
"Hari ini pertandingan puncak akan di mulai, di mana nona Ruican dan Putri Zhia akan bertanding, kami sudah menyiapkan pedangnya" Kasim Oni menunjuk arena yang terdapat dua pedang di sana.
"Peraturannya sederhana, siapa yang bisa menjatuhkan pedang lawan maka dia pemenangnya atau siapa yang bisa membuat lawan mundur hingga keluar arena maka dia pemenangnya"
Mendengar ucapan dari kasim Oni, seseorang di bawah sana tersenyum sini. Apa lagi melihat pedang yang di siapkan di sana membuat dirinya semakin sinis saja. Merasa kalau dirinya lebih baik dan akan menang dengan mudahnya.
"Silahkan untuk kedua peserta hari ini memasuki arena yang sudah di siapkan" ucap Kasim Oni.
Zhia bangkit dari duduknya berjalan menuju arena, tapi sebelum itu tangannya di tahan seseorang yang sudah pasti Raja Bhianlah pelakunya.
"Ulur waktu pertandingannya, karena ada kejutan" bisik Raja Bhian di angguki Zhia walau masih belum paham maksud kejutan dari pria itu.
Sebelum melepaskanpegangan tangannya Raja Muda itu lebih dulu memberikan kecupan pada pipi Zhia sebagai bentuk penyemangat. Tapi Zhia merasa malu karena perbuatan calon suaminya itu. Bisa-bisa dia melakukan itu di depan banyak orang batin Zhia memegangi pipinya yang habis di cium Raja Bhian sembari menuju arena.
Ruican tersenyum sinis melihat kedatangan Zhia yang masih memegangi pipinya. Wanita itu beranggapan kalau Zhia sengaja minta di cium untuk membuta iri semua orang yang ada di sana. Karena setelah mendapatkan kecupan itu semua wanita berteriak histeris dan menutup mulut mereka kaget.
Padahal Raja Bhian sengaja melakukan itu supaya semua orang tahu kalau wanita yang inginkannya hanya Zhia seorang saja. Dan yang lainnya silahkan bermimpi asal jangan ketinggian.
"Silahkan ambil pedang masing-masing" ucap seorang prajurit mengintrupsi.
"Beri hormat sesama peserta" lanjutnya yang di ikuti Zhia dan Ruican.
"Baiklah, pertandingan pedang antara Putri Zhia dengan nona Ruican... DIMULAI" teriaknya kemudian berlalu dari hadapan dua wanita yang akan bertarung itu.
Zhia menggoyangkan pedangya yang terasa aneh. Bukannya pedang palsu ringan, tapi kenapa ini seperti pedang sungguhan batinnya.
"Itu pedang sungguhan Tuan Putri" ucap Ruican yang menyadari kebingungan Zhia akan senjata di tangannya.
"Benarkah!" sahut Zhia santai yang malah semakin terlihat sok di mata Ruican.
"Ya, jangan harap bisa lolos kali ini karena kita berdua akan melakukan pertarungan hidup dan mati bukan sekedar pertandingan biasa yang hanya di mainkan oleh anak-anak saja" sinisnya.
"Di arena ini, tidak akan ada yang bisa menolongmu karena saya akan pastikan akhir hidupmu berakhir di sini tidak lama lagi" lanjut Ruican masih dengan kesinisannya.
"Ya baiklah saya terima tantanganmu" sahut Zhia menanggapi ucapan Ruican dengan santainya tanpa rasa takut sama sekali padahal lawan sudah terlihat mengintimidasi sejak tadi.
Mendapat perlawanan santai dari Zhia membuat Ruican geram dan langsung maju melawan.
__ADS_1
Suara pedang beradu membuat para panitia yang sudah menyiapkan pedang palsu heran. Kalau palsu tidak akan mungkin berbunyi senyaring itu batin mereka lalu saling pandang.
Jangan-jangan ada yang sengaja menukarnya pikir mereka.
Dengan cepat mereka mendekati Kasim Oni yang berada di dekat Raja Bhian untuk menyampaikan apa yanh mereka pikirkan.
"Kasim Oni sepertinya ada yang tidak beres" ucap salah satu panitia itu.
"Saya juga merasakannya" sahut kasim Oni.
"Benarkah! pedang yang mereka gunakan sepertinya asli kalau pedang palsu suara tidak senyaring dan setajam itu"
"Ya benar, kita harus menghentikannya atau Putri bisa terluka" ucap Kasim Oni akan bergerak menghentikan tapi di tahan.
"Jangan" ucap Raja Bhian yang sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Tapi Yang Mulia mereka..."
"Tetap pada tempatmu dan yang lainnya waspada, biarkan pertandingan tetap berlanjut" ucap Raja Bhian membuat kasim Oni dan kedua panitia heran tapi tetap mematuhi perintah.
Raja muda itu mematap tajam arena di mana calon istrinya sedang bertarung dengan santainya melawan Ruican yang terlihat menggebu dan tidak sabaran menyerang Zhia.
"Saya hanya melayani perlawananmu, karena kemarahn harus di balas dengan kesantaian supaya tidak semakin besar, seperti api yang membakar harus di lawan dengan air agar tidak menggaguskan" sahut Zhia.
"Banyak omong" geram Ruican menyerang Zhia lagi lebih brutal dan keras.
Zhia dapat mengelak dari semua serangan Ruican dan membalas sesekali saja. Karena mengingat pesan dari Raja Bhian membuat Zhia tidak ingin terburu-buru melawan dan membalas serangan lawannya.
"Apa yang kamu lakukan Putri Zhia? kenapa tidak membalas seranganku dengan lebih keras? apa kamu inj orang lemah yang hanya bisa menghidar tanpa bisa melawan?" ejek Ruican kembali memanas-manasi Zhia agar membalas serangannya.
"Jangan terburu-buru belacan eh Ruican, santai saja" ucap Zhia tersenyum menjek pada lawannya yang semakin meradang.
Bukannya terprovokasi Zhia malah balik memprovokasi dirinya. Kemarahannya yang sudah tidak bisa di tahan lagi membuatnya kalap dan melakukan semua serangan melawan Zhia. Hingga akhirnya seseatu mengarah pada Zhia dengan cepat.
Untungnya Zhia memiliki replek dan kepekaan terhadap sekitarnya cukup kuat sehingga bisa menghindari serangan dadakan dari lawan.
"Wah pakai serangan rahasia rupanya" ucap Zhia membuat Ruican kaget karena serangannya di ketahui tanpa mengenai target.
__ADS_1
"Darimana kamu tahu serangan itu?" tanyanya.
"Ini" Zhia menunjukkan jarum perak yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah tangannya.
Kaget sudah pasti di rasakan Ruican dan semua orang yang menyaksikan pertandingan yang sudah berubah jadi serius itu.
"Jangan senang dulu Putri Zhia, serangan selanjutnya pasti akan mengenai kepalamu" marah Ruican kembali maju menyerang Zhia.
Kali ini Zhia sudah tidak menghindar lagi tapi melakukan perlawanan hingga membuat Ruican mundur. Sampai pada akhirnya pedang di tangan Ruican terlepas dan jatuh menancap di arena.
Sedangkan ujung pedang Zhia berada di leher Ruican seakan siap maju kapan saja.
"Bagaimana?" seru Zhia dengan tampang sinisnya yang mulai menunjukkan sikap petarungnya.
"Saya belum kalah" Ruican menangkis pedang Zhia dengan pisau yang di cabutnya dari selipan pinggang dan melemparkan senjata lagi pada Zhia yang tetap saja tidak kena.
Zhia menghindar dengan memutar tubuhnya, menatap lawan dari samping dengan garang ala Zhia
(Maaf ya kalau gambar tidak sesuai ekpetasi kalian).
Kembali Zhia maju akan menyerang tapi pedangnya tidak jadi mengenai pedang lawan karena Ruican yang tiba-tiba diam membeku.
Zhia menatap heran wanita di depannya yang terdiam tanpa melakukan apapun. Hanya matanya saja yang bergerak-gerak dengan kesal dan marah yang terlihat jelas.
"Ada apa denganmu?" Zhia melambaikan tangannya di depan wajah Ruican yang semakin membuat wanita itu geram.
Mata Zhia tanpa sengaja melihat tangan Ruican satunya yang memegang sesuatu di sana. Zhia menariknya dan mendapati benda seperti tadi lagi yang menjadi senjata rahasia Ruican.
"Ini.."
"Dia akan menyerang diam-diam lagi dan itu bisa membahayakan kalau tidak segera di hentikan" ucap Raja Bhian yang sudah berada di dekat Zhia.
"Ini mengandung racun" gumam Zhia kala mendapati ujung setiap jarum berwarna biru.
Tentu Zhia tahu itu karena Zhio pernah menunjukkan padanya kalau beberapa jenis racun yang biasa di gunakan pada senjata dan bagaimana warna senjata itu bila sudah di beri racun.
__ADS_1
"Itu karena dia ingin membunuh kamu" ucapan Raja Bhian membuat kaget semua orang.
"Apa? membunuhku?"