
"Apa Yang Mulia sudah kembali?" tanya Zhia pada prajurit yang berjaga di pintu masuk kediaman utama.
"Belum Tuan Putri" sahut prajurit itu menatap lurus kedepan setelah tadi menunduk sejenak sebelum menjawab pertanyaan Zhia.
Melihat tampang prajurit itu yang diam saja berwajah datar dan menatap lurus membuat Zhia penasaran apa sebenarnya yang di lihat oleh prajurit itu. Bahkan teman prajurit itu yang menjaga di bagian satunya pun sama hanya menatap lurus diam bagaikan patung.
Karena penasaran Zhia berdiri di depan prajurit yang di ajaknya bicara dan menatap mata prajurit itu serius. Zhia ingin tahu bagaimana pandangan seorang prajurit yang sedang menjelma menjadi patung bernyawa itu. Apa pandangan kosong atau malah sedang menghayal makanya tidak memperdulikan sekitar dan hanya akan bergerak di saat tertentu saja.
Mata Zhia melototkan matanya guna bisa melihat dengan jelas apa yang sedang di lakukan prajurit yang lumayan tampan itu. Bukannya mendapati apa yang membuatnya penasaran, Zhia malah melihat prajurit itu yang nampak malu dengan wajah yang memerah padam menundukkan kepalanya karena tidak tahan terus di tatap oleh wanita cantik di depannya.
Dirinya juga merasa takut kalau sampai Raja nya melihat kalau dirinya malu di tatap oleh Zhia bisa bahaya untuk dirinya sendiri dan pekerjaannya.
Karena tidak mendapati apa yang di inginkannya, Zhia beralih pada prajurit yang satunya yang tak kalah muda dan tampannya dengan yang tadi. Pelayan dan prajurit mengikuti kemana langkah kaki Zhia dengan heran, untuk apa melakukan itu pikir mereka.
"Tuan Putri mau kemana?"
"Ayo kita masuk saja Tuan Putri" ucap pelayan khawatir jika tiba-tiba sang Raja datang maka mereka bisa di salahkan.
"Kalian masuk saja duluan jangan ganggu kesenanganku" kata Zhia berdiri di samping prajurit satunya.
Mencoba melihat lurus kedepan seperti apa yang di lakukan prajurit, sesekali Zhia juga melihat ke arah mata dan wajah prajurit itu untuk bisa tahu kemana arah pandangannya. Sungguh kerjaan yang tidak bermanfaat tapi di lakukan oleh Zhia untuk mengusir bosan yang di alaminya.
Bukan baru kali ini saja Zhia melakukan hal seperti itu, di kerajaan ayahnya pun Zhia pernah begitu. Seorang Jendral muda tampan yang memiliki sikap dingin membuat Zhia penasaran dengan ekpresinya dan cara pandangannya pada orang lain, Zhia mengikuti ekpresi Jendral itu selama dua hari tapi yang di dapatinya justru wajahnya terasa kaku karena tidak berespresi apapun dan hanya memasang wajah lurus saja.
Bahkan seorang prajurit penjaga Ratu Nila yang hanya diam saja layaknya patung berjalanpun pernah di tiru oleh Zhia. Gadis itu berdiri di samping prajurit yang sedang mengawal Ratu mengawasi pekerjaan pelayan untuk sebuah perayaan. Saat prajurit itu bergeser karena di dekati Zhia, maka Zhia akan ikut bergeser mendekati lagi prajurit itu agar tahu bagaimana rasanya jadi patung bernyawa dan hsrus menatap kemana.
Namun hasilnya yang di dapat justru di ketawai oleh Zhio dan di tegur Ratu Nila karena menganggap Zhia mengganggu prajurit penjaganya yang terlihat kurang nyaman atau malah segan di dekati Zhia yang merupakan Tuan Putri mereka.
Kini Zhia mengulang aksinya lagi dan respon dari prajurit penjaga itu berbeda dari sebelumnya. Prajurit itu maju satu langkah, Zhia yang melihat itu maju juga dengan pandangan yang lurus sesekali melirik apa yang di lakukan prajuirt.
Saat prajurit itu mundur gadis dengan rasa penasaran itupun ikut mundur. Zhia juga berjinjit untuk mengimbangkan tinggi badannya dengan prajurit yang lebih tinggi darinya. Ya walaupun tetap saja masih kalah tinggi tetapi Zhia tetap melakukan apa yang menurutnya menyenangkan.
__ADS_1
Prajurit penjaga Zhia dan pelayannya melongo tidak percaya dengan apa yang di lakukan Zhia itu. Bahkan keempat prajurit penjaga Zhia itu garuk kepala melihat tingkah kekanakan Zhia yang sialnya terlihat menggemaskan. Seperti anak kecil yang suka mengikuti apa yang di lakukan orang lain di sekitarnya begitulah Zhia saat ini.
"Tuan Putri, ayo kita masuk jangan sampai Yang Mulia melihat kita masih di depan sini" ajak pelayan dengan hati-hati supaya Zhia tidak merasa di larang melakukan apapun.
Gadis yang maish asik berdiam diri seperti prajurit itu tidak menjawab. Tetap memasang wajah datar dan pandangan lurus setelah prajurit itu lelah bergerak yang terus saja di ikuti Zhia.
"Bagaimana ini?" bisik pelayan pada temannya.
"Tidak tahu, apa kalian punya solusi?" tanya pelayan satunya kepada prajurit di belakang mereka.
"Apa aku harus mencari Yang Mulia?" usul salah satu prajurit.
"Sepertinya itu lebih baik dari pada Tuan Putri terus di sini" sahut temannya setuju.
Prajurit tadi mengangguk dan berbalik hendak melangkah pergi, tapi terhenti kala melihat seseorang yang akan di carinya sudah berhenti di bawah sana. Dua langkah dari anak tangga terbawah Raja Bhian berdiri bersama Kasim dan Panglima Qai menatap kearah atas.
GLEK
Sedangkan Raja Bhian yang sudah kembali dari kesibukannya siang ini memilih untuk kekediaman utama untuk makan bersama Zhia sekaligus menanyakan beberapa hal. Tetapi yang di dapatinya malah Zhia yang sedang menatap prajurit penjaga pintu hingga prajurit itu menunduk.
Sampai akhirnya Zhia juga mendatangi prajurit satunya dan melakukan hal tak terduga lainnya yang membuatnya heran sekaligus cemburu.
Rahangnya mengeras melihat pemandangan di hadapannya tapi langkahnya masih tertahan karena masih ingin melihat apa yang ingin di lakukan Zhia.
Astaga..apa dia itu seorang Putri kerajaan? kenapa tingkahnya seperti anak kecil batin Raja Bhian gemas-gemas geram dan cemburu.
Di belakangnya Kasim Piko dan Panglima Qai menahan tawa sekuat mereka kala melihat Zhia yang mengikuti apa yang di lakukan prajurit. Bahkan tanpa malu meniru prajurit berjaga dengan wajah datar nereka. Meski sempat kaget juga dengan apa yang di lakukan Zhia tapi akhirnya ingin tertawa juga.
Kalau saja tidak takut dengan Raja Bhian yang akan mengamuk kedua pria itu pasti akan tertawa akibat lucu dengan kelakuan Zhia.
"Ya..Yang Mulia" ucap salah satu pelayan Zhia gugup kala dirinya melihat kebawah saat hendak melihat kepergian prajurit. Siapa sangka malah yang di takutkan sudah muncul lebih cepat dari dugaan.
__ADS_1
Suasana menjadi tegang seketika karena raut wajah suram dan kesal dari Raja Bhian yang menakutkan. Semua prajurit dan pelayan menunduk takut. Bahkan prajurit di samping Zhia juga ikut menunduk dengan tubuh gemetar namun ia mencoba tenang agar tidak terlalu ketara kalau ketakutan.
EHEM
Raja Muda itu berdehem untuk menyadarkan Zhia yang malah ikut menunduk seperti prajurit di sampingnya.
"PUTRI ZHIA MANDU MONTH"
Raja Bhian mengucapkan nama lengkap Zhia penuh penekanan yang malah semakin membuat suasana panas semakin membara.
Zhia mengangkat pandangannya kala mendengar suara Caminya yang lebih berat dari biasanya. dan kentara kalau sedang menahan sesuatu yang tidak bisa di keluarkan. Bukannya takut atau menyudahi aksinya, Zhia malah kembali menunduk.
"Salam Yang Mulia, selamat datang kembali" ucap Zhia menirukan gaya prajurit menyambut tuannya.
Semakin gemas dan geramlah Raja yang sudah terbakar itu. Kedua telapak tangannya mengepal menahan kekesalannya, tidak mungkin kalau ia menunjukkan kekesalan itu di luar, apa lagi ini masalah pribadi.
"Tetaplah disitu menggantikan prajurit berjaga" ucap Raja Bhian dengan suara datarnya berharap Zhia takut dan merayunya.
Namun yang di dapatkan bukan seperti bayangannya yang semakin membuatnya naik darah.
"Baik Yang Mulia" kaget semua irang di sana mendengar jawaban santai dari Zhia.
Dengan cepat Raja Bhian menarik tangan Zhia dan membawa gadis itu di pundaknya dan berjalan masuk. Awalnya Zhia diam saja karena masih mode datar dan patung bernyawa, sampai akhirnya pukulan di pantatnya membuat Zhia berteriak.
-----------
Halo para pembaca setia, maaf ya kalau Author lama update, sebenernya bukan gak mau rajin update. Setiap udah di post reviewnya lama bisa sampe besok lagi baru naik di novel.
Maaf sekali lagi untuk para pembaca ya🙏🙏 bukan maunya Author begitu, tapi udah dari sananya yang memang proses review lama.
Selamat membaca😍😍
__ADS_1