
Kereta kuda kerajaan Sun melaju melewati jalan yang terlihat ramai orang berlalu lalang. Bahkan meski jalanan terlihat sangat padat dan sibuk, orang-orang akan menepi sejenak untuk membiarkan kereta kuda sang Raja beserta rombongan lewat.
Mereka bahkan sangat antusias melihat kalau kereta kuda istana sudah melintas. Berharap bisa melihat Raja mereka yang tampan, walaupun kenyataannya Raja Bhian tidak pernah menampakkan wajahnya saat sedang melintas di jalan seperti ini.
Setelah melewati kota barulah mereka mulai memasuki area desa dan perkebunan. Memasuki perkebunan buah, Zhia membuka tirai di sampingnya untuk melihat keluar.
Suasana yang masih bisa di bilang pagi itu sangat menyejukkan, di tambah banyaknya pohon-pohon semakin membuat udara sangat sejuk dan menyegarkan. Buah-buah yang terlihat matang dan menggantung di pohon seakan seakan menggoda untuk di petik dan memberi kesan indah lainnya.
"Wah kebun buahnya sangat lebar ya" ucap Zhia, karena mereka yang sudah melalui perkebunan itu cukup jauh namun belum sampai juga.
"Perkebunan ini dapat menghasilkan seratus peti besar dan dari hasil panen ini nanti akan kita jual ke kerajaan lainnya setelah pasokan di dalam kerajaan kita sendiri terpenuhi" jelas Raja Bhian memgikuti apa yang sedang Zhia lakukan tepat di belakang gadis itu.
Hanya saja mata pria itu menatap tajam sekitarnya untuk mengawasi. Walau ada prajurit yang ikut mengawal mereka, namun waspada dan berjaga-jaga dari segala kemungkinan tidak salah demi perlindungan diri yang lebih cepat.
"Banyak juga ya! itu artinya kebun ini memang sangat luas" ucap Zhia kagum, sebab walaupun di kerajaan ayahnya ada kebun buah juga, tapi tidak sebesar perkebunan yang ada di kerajaan Sun itu.
Bahkan kebutuhan buah hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan di kerajaan saja. Karena memang itu kebijakan sang ayah yang tidak ingin menjual hasil perkebunannya kepada kerajaan lain dan lebih memilih memenuhi kebutuhan sendiri saja. Kerajaan Month hanya akan menjual barang yang lebih bernilai tinggi saja, seperti emas dan kayu langka yang hanya ada di kerajaan Month saja. Kerajana juga tidak sembarangan menjual kayu langka mereka, itu sebabnya harganya sangat mahal.
"Apa hanya ada satu kebun ini saja?" tanya Zhia lagi belum menyadari posisinya dan Raja Bhian yang sangat dekat. Bahkan kalau orang lain yang melihat akan menilai kalau mereka sedang berpelukan mesra. Ya walau pada kenyataannya Raja Bhian memang sedang posisi memeluk Zhia dengan kedua lengannya yang berada di sisi tubuh Zhia.
"Ada kebun lainnya, hanya saja belum saatnya panen butuh waktu tiga hingga empat minggu lagi baru bisa di panen, dan setiap kebun lain-lain buahnya" sahut Raja Bhian.
"Benarkah! apa kita harus kesana juga saat masa panen itu tiba?" tanya Zhia.
"Tergantung kesibukan, jika ada waktu senggang maka kita akan ke sana, tapi kalau Cami sibuk ya kita tidak bisa kesana" kata Raja Bhian membuat Zhia merasa sedikit sedih.
Gadis itu sangat senang bepergian dan berpetualang melakukan hal baru. Namun karena kodratnya sebagai seorang putri membuatnya tidak bisa bepergian jauh sesuka hatinya. Meski bisa bela diri dan melawan musuh nyatanya tidak membuat Zhia melupakan jati dirinya dan berbuat semaunya. Walau kadang-kadang tetap kabur diam-diam dari istana.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kereta kuda pun berhenti di tempat yang cukup ramai dengan orang-orang yang sepertinya petani di perkebunan itu. Mereka menyambut kedatangan sang Raja dan Calon Ratu dengan wajah yang bahagia.
Bagaimana tidak bahagia kalau kedatangan orang hebat di kerajaan mereka yang namanya sangat tersohor. Apa lagi Raja mereka sangat perduli dengan kesejahteraan rakyatnya membuat Raja Bhian di sukai dan di cintai oleh rakyatnya meski jarang memperlihatkan diri.
"SALAM YANG MULIA RAJA, SALAM TUAN PUTRI"
Orang-orang di sana menunduk hormat sejenak dengan senyuman terbaik mereka menyambut kedatangan Raja Bhian dan Zhia. Bahkan saat melihat Zhia langsung mereka benar-benar sangat kagum.
"Gadis yang sangat cantik ya" gumam para ibu-ibu memulia gosip mereka di sana, padahal yang mereka bicarakan maish ada di depan mata.
"Benar sangat cantik"
"Pantas saja Yang Mulia mau meneruskan perjodohan jaman dulu ya!"
"Iya, calon Ratu kita sangat cantik dan menawan"
"Kalau saja ada gadis lain secantik putri itu anakku pasti akan ku jodohkan dengannya" ucap salah satu wanita seraya menunjuk Zhia kecil tidak berani mengangkat jarinya tinggi-tinggi.
"Namanya juga berkhayal, kan tidak ada yang salah" sahut yang lain pula.
Raja Bhian dan Zhia berjalan mengikuti langkah kaki mandor* kebun *(kita ambil kata mudahnya saja ya). Mandor itu terus menjelakan kepada Raja Bhian akan kegiatan mereka di kebun yang akan memanen, bahkan sudah ada beberapa pohon yang sudah di panen.
Panglima Qai mengitu langkah Rajanya untuk menjaga keamanan. Bagitupun dengan beberapa prajurit Raja lainnya yang memang mendapat tugas menjaga Raja. Sedangkan Kasim Raja di tinggal untuk mengurus beberapa hal di kerajaan yang berhubungan dengan acara besok.
Saat acara pertemuan keluarga di kerajaan Month, Panglima Qai dan Kasim Raja memang tidak di bawa karena banyak tugas mereka yang harus di selesaikan.
Kini para pekerja mulai kembali beraktivitas memanen buah-buahan yang sudah matang. Walau masih tetap ada buah yang mentah tapi tidak banyak karena memang sudah mausuk masa panen.
__ADS_1
Setelah berkeliling kebun yang cukup melelahkan dan mencoba beberapa buah jeruk yang baru di petik petani langsung. Zhia duduk di tempat yang sudah di sediakan, di tengah-tengah kebun itu. Zhia duduk bersandar pada pohon di dekatnya karena memang karpet yang di dudukinya berada di bawah pohon jeruk yang lebih tinggi dari yang lainnya.
Gadis itu juga meluruskan kedua kakinya yang pegal akibat lama berjalan menggunakan sandal bertumit, walau tidak tinggi sih. Tapi lumayan untuk membuat pegal betis.
Kedua pelayan Zhia sigap hendak memijit kaki sang tuan Putri yang terlilihat kelelahan. Namun Zhia melarang dan malah meminta keduanya untuk tetap di tempat mereka duduk di sampingnya sedikit kebelakang.
Akhirnya kedua pelayan itu hanya mengupas jeruk saja untuk Zhia. Yang satunya lagi mengipasi Zhia yang kepanasan karena memang hari yang sudah siang dan lumayan terik. Meski di bawah pohon sejuk tapi pelayan tetap mengipasi Zhia.
Tentu saja Zhia tidak menolak di kipasi dan malah terlihat santai memakan jeruknya sembari melihat sang Cami yang masih berdiri mendengarkan langsung keluhan dari beberapa petani dan apa yang mereka butuhkan.
Tiba-tiba salah seorang pelayan Zhia yang sejak tadi mengupaskan jeruk nampak kaget dan sedikit menjauh.
"Putri..Tu Tuan Putri.. " ucapnya seraya menunjuk kearah atas kepala Zhia tepatnya di pohon.
"Kenapa?" tanya Zhia heran melihat kelakuan pelayannya itu.
"Ular! tolong!" teriak pelayan yang tadi mengipasi Zhia. Pelayan itu juga menarik Zhia untuk tiarap sembari bergeser pelan-pelan.
Zhia melepaskan pelukan pelayannya lalu meraih jeruk di depannya dan melihat ke arah pohon di mana memang ada ular di sana yang sudah bersiap akan menyerang.
Dengan cepat pula Zhia melemparkan jeruk di tangannya kuat kearah si ular yang menyerang itu. Lemparan Zhia mengenai ekor si ular yang sudah maju. Zhia melayangkan tangannya untuk menangkis kepala ular yang sudah maju, ular itu terlempar ketanah dan di tangkap oleh prajurit yang menjaga Zhia.
Kejadian yang begitu cepat membuat orang-orang di sekitar kaget belum sempat membantu karena serangan ular yang cepat. Untung saja Zhia juga bergerak cepat melakukan perlindungan diri jadi bisa terhindar dari serangan ular yang bisa melukainya.
"Kamu baik-baik saja kan Catri? apa ular itu menggigitmu?" tanya Raja Bhian panik.
Dirinya langsung berlari saat mendengar teriakan pelayan Zhia tadi. Jarak dirinya berdiri dan posisi duduk Zhia cukup berjarak jadi Raja Bhian sangat panik karena tidak bisa melindungi Catrinya.
__ADS_1
"Tenanglah Cami" ucap Zhia.
"Kita pulang" Zhia mengangguk mendengar ucapan Raja Bhian yang nampak khawatir.