Calon Ratu

Calon Ratu
70


__ADS_3

Zhia juga membuat perisai dari air untuk melindungi dirinya. Meski memiliki sihir air bukan berariti dirinya tidak bisa terluka karena api.


Kedua wanita itu saling berhadap dengan perisai masing-masing.


"Tidak ku sangka ternyata ada perempuan lain yang memiliki sihir selain diriku" Moa mengamati Zhia dari atas hingga bawah dengan seksama.


"Memangnya di dunia ini hanya ada kamu saja wanitanya dan harus kamu yang mempunyai sihir, bahkan di luaran sana kemungkinan ada wanita lain yang mempunyai sihir lebih hebat" kata Zhia dengan santai.


"Habislah kamu.." Moa maju menyerang Zhia dengan sihirnya.


Zhia menghindar dari setiap serangan yang di lakukan oleh Moa. Semua jurus api yang di keluarkan Moa berhasil di hindari oleh Zhia tanpa mengeluarkan tenaga lebih.


"Beraninya kamu meremehkan kemampuan ku!" marah Moa yang semakin gencar menyerang dengan kekuatan api yang sangat besar.


Zhia menghindar dan langsung menyerang Moa di saat wanita itu sedang lengah akibat baru mengeluarkan sihirnya.


"Akh.." kaget Moa bergerak mundur akibat serangan dari Zhia yang mengenai pundaknya yang tadi di pukul Panglima Qai.


Terasa sakit dan perih serangan dari Zhia itu, Sebelum Moa melakukan serangan balasan. Zhia sudah lebih dulu melakukan serangan lagi dengan mengikatkan tubuh Moa dengan airnya.


"Akh.. lepaskan saya! kamu sangat curang" marah Moa yang merasakan perih pada bagian tubuhnya yang terikat air.


Moa mencoba menguapkan air itu agar bisa bebas. Tapi air itu malah membeku dengan sempurna, sangat sulit untuk mencairkannya.


"Lepaskan saya!" teriak Moa.


"Haduh berisik sekali sih!" ucap Zhia melihat Moa yang masih meronta.


"Lepas ikatan ini sebelum saya cairkan!" ancam Moa yang hanya di angguki Zhia.


"Silahkan" singkat Zhia.


Moa mengeluarkan segala ucapaua untuk mencairkan air beku yang mengikat tubuhnya.


Zhia berjongkok dengan kedua tangan menopang dagu. Melihat dengan seksama bagaimana lawannya itu akan mencairkan ikatannya. Bagaikan menonton sebuah pertunjukan yang sangat seru, Zhia terlihat serius dengan apa yang di lihatnya.


Panglima Qia mendekati Raja Bhian dengan pandangan masih melihat pada Zhia.


"Yang Mulia, kenapa Putri Zhia tidak langsung menghabisi wanita itu?" tanya Panglima Qai heran.


"Wanita itu sudah hampir mencapai tingkat sempurna, jadi butuh waktu untuk mengalahkannya" sahut Raja Bhian santai.

__ADS_1


"Kenapa Yang Mulia tidak membantu?"


"Biar saja itu jadi masalah antar para wanita"


Panglima Qai mengangguk dengan helaan napas. Penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh calon Istri Rajanya itu.


Sampai beberapa saat barulah Moa berhasil melepaskan ikatan beku di tubuhnya. Kedua lengannya memerah akibat ikatan beku tadi. Bahkan tenaganya sudah terkuras cukup banyak setelah melepaskan ikatan beku itu.


Belum lagi tadi dirinya sudah bertarung dengan Panglima Qai dan Raja Bhian walau sebentar. Penyerangannya terhadap Zhia tadipun harus sia-sia dan membuang banyak tenaganya karena tidak mendapatkan perlawanan.


Sementara dirinya sudah banyak mengeluarkan jurus dan sihir. Itulah kenapa tenaganya sudah semakin habis dan butuh pemulihan. Tidak mungkin melakukan perlawanan lagi di saat seperti ini.


Sial! tubuhku sudah kehabisan tenaga, harus segera pergi sebelum mereka menghabisiku gumam Moa dalam hati.


Melihat Zhia yang masih mengamatinya dengan seksama membuat Moa mau tidak mau harus melakukan penyerangan untuk mengalihkan perhatian.


Zhia menghindar dari serangan Moa kala wanita itu mengarahkan api besar padanya.


Sadar itu hanya kecohan, Zhia langsung menggerakkan sihirnya untuk menangkap Moa yang akan kabur masuk ke dalam goa lagi.


Akhh...


"Lepaskan! saya lepaskan!" teriak Moa marah sekaligus kesakitan pada sekujur tubuhnya yang basah oleh air yang membalut tubuhnya.


"Berisik sekali sih!" ucap Zhia.


Zhia menambah sihir airnya lagi hingga membuat Moa berada dalam bola air. Hanya saja kali ini Zhia lebih menggunakan sihir yang lebih kuat lagi untuk bisa melebihi kemampuan sihir Moa yang hampir mencapai tingkat atas.


Walau sihir yang di gunakan Zhia tidak sampai harus menguras banyak kekuatan sihirnya. Tetapu tetap harus fokus dan butuh waktu. Kalau saja Moa tidak kehabisa tenaga sudah pasti Zhia harus mengeluarkan lebih besar lagi untuk melawannya.


"Ampun! saya mengaku kalah ampun!" teriak Moa yang sudah sangat kesakitan.


Zhia menggenggam tangannya untuk semakin memperkuat airnya menghabisi kekuatan sihir Moa.


Hingga beberapa saat kemudian tubuh Moa turun ke tanah dengan wanita itu sudah tidak sadarkan diri.


"Maaf, terpaksa saya lakukan ini supaya kamu tidak bisa meneruskan perbuatan ayahmu yang sangat merugikan itu" gumam Zhia melihat Moa dengan miris.


Ini wanita pemilik sihir api kedua yang di habisinya. Bukan tanpa alasan Zhia melakukan itu, demi kedamaian warga desa Parean yang masih belum tenang juga meski tabib penipu itu sudah lenyap.


Ternyata masih ada satu sumber lagi yang menjadi masalah dari bencana di desa Parean.

__ADS_1


Zhia melihat Raja Bhian yang mendekat padanya bersama Panglima Qai.


"Sudah!" Zhia mengangguk menanggapinya.


Raja Bhian melihat Moa yang sudah terkapar tak berdaya. Sama dengan tabib pemilik sihir api, alias ayah dari Moa. Moa juga di terbangkan jauh oleh Raja Bhian dengan sihir anginnya.


Keluar dari kerajaan Sun sejauh mungkin di tempat baru yang tidak ada orang lain yang mengenalnya.


"Ayo pulang" ajak Raja Bhian menarik Zhia pergi dari tempat itu.


"Tunggu!" tahan Zhia membuat Raja Bhian menoleh ke belakang di mana Zhia menahannya.


"Kenapa?" herannya.


"Lihatlah tempat ini" Raja Bhian melihat sekelilingnya yang masih terdapat api di beberapa tempat membakar hutan.


"Silahkan tuan Putri" canda Raja Bhian membuat Zhia tersenyum tipis karenanya.


Zhia menggunakan sihirnya untuk memadamkan api yang masih membakar hutan hingga padam sepenuhnya.


Raja Bhian menggunakan sihir kayunya untuk menyuburkan kembali hutan yang sudah terbakar hingga semuanya kembali seperti semula dan semuanya sudah baik-baik saja.


"Sudahkan! bisa kita pulang sekarang?" tanyanya di angguki Zhia.


Pasangan muda itu bergandengan keluar dari hutan menuju tempat di mana kuda mereka berada.


"Tuan Putri! boleh saya bertanya sesuatu?" seru Panglima Qai yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Mau tanya apa?" bukan Zhia yang menyahuti ucapan Panglima Qai, tetapi Raja Bhian yang sudah berhenti berrjalan dan menatap bawahannya penuh selidik.


"Eee... eeh itu Yang Mulia.. saya hanya penasaran saja nagaimana tuan putri bisa pergi dari penginapan? sementara penginapan di jaga ketat" ucap Panglima Qai dengan gugup.


Bahkan tangannyapun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tapi terpaksa menjadi gatal karena tatapan dari Raja Bhian yang mengerikan.


"Rahasia" ucap Zhia lalu menarik lengan calon suaminya agar mereka segera pulang karena hari yang sudah semakin sore.


Selain itu Zhia juga tidak mau suasana semakin canggung hanya karena tatapan cemburu Raja Bhian akibat pertanyaan dari bawahannya.


Panglima Qai nyengir kala Raja Bhian menunjuk dirinya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya setelah di arahkan kemata Raja Bhian sendiri. Seakan mengisyaratkan 'jangan macam-macam'.


Raja jatuh cinta lebih mengerikan dari singa lapar batin Panglima Qai.

__ADS_1


__ADS_2