernama Ruican dan dia cukup ahli dalam mengikuti pertandingan, bahkan bisa di bilang hanya dirinya yang kemungkinan menang di antara yang lainnya, tapi bukan itu masalahnya"


"Masalahnya apa?" Raja Muda itu terlihat sedang mengingat sesuatu sembari mendengarkan cerita Zhia.


"Wanita itu mencurigakan, dia selalu menatap sinis dan tajam padaku, dari raut wajahnya terlihat kalau dia itu seperti memiliki dendam dan sangat ingin menghabisi, Catri sadar itu bahkan setiap kali Catri lihat-lihat mereka dia seperti buang muka, Catri yakin pasti nanti dia bakalan lakuin sesuatu" Zhia memajukan wajahnya mendekat pada Raja Bhian dengan wajah lebih serius lagi.


CUP


Zhia menarik wajahnya cepat dengan sedikit kesal karena sempat-sempatnya pria di depannya ini mencium dirinya di saat sedang serius.


"Seriuslah Cami" ucap Zhia bersedekap.


Raja Muda itu terkekeh gemas melihat wajah kesal Zhia yang menggemaskan baginya.


"Baiklah, tapi sepertinya memang ada yang janggal disini" ucap Raja Bhian serius.

__ADS_1


"Janggal bagaimana?" tanya Zhia penasaran.


"Setahu Cami, Jendral Loican itu tidak memiliki anak perempuan, anaknya satu laki-laki kalau tidak salah ingat, dulu pernah di bawanya datang ke istana sewaktu Cami sekitar umur dua belas tahun anaknya sepuluh tahun, sempat juga sih gabung sama Cami dulu waktu ada perayaan kerajaan di istana, setelah itu tidak pernah tahu lagi" jelas Raja Bhian kala mengingat masa kecilnya dulu.


"Itukan dulu Cami, bisa aja kan Jendral itu punya anak lagi setelahnya" kata Zhia menyentuh dagu dengan jari telunjuknya dan wajah berpikir.


"Itu tidak mungkin Catri, karena dulu anaknya pernah bilang sama Cami kalau pengen punya adik tapi ibunya sudah tidak bisa memberinya adik lagi, itu sih yang Cami ingat"


"Bisa saja Jendral itu menikah lagi dengan wnaita lain atau dia memiliki selir jadi anak itu anak dari selirnya, karena kata Kasim Oni dia itu anak perempuan kesayangannya Jendral itu"


Pria tampan di depan Zhia nampak berpikir lagi, rasanya dirinya tidka percaya dengan apa yang di katakan oleh Zhia. Apa lagi dari semua Jendral di kerajaan Sun ini hanya Jendral Loican yang lumayan dekat dengannya selain pamannya. Bahkan seingatnya dulu ayahnya pernah berkata pada ibunya saat keduanya menemani Raja Bhian kecil belajar.


Ayahnya mengatakan kalau Jendral itu sangat setia pada istrinya karena perjuangan cinta mereka yang tidak mudah. Jadi Raja Bhian meragukan ucapan Zhia tentang anak perempuan Jendral Loican itu, apa mungkin dari selir batinnya.


"Sudahlah Catri, kita tidur saja nanti akan Cami cari tahu semuanya, sementara berhati-hatilah dan tetap waspada ya" ucap Raja Bhian menarik tangan Zhia membawa gadis itu menuju tempat tidur.


"Baiklah, Catri juga yakin kalau dia tidka akan mungkin melakukan sesuatu dalam waktu dekat, paling tidak saat nanti acara terakhir" tebak Zhia.


"Tenanglah Catri, Cami akan selalu melindungi kamu"


------


Keesokan paginya setelah makan Zhia pergi lagi menuju tempat pertandingan di laksanakan karena hari ini akan di tentukan siapa yang akan lolos terpilih dan menjadi lawan Zhia nantinya.


Sesampainya di tempat acara Zhia duduk di tempatnya dan sudah merasakan pandangan tajam dari arah para peserta. Zhia tersenyum sinis kala seseorang itu melihat arah lain kala Zhia melihatnya.


Pertandingan di mulai dari berburu lebih dulu, berburu yang mereka lakukan bukanlah seperti apa yang di lakukan pria. Para wanita hanya harus menangkap kelinci yang di bebaskan di sekitar arena yang sudah di beri pembatas dan beberapa rintangan untuk menghadang para wanita itu.


Tadinya mereka harus menggunakan panah untuk memburu kelincinya tapi karena di khawatirkan kejadian kemarin saat pertandingan memanah terulang. Para peserta di haruskan menggunakan tangan kosong saja menangkap kelincinya dan harus menangkap sebanyak yang mereka bisa.


Tiga jam berlalu dan acara berburu selesai, setelah menghitung jumlah kelinci yang mereka dapat peserta di minta istirahat untuk nanti melanjutkan acara selanjutnya yaitu berpedang.


Tidak semua dapat menangkap kelinci, bukan karena tidak bisa tetapi kesulitan berlari mengejar kelincinya karena gaun mereka.


Beberapa saat kemudian acara di lanjutkan.

__ADS_1


Sebuah arena berbentuk bulat lebar yang akan di gunakan untuk bertanding pedang sudah di siapkan cukup luas untuk mereka bertanding. Pedang yang mereka gunakan juga bukan pedang sungguhan. Pedang mainan yang bahkan bagian mata pedangnya tumpul.


Hal itu di lakukan agar tidak melukai peserta karena pertandingan ini bukan untuk unjuk kekuatan. Apa lagi para wanita itu tidak pernah menggunakan pedang untuk mempertahankan diri jadi lebih baik menggunakan pedang palsu lebih aman.


Pertandingan di mulai saru lawan satu, setelah mendapatkan saru pemenang maka di lanjutkan dengan yang lain sampai mendapatkan pemenang selanjutnya. Hingga para pemenangnya kembali bertanding dan mendapatkan pemenang lainnya.


Sampai seorang pemenang di dapatkan dari yang lainnya, dan dia sudah pasti Ruican wanita yang selalu mengawasi gerak-gerik Zhia di area pertandingan itu. Bahkan dirinya juga yang selalu menatap penuh permusuhan pada Zhia dari jauh, tentu saja Zhia tahu itu karena sejak kecil Zhia di ajari ayahnya untuk peka dengan sekitar agar bisa mengetahui bahaya yang bisa datang dari mana saja.


"Dari hasil pertandingan yang sudah kita laksanakan, peserta terbaiknya adalah Nona Ruican dan dari pertandingan terakhir juga di menangkan oleh nona Ruican jadi kesimpulannya adalah pemenang dari pertandingan ini adalah nona Ruican" ucap Kasim Oni mengumumkan pemenangnya setelah tadi di lihat oleh Zhia semua penilaian para peserta dan dari apa yang di saksikan sendiri.


"Karena nona Ruican pemenangnya dari pertandingan sesama peserta, maka besok adalah pertandingan akhir dan penentuannya apakah nona Ruican bisa mengalahkan Tuan Putri Zhia dalam pertarungan pedang besok pagi, untuk yang lainnya juga akan di umumkan besok setelah pertandingan antara nona Ruican dan Putri Zhia selesai" lanjutnya.


Ruican tersenyum sinis mendengar pengumuman dari kasim Oni. Dorinya mengangkat tangannya mengintrupsi.


"Maaf menyela kasim!" ucapnya menarik perhatian semua orang menatapnya.


"Ada apa nona Ruican?" tanya Kasim Oni.


"Saya ingin mengajukan permintaan, apakah di ijinkan?" pintanya.


Kasim Oni melihat Zhia meminta persetujuan dan mendapatkan anggukan.


"Silahkan" ucap kasim Oni.


Ruican masih tersenyum sini lalu menatap Zhia yang berdiri di belakang kasim Oni.


" Saya ingin pertandingan besok di hadiri oleh Yang Mulia Raja, karena bagaimanapun juga besok pertandingan terakhir dan Yang Mulia harus menyaksikannya, apa lagi pertandingan ini untuk memilih calon Permaisurinya" ucap Ruican percaya diri.


"Apa kamu lupa dengan peraturan yang..."


"Baiklah" sahut Zhia menghentikan ucapan Kasim Oni.


"Tanpa kamu mintapun Yang Mulia memang akan hadir besok jangan khawatir" lanjutnya berkata santai.


Setelah semuanya selesai acara di bubarkan. Zhia tersenyum geli dalam hatinya, bagaimana mungkin mangsa meminta pemburu yang lebih besar untuk ikut serta batin Zhia.

__ADS_1


__ADS_2