Calon Ratu

Calon Ratu
39


__ADS_3

Zhia merasakan pukulan di pantatnya langsung berteriak, apa lagi posisi dirinya yang terbalik. Kepala menghadap bawah dan tubuh menggantung di pundak seseorang yang dari wanginya Zhia tahu siapa.


"Arghhh turunkan Cami, turunkan..." teriak Zhia memukul bagian belakang tubuh Raja Bhian yang sama sekali tidak bereaksi apapun. Hanya diam sembari berjalan.


"Turunkan Cami.." teriak Zhia lagi tetap tidak mendapatkan respon.


Akhirnya Zhia diam dan mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat orang-orang yang berjalan di belakang. Tidak terlihat karena rambut panjang Zhia menutupi penglihantannya.


Zhia menggunakan satu tangannya untuk menopang tubuh agar bisa sedikit naik, sedangkan tangan satu lagi menyibakkan rambutnya agar bisa melihat.


"Hey kalian! apa yang sedang kalian bicarakan hah?" tanya Zhia pada orang-orang di belakangnya yang terlihat berbincang tapi pelan hingga dirinya tidak dapat mendengar. Bahkan sesekali mereka juga terkekeh yang membuat Zhia penasaran.


Mendengar seruan dari arah depan membuat orang-orang yang tadi asik terkekeh seraya bergosip tentang Raja mereka yang terlihat sedikit berubah. Terlihat jelas mereka jadi gugup karena tertangkap basah sedang tertawa sementara Zhia merasa dalam kesulitan.


"Argh..aduh" Zhia mengusap keningnya yang membentur bagian belakang tubuh Raja Bhian.


Apa sebabnya? sebabnya karena Raja Bhian yang tadi terkena hempasan rambut Zhia hingga sadar kalau gadis di pundaknya sedang mencoba melakukan sesuatu. Benar saja kalau satu tangan Zhia menekan tubuhnya dan terdengar suara gadis itu yang menegur para bawahannya.


Raja Bhian menarik tangan Zhia yang bertumpu pada tubuhnya lalu di lepaskan hingga membuat Zhia kembali menggantung seperti semula dengan kening yang mencium bagian tubuh belakangnya. Posisi tubuh Zhia yang memang di panggul setengah tubuh membuat gadis itu lebih menghadap bawah lagi.


"Ganti kedua penjaga itu dengan yang lebih berumur dari mereka dan pastikan mereka jelek" ucap Raja Bhian saat sudah masuk di dalam kediaman.


Raja Bhian beranggapan kalau Zhia melakukan hal itu tadi karena kedua penjaga depan yang tampan. Walau baginya kedua penjaga itu biasa saja, tapi rasa cemburu membuatnya membenarkan semua yang di pikirannya.


"Baik Yang Mulia" sahut Panglima Qai.


"Dan kalian semua tunggu di ruang baca" lanjut Raja Bhian menuju kamarnya untuk menyelesaikan masalah tadi lebih dulu.


Bahkan kepala pelayan yang mengatakan makanan sudah siappun tidak di hiraukannya.


Sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi, pura-pura tidur sajalah batin Zhia memejamkan mata.

__ADS_1


Sampai di kamar Raja muda itu meletakkan Zhia di kursi yang ada di kamar mereka. Keningnya mengkerut melihat gadis yang sejak tadi di pundaknya memejamkan mata.


Hah


Pria itu menghela napas lalu bergerak.


"Sudahlah nanti saja" ucapnya melangkah dengan kaki di hentak-hentakkan memutar jalan kebelakang kursi yang di duduki Zhia.


Mengamati wajah Zhia dengan seksama untuk memastikan dugaannya.


Pelan-pelan Zhia membuka matanya sedikit-sedikit, mengintip kira-kira Raja Bhian sudah pergi atau belum. Saat tidak mendapati orang lain di kamar, Zhia membuka matanya lebar dengan tersenyum senang.


Di pikirnya Raja Bhian sudah keluar saja karena suara langkah kakinya yang tadi terdengar menjauh.


"Apa dia sudah keluar?" gumam Zhia berdiri dari duduknya berjalan mendekati pintu dan membukanya.


"Aman.." ucapnya saat tidak mendapati siapapun di luar.


Raja Bhian bahkan memejamkan matanya seolah sedang tidur.


"Aduhhh! kok bisa ada di situ sih?" gumam Zhia pelan membawa kakinya melangkah hendak keluar dari kamar dengan berjinjit supaya tidak bersuara.


"Jangan lihat jangan lihat, jangan buka mata jangan.." gumam Zhia melangkah pelan-pelan.


EKHEM


Zhia menghentikan langkahnya bahkan tubuhnya kaku seketika mendengar suara deheman cukup keras itu. Gadis itu menggerakkan kepalanya pelan layaknya robot. Syukurlah masih tidur batin Zhia hendak bergerak kembali, namun...


EKHEMM


"Haus" Raja Bhian bangkit dari duduknya lalu meraih teko di meja depannya. Mengisi gelas dengan air lalu minum.

__ADS_1


Di lirknya Zhia yang masih diam bagai patung, satu tangan Zhia di depan satunya masih sejajar tubuh namun kedua telapak tangannya terkepal walau tidak erat. Sedangkan kaki gadis itu yang kanan hanya bagian ujung jarinya yang berada di lantai.


Posisi apa itu batin Raja Bhian menahan tawanya melihat gaya Zhia yang mematung. Selesai minum Raja Muda itu mendekati Zhia.


"Wah wah wah kenapa bisa ada patung di sini? sepertinya tidak pernah ada perintah apapun tentang ini" ucapnya berdiri di samping Zhia dan mengamati dari atas hingga bawah.


"Hem posisinya salah ini" Raja Bhian mengarahkan posisi tubuh Zhia seperti apa yanh di kehendakinya.


"Nah! ini baru benar" senyum Raja Bhian setelah Zhia menghadap kepadanya. Kedua tangan Zhia kini di pundaknya sedangkan wajah gadis itu naik menengadah menghadap padanya yang memang lebih tinggi dari Zhia.


Raja Bhian merangkul tubuh calon istrinya merapat padanya, menatap intens bola mata coklat milik Zhia yang begitu indah. Seakan tidak bosa menatap mata indah itu, Raja Bhian tetap diam menatap Zhia.


Nih orang apa tidak pegal ya kakinya? betah banget berdiri batin Zhia mulai bosan dan pegal pada kakinya karena sudah cukup lama mereka berdiri dan pria yang mendekap Zhia seakan masih betah saja.


Sadar dengan tingkah Zhia yang mulai bosan, Raja Bhian melancarkan aksinya yang sudah di tahannya sejak tadi. Sebuah hukuman yang manis menurutnya, ciuman yang sengaja di berikan, bukan lagi ketidak sengajaan seperti sebelumnya.


Zhia yang kaget dengan apa yang di lakukan calon suaminya hanya diam, hingga akhirnya terlena walau tidak membalas ciuman manis itu.


Cukup lama aksinya di lakukan, Raja Bhian menyudahi kala terdengar bunyi dari perut Zhia yang sudah minta di isi.


"Lapar" ucap Zhia menatap pria di depannya yang sudah melepas ciuman mereka.


Raja Bhian mengusap bagian bawah bibir Zhia pelan lalu mengecup lagi sekali, lagi..lagi dan lagi..


"Sudah cukup Cami, Catri lapar" ucap Zhia menahan wajah Raja Bhian yang akan memberikan ciuman lagi.


"Itu hukuman untuk kamu yang sudah membuat Cami cemburu, ingatlah untuk tidak melakukan hal yang dapat membuat Cami cemburu lagi atau hukuman akan lebih dari itu" ucap Raja Bhian mengecup bibir Zhia sekali lagi sebelum menyatukan telapak tangan mereka membawa Zhia keluar.


Cemburu! dia cemburu! wah enak di dia dong kalau sampai cemburu lagi, mending cari aman sajalah kalau begitu gumam Zhia dalam hati.


Ada rasa senang juga di hati Zhia kala mendengar kalau calon suaminya cemburu, itu artinya sudah ada cinta di hati Raja Bhian untuk Zhia. Itulah yang pernah di katakan Permaisuri Vela pada Zhia. Mudah-mudahan begitu pikirnya lagi tersenyum kecil, satu tangannya yang bebas memegang lengan Raja Bhian yang menggenggam tangannya. Jadilah mereka berjalan bersama menuju ruang makan dengan romantisnya.

__ADS_1


Raja Bhian juga menyambut tangan Zhia yang memegang lengannya dengan cara mengelus tangan Zhia pelan dan tersenyum manis pada Zhia.


__ADS_2