Calon Ratu

Calon Ratu
18


__ADS_3

Zhia menarik tangan Raja Bhian kearah pasar dan menuju pedagang sepatu. Karena tidak terbiasa tanpa alas kaki, Raja muda itu merasa talapak kakinya mulai gatal karena terasa menggelitik akibat pasir-pasir yang di pijaknya.


"Tuan! bisa beri saya sepatu pria yang ukuran besar!" ucap Zhia pada pedagang itu.


"Untuk apa sepatu itu?" tanya pedagang itu dengan acuh karena merasa menjuali dengan pedagang di hadapannya akan percuma.


Dari penampilan Zhia dan Raja Bhian memang tidak meyakinkah, apa lagi tadi Zhia sempat menggunakan pakaian Raja Bhian untuk mengelap tangannya. Karena pakaian mahal itu membuat orang curiga, apa lagi dengan bahan yang berkualitas.


"Ya untuk di pakai, mana mungkin di makan" ketus Zhia.


Pedagang itu menatap kesal pada Zhia karema berani bicara tidak sopan padanya.


"Hey gadis muda! jangan kurang ajar dengan orang tua, dasar tidak tahu sopan santun" sentak si pedagang.


"Hey orang tua! kalau ingin yang muda bersikap sopan maka yang tua harus mengajari yang muda, kalau yang muda saja tidak bisa menjaga sikapnya lalu bagaimana dengan kami yang muda ini" sentak Zhia balik.


Orang-orang yang melintasi toko pedagang itu bahkan berhenti dan melihat keributan kecil yang terjadi itu. Merasa semakin kesal karena Zhia mengembalikan ucapannya, pedagang itu semakin marah dan mengeluarkan ucapan pedasnya.


"Dasar anak haram! kamu pasti anak haram yang terbuang hingga tidak mengerti tata krama, malah membuat ribut di sini, pergi cari orang tuamu dan minta padanya untuk mengajarimu" ucapnya.


Zhia memasang wajah marah dan kesalnya juga karena di bilang anak haram. Walaupun sudah sering ke pasar dengan penyamaran begini, tapi baru kali ini ada yang mengatainya anak haram. Tentu sja Zhia merasa terhina dan tidak suka dengan hal itu karena orang tuanya menikah secara resmi.


"Kenapa tidak tuan saja yang memanggil orang tuaku ke sini? kalau tuan tahu aku anak haram itu artinya tuan tahu dong siapa orang tuaku, jadi pergi panggil sendiri sana" ucap Zhia.


Mata pedagang itu melotot tidak percaya dengan ucapan Zhia yang membuatnya kalah telak dan kesulitan menjawabnya. Apa lagi tatapan tajam pria di belakang gadis itu yang terlihat sangat mendominasi.


"Pe pergi dari sini!" usir pedagang itu.


"Cih! aku tahu kenapa anda acuh pada pembeli sepertiku" ucap Zhia lagi.


"Kenapa? jangan sok tahu cepat pergi"


"Anda mengusir kami karena takut kami tidak bisa membayarkan" sentak Zhia melotot pada pedagang di depannya.


"Tentu saja, lihat penampilan kalian itu yang mirip dengan gembel" ejek si pedagang meremehkan.


Zhia merapatkan tubuhnya pada meja di mana pedagang itu berdiri lalu menarik pakaiannya.


"Jadi anda meremehkan kami ya! bagaimana dengan ini?" Zhia menunjukkan sesuatu yang membuat pedagang itu gemetar ketakutan.


Zhia tersenyum smirk melihat wajah ketakutan pedagang itu, bahkan tubuhnya gemetaran.

__ADS_1


"Si silahkan pi pilih non nona" ucapnya terbata seraya menunduk.


Zhia gantian menatap remeh pada pedagang itu.


"Sudah tidak berminat, tunggu saja hari kebahagiaanmu" ejek Zhia lalu menarik tangan Raja Bhian lagi untuk ke toko lainnya.


Raja muda itu hanya menurut saja kemana dirinya di tarik sang calon istri.


"Tidak ku sangka kalau kamu itu bisa jadi preman pasar juga" ucap Raja Bhian tersenyum tipis.


"Aku memang preman pasar, dan bisa jadi raja pasar juga kalau mau" sahut Zhia santai, bahkan gadis itu tidak merasa tersinggung walau sudah di bilang preman pasar oleh tunangannya.


"Tapi kamu sudah jadi milikku, itu artinya kamu calon Ratuku, paham" bisik Raja Bhian.


Zhia mengulum bibirnya menahan senyum, entah karena tersentuh dengan ucapan Raja Bhian atau karena geli akibat Raja Bhian yang terlalu dekat saat berbisik hingga napasnya menyentuh kulit telinga Zhia.


Sampai di toko lainnya, Zhia kembali bertanya seperti sebelumnya. Padagang itu menyerahkan apa yang di minta oleh Zhia dengan senyuman bahagianya.


"Tidak cukup" ucap Raja Bhian saat sepatu itu tidak masuk di kakinya.


"Ada yang lain nyonya?" tanya Zhia.


"Itu yang paling besar nak, kalau yang lebih besar lagi itu sandal, pedagang itu menunjukkan sandal jepit pada Zhia.


"Boleh juga" seru Raja Bhian mengangguk pelan.


"Baiklah kita ambil yang ini"


Zhia membayar sendal itu dengan harga tiga kali lipat, bahkan saat pedagang itu akan berteriak senang. Zhia menahannya dan meletakkan jari telunjuknya di bibir sebagai tanda diam. Pedagang itu tersenyum haru seraya mengangguk patuh.


Zhia dan Raja Bhian pergi meninggalkan toko kecil itu ketempat lainnya. Zhia sengaja membayar mahal untuk sendal murah itu karena ia merasa tidak tega dengan si pedagang, walau belum terlihat terlalu tua tetapi dagangannya masih sangat banyak dan Zhia sempat melihat di balik tirai yang tertiup angin ada pria yang terbaring lemah. Itu sebabnya Zhia memberikan uang lebih untuk membantu mereka juga.


"Oh iya! apa yang kamu katakan pada pedagang pria tadi sampai dia gemetaran ketakutan?" tanya Raja Bhian penasaran.


"Hihihi aku tidak mengatakan apapun, hanya menunjukkan ini" Zhia menunjukkan sesuatu pada tunangannya.


Kening Raja Bhian mengkerut melihatnya.


"Bukankah itu lambang kehormatan prajurit terbaik kerajaan!" ucapnya di angguki Zhia.


"Bagaimana kamu bisa mendapatkannya?" tanya Raja Bhian penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja seperti apa yang di lakukan para prajurit untuk mendapatkannya" bangga Zhia pada dirinya sendiri.


"Benarkah! bukan kamu yang memaksa ayah untuk memberikannya!" seru Raja Bhian dengan wajah yang ragu.


"Kamu bisa tanya ayah kalau tidak percaya" ucap Zhia cemberut karena di ragukan.


Raja Bhian tersenyum tipis merangkul pundak Zhia.


"Sekarang kita kemana?" tanyanya.


"Kita ke rumah makan itu, disana makanannya sangat enak dan lezat" tunjuk Zhia pada sebuah bangunan yang cukup ramai.


"Baiklah kita kesana" setuju raja Bhian.


Keduanya memasuki tempat itu, tapi seluruh kursi di lantai itu sudah penuh.


"Penuh" ucap Raja Bhian pelan.


"Ayo keatas saja" ajak Zhia kembali melangkah menuju lantai atas di mana di sana masih ada meja kosong.


Setalah duduk di sana pelayan datang lalu Zhia memesan makanan yang baginya enak. Setelah pelayan itu pergi Zhia tersenyum manis karena senang menatap ke arah luar.


"Apa yang membuat kamu sebahagia itu?" tanya Raja Bhian, ia akan mulai menanyakan hal-hal kecil dari Zhia agar ia bisa lebih tahu bagaimana gadis itu dan apa yang bisa membuatnya senang.


"Karena aku bisa melakukan sesuatu seperti orang biasa dengan bebasnya" sahut Zhia santai.


"Sesederhana itu?"


"Ya"


Raja Bhian menatap Zhia dengan perasaan yang semakin membuncah. Betapa ia sangat bersyukur mendapatkan calon istri seperti Zhia yang tidak gila kehormatan dan tidak pernah merasa dirinya hebat atas serat berkuasa dengan kedudukan ayahnya sebagai Raja.


Ketika makanan datang mereka langsung menyantapnya. Bahkan Zhia makan dengan semangat, sampai tidak menyadari kalau dirinyalah yang makan paling banyak.


"Apa aku terlihat sangat rakus?" tanya Zhia.


"Ya" sahut Raja Bhian.


"Apa kamu tidak suka dengan itu?"


"Aku tidak pernah bilang begitu, apa kamu malu dengan semua itu?"

__ADS_1


"Tidak! biasa saja tuh" santai Zhia acuh yang malah mendapatkan usapan lembut di rambutnya dari Raja Bhian.


__ADS_2