
Benar saja Zhia yang mendengar permintaan Raja Bhian itu merasa senang dalam hatinya. Hanua saja memilih tetap diam dan tidak buka suara lagi.
"Baik yang Mulia, secepatnya saya akan mengirimkan apa yang Yang Mulia minta" sahut Jendral Loican pasrah.
Masih mending dirinya di beri hukuman ringan seperti itu. ya bagi mereka yang sudah biasa menghadapi setiap pertarungan dan keluar masuk hutan untuk melakukan segala hal, berburu bukan hal sulit. Apa lagi harus berhadapan dengan hewan buas tidak masalah bagi para pendekar sepertinya meski sudah berumur.
Raja Bhian berdehem seraya melambaikan tangan meminta Jendral Loican pergi. Tanpa di perintah dua kali pria berumur itu pergi setelah menunduk hormat sejenak.
Zhia melepaskan diri dari pelukan Raja Bhian yang menatapnya.
"Kenapa jauh sekali kamu minta di carikan buruannya? apa di dekat istana tidak ada hutan untuk berburu?" tanyanya.
"Ada, jaraknya dua kilo dari istana tapi yang dari daerah Jendral Loican rasanya berbeda seperti lebih khas begitu" Zhia mengangguk.
"Ayo kembali kekediaman, kita makan siang setelah itu kamu istirahat" ajak Raja Bhian.
Keduanya keluar dari ruang kerja dan menuju kediaman utama. Seperti biasa keduanya nampak berjalan dengan mesra.
Melewati beberapa lorong dan jalan yang harus di lalui sebelum tiba di kediaman utama. Namun belum juga sampai di tujuan seseorang sudah mengintrupsi perjalanan mereka.
"Kakak sepupu tunggu!" teriak Wiya berlari mendekat dengan tergopoh-gopoh di ikuti pelayannya.
Raja Bhian dan Zhia yang mendengar teriakan itu menghentikan langkah. Berbalik melihat siapa yang berteriak, tali itu hanya di lakukan oleh Zhia saja sedangkan Raja Bhian yang sudah sangat hapal dengan suara siapa yang memanggilnya nampak malas dan semakin mamasang wajah dingin.
"Mau apa dia kesini?" gumam Zhia pelan.
"Ayo" ajak Raja Bhian membjat Zhia berbalik dan mereka melanjutkan langkah.
__ADS_1
Zhia tidak ingin bertanya mengapa mereka tidak menunggu Wiya dan bertanya apa maunya hingga terlihat buru-buru. Karena sejujurnya Zhia juga malas bertemu dengan Wiya yang sudah jelas-jelas mengibarkan bendera permusuhan tanpa sebab yang Zhia sendiri tidak tahu apa.
Namun akalu dari padangan mata Zhia seperrinya menangkap sesuatu yang berbeda memang dari sepupu calon suaminya itu. Seperri pandangan mengagumi yang lebih dari sekedar mengangumi itu sendiri. Tapi entahlah, Zhia juga belum terlalu paham akan masalah yang berhubungan dengan hati.
Yang dirinya tahu hanya satu, Raja Bhian calon suaminya, miliknya dan tidak ada satu wanita lain manapun yang boleh melirik apa lagi menatapnya penuh kagum yang lebih. Oh! sungguh dirinya tidak rela akan hal itu, dan tidak akan membiarkan siapapun mengambil prianya.
Sekalipun itu sepupu calon suaminya sendiri, Zhia tidak akan tinggal dia kalau sampai dia mengancam masa depan pikirnya.
"Kakak sepupu tunggu!" teriak Wiya lagi kala melihat orang yang di panggilnya kembali melangkah.
Meski kaget saat tadi melihat orang bergandengan dengan sepupunya adalah pria tampan. Wiya semakin mendekat dengan segala macam di pikirannya, apa dia Putri kurang ajar itu? pikirnya.
Tadi Saat tiba di istana Wiya sempat mendengar tentang apa yang sudah terjadi di istana. Juga masalah tentang Zhia sendiri yang terlihat sangat tampan kala berpakaian seperti pria. Tak kalah tampan dan berkharisma dari sang Raja, itu sebabnya Wiya mengambil kesimpulan mungkin orang yang bersama kakak sepupunya adalah sang calon istri
"Kakak! tunggu!" akhirnya Wiya sampai di dekat Raja Bhian dan Zhia.
Setelah napasnya mulai teratur, Wiya mengangkat pandangannya dan bertemu pandang dengan Zhia yang melihatnya dengan tatapan malas.
Kaget, Wiya menatap wajah Zhia lekat untuk memastikan apakah benar yang di lihatnya atau tidak. Wajah Zhia benar-benar seperti pria dan sangat tampan, sekejab nampak jelas kalau itu Zhia namun sekejab lagi seperti orang lain yang masih sama dengan Zhia hanya saja wajahnya jauh lebih tegas.
"Tidak mungkin" gumam Wiya yang masih di dengar oleh orang-orang di sana. Bahkan pelayan Wiya pun melongo melihat Zhia tidak percaya dengan pandangan mereka.
"Kakak! siapa dia? kenapa wajahnya aneh sekali?" tanya Wiya membuat kedua alis Zhia terangkat bingung sekaligus kesal dengan ucapan Wiya yang mengatainya aneh.
"Apa maksudmu?" tanya Raja Bhian dengan wajah dinginnya. Merasa tidak suka juga dengan kalimat tidak bermutu dari sepupunya itu.
"Dia siapa kak? kenapa wajahnya bisa seperti Putri bar-bar itu? tapi juga bisa seperti seorang pria yang tampan dan sangat tegas" jawab Wiya jujur karena masih ada rasa kaget di hatinya.
__ADS_1
"Siapa yang bar-bar?" tanya Raja Bhian lagi, kali ini tatapannya bahkan sudah tajam pada Wiya.
Seakan siapa menyayat orang yang sudah berkata tidak baik tentang snag kekasih hati.
"Ma.. maksudnya.. maksudnya Putri Zhia" Wiya gugup dan merasa takut melihat wajah dan tatapan Raja Bhian yang benar-benar tidak bersahabat itu.
Jadi lebih baik cari aman dari pada di usir dari istana sebelum mengatakan maksud kedatangannya pikirnya.
"Mau mu siapa?" bukan Raja Bhian yang buka suara kali ini, melainkan Zhia yang tidak suka karena di katai bar-bar. Ya walaupun harus di akuinya kalau sikapnya terkadang bar-bar tapikan tidak harus di ucapkan juga batinnya.
Perhatian Wiya kembali pada orang di samping Raja Bhian yang menatapnya kesal dan tidak suka.
"Cih! jadi kamu benar-benar si putri bar-bar itu ya! tidak sangka kalau kamu bisa menyamar jadi laki-laki juga" ejek Wiya mencibir penampilan Zhia yang sebenarnya mempesona walau tidak memakai gaun.
Bahkan aura yang terasa dari Zhia lebih kuat dan keras. Seperti ada sesuatu yang menekan di kala gadis itu sedang menunjukkan ketidak sukaannya. Seperti saat ini, Wiya bisa merasakan tekanan dari Zhia itu hanya saja tidak ingin terlihat kalau dirinya tertekan dengan aura yang di miliki Zhia.
"Kalau saya putri bar-bar lalu apa sebutan untukmu? si berisik pengganggu" balas Zhia balik mencibir.
Wiya mendengus tidak suka dan akan kembali membalas ucapan Zhia. Namun suara Raja Bhian sudah mengintrupsi lebih dulu.
"Katakan tujuanmu" ucapnya.
Wiya melihat kakak sepupunya yang sudah terlihat semakin kesal dan dingin saja.
"Begini kakak sepupu, Wiya dengar ada acara pertandingan untuk mencari Selir dan Permaisuri di istana apa itu benar?" ucapnya dengan suara yang pelan dan lembut. sangat berbeda dengan tadi ketika bicara pada Zhia.
"Hem" jawab singkat pria itu malas, sedangkan Zhia tidak berminta menjawab.
__ADS_1
"Apa Wiya boleh ikut kak? Wiya sudah tahu semua pertandingannya dan siap melakukan itu semua dengan baik dan benar asal nanti di jadikan Permaisuri, atau bila perlu di jadikan Ratu" ucap Wiya dengan wajah berbinar bahagia seakan permintaannya akan segera terkabul.