Calon Ratu

Calon Ratu
27


__ADS_3

Setelah selesai bertemu dengan rakyatnya, Raja Bhian membawa Zhia turun dari tembok besar istana. Cukup tinggi tembok itu hingga membuat Zhia sedikit ngeri juga kala melihat kebawah, apa lagi dengan pakaiannya yang sedikit repot. Kalau jatuh tidak akan sulit mengeluarkan jurus penyelamatan diri batin Zhia.


"Sekarang kita kemana?" tanya Zhia mengikuti kemana langkah kaki Raja Bhian membawanya.


"Kamu lupa kalau kita mau ke ketaman buah" sahut Raja Bhian mengingatkan.


"Ah iya benar, Catri lupa" cengir Zhia menatap Raja Bhian.


"Masih muda aja udah jadi pelupa kamu Catri, gimana kalau nanti sudah tua, apa kamu bakalan lupain suami kamu juga" goda Raja Bhian.


"Ya tidak la Cami, masa iya sampai segitunya, Catri kan lupa karena tadi lihat antusiasnya rakyat kamu" bela Zhia pada dirinya sendiri.


"Iya deh percaya, dari pada anak orang ngambek kan repot" belum mau berhenti pria itu menggoda gadis di sampingnya.


"Ck, Catrimu ini bukan gadis ambekan ya" ucap Zhia sedikit memajukan bibir bawahnya.


Raja Bhian yang melihat bibir Zhia sudah maju memilih menghentikan ucapannya agar gadis di sampingnya tidak semakin cemberut. Karena menurut Ballu kalau adiknya itu sudah kesal dan cemberut maka akan sulit di jinakkan.


Setelah berjalan beberapa saat tibalah mereka di taman yang di maksud Raja Bhian tadi. Pohon yang tidak terlalu tinggi dengan daun yang hijau lebat terlihat indah berpadu dengan buah-buahan yang terlihat segar.


"Wah buahnya sudah banyak yang matang" ucap Zhia melihat keatas pohon.


"Kamu mau yang mana?" tanya Raja Bhian.


"Semua" sahut Zhia cepat.


"Yang mentah!" goda Raja Bhian membuat Zhia mendengus dan melangkah mendekati pohon apel yang di rambati pohon anggur.


Jadi satu pohon terlihat seperti memiliki dua buah. Zhia mengambil buah apel dua dan anggur segerombol. Karena pohon yang tidak terlalu tinggi dan ada ranting yang paling rendah jadi memudahkan Zhia untuk mengambilnya.


"Apa itu buah kesukaan kamu?" tanya Raja Bhian yang sudah berdiri di sisi Zhia.


"Iya, tapi semua buah Catri suka" shaut Zhia tersenyum.

__ADS_1


Raja Bhian ikut tersenyum dan merangkul Zhia untuk duduk di kursi yang ada di taman buah itu.


"Prajurit, tolong ambilkan buah-buahannya dua buah setiap pohon ya, biar putri Zhia mencoba semuanya" mata Zhia melotot mendengar penuturan pria di sampingnya.


Zhia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman dan di sana terdapat banyak pohon buah. Yang jika di lihat dari buahnya cukup beragam.


"Mana mungkin habis buah banyak begitu, memangnya Catri ulat pemakan buah apa bisa habisin semuanya" protes Zhia.


"Ya tidak langsung di habisin semua saat ini juga Catri, kan bisa di bawa pulang untuk di makan lagi nanti sore atau nanti malam" ucap Raja Bhian membuat Zhia meringis.


Nyatanya apa yang di pikirkannya tidak sama dengan maksud dari pria di sampingnya. Memang dasarnya Zhia yang lebih suka protes lebih dulu dari pada bertanya lebih jelas.


Keduanya menghabiskan wkatu bersama di taman buah hingga hari menjelang sore. Saat kembali berjalan kembali ke kediaman utama, mereka bertemu dengan Wiya. Tadinya Zhia sempat melihat wajah Wiya terlihat masam, namun begitu bertemu dengan mereka wajah wanita itu langsung berubah manja. Lebih tepatnya bertemu dengan Raja Bhian sih.


"Salam kakak sepupu" ucap Wiya manja dan tersenyum manis.


"Apa hanya saya yang terlihat di sini?" tanya Raja Bhian dengan wajah datarnya.


"Maksud kakak sepupu apa?" tanya Wiya balik.


"Kamu tidak menyapa kakak iparmu?" wajah manja tadi berubah jadi kesal seketika, apa lagi Raja Bhian tidak melihat kearah Wiya dengan tampang datarnya.


Meski sudah terbiasa dengan raut wajah sepupunya itu, namun kali ini Wiya merasa sangat kesal. Apa lagi ia tahu kalau kakak sepupunya baru saja kembali bersama Zhia dari taman buah, taman yang bahkan dia tidak pernah datangi karena hanya pekerja yang bisa ke sana. Kecuali kalau masa panen buah baru orang-orang boleh ke sana melihat. Itu pun Wiya tidak mau datang juga karena merasa tidak penting baginya.


Kenapa dia terus menempel sama kakak sepupu sih? bikin makin kesel aja lihatnya, itu lagi tangan! pake pegangan segala seperti orang yang tidak bisa melihat sajagumam Wiya dalam hatinya dengan perasaan yang sangat malas menyapa Zhia.


"Salam kakak ipar" suara Wiya terdengar malas dan datar menyapa Zhia dengan terpaksa.


"Hem" sahut Zhia singkat tersenyum pada Wiya.


Tapi bagi Wiya itu merupakan senyuman mengejek dirinya dan itu sungguh memancing amarah dalam hati Wiya. Tenang Wiya tenang, masih ada kakak sepupu di sini batinnya lagi.


Raja Bhian membawa Zhia berjalan kembali dan di tahan lagi oleh Wiya yang maish belum puas melihat kakak sepupunya yang tampan.

__ADS_1


"Eh tunggu kakak sepupu!" ucap Wiya memegang lengan Raja Bhian.


Dengan cepat pegangan itu terlepas karena Raja Bhian yang menghempaskannya. Ia begitu tidak suka di pegang oleh wanita lain yang tidak di kehendakinya. Sekalipun itu sepupunya sendiri, bahkan bibi An saja tidak pernah memegang dirinya kalau tidak perlu.


"Jangan pernah menyentuhku" sentak Raja Bhian menolak sentuhan dari Wiya.


Tentu saja hal itu membuat Wiya tidak terima, apa lagi pegangan tangan Zhia malah bertengger manis tanpa di tolak. Amarah dan kesal yang sejak tadi di tahanpun langsung keluar.


"Kalau Wiya tidak boleh pegang kakak seharusnya dia juga dong! karena dia cuma orang asing yang tidak berarti" Wiya menarik tangan Zhia dan mendorong gadis itu.


Zhia yang sudah memperkirakan hal itu bisa menahan diri agar tidak terjatuh akibat dorongan dari Wiya. Di tambah lagi Raja Bhian yang dengan sigap menahan tubuh gadis itu dengan memeluk pinggangnya.


Wiya semakin meradang di buatnya dan hendak kembali menarik Zhia, tapi tangannya di tepis oleh Zhia dengan kasar hingga Wiya kesakitan.


"Auh" rintihnya dan memasang wajah kesakitan juga sedih agar tidak mendapat amarah dari kakak sepupunya.


"Kakak! lihatlah wanita itu! dia sangat kasar dan jahat, tangan aku yang mulus ini jadi merah akibat di pukulnya" manja Wiya yang sudah meneteskan air mata palsu berharap mendapatkan pembelaan dan Zhia akan di hukum.


"Jika saya yang memukul tadi maka tanganmu sudah putus" ucap Raja Bhian dengan suara dingin dan tatapan tajamnya.


Tentu saja Raja Muda itu sudah paham dengan segala sifat sepupunya. Awalnya dulu Raja Bhian tidak seperti ini pada kedua sepupunya, namun sikap Wiya yang semakin dewasa malah semakin berani dan terkesan menggoda padanya dan terang-terangan merayunya membuat Raja Bhian kesal dan merasa jijik dengan sepupunya itu.


Sejak hari itu pula dirinya menjauh dan tidak ingin terlibat apapun dengan Wiya. Bahkan memberi perintah ketata kalau wanita manapun di larang mendekati kediamannya kecuali sang ibu. Untuk menghindari dirinya berbuat kasar pada Wiya karena ia masih menghormati paman Ji yang sudah menjaga dan mendidiknya sejak dulu bersama sang ayah.


Raja Bhian tidak ingin hanya karena kehilaan Wiya dirinya putus hubungan dengan pamannya. Jadi keputusan menjauhi sepupu genitnya itu menjadi pilihannya.


"Kakak kok gitu sih! Wiya kan adiknya kak Bhian, kita dari kecil udah sama-sama, cuma gara-gara wanita asing ini kakak tega sakitin Wiya! Wiya yang lebih berhak atas diri kakak, bukan dia" marah Wiya.


"Dia istriku dan dia yang lebih berhak atas diriku, bukan yang lain apa lagi kamu, dan kalau kamu merasa sebagai adik maka jangan ganggu saya apa lagi mengusik kehidupan saya atau paman akan mengetahui semua apa yang sudah kamu lakukan di belakangnya" ucap Raja Bhian dengan pandangan tajam.


Wiya mundur selangkah mendengar ancaman itu, dirinya tahu kalau kakak sepupunya itu pasti akan mudah mendapatkan apapun yang diinginkannya. Bahkan untuk mengetahui apa yang selama ini di lakukannyapun sangat mudah baginya.


Wiya memilih pergi dengan perasaan marah dan kedua tangan yang terkepal erat. Bahkan wajahnya memerah menahan amarah yang di tahannya. Kalau sampai ayahnya mengetahui segala rahasia yang di simpannya maka bisa saja dirinya akan berada dalam bahaya.

__ADS_1


__ADS_2