Calon Ratu

Calon Ratu
36


__ADS_3

Berbagai reaksi di dapatkan Zhia dari para wanita di hadapannya. Ada yang melotot, ada yang melongo, ada yang membuka mulutnya lebar dan ada pula yang menggigit benda yang mereka pegang seperti kipas.


"Apa-apaan itu? kami ini mau mengikuti pemilihan Permaisuri dan Selir bukan prajurit" protes salah satu wanita yang tadi menunjukkan kesombongannya.


"Benar, bagaimana mungkin kami bisa mengikuti pertandingan seperti itu?" sahut yang lain.


"Kami ini putri bangsawan dan pejabat tidak mungkin melakukan itu semua" kata yang lainnya.


"Apa kamu itu gila sampai memberikan kami pertandingan seperti itu?"


"Dasar aneh, percuma saja seorang putri dari kerajaan terbesar kedua tapi pemikirannya sangat miring"


"Bagaimana mungkin Yang Mulia bisa mendapatkan wanita sepertinya untuk jadi calon istri, bagusan juga saya"


Zhia masih diam mendengarkan semua ejekan dan makian yang di lontarkan untuknya. Tidak ada kemarahan yang terlihat dari wajah Zhia, malah dirinya terlihat menikmati semua ucapan wanita di depannya.


Sesuai dugaan batin Zhia, teringat malam sebelum kepergian mereka ke kebun untuk menghadiri panen buah. Zhia sudah menyerahkan tulisannya pada Raja Bhian untuk di sahkan supaya acaranya tidak mendapatkan pertentangan dari para pejabat dan bangsawan yang mengirimkan anak mereka.


Di malam itu saat membaca apa yang di tulis Zhia, Raja Bhian kaget melihat bagian pertandingannya. Tapi setelah Zhia menjelaskan maksudnya dan yang pasti apa yang di pertandingkanpun tidak keras dan masih wajar untuk wanita barulah Raja Bhian menyetujunya.


Bahkan pria itu sempat mengatakan sesuatu pada Zhia yang sama seperti ucapan para wanita itu.


"Kamu tahu Catri, kamu pasti akan di kira gila, aneh, miring atau bahkan tidak pantas menjadi calon istri Cami, jadi kamu harus siapkan kesabaran mendengar itu nanti karena para wanita kalau sudah melayangkan hinaan tidak akan berhenti dengan mudah"


Zhia tersenyum tipis mengingat kalimat Raja Bhian yang sungguh terjadi.


"Diam dan tenanglah! apa kalian tidak bisa menghargai keberadaan Calon Ratu kita?" sentak kasim geram mendengar ucapan para wanita itu. Dan lebih geram lagi karena calon Ratunya hanya diam saja dan malah tersenyum.

__ADS_1


Apa dia wanita lemah yang mudah di tindas batin kasim itu melirik Zhia yang masih terlihat santai.


"Kenapa kamu diam saja hah? apa tidak bisa berkata-kata lagi? cih aku sudah menduga kalau kamu itu hanya wanita bodoh yang sok hebat" maki wanita yang sejak awal sombong.


Zhia berdiri maju beberapa langkah lalu bersedekap menatap remeh para wanita di depannya.


"Apa kalian sadar kalau semua makian kalian itu bukan hanya untukku?" tanya Zhia membuat para wanita itu bingung saling pandang.


"Tentu saja kami memakimu yang bodoh tapi sok hebat dan sok berkuasa, lebih baik lepaskan saja Yang Mulia, kamu sama sekali tidak pantas bersanding dengan Raja kami" sahut wanita sombong itu.


"Lalu kamu pikir dirimu pantas!"


"Tentu saja pantas, ayahku Gubernur paling berkuasa di Selatan dan paling di takuti oleh yang lainnya" bangga wanita itu.


Zhia mengangguk masih tersenyum remeh.


"Kalian memakiku karena memberi pertandingan layaknya pria benarkan!" para wanita itu mengangguk.


"Artinya kalian bukan hanya memaki saya, tetapi juga memaki Yang Mulia Raja yang sudah menyetujuinya, menurut kalian apa yang akan di lakukan Yang Mulia jika mengetahui kalau dirinya di maki oleh kalian!" lanjut Zhia dengan suara lantang menatap tajam semua wanita di depannya seakan siap menghabisi musuhnya, bahkan terkesan menakut-nakuti.


Semua orang kaget mendengar ucapan Zhia, kenapa mereka tidak memikirkan hal itu tadi padahal kertas peraturan sudah di tunjukkan dan memang terdapat stempel Raja di sana. Habislah sudah kalau sampai Raja mengetahui ini pikir mereka mulai ketakutan.


"Yang Mulia membutuhkan pendamping yang tegas, tangguh dan bisa membela diri sendiri di kala terjadi sesuatu yang mengancam diri, bukan berarti menjadi seorang selir atau permaisuri kalian bisa mengandalkan prajurit untuk melayani dan melindungi kalian juga memerintahkan mereka apa saja, seandainya terjadi perang dan musuh bisa masuk istana maka sebagai Permaisuri, selir dan Ratu, kita juga harus bisa membantu walau tidak ikut berperang, setidaknya jaga diri sendiri dan biarkan prajurit melawan musuh, pendamping seperti itulah yang di inginkan Yang Mulia" tegas Zhia menatap tajam semua wanita di depannya dengan mantap.


"Jika kalian merasa pertandingan itu berat dan tidak mungkin, silahkan pergi" Zhia mengangkat satu tangannya mengarah ke pintu keluar aula.


"Saya tidak ingin repot-repot melayani gaya manja dan centil kalian" lanjutnya.

__ADS_1


Semua orang terdiam menunduk, betapa sulitnya ingin menjadi bagian dari istana pikir mereka.


Ternyata aku sudah salah menilai Putri Zhia batin Kasim melihat Zhia kagum. Bahkan makian yang tadi di lontarkan untuknya dari para wanita itu kini berbalik membungkam mereka semua.


"Apa harus kami melakukan pertandingan itu? sedangkan itu semua hal yang biasa pria lakukan, kami wanita yang biasa melakukan sesuatu dengan hati yang lembut dan anggun, kami juga tidak pernah melakukan pekerjaan prajurit, kami terbiasa melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh para wanita, jadi lebih baik pertandingan itu di ganti saja" ucap wanita sombong tadi.


Wanita itu masih saja berusaha membuat argumen yang mungkin bisa merubah pikiran Zhia agar pertandingannya di ganti. Karena bagaimanapun juga mereka masih berharap kalau bisa menjadi bagian dari istana dalam.


Zhia menghela napas kasar dengan dengusan malasnya.


"Kasim! usir si berisik itu" ucap Zhia tegas membuat wanita tadi kaget.


Kasim mengarahkan prajurit untuk membawa wanita berisik yang di maksud Zhia. Tentu saja terjadi penolakan dari wanita itu.


"Apa yang kamu lakukan? kamu tidak bisa melakukan ini padaku, ayahku Gubernur yang memiliki kekuasaan besar dan memiliki banyak prajurit, kamu akan menyesal kalau mengusirku" teriaknya masih berusaha mempertahankan diri agar tidak di seret keluar.


Zhia bersedekap menatap datar namun tajam pada si berisik itu.


"Benarkah! bagus dong kalau begitu, Yang Mulia pasti tidak akan keberatan mengganti salah satu pejabatnya, apa lagi anak dari pejabatnya sudah menghinanya" ucap Zhia tersenyum tipis.


Wanita itu semakin kaget, apa lagi dirinya tahu betul dari sang ayah kalau Raja tidak akan pernah memberi toleransi pada siapapun pejabat yang melakukan kesalahan. Bahkan meskipun anggota keluarga yang bersalah maka jabatan taruhannya, apa lagi dirinya yang sudah menghina Raja walau menurutnya itu bukan di tujukan untuk Raja Bhian.


"Aku tidak pernah menghina Yang Mulia, aku menghinamu yang sangat tidak pantas untuk Yang Mulia" teriaknya lagi.


"Hah, kucing siapa sih yang masih saja mengaong itu?" ucap Zhia melihat kasim.


"Cepat bawa" prajurit menarik wanita yang di maksud untuk keluar.

__ADS_1


Apa lagi wanita itu masih saja berteriak dan malah mengatakan hal-hal yang semakin tidak baik.


Setelah kepergian wanita itu, ruangan kembali sunyi tidak ada yang berani bersuara. Mereka takit bernasib sama dengan wanita tadi. Apa lagi bisa saja kedudukan ayah dan keluarga mereka jadi taruhannya karena calon istri Raja mereka yang ternyata bukan wanita lemah yang mudah di tindas.


__ADS_2