
Setelah masalah pelayan dapur dan kepala pelayan selesai, dengan mereka yang di berhentikan dan di usir sejauh mungkin dari istana. Zhia tidak ingin tetap mempekerjakan orang seperti itu yang hanya akan membuat kesalahan yang sama.
Kini Zhia sedang jalan-jalan sendirian karena pelayan dan prajuritnya baru akan tiba malam nanti. Sedangkan sore ini Zhia merasa bosan jika hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun.
Raja Bhian sendiri sedang pergi untuk mengurus pekerjaannya yang sudah di tinggalkan lama. Tadinya Zhia di beri prajurit untuk menjaganya, tapi Zhia kabur dari pengawasan prajurit itu karena ingin menikmati waktu sendiri seperti dulu lagi.
Dan kini gadis itu berada istana bagian Selatan, berkeliling melihat sekitar. Hingga di tengah dirinya menikmati waktunya, muncul seorang pria yang entah dari mana datang mendekatinya.
Pria itu menepuk bahu Zhia begitu saja hingga membuatnya kaget. Spontan Zhia menarik tangan itu dan membanting orang yang mengagetkannya.
"Akh.. aduh!" rintih orang itu memegangi bokongnya yang sakit akibat membentur tanah dengan cukup keras.
Zhia menatap dengan biasa saja tanpa mengatakan maaf apa lagi merasa bersalah. Satu alis gadis itu terangkat menatap penuh selidik pria yang mengerang kesakitan di depannya.
"Jahat banget sih kamu! asal banting aja" serunya deraya berdiri dan masih mengelus bokongnya yang sakit.
Zhia hanya mengangkat kedua bahunya acuh dan tidak perduli. Melangkah ingin pergi meninggalkan pria asing di hadapannya yang sok akrab.
"Eh! tunggu dulu! habis banting orang sembarangan sekarang mau pergi gitu aja" cegah pria itu memegang lengan Zhia.
Dengan cepat Zhia menghempaskan tangan pria itu dan menatap tajam serta datar si pria.
"Apa maumu?" tanya Zhia singkat.
"Siapa namamu?" tanya pria itu balik yang membuat Zhia memutar bola matanya malas.
Zhia kembali melangkah hendak meninggalkan tempat itu karena malas berurusan dengan pria di depannya. Tapi lagi-lagi langkahnya di hentikan oleh pria itu, bahkan dengan lancangnya pria itu berani memegang kedua pundak Zhia.
Bugh.
Akh..
"Jangan sembarangan pegang" ucap Zhia penuh penekanan dan tatapan yang tajam.
Pria itu menelan salipanya melihat tatapan tajam Zhia. Tapi dia masih belum menyerah meski sudah mendapatkan dua kali rasa sakit.
Sembari memegangi perutnya yang tadi di pukul Zhia, pria itu tersenyum penuh minat menatap Zhia.
"Maaf aku cuma mau kamu tanggung jawab sama apa yang udah kamu lakukan tadi" seru pria itu.
__ADS_1
"Apa yang ku lakukan tadi?" Zhia benar-benar memasang wajah malasnya yang sudah sangat tidak enak di pandang.
"Kamu lupa ya! kamu sudah banting aku sampai bokongku sakit, trus barusan kamu pukul perut aku sampai sakit juga, kalau ada sesuatu sama bokong dan perutku gimana?" cecar si pria.
"Sekali lagi kau lancang maka tanganmu akan lepas dari tubuh, dan itu bukan salahku jadi jangan menuntut apapun atas kesalahan yang kau mulai lebih dulu" ancam Zhia penuh penekanan dengan wajah suram yang benar-benar menakutkan.
Mata pria itu melotot ketakutan mendengar ancaman itu. Zhia langsung pergi meninggalkan pria aneh itu dengan langkah cepat dan memilih kembali ke kediaman utama.
Tapi baru sampai ujung jalan, Zhia sudah berpapasan dengan Raja Bhian yang rupanya mencari Zhia yang hilang.
Tadi prajurit yang di perintahkan menjaga sang putri melapor pada Raja Bhian kalau sang putri tidak ada di kediaman utama. Bahkan para pelayan dan prajurit sudah mencari di seluruh tempat di kediaman hingga taman tempat yang pernah di datangi putri Zhia.
Tapi hasilnya tidak ada yang menemukan sang putri di manapun. Hingga seorang pelayan yang sempat melihat putri Zhia ke arah Barat melapor pada Raja Bhian.
Saat melihat Zhia yang sedang berdiri berhadapan dengan seorang pria yang entah siapa. Hati sang Raja tiba-tiba panas dan perasaan cemburu mendominasi.
Tapi mendapati wajah tak bersahabat dari Zhia yang sepertinya tidak suka membuat banyak pertanyaan muncul di benak Raja Bhian.
"Kamu kenapa?" tanya Raja Bhian dengan wajah bingung.
Zhia mendengus kesal lalu melirik ke arah belakang di mana tadi dia berdiri.
"Pria mesum" sahut Zhia asal.
Raja Bhian merangkul pundak Zhia dan membawa gadis itu pergi bersamanya. Sedangkan mata sang Raja memberi kode pada prajuritnya dengan lirikan yang mengarah belakang.
Prajurit di belakang Raja Bhian mengangguk mengerti dan mulai bergerak berpisah dari yang lainnya.
"Kenapa pergi tanpa pengawalan?" tanya Raja Bhian yang semakin membuat Zhia merasa malas.
"Cuma jalan-jalan sebentar, memangnya harus ada pengawalan ya!" sahut Zhia.
"Tentu saja, kamu itu calon istriku jadi harus ada pengawalan kemanapun kamu pergi" kata Raja Bhian.
"Tapi kan cuma di sekitar istana, masa harus ada pengawalan juga sih! sesekali pergi sendiri saja memangnya kenapa? apa di istana ini ada sesuatu yang menakutkan?" ucap Zhia masih dengan suara malasnya.
Raja Bhian menahan senyumnya melihat wajah malas Zhia yang menggelikan baginya. Ternyata gadis itu benar-benar kesal karena pria tadi yang semakin membuat Raja Bhian ingin tahu apa yang sudah terjadi.
"Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Zhia.
__ADS_1
"Belum, pekerjaan itu tidak akan ada habisnya karena setiap saat akan ada pekerjaan lain yang datang" sahut Raja Bhian.
"Kesibukan juga tidak ada habisnya dan akan selalu ada, gak bisa di pastikan kapan kesibukan sama pekerjaan itu selesai, cuma ada batasannya untuk setiap harinya" lanjutnya yang mebuat Zhia mengangguk.
"Apa besok kamu juga bakalan sibuk?" tanya Zhia lagi.
"Iya, sebulan kedepan aku bakalan sibuk banget" sahut Raja Bhian.
"Aku boleh pulang ke rumah ayah tidak?" Zhia melirik pria di sampingnya untuk melihat bagaimana responnya.
"Kenapa mau pulang? baru juga sebulan di sini udah mau pulang aja" kata Raja Bhian.
"Hah! rasanya kangen aja sama keluarga di sana" Zhia menundukkan kepalanya.
Hatinya benar-benar di liputi kerinduan pada keluarganya yang tidak pernah terpisah dalam waktu lama.
Kalaupun ayah, ibu atau kakak-kakaknya harus pergi karena urusan kerajaan. Itu tidak memakan waktu lama hanya beberapa hari saja, dan masih ada yang menemaninya di istana.
Tapi sekarang dirinya sendirian tanpa teman, tidak mungkin Zhia mengganggu ibu mertuanya yang sedang semedi. Kedua pelayannya juga baru akan tiba nanti malam, itulah yang membuat Zhia merasakan kesepian saat hanya sendirian.
"Kamu kesepian!" Zhia mengangguk.
Raja Bhian mengelus kepala Zhia dengan lembut, kedua tangannya langsung mengangkat tubuh Zhia dan menggendongnya ala pengantin.
"Apa yang kamu lakukan? turunkan aku!" Zhia merasa malu dengan apa yang di lakukan Raja Bhian.
Apa lagi di sana ada banyak pelayan yang melintas dan melihat ke arah mereka dengan senyuman dan tatap.
"Yang Mulia sangat romantis ya" bisik-bisik para pelayan mulai terdengar.
"Mereka sangat cocok"
"Aku sangat iri"
"Andai aku punya kekasih yang romantis juga"
Zhia menyembunyikan wajahnya di pundak dan leher Raja Bhian karena malu. Sedangkan yang menggendongnya tetap santai tanpa merasa malu atau apapun.
Justru Raja Bhian sengaja pamer pada semua orang kalau gadis cantik di pelukannya adalah miliknya.
__ADS_1