
Setelah wanita asing itu di bawa pergi oleh prajurit, Zhia pergi begitu saja meninggalkan Raja Bhian yang tidak di hiraukannya.
Raja muda itu menghela napas panjang melihat keacuhan Zhia. Sepertinya dirinya akan mendapatkan hukuman diamnya gadis itu.
"Ah bagaimana cara merayunya ya?" gumam Raja Bhian pelan seraya melangkah mengikuti Zhia dari belakang.
Saat akan memasuki penginapan dari pintu depan, seseorang memanggil Raja Bhian.
"Yang Mulia! Yang Mulia!.."
Sontak saja Raja Bhian berhenti dan melihat Panglima Qai yang berlari tergesa-gesa mendekatinya. Zhia yang sudah beberapa langkah di dalam pun ikut menghentikan langkahnya dan melihat siapa yang datang.
Dengan napas tersengal Panglima Qai berdiri di depan Raja Bhian sembari mengatur napas.
"Gawat Yang Mulia! gawat.." ucapnya di tengah mengatur napas.
"Apa yang gawat?" tanya Raja Bhian lagi dengan penasaran.
"Yang Mulia, tim penyidik kita baru saja melaporkan kalau di daerah Timur desa ada sesuatu yang aneh dari dalam goa" jawab Panglima Qai.
"Aneh bagaimana?"
"Di dalam goa itu terlihat terang walaupun siang hari, apa lagi malam hari cahaya terangnya begitu terlihat jelas, merah menyala" kedua tangan Panglima Qai di depan wajahnya dengan ekspresi mata melotot.
"Apa mereka tahu penyebabnya?"
"Mereka tidak bisa masuk ke dalam Yang Mulia, karena sangat panas di sana semakin masuk semakin membakar" jelas Panglima Qai.
Raja Bhian nampak berpikir, apa kira-kira yang menjadi penyebabnya?.
"Mungkinkah ada pemilik sihir api lainnya yang bersembunyi di sana?" gumam Raja Bhian.
"Bisa jadi Yang Mulia, karena cahaya kemerahan yang mereka lihat seperti pancaran api besar" tangan Panglima Qai memperagakan sesuatu yang besar.
"Ayo kita periksa" ajak Raja Bhian bergerak keluar tidak jadi masuk.
"Kalau Putri Zhia mencari saya katakan padanya saya sedang ada urusan dan jaga penginapan dengan ketat, pastikan Tuan Putri tidak keluar dari penginapan" titah Raja Bhian.
"Baik Yang Mulia" sahut prajurit menunduk.
Setelah mengatakan hal itu pada prajurit, Raja Bhian pergi bersama Panglima Qai berdua saja karena semua prajurit di perintahkan menjaga ketat penginapan. Sedangkan beberapa prajurit lainnya masih membantu warga.
Butuh waktu satu jam berkuda untuk Raja Bhian dan Panglima Qai sampai di daerah timur desa Parean itu. Sedikit berjarak dari goa yang di maksud Panglima Qai.
__ADS_1
"Dimana goa itu?" tanya Raja Bhian.
"Di sebelah sana Yang Mulia" tunjuk Panglima Qai .
Melewati semak-semak yang cukup lebat karena berada di daerah hutan. Hutan lain dari yang sudah di perbaiki oleh Raja Bhian dan Zhia.
"Cukup aneh juga karena hutan ini satu-satunya yang tidak terbakar tapi malah sangat menyeramkan dan begitu lebat" kata Raja Bhian.
"Mungkin maksudnya supaya tidak ada yang mengetahui siapa yang ada di dalam sana Yang Mulia, semacam tempat persembunyian untuk meditasi seseorang yang tidak membuat orang lain curiga" ucap Panglima Qai mengeluarkan opininya.
"Ya, memang tempat yang tidak menimbulkan kecurigaan kalau semaknya seperti ini, malah orang akan takut untuk masuk ke sini"
"Benar Yang Mulia"
Raja dan bawahannya itu terus berjalan membelah semak-semak hutan. Sampai di tempat yang akan mereka tuju, keduanya lantas berjalan mendekati goa yang memang terlihat terang di bagian dalamnya. Pada hal hari maish cukup terang.
"Tunggu Yang Mulia! kita harus hati-hati" kata Panglima Qai waspada dengan keadaan sekitar.
Apa lagi mereka hanya berdua tanpa ada prajurit yang ikut.
"Saya tahu" sahut Raja Bhian tanpa melihat orang di belakangnya yang mengkhawatirkannya.
Raja Bhian dan Panglima Qai terus berjalan masuk ke dalam goa yang semakinnterasa panas.
Sedangkan Raja Bhian terlihat santai saja walaupun kepanasan.
Ketika akan sampai di ujung Goa, Raja Bhian menahan Panglima Qai agar tidak maju lagi dan menariknya bergeser untuk bersembunyi.
Panglima Qai mengikuti arahan Raja nya, lalu matanya melotot seketika melihat apa yang ada di depan sana.
"Cantiknya" gumam Panglima Qai spontan yang mendapat tepukan di dadanya dari Raja Bhian.
"Diam!" sentak Raja Bhian di angguki Panglima Qai dengan patuh.
Meski tepukan Raja Bhian terlihat pelan tapi rasanya cukup menyakitkan juga. Bahkan Panglima Qai sampai harus mengusap-usap dadanya dengan wajah sok sedih.
Di depan sana ada seorang wanita cantik yang sedang bersemedi untuk semakin menguatkan kemampuan sihirnya.
Apa dia sedang mengejar sihir simbol mahkota batin Raja Bhian kala melihat cara semedi wanita di depan sana. Bahkan aura semedinya saja bisa di rasakan oleh Raja Bhian.
Pria itu berjalan keluar dari persembunyiannya dan semakin mendekati tempat semedi.
"Yang Mulia! kenapa kita mendekat" bisik Panglima Qai.
__ADS_1
"Dia sudah tahu kedatangan kita" sahut Raja Bhian santai namun dengan wajah yang tetap datar.
"Benarkah!" kaget Panglima Qai tidak menyangka kalau kehadiran mereka sudah ketahuan.
"Secepat itu kita ketahuan" lanjutnya melihat wanita di depan sana yang terlihat tersenyum tipis.
Wah iya! dia udah tahu batin Panglima Qai.
Wanita itu membuka kedua matanya perlahan yang langsung menatap lurus kearah Raja Bhian yang berdiri gagah di depannya. Sedangkan Panglima Qai di samping Raja Bhian namun sedikit di belakang.
"Wah! siapa ini yang datang berkunjung?" seru wanita itu.
Api yang sejak tadi mengitari tubuhnya perlahan menghilang terserap ke dalam tubuhnya.
Huh! keluar asapd ari dalam mulut wanita itu setelah semua api masuk ke dalam tubuhnya.
"Hay tampan! siapa namamu?" tanyanya dengan nada genit sembari mengedipkan satu matanya.
Tidak ada respon dari Raja Bhian yang hanya diam membisu dengan tatapan datarnya.
"Seharusnya kami yang bertanya padamu, siapa kamu?" ucap Panglima Qai.
Wanita itu beralih nelihat satu pria lagi di samping Raja Bhian.
"Ah! betapa beruntungnya bisa di datangi oleh dua pria tampan, tapi yang satu itu jauh lebih tampan dan menggoda" tunjuknya pada Raja Bhian sembari menggigit ujung jari telunjuknya dengan tatapan penuh minat.
Wanita penggoda rupanya, ku tarik lagi kata cantik tadi gumam Panglima Qai dalam hati menyesalkan ucapannya sebelumnta yang sudah memberi pujian pada wanita di depannya.
"Kamu mau menemani saya di sini tampan! saya pasti akan memberikan kamu kepuasan yang luar biasa" ucapnya tersenyum menggoda.
"Kami lebih tertarik menghabisimu nona" sergah Panglima Qai.
Wanita itu menatap Panglima Qai yang sejak tadi menjawab semua ucapannya. Sedangkan Raja Bhian hanya diam saja dengan wajah datarnya dan pandangan tajam.
"Sejak tadi kamu saja yang bicara, saya ingin mendengar suara si tampan rupawan itu jadi diamlah" galaknya pada Panglima Qai.
"Raja saya tidak berminat bicara dengan anda nona, Raja saya lebih suka menghabisi penjahat sepertimu" galak Panglima Qai pula.
"Ohh.. jadi kamu seorang Raja pria tampan! apa kamu yang bernama Raja Bhian? Raja kerajaan ini yang terkenal dengan ketampanan dan kemampuannya yang sangat luar biasa" ucap wanita itu dengan mata berbinar kala mengingat apa yang pernah di dengarnya.
Raja Bhian tetap diam tanpa bersuara, wanita di depannya tersenyum miring lalu mengeluarkan apinya menyerang Raja Bhian dan Panglima Qai. Suara ledakan terdengar memekakan telinga pertanda betapa kuatnya wanita itu menyerang.
Hahahaha
__ADS_1
Melihat kejadian di depannya wanita itu tertawa puas karena kemampuannya sudah maju pesat. Saat asap dari ledakan di depannya hilang, tawa wanita itu pun turut hilang karena yang ada di hadapanny hanya tingga tembok tanah yang menjadi penghalang serangannya.