Calon Ratu

Calon Ratu
23


__ADS_3

BRUK


Tubuh Zhia terhempas di atas tempat tidur yang sangat empuk. Bibir Zhia baru akan terbuka untuk melakukan protes saat Raja Bhian sudah berada tepat di atas tubuhnya.


"Siapa yang menyuruhmu melepaskan semua jepitan dan tusuk rambut ini?" Raja Bhian menatap kesal pada Zhia seraya menunjukan benda di tangannya.


Zhia melihat benda yang di tunjukkan padanya itu lalu menghebuskan napasnya panjang.


"Kamu Cami" jawabnya santai tanpa merasa takut dengan tatapan kesal dan intimidasi dari pria di atasnya.


Kening Raja Bhian mengkerut heran.


"Kapan? saya tidak pernah menyuruh atau memintamu melepaskannya"


Zhia memalingkan wajahnya ke samping dengan kembali menghembuskan napasnya panjang dan kasar. Dengan gerkan cepat, Zhia mendorong kuat tubuh Raja Bhian ke sampingnya hingga kini gantian tubuh pria itu yang terbaring sedangkan Zhia sudah setengah berdiri dengan kedua lututnya sebagai tumpuan.


Tangan gadis itu juga berada di kedua pinggangnya dengan tatapan garangnya.


"Memang! tapi gara-gara kamu Zhia harus melepaskannya di sana karena penampilan rambutku sudah sangat berantakan" marah Zhia dengan mata melotot.


"Kenapa gara-gara saya? saya tidak merasa melakukan kesalahan" ucap Raja Bhian dengan polosnya membuat Zhia semakin geram.


"Lalu siapa yang menyuruhmu melajukan burung itu dengan cepat hah? burung besar itukan hanya menurut denganmu"


"Kan kamu yang minta!"


"Tidak"


"Iya"


"Tidak"


"Iya"


"Zhia tidak pernah minta itu tapi kamu sendiri yang melakukannya"

__ADS_1


"Itu untuk menguji kesabaranmu Catri, tadikan kamu bilang kalau kamu itu orang yang selalu sabar" Raja Bhian tersenyum tanpa dosa setelah mengatakan hal yang menurutnya tidak salah itu.


Zhia mengepalkan satu tangannya di depan wajah dengan kuat hingga uratnya sedikit terlihat yang menunjukkan betapa besar kekesalannya saat ini. tidak ingin semakin hilang kendali dengan kekesalannya hanya karena masalah itu.


Zhia memutuskan pergi meninggalkan Raja Bhian yang masih santai berbaring itu. Zhai keluar dari kamar besar dan berjalan mengikuti arah langkah kakinya saja.


Raja Bhian yang melihat itu langsung duduk dan memegang kedua sisi dadanya yang masih terasa hentaka kedua tangan Zhia tadi saat mendorongnya.


"Benar-benar gadis yang kuat, untung pertahananku lebih kuat kalau tidak sudah roboh dadaku di buatnya" gumam Raja Bhian lalu berdiri dan meletakkan penjepit rambut Zhia di atas meja kecil di dekatnya.


"Kemana dia pergi ya? ah! rambutnya belum di sanggul" dengan langkah cepat Raja muda itu bergerak keluar dan melihat kanan kirinya yang sepi tanpa menunjukkan keberadan Zhia di sana


Hanya ada prajurit jaga saja yang berdiri di setiap sudutnya. Raja Bhian mendekati salah satunya untuk bertanya.


"Kemana gadis itu pergi?" tanya Raja Bhian dengan wajah datarnya.


"Beliau kearah kolam bulan Yang Mulia" sahut prajurit itu menundukkan kepalanya sedikit.


Raja Bhian segera meluncur ke tempat yang disebutkan prajuritnya. Berharap gadis itu memang berada di sana atau dia bisa tersesat dan malah di anggap pengusup pula.


Raja Bhian melihat kanan kirinya hingga mata tajamnya menangkap sosok yang sedang berdiri di pinggir kolam dengan kedua tangan di pinggang dan bibir yang terus bergerak tanda kalau gadis itu sedang berbicara. Dengan siapa dia bicara batin Raja Bhian mendekat pelan-pelan agar dapat mendengar apa yang di ucapkan gadis itu.


"Dasar pria kaku, beku, salju, pokonya kamu semua yang dingin-dingin itu" ucap Zhia menatap ikan-ikan di bawah yang bahkan tidak tahu apa-apa dan tidak tahu apa yang Zhia katakan.


Langkah kaki Zhia membawanya pada kolam yang terdapat banyak ikan dengan bermacam-macam bentuk dan jenis itu. Dan untuk menghilangkan kekesalannya yang harus terus meluapkan kalimat maka Zhia mengutarakannya pada ikan yang berenang.


"Sudah tahu dirinya yang salah malah cari pembelaan dengan sok polos bahkan wajahnya yang seakan tidak berdosa itu benar-benar membuatku kesal"


"Kamu tahu itu Cami, Catri sangat kesal padamu, jangan menemuiku sampai kamu menyadari kesalahanmu dan mau meminta maaf" ujar Zhia seraya menunjuk ikan di dalam sana.


Lelah terus berbicara Zhai melangkah menuju jembatan yang membentang di atas kolam besar itu. Zhia merentangkan kedua tangannya seperti mengukur lebar dari jembatan itu.


"Ini sih dua kali lebar tanganku" gumam Zhia menurunkan kembali kedua tangannya dan berjalan lagi menuju tengah-tengah.


"Boleh tidak sih kalau ikannya di tangkap"

__ADS_1


"Wah itu besar kalau di bakar atau di masak asam pedas pasti enak, uh jadi rindu masakan ibu Zie"


Permaisuri Zie memang selalu jadi juru masak untuk ikan tangkapan anak-anaknya. Masakan wanita itu sangat pas di lidah anak-anaknya terutama Zhia yang sanggup menghabiskan satu ekor ikan bakar dan ikan asam pedas tanpa makan nasi.


"Panjang juga jembatannya" gumam Zhia melihat sekeliling jembatan yang nampak dari beberapa arah.


Zhia menyandarkan bokongnya di pinggir kolam menatap ikan yang berenang di bawah sana dengan bebasnya. Bermain bersama sesama berenang kesana sini tanpa adanya rasa takut.


"Kamu suka ikan?" Zhia melihat si pemilik suara sejenak lalu melihat ke bawah lagi.


"Mau menangkangkap ikannya?" tawar Raja Bhian yang hanya mendapatkan lirikan saja.


Raja Bhian tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya kebawah lalu mengarahkannya ke atas hingga ikan-ikan yang tadinya di dalam kolam pindah ke atas tepat di hadapan mereka.


"Pilihlah mau ikan yang mana" ucap Raja Bhian santai.


Mata Zhia melotot tidak percaya melihat apa yang terjadi di depannya. Betapa sombongnya orang ini batin Zhia. Tangan gadis itu bergerak menepis tangan pria di sampingnya dengan wajah malas.


Sontak saja ikan-ikan yang mengudara itu jatuh masuk kembali ke dalam air menciptakan cipratan air cukup banyak dan membasahi keduanya. Tapi Zhia masih terlihat tetap santai walau pakaiannya basah.


"Kenapa?" tanya Raja Bhian heran, apa lagi kekuatannya yang bisa di patahkan Zhia hanya dengan menurunkan tangannya saja. Ya walaupun kekuatan yang di gunakan Raja Bhian untuk mengangkat ikan-ikan tenaga kecil, tapi tidak banyak orang yang bisa mematahkannya.


"Lebih seru pakai alat penangkapnya, jadi minta prajurit mengambilnya, biar Catri yang tangkap sendiri" ucap Zhia.


"Baiklah" bukannya menyuruh prajurit mengambil alat penangkap ikan, Raja Bhian malah mengulurkan tangan kirinya dan dalam sekejab apa yang di inginkan Zhia ada di depan mata.


"Bagaimana bisa?" tanya Zhia heran dan menyambar jaring berukuran bulat sedang dengan pegangan cukup panjang dari tangan Raja Bhian.


Zhia memegangnya dan melihat dengan teliti dari ujung ke ujung benda di tangannya itu. Percaya tidak percaya dengan apa yang baru terjadi, benda panjang itu keluar dari tangan dalam sekejab.


Zhia melihat pria di sampingnya yang tersenyum manis.


"Ada banyak rahasia yang belum kamu tahu, jaid jangan terlalu heran dengan segala keajaiban yang akan terjadi di hari kemudian" Raja Bhian mengambil alat itu dan mengarahkannya ke dalam kolam untuk menangkap ikan.


"Mana yang kamu inginkan?" Zhia menarik napas dan menghembuskannya. Nanti saja bertanya batinnya.

__ADS_1


Zhia menunjuk ikan yang besar yang menarik di matanya. Bukan cuma satu, Zhia minta tiga ikan besar untuk di makan bersama dengan ibu mertuanya nanti.


__ADS_2