
Kehadiran Raja Bhian dan Zhia mendapat sambutan dari semua warga Parean. Mereka sangat senang kedatangan orang paling penting di kerajaan itu. Terakhir kali mereka melihat sang Raja beberapa bulan yang lalu saat pertama kali ada wabah penyakit.
Dan kini Raja mereka datang lagi setelah kemarau panjang yang di sertai penyakit datang bersamaan di daerah mereka.
Raja Bhian turun lebih dulu dari kereta kuda dan langsung mendapat sambutan.
"Selamat datang Yang Mulia" ucap mereka bersamaan sembari menunduk sedikit.
Begitu mereka mengangkat kepala mata mereka melotot kaget melihat seorang wanita turun dari kereta kuda kerajaan. Yang lebih mencengangkan lagi, Raja Bhian yang membantu Zhia turun dan tetap memegangi tangan wanita itu seakan takut kalau wanita itu pergi.
"Siapa wanita itu?" tanya- tanya mereka penasaran.
"Siapa wanita cantik itu?"
"Apa dia Ratu kita?"
"Apa dia kekasih Yang Mulia?"
Berbagai pertanyaan itu bermunculan dari para warga yang memang tidak tahu akan berita yang menghebohkan di kerajaan beberapa minggu lalu.
Para warga Parean yang sibuk dengan bencana yang datang pada mereka tidak mendengar akan kedatangan sang calon Ratu. Tidak tahu juga kalau gadis yang datang bersama Raja mereka itu calon istri Raja Bhian.
Begitupun dengan para pejabat dan prjaurit yang berada di daerah itu membantu kesulitan para warganya. Semua yang ada di daerah Parean tidka ada yang tahu akan kabar yang datang dari istana.
Raja Bhian yang mendengar bisik-bisik dan gumaman warganya akan sosok gadis yang bersamanya langsung angkat suara.
"Perkenalkan gadis di samping saya ini calon istri saya, Putri Zhia, putri dari kerajaan Month yang nantinya akan menjadi Ratu di kerajaan ini" ucap Raja Bhian tegas.
Semua warga mengangguk mengerti dan memberi sambutan juga pada Zhia.
"Selamat datang Putri Zhia"
Zhia tersenyum kecil seraya mengangguk sebagai respon.
Raja Bhian berjalan bergandengan dengan Zhia menuju satu bangunan yang akan menjadi tempat tinggal sementara mereka selama di sana. Raja Bhian ingin istirahat sejenak sebelum nanti menuju tempat di mana para warga yang terkena penyakit berada.
"Kita tidak langsung melihat keadaan warga?" tanya Zhia heran karena mereka malah memasuki tempat yang cukup mewah itu dan duduk beristirahat.
__ADS_1
"Nanti kita ke sana, sekarang istirahat dulu perjalanan panjang pasti melelahkan bagi kamu, Cami tidak mau Catri kenapa-napa cuma kerena kecapean, apa lagi di tempat yang sedang banyak tularan penyakit ini" ucap Raja Bhian.
Zhia menghela napas pasrah saja, tubuhnya memang lelah karena perjalanan jauh yang mereka tempuh. Apa lagi Zhia yang tidak pernah melakukan perjalanan jauh. Hanya saat dirinya akan pergi ke kerajaan Sun saja, itupun tidak butuh waktu lama karena mereka menggunakan burung Nae jadi tidak banyak waktu yang terbuang.
Selang dua jam kemudian Raja Bhian dan Zhia pergi mengunjungi tempat yang di jadikan rumah bagi orang-orang yang sakit.
Tidak hanya orang dewasa saja yang berada di sana, anak-anak pun juga ada yang kena penyakit dan di taruh di sana.
Seorang tabib yang mengurusi warga mendekat kala melihat kedatangan Raja Bhian.
"Selamat datang Yang Mulia, maaf saya tidak menyambut kedatangan Yang Mulia tadi" ucap pria setengah baya itu menunduk hormat sebentar lalu tegak kembali.
"Bagaimana perkembangan mereka?" tanya Raja Bhian melihat sekeliling di mana orang-orang yang sedang terbaring lemah tak berdaya.
Keluarga mereka hanya bisa melihat dari luar saja karena sang tabib yang tidak mengijinkan mereka untuk masuk membantu mengurus dengan dalih mengganggu pengobatan.
Sementara Raja Bhian dan sang tabib terus membicarakan kondisi para warga yang sakit. Zhia mendekati seorang anak kecil yang menatapnya dengan tatapan yang seakan ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa.
Tangan putih Zhia terulur menyentuh tangan kecil yang terasa hanya tinggal tulang dan kulit saja. Kening Zhia mengkerut saat merasakan tubuh si anak yang sangat dingin.
Normalnya orang sakit suhu tubuh akan dominan panas dan kalau pun dingin hanya akan di rasakan oleh yang sakit saja. Sedangkan kalau yang tidak sakit memegang akan terasa panas pikir Zhia.
Tangan itu kembali meraba orang yang di sebelah si anak kecil itu dan mendapatkan hal yang sama.
"Apa yang kalian rasakan?" tanya Zhia pelan tapi tidak mendapatkan jawaban selain hanya tatapan yang entah, Zhia kurang paham tapi seperti ada kesakitan yang terlihat.
"Apa sangat dingin?" mata anak kecil itu bergerak kesamping yang membuat Zhia mengartikan bahwa tidak.
"Apa sangat panas?" mata anak kecil itu berkedip pelan.
"Tapi tubuh kalian sangat dingin! penyakit apa ini? apa tubuh kalian terasa lemah?" kembali anak itu berkedip pelan.
Zhia menatap ke arah anak kecil itu dan orang di sampingnya lalu kearah semua yang ada di dalam sana.
"Semuanya perempuan, dari anak kecil hingga yang dewasa" gumam Zhia.
"Apa kamu sudah menikah?" tanya Zhia pada orang yang di samping anak kecil tadi.
__ADS_1
Mata orang itu bergerak ke samping menandakan belum atau tidak.
Zhia berjalan mendekati yang lainnya lagi dan menanyakan hal yang sama. Jawaban yang di dapatkanpun sama semua, apa lagi wajah para perempuan dewasa itu bisa di lihat masih cukup muda walau sangat pucat lemah.
"Anakku" terdengar lirihan dari arah jendela di mana seorang ibu nampak menangis melihat kondisi anaknya.
Penyakit apa yang hanya menimpa para wanita dari yang kecil hingga dewasa ini batin Zhia.
Kembali Zhia mengulurkan tangannya memegang pergelangan tangan salah satu perempuan di sana dan merasakan nadi yang masih bisa di bilang normal untuk orang sehat dan cukup aneh untuk orang yang lemah dan bisa di bilang sekarat.
"Tuan Putri jangan!" teriak di tabib kala melihat Zhia memegang tangan pasiennya
Zhia yang kaget karena teriakan itu langsung melepaskan tangan yang di pegangnya.
"Janhan memegang mereka tuan Putri, nanti anda tertular, biar saya lihat tangan Tuan Putri" ucapnya ingin memegang tangan Zhia.
Plak
"Jauhkan tanganmu!" tegas Raja Bhian dengan suara datarnya yang terdengar menyeramkan dan tidak suka.
Bahkan Raja muda itu menarik tubuh Zhia merapat padanya dan melingkarkan tangan kanannya dengan posesif di pinggang Zhia.
"Maaf Yang Mulia saya hanya ingin melihat tangan Putri takut nanti tertular" tunduknya.
Dirinya tidak menyangka akan mendapatkan penolakan dari calon suami wanita yang akan di sentuhnya. Walau hanya tangan saja tidak di perbolehkan.
Sedangkan Raja Bhian tidak merespon apa apa, hanya diam melihat sekelilingnya dan merasakan sesuatu yang aneh di tempat itu. Bahkan hawa dingin lebih kentara di ruangan itu, pada hal kondisi di luar sangat panas dan kering.
"Apa tidak ada obat untuk mereka? kenapa semua yang sakit perempuan?" tanya Zhia mencari tahu rasa penasarannya.
Tabib yang mendengar suara Zhia langsung mengangkat kepalanya dan melihat gadis yang berbicara dengannya. Meski tatapan matanya datar kala melihatnya tapi itu tidak masalah.
"Saya juga tidak tahu Tuan Putri, penyakit ini begitu cepatnya menular pada perempuan hanya dari sentuhan kecil saja, itu sebabnya saya ingin memeriksa tangan Putri takutnya nanti tertular juga jadi ijinkan saya memeriksanya" kedua tangan tabib itu terulur berharap Zhia memberikan tangannya.
Tali lagi-lagi hanya kekecewaaan yang di dapatkannya karena si pria posesif di sampimg Zhia yang tidak akan suka wanitanya di sentuh pria lain.
"Apa sudah bosan dengan dua tangan?" gertak Raja Bhian menatap tajam tabib di depannya yang sangat lancang.
__ADS_1