Calon Ratu

Calon Ratu
79


__ADS_3

"Lapor Yang Mulia, kami sudah mencari tahu siapa pria yang bermasalah dengan tuan Putri Zhia tadi sore" lapor seorang prajurit mata-mata.


"Katakan!" tegas Raja Bhian.


"Pria itu berasal dari daerah Sanan di bawah pemerintahan Perdana Mentri Ji, dia juga merupakan keturunan keluarga bangsawan Wam, anak selir yang sukanya berfoya-foya menghamburkan uang untuk kesenangan bermain wanita" jelas prajurit itu.


"Kenapa dia bisa masuk ke istana?" tanya Raja Bhian.


"Dia masuk bersama putri Wiya dan bisa sampai di halaman Barat karena perintah dari Putri Wiya pula yang ingin pria itu mendekati Tuan Putri Zhia dan merusak nama baiknya, itu sebabnya dia mengikuti tuan Putri dan berani menyentuh tu.."


"Tangannya yang mana yang berani menyentuh calon istriku?" tanya Raja Bhian dengan wajah yang tidak suka memoting ucapan prajuritnya.


"Tangan kanannya Yang Mulia" jawab prajurit itu sedikit gentar karena aura di sekitarnya sudah mulai tidak baik.


"Di mana dia sekarang?" tanya Raja Bhian lagi.


"Masih di rumah bordil bersama putri Wiya, mereka mabuk-mabukan dan kembali menyusun rencana untuk mencari masalah dengan tuan Putri" jelasnya yang semakin membuat Raja Bhian geram.


"Pastikan kalian membereskannya tanpa melakukan pelanggaran" kata Raja Bhian.


"Baik Yang Mulia, kami akan laksanakan secepatnya" sahut prajurit itu dan langsung pergi secepat kilat menghilang dari ruang baca Raja Bhian.


Setelah kepergian prajurit mata-mata itu, Panglima Qai masuk dan sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Yang Mulia" ucapnya.


"Lakukan sesuatu agar paman tahu apa yang sudah di lakukan putrinya, jangan sampai aku yang membereskannya" ujar Raja Bhian dengan rahang yang di ketatkan pertanda ia sedang menahan marahnya.


"Baik Yang Mulia, saya pamit dulu" Panglima Qai undur diri meninggalkan ruang baca meninggalkan Raja Bhian yang sedang mengatur emosi.


Setelah bisa mengatur emosi dan perasaannya yang menggebu setelah mendengar kabar kurang sedap tadi. Barulah Raja Bhian keluar dari ruang baca itu menuju kamarnya, di atas ranjang terlihat Zhia yang sudah tertidur dengan pulasnya tanpa merasa terganggu dengan kehadiran Raja Bhian.


Malam semakin larut di mana semua orang sudah mulai tidur untuk mengistirahatkan tubuh. Tapi tidak untuk orang-orang yang ada di rumah bordil, kesenangan dan kegembiraan masih terus berlangsung di sana.


Bahkan tanpa merasa lelah dan sudah mereka terus bersenang-senang. Bersama beberapa wanita yang menemani dan minuman yang memabukkan.


"Bagaimana dengan wanita itu? cantik bukan! kau pasti akan puas kalau bisa memilikinya" seringai Wiya berbicara pada Wam dai, pria yang di ajaknya bekerja sama untuk menjatuhkan nama baik Zhia.


"Luar biasa cantik dan menarik, aku sudah tidak sabar menantikan rencana kita yang akan berjalan besok" ucap Wam Dai tersenyum senang karena mendapatkan mangsa baru.

__ADS_1


"Kau harus sering memberinya obat pelumpuh tubuh kalau tidak dia bisa saja menghabisimu" kata Wiya mengingatkan rekannya.


"Ya kau benar, bahkan sore tadi sudah dua kalia dia menjatuhkan aku" desisi Wam Dai kala mengingat kejadian sore tadi.


"Kau harus lebih berhati-hati lagi besok supaya kejadian sore tadi tidak terulang" Wiya mengingatkan.


"Tenang saja, begitu si cantik itu jatuh ke tanganku aku akan menjatuhkannya ke surga dunia yang paling indah, tak akan ku biarkan dia pergi walau sebentar saja" Wam Dai tertawa senang membayangkan apa yang akan di lakukannya nanti kalau sudah berhasil menjalankan rencananya.


"Tapi bagaimana kalau Raja mencarinya dan menemukan kami? bisa di gantung mati aku!" kata Wam Dai menghentikan tawanya kala mengingat siapa wanita yang akan di larikannya besok.


Bukan sekedar wanita biasa atau dari kalangan bangsawan dan militer saja. Melainkan seorang putri Raja dan calon Ratu dari Raja mereka sendiri.


"Untuk itu kau tenang saja, aku sudah merencanakan sesuatu agar kakak sepupuku tidak meneruskan pencariaannya, kau hanya harus melakukan tugasmu dengan baik" seringai Wiya lagi di tengah mabuk yang mulai menguasai.


"Baiklah baiklah aku akan melakukannya dengan baik besok dan sisanya ku serahkan padamu" Wam Dai kembali tertawa senang, tawa khas orang mabuk.


Tapi tidak berlangsung lama saat pintu ruangan tempat mereka berdiskusi sembari mabuk-mabukan di buka secara kasar oleh seseorang.


"Bagaimana kalau serahkan dirimu padaku lebih dulu?" gertak seorang pria berumur dengan wajah marahnya.


Wam Dai melotot kaget tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ayahnya berdiri di depan pintu bersama kakak laki-laki tertuanya, anak sah dari ayahnya. Wam Dai yang biasanya terlihat santai dan kalem kalau di kediaman mereka dan tidak pernah berbuat masalah apa lagi keributan.


Kini ketahuan sedang mabuk bersama tiga wanita yang mengelilinginya, bahkan pakian atasnya sudah terbuka bagian depan.


"Kenapa dengan ayah hah? dasar kurang ajar, membuat malu keluarga" marah kakak tertua Wam Dai yang kemudian menyeret adik ketiganya itu keluar dari ruangan di mana Wiya masih di dalam duduk santai menikmati minumannya.


Karena sudah mabuk juga Wiya tidak begitu fokus dengan apa yang terjadi di hadapannya dan terus minum saja sembari melihat kejadian di depannya.


"Seret dia pulang dan ikat di depan halaman utaman" perintah ayah Wam Dai yang marah sekaligus menahan malu akibat ulah anaknya.


Wam Dai di seret keluar dari rumah bordil itu oleh orang-orang ayah Wam Dai.


"Tidak ku sangka seorang putri perdana mentri memiliki sikab brutal begini" gumam ayah Wam Dai geleng kepala.


"Permisi tuan biarkan kami masuk" ucap beberapa orang yang terlihat seperti prajurit kediaman mentri.


"Silahkan" ucap ayah Wam Dai yang kemudian keluar dari ruangan itu untuk pulang menyelesaikan urusan anaknya.


Sedangkan prajurit yang datang itu berasal dari kediaman mentri Ji yang tadi mendapat kabar dari orang yang tidak di kenal kalau putri sulungnya berada di rumah bordil. Lengkap dengan lokasi rumah bordil dan ruangannya ada di mana.

__ADS_1


Tadinya mentri Ji ragu dengan kabar yang datang entah dari mana itu, sepucuk surat yang di panahkan masuk ke dalam ruang bacanya yang kebetulan ia baru akan meninggalkan ruangan itu.


Awalnya ragu dengan apa yang tertulis di sana dan menyuruh prajuritnya memeriksa keberadaan putri sulungnya di kamarnya. Tapi yang di cari tidak ada di tempat, itu lah sebabnya perdana Mentri Ji meminta kepala prajuritnya untuk mencari tahu kebenaran yang ada di surat itu.


"Bawa putri pulang" perintah kepala prajurit yang langsung di laksanakan oleh bawahannya.


"Siapa kalian? kenapa pakai baju prajurit? ini mau kemana?" racau Wiya di tengah kesadarannya yang mulai hilang.


Sesampainya di kediaman, Perdana Mentri Ji sudah menunggu dengan gelisah takut jika kabar itu benar. Dan saat melihat ke datangan prajuritnya yang membawa sang anak dengan keadaan tak sadarkan diri. Hati perdana Mentri Ji sangat sakit karena anaknya yang di sayangi ternyata telah menghancurkan masa depannya sendiri.


"Kurung dia di kamarnya, jangan ijinkan keluar sampai aku memanggilnya besok" ucap perdana Mentri Ji dengan wajah datar.


Tidak tahu lagi bagaimana harus menasehati anaknya yang sangat di luar kendali ini.


"Baik tuan" sahut prajurit yang segera membawa Wiya ke kamarnya dan di jaga ketat.


Hingga pagi datang dan terjadi kehebohan besar di kediaman perdana mentri Ji akibat Wiya yang tidak terima dirinya di kurung di kamar. Bahkan makanpun yang mengurus semuanya prajurit. Para pelayan yang biasa melayaninya di tarik oleh sang ayah.


Dan kini Wiya berlutut di depan ayah dan ibunya dengan wajah yang sama sekali tidak bersahabat.


"Apa kau tahu di mana kesalahanmu?" tanya Mentri Ji pada putri sulungnya dengan wajah datarnya.


"Tidak!" sahut Wiya enteng tanpa merasa bersalah, dia justru marah karena di perlakukan layaknya tahanan oleh sang ayah.


"Ayah tahu apa yang kau lakukan di luar sana Wiya, jangan kira ayah diam karena tidak tahu apapun dan kau merasa ayah takut padamu karena tidak pernah menghukummu" gertak mentri Ji geram.


"Trus ayah maunya apa?" tantang Wiya.


"Antar putri Wiya ke akademi sosial dan mulai saat ini juga kamu akan di panggil nona Wiwi bukan lagi putri Wiya" tegas mentri Ji yang membuat keluarganya kaget.


"Apa? tidak! jangan lakukan itu ayah! aku tidak mau, jangan kirim aku ke sana aku janji akan berbuat baik" takut Wiya yang tidak ingin di kirim ke akademi sosial, tempat di mana penggemblengan mental tanpa pandang bulu dari kalangan manapun semuanya sama.


"Sudah sering kesempatan itu ayah berikan, kau baru akan ayah jemput pulang jika bisa merubah sikap dan sifatmu" kata mentri Ji.


"Tidak ayah! jangan kirim aku ke sana" tangis Wiya tanpa di perdulikan mentri Ji.


"Bawa dia" perintah mentri Ji di laksanakan oleh bawahannya yang sudah di beri tugas untuk mengantarkan Wiya pergi.


"Tidak! ibu tolong aku ibu! aku tidak mau di kirim ke sana" teriak Wiya kala dirinya di seret keluar.

__ADS_1


Istri mentri Ji hanya bisa menangis melihat anaknya di bawa pergi, bagaimanapun juga ia ingin anaknya bisa merubag sikapnya. Cerita sang suami tentang apa yang terjadi tadi malam sungguh membuat dirinya kaget hingga tidak mampu berkata apa-apa.


Putri kedua mentri Ji menenangkan sang ibu yang menangis tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2