Calon Ratu

Calon Ratu
73


__ADS_3

Kereta kuda yang di naiki Raja Bhian dan Zhia terus bergerak menuju pulang ke istana. Para prajurit juga mengawal dengan ketat di belakang, ada yang di samping dan di depan semua mengambil posisi masing-masing.


Ketika waktunya istirahat mereka berhenti dan membuat tempat untuk istirahat. Karena persediaan makanan yang tidak mencukupi untuk makan mereka semua yang bersama banyak prajurit.


Beberapa prajurit pergi mencari ikan di sungai yang tidak jauh dari tempat mereka istirahat. Sedangkan Zhia duduk di kain yang sudah di gelar oleh pelayan untuk tempat duduk Raja dan calon Ratu mereka.


Zhia duduk sembari mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas kecil yang di berikan oleh pelayannya tadi.


Raja Bhian yang melihat apa yang di lakukan Zhia langsung menggerakkan jarinya untuk mendatangkan angin agar gadis itu merasa sejuk. Tapi rupanya Zhia tidak suka dengan angin itu karena ia ingin yang sepoi-sepoi sedangkan yang di buatkan Raja Bhian sedikit kencang.


"Cami... anginnya terlalu kencang" protes Zhia melihat pria yang sedang berdiri bersama prajuritnya mendiskusikan entah apa.


"Trus maunya yang gimana?" tanya Raja Bhian melihat Zhia.


"Yang penting sejuk kalau ini namanya buat masuk angin" sahut Zhia.


Raja Bhian kembali menggerakkan jarinya hingga angin tidak terlalu kencang dan sesuai dengan keinginan Zhia.


"Nah ini baru enak" kata Zhia sembari merebahkan tubuhnya di atas bantal yang di tumpuk pelayan. Bantal dari kereta kuda yang di ambil untuk Zhia yang ingin sedikit rebahan.


Gadis itu meluruskan kedua kakinya dan satu tangan menyangga kepala dia tas bantal. Pandangannya melihat ke arah sungai yang cukup indah dengan beberapa tanaman air di dalamnya menambah keindahan tersendiri.


Prajurit datang dengan ikan segar di tangan mereka yang sudah bersih dan siap di bakar.


"Wah! ikannya banyak" seru Zhia si maniac ikan.


Gadis itu tetap pada posisinya rebahan sementara para prajurit itu mulai membakar ikannya untuk makan.


Ada pula yang kembali dengan buah-buahan hutan yang bisa di makan mereka.


Setelah semuanya selesai dan di kumpulkan, Raja Bhian dan Zhia lebih dulu mengambil makanan untuk mereka. Setelahnya barulah para prajurit mengambil makanan mereka masing-masing.

__ADS_1


Makan bersama di tempat terbuka, duduk bersama tanpa adanya batasan di antara mereka. Saat makan siang itu mereka terlihat selayaknya rakyat biasa dan orang biasa yang saling berbagi cerita dan berkumpul bersama beristirahat.


Raja Bhian tidak mempermasalahkan itu selama mereka bukan sedang dalam keadaan serius.


Setelah selesai masa istirahat mereka kembali berkemas dan bersiap untuk pergi melanjutkan perjalanan.


Tapi ada sesuatu yang terjadi saat Zhia akan menaiki kereta kuda. Serombongan orang datang menyerang tiba-tiba dengan brutalnya.


Untungnya para prajurit Raja Bhian sudah dalam mode serius dan siaga hingga dapat melawan meski di serang mendadak.


Raja Bhian langsung mendorong Zhia naik ke atas kereta kuda agar tidak terjadi sesuatu padanya. Sedangkan Raja Bhian tetap di luar dan melihat para prajuritnya yang sedang melawan musuh.


Karena melihat musuh yang semakin banyak dan prajuritnya kalah jumlah, Raja Bhian menjauh dari kereta kuda ikut melawan musuh yang merupakan para pemberontak. Terlihat dari bendera dan gambar simbol di bendera itu sendiri.


Kelompok pemberontak terbesar yang pernah menjajah di kerajaan kecil yang pernah dulu di tolong Raja Bhian dan kini menjadi bagian dari kerajaan Sun pula.


Entah bagaimana para pemberontak itu bisa kembali bersatu dan memiliki banyak anggota.


Zhia hanya melihat dari kereta kuda tanpa mau ikut membantu. Dirinya duduk santai di dekat pintu masuk kereta kuda yang terbuka. Melihat pertarungan di hadapannya tidak membuat Zhia takut.


Raja Bhian yang masih serius bertarung tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi di kereta kuda. Hingga teriakan kedua pelayan Zhia menyadarkan Raja Bhian kalau dirinya sudah lengah dari pengawasannya pada Zhia.


Menoleh kearah kereta kuda, Raja Bhian mendapati kedua pelayan Zhia yang tumbang tidak sadarkan diri di dekat kereta kuda. Panik melihat apa yang terjadi di sana Raja Bhian langsung berlari mendekati kereta kuda.


Kedua matanya melotot kala tidak mendapati keberadaan Zhia di kereta kuda.


Melihat kesegala arah juga tidak menemukan dimana keberadaan gadis itu.


"Kurang ajar! siapa yang berani menculiknya?" geram Raja Bhian marah.


Dengan cepat Raja Bhian menggunakan sihirnya untuk mencari Zhia. Ia yakin penculik itu pasti bergerak cepat meninggalkan tempat itu setelah berhasil membuat Zhia pingsan seperti kedua pelayannya.

__ADS_1


Raja Bhian menggunakan sihir anginnya untuk bisa merasakan di mana kira-kira keberadaan Zhia melalui aroma tubuh gadis itu yang pasti akan tersebar melalui angin.


Pria itu mengusap kedua lengan bajunya yang tadi bekas memeluk Zhia lalu menyatukan aroma tubuh gadis itu dengan angin agar ia bisa melacaknya.


Sebelum pergi Raja Bhian lebih dulu menghampiri Pangliam Qai.


"Urus semua yang ada di sini sampai bersih, kalau sudah selesai tunggu di sini" ucapnya.


"Baik Yang Mulia" sahut Panglima Qai di tengah dirinya yang sedang melawan musuh di hadapannya.


Raja Bhian memukul satu musuh yang menyerangnya tadi saat berbicara dengan Panglima Qai. Setelah lawan itu tumbang barulah Raja Bhian melesat di udara mengikuti aroma tubuh Zhia yang terciumnya melalui angin.


Terus bergerak mengikuti kemana aroma yang di kejarnya. Semakin jauh semakin masuk ke dalam hutan membuat Raja Bhian mengkerutkan keningnya.


"Kemana dia mau membawa Zhia?" gumam Raja Bhian heran.


Suasana hati sang Raja yang kurang baik rupanya berpengaruh pada tanaman di sekitarnya. Pohon- pohon bergoyang setiap sang Raja lewat. Tanah bergetar dan tanaman merambat melilit setiap apa yang ada di dekatnya, baik hewan maupun tanaman lainnya.


Sampai tiba-tiba pergerakan Raja Bhian terhenti kala matanya melihat seseorang yang membawa Zhia masuk ke dalam rumah kecil di tengah hutan itu.


Tubuh Zhia di panggul di pundak layaknya karung, tapi ada sesuatu yang aneh dari Zhia. Gadis itu nampak mengangkat kepalanya dan melihat sekitarnya sebelum akhirnya kembali menurunkan kepalanya dan pura-pura pingsan lagi.


Satu alis pria itu naik merasa semakin heran dengan apa yang terjadi.


"Apa yang di rencanakannya?" pikir Raja Bhian.


Supaya bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Raja Bhian bersembunyi di antara dedaunan dan mulai mendekat pelan-pelan ke arah pondok kecil yang di kelilingi pepohonan juga.


Raja Bhian mencari celah di mana dia bisa melihat ke dalam dan mencari tahu agar penasarannya terjawab.


Sedangkan sebelumnya, Zhia yang kaget karena sesuatu yang di lemparkan di wajahnya repleks memejamkan mata dan menahan napas. Tapi saat akan membuka mata Zhia merasa tubuhnya di bawa pergi oleh seseorang.

__ADS_1


Karena ingin mencari tahu siapa yang menculiknya yang kemungkinan berhubungan dengan penyerangan itu. Zhia pura-pura pingsan saja. Dia yakin kalau Raja Bhian pasti akan bisa menemukannya dengan cepat.


Itu sebabnya Zhia selama di panggul penculiknya mengusap-usap lengan bajunya agar aroma tubuhnya bisa tersebar. Insting saja kalau Raja Bhian akan mencarinya nanti melalui aroma tubuhnya dari angin.


__ADS_2