Calon Ratu

Calon Ratu
37


__ADS_3

"Siapa yang tidak ingin melanjutkan silahkan pergi, bagi yang masih berminat maka harus mengikuti semua peraturannya tanpa bantahan apapun karena itu pilihan kalian sendiri, bagi yang memilih tetap mengikuti pertandingan tidak boleh ada kata menyerah atau mengalah sebelum berperang" ucap Zhia tegas pada wanita yang masih diam.


Hingga beberapa saat setelahnya banyak wanita yang mundur dan memilih pulang. Mereka merasa tidak akan sanggup melakukan pertandingan yang di berikan oleh Zhia. Mau protes dan kembali memaki takut membalik pada diri mereka sendiri, jadi dari pada semakin membuat masalah untuk diri sendiri lebih baik pergi karena mengalah dan menyerahpun tidak di ijinkan.


Alis Zhia terangkat sebelah melihat yang ada di hadapannya. Oh masih memiliki nyali juga mereka ternyata batin Zhia tersenyum miring.


"Saya akan menghitung sampai tiga, kalau kalian tetap berdiri di sana itu artinya kalian siap untuk lanjut dan menerima segala kebijakan yang sudah berlaku" Zhia melirik tajam satu persatu wanita di depannya.


"Satu...dua...ti..." tetap tidak ada pergerakan dari wanita yang tersisa.


"Tiga.." Zhia tersenyum miring lagi sembari bersedekap.


Helaan napas terdengar dari hidung Zhia.


"Baik karena kalian tetap ingin mengikuti acara besok maka dari itu acara pertandingan resmi di buka dan mulai detik ini juga peraturan sudah berlaku jadi pastikan kalian mengingat semua peraturannya"


Pandangan Zhia beralih pada kasim.


"Data lagi mereka dan antarkan ke tempat istirahat setelahnya, karena besok mereka membutuhkan banyak tenaga untuk mengikuti pertandingan" ucap Zhia.


"Baik Taun Putri" sahut kasim berjalan mendekati para wanita.


Zhia turun dari tempat yang seperti podium itu menuju keluar. Sebelum benar-benar keluar gadis itu mengatakan sesuatu lagi.


"Pastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi kasim, tapi ingat!" Zhia mengangkat jari telunjuknya sebagai peringatan.


"Jangan sampai ada perbedaan perlakuan antara mereka kalau sampai itu terjadi maka kamu yang akan menerima akibatnya" ancam Zhia.


"Ba baik Tuan Putri" Kasim menunduk takut.

__ADS_1


Zhia kembali melangkahkan kakinya menuju pintu sembari merenggangkan kedua tangannya keatas. Lelah juga berurusan dengan para wanita kaya yang manja itu batin Zhia menurunkan tangannya dan menautkan kedua tangannya di belakang tubuh.


"Tunggu Putri Zhia!" ucap seseorang dari arah perkumpulan para wanita itu menghentikan langkah Zhia tapi tidak berbalik.


Wanita yang memanggil Zhia tadi berjalan mendekati Zhia yang sudah di ambang pintu, bahkan prajurit sudah bersiap membukakan pintu untuknya. Tapi tertahan karena panggilan wanita yang entah siapa.


"Tuan Putri meminta kami melakukan pertandingan yang di luar kemapuan kami bukan! bahkan pertandingan itu lebih cocok untuk pria, tapi sebelum kami melakukan pertandingan itu besok bisakah Tuan Putri menunjukkan pada kami bagaimana cara melakukan semua itu, karena memberi pertandingan seperti itu pastinya Tuan Putri bisa melakukannya kan!" ucap wanita itu meremehkan dan wajahnya nampak menantang Zhia yang diam pada posisinya.


Lagi! batin Zhia malas mendengar ucapan wnaita itu yang tidak ada bedanya dengan sebelumnya.


Hingga beberapa menit Zhia hanya diam untuk mendengarkan apa lagi yang akan wanita itu katakan. Wanita yang menantang Zhia tadi semakin tersenyum mengejek akan reaksi diam Zhia.


"Lihatkan! Tuan Putri saja tidak bisa melakukannya lalu bagaimana bisa memberi kami pertandingan seperti itu" ejeknya tersenyum miring karena baginya sudah berhasil mempermalukan Zhia di hadapan semua orang.


"Namamu?" tanya Zhia maish dengan posisi menghadap pintu.


"Ingat namaku baik-baik Tuan Putri Zhia yang terhormat, atau bila perlu catat di kepalamu supaya tidak lupa" remehnya.


Muncul juga akhirnya, tinggal satu lagi yang belum angkat suara batin Zhia kala mendengar nama dari wanita yang menantangnya.


Zhia memang sengaja membiarkan sampai para wanita itu menunjukkan diri mereka yang sebenarnya sendiri. Tidak ingin mencari atau bertanya karena nantinya malah semakin membuat para wanita itu besar kepala dan merasa paling hebat dari yang lainnya karena di anggap penting dan berpotensi terpilih maka di cari.


Zhia berbalik menatap Sora di belakangnya yang berwajah sangat menantang bahkan meremehkannya. Balik Zhia menatap Sora dengan tajam penuh tantangan pula yang membuat anak pejabat itu sedikit mundur dan menelan salivanya kasar mendapati tatapan mengerikan Zhia sedekat itu. Hanya beberapa langkah saja jarak mereka nadi pandangan tajam dan wajah menantang Zhia terlihat jelas.


"Siapa dirimu meminta saya menunjukkan hal itu? apa kamu mampu menahan semuanya?" tanya Zhia meremehkan balik.


"Apa maksudmu?" tanya Sora tidak paham.


"Untuk melakukan semua yang kamu sebutkan bukan hanya butuh alatnya saja tapi juga sasarannya, apa kamu mau jadi sasarannya supaya tidak meremehkan saya lagi?" tantang Zhia.

__ADS_1


Sora mundur lagi dengan kaget dan takutnya, bahkan keringatnya sudah mulia terasa keluar sedikit-sedikit.


"Bagaimana mungkin saya jadi sasarannya? gunakan saja prajurit jika ingin menunjukkannya" tolak Sora.


"Siapa yang menantang maka dia jadi sasaran, seperti itulah prinsip bertarung, jadi bersiaplah karena saya akan akan menyeret kamu menggunakan kuda lalu memburu jantungmu, memanah kepalamu dan mengambil hatimu menggunakan pedang, bagaimana menurut kamu?" Zhia tersenyum miring dengan ekspresi yang semakin menakut-nakuti.


Tentu saja itu semua tidak akan di lakukan oleh Zhia. Kalimat itu hanya gertakan semata untuk Sora agar tidak mudah meremehkan orang lain. Apa mungkin pertandingan itu di berikan kalau Zhia sendiri tidak bisa, ya meskipun tidak sehebat petarung sesungguhnya batin Zhia.


Sora terduduk dengan tubuh gemetaran menatap takut pada Zhia yang di penglihatannya malah semakin menyeramkan dengan senyuman miringnya.


"Ti..tidak...tidak.. jangan.. tadi..tadi hanya bercanda..ya..hanya bercanda" ucap Sora gugup seraya tersenyum paksa karena sudah ketakutan


Bagaima tidak ketakutan kalau mendengar hal semengerikan itu. Meski anak pejabat dirinya tidak pernah melihat bagian dalam tubuh manusia di ambil menggunakan pedang. Biasanya dirinya menggunakan pedang untuk mengancam di leher atau tangan dan kaki saja pada bawahannya yang melawan.


Tapi kini malah dirinya yang di ancam seperti itu, tidak terkira lagi takutnya dirinya hingga wajahnya basah oleh keringat.


Kening Zhia mengkerut melihat wajah Sora yang nampak berbeda dengan sebelumnya. Wah ini dia wanita tebal riasan seperti yang pernah di katakan Zhio dulu batin Zhia.


Dulu Zhia pernah di dekati oleh anak bangsawan, tanpa lelah terus mengejar Zhio hingga akhirnya wajah aslinya kelihatan saat tidak sengaja seseorang membuang air dan mengenai wajahnya. Riasan di wajahnya luntur menampakkan bagaimana wajahnya yang sebenarnya tidak terlalu cantik.


Dari sejak itu wanita itu malu dan tidak pernah muncul lagi di hadapan Zhio atau di istana. Padahal Zhio biasa saja saat melihat wajah asli dari wanita itu, tali sejatinya wanita yang suka berhias dan sudah biasa tampil cantik dengan hiasannya maka akan merasa sangat malu dan tidak percaya diri ketikan wajah aslinya terungkap.


"Pelayan! antar Nona Sora ke tempat peserta, biarkan dirinya istirahat, dan ingat ya jangan mengganggu NONA SORA" tekan Zhia pada kalimat terakhirnya mengikuti cara Sora saat meminta Zhia memanggilnya dengan sebutan itu tadi.


Pelayan mendekat dan langsung membawa Sora pergi, tapi saat sudah berdiri Zhia melakukan gerakan mengusap wajah lalu meletakkan jari telunjuknya di kening menariknya kebawah beberapa kali. Sora awalnya tidak paham, tapi karena penasaran dirinya mengikuti apa yang di lakukan Zhia.


Betapa kagetnya wanita itu saat mendapati wajahnya basah dan telapak tangannya terasa lengket karena bedak dan hiasannya yang sudah jadi satu karena luntur.


Sora menutupi wajahnya dan berlalu bersama pelayan dengan cepatnya. Untung paham kalau tidak kan malu sendiri apa lagi kalau sampai di ucapkan, hah bisa-bisa reputasinya jatuh batin Zhia mengangkat bahu lalu berbalik menuju pintu.

__ADS_1


"Cepag antarkan mereka ke tempatnya kasim sebelum ada yang kembali mengeong" ucap Zhia berjalan santai.


Kasim mengangguk mengerti dan mengajak para wanita itu untuk pergi dari aula setelah Zhia keluar.


__ADS_2