Calon Ratu

Calon Ratu
29


__ADS_3

Di saat yang bersamaan, saat ini Raja Bhian sedang berada di ruang aula tempat mereka biasa melakukan pertemuan. Pertemuan rutin yang selalu di adakan setiap minggu untuk memantau pekerjaan para menteri dan juga perkembangan rakyat. Juga mendengarkan setiap masalah yang akan di laporkan dari para menteri juga pejabat daerah.


Tidak banyak keluhan rakyat yang masuk ke pada pihak kementrian ataupun pejabat daerah. Mereka hanya berherap agar sang Raja bisa hadir ke acara panen buah besok.


Diskusi dan saran terus bergulir, semua mengeluarkan ide dan gagasan masing-masing dengan tenangnya. Hingga akhirnya salah seorang Mentri mengatakan sesuatu yang membuat ruangan hening seketika dan suasana terasa kelam.


"Yang Mulia, saya rasa kerajaan kita perlu menjalin kerjasama yang jauh lebih menguntungkan lagi, eee seperti semacam menambah kekuatan perang dan memperkuat kerajaan kita agar lebih di takuti kerajaan lain, kita harus bisa menjalin dan membentuk suatu.."


"Intinya saja Perdana Mentri Moi, jangan berbelit-belit" sela Panglima Qai geram.


Pasalnya pria berambut putih itu mengatakan sesuatu yang tidak jelas sama sekali. Bahkan dirinya saja yang biasa membantu Raja Bhian menyelesaikan masalah kerajaan di buat pusing.


"Maksud saya begini, bagaimana kalau Yang Mulia memiliki selir dan Permaisuri? karena calon Ratu kita sudah ada jadi tidak ada salahnya kalau Yang Mulia memiliki wanita lain seperti kerajaan lainnya yang memiliki banyak sel..."


"Cukup!" sela Raja Bhian yang sudah tahu arah ucapan pria tua itu.


"Apa maksud anda bicara seperti itu Perdana Mentri Moi? kenapa pula anda harus menyamakan kerajaan kita dengan kerajaan lainnya hanya karena masalah sperti itu?" geram Panglima Qai.


"Saya tidak bermaksud membandingkan Panglima Qai, hanya saja ini kenyataan yang ada di kerajaan kita, setiap kerajaan memiliki beberapa selir dan seorang Permaisuri meskipun sudah memiliki Ratu, dan tidak ada masalah dengan itu, mereka juga memiliki hubungan baik terhadap kerajaan lain dan mendapat banyak dukungan dari kerajaan lain karena ada anak mereka yang di jadikan anggota keluarga, jadi tidak ada salahnya kalau kita seperti itu juga" jelas Perdana Mentri Moi panjang lebar.


"Saya setuju dengan saran dari Perdana Mentri Moi Yang Mulia, kita juga harus menjalin hubungan baik dengan kerajaan lain melalui pernikahan, seperti halnya pernikahan anda dengan Putri Zhia nanti, pernikahan politik kerajaan" ucap salah satu Menteri.


Raja Bhian menatap tajam Menterinya yang berbicara itu. Ia tidak suka jika ada yang mengatakan dan beranggapan kalau pernikahannya dengan Zhia karena masalah politik.


"Pernikahanku dengan Putri Zhia tidak ada hubungannya dengan politik kerajaan ataupun masalah kerajaan lainnya, jadi siapapun yang berani mengatakan atau menyinggung jika pernikahan kami esok ada hubungannya dengan politik maka akan terima akibatnya" ucap Raja Bhian tajam pada semua orang yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


Perdana Mentri yang tadi buka suarapun diam menunduk takut, apa lagi pria yang sudah mengatakan pernikahan politik antara Zhia dengan Raja Bhian.


"Jika kalian menginginkan pernikahan politik itu maka nikahkan anak kalian sendiri dengan orang yang kalian anggap kuat, tapi ingat satu hal" Raja Bhian melihat seluruh orang di ruangan itu dengan tatapan nyalang yang tidak bersahabat.


"Saya tidak ingin sampai ada masalah dengan kerajaan dan pemerintahan karena pernikahan itu, jika saya mendapati hal itu maka hukum mati akan di dapatkan di tempat" lanjutnya tegas.


Semua orang diam menunduk takut dan tidak berani angkat suara lagi. Tapi tidak lama kemudian salah seorang pejabat daerah angkat suara di tengah keheningan itu. Bahkan wajah pria itu terlihat cerah dan sangat yakin dengan apa yang akan di ucapkannya itu.


"Yang Mulia! saya punya usul yang baik" ucapnya mengangkat kepala melihat kearah singgasana sang Raja.


"Katakan"


"Bagaimana kalau kita tanya langsung pada Putri Zhia tentang usulan Perdana Mentri tadi? saya rasa Putri Zhia pasti akan mengerti akan kondisi kita saat ini karena dia juga seorang putri Raja" ucapnya lantang.


Raut wajah marah sangat terlihat jelas di wajah Raja muda itu. Ia tidak ingin Zhia terlibat dalam masalah politik yang tidak seharusnya di urus gadis itu. Tapi kini malah pria itu mengusulkan hal demikian. Bagaimana nanti perasaannya? baru saja ia tiba di sini beberapa hari lalu dan sudah di mintai usul mengenai selir batin Raja Bhian.


"Kenapa kalian begitu keras kepala? apa kalian ingin mengajukan anak-anak kalian untuk di jadikan Selir atau Permaisuri?" ucap Panglima Qai geram dan kesal akan sikap orang-orang itu.


Mereka diam dan saling pandang.


"Kalau Yang Mulia.merasa cocok dengan anak kami maka kami tidak akan keberatan, walau hanya selir itu sudah merupakan kehormatan bagi kami" ucap salah satunya tersenyum cerah.


Sudah ku duga batin Raja Bhian.


Raja Muda itu diam dan masih berpikir dalam lamunannya sendiri. Sedangkan kaki tangannya Panglima Qai sudah berdebat dengan pria-pria tua itu.

__ADS_1


Bagaimana pendapatnya ya? apa dia akan marah atau bagaimana? ah jadi penasaran dengan tanggapannya, apa di panggil aja ya? gumam pria itu masih dalam mode melamun.


"Ya Mulia!" Raja Bhian tersentak kaget atas panggilan Panggilan Qai.


"Ada apa Yang Mulia?" tanya Panglima Qai penasaran dengan diamnya sang Raja.


"Panggil Putri Zhia kemari" ucap Raja Bhian membuat Panglima Qai kaget tapi diam.


Panglima Qai tidak berkomentar karena ingin tahu apa rencana Rajanya. Sedangkan para pria tua di sana yang merasa memiliki kesempatan sudah tersenyum cerah, kesempatan emas batin mereka.


Raja Bhian menatap semua wajah di depannya yang nampak bahagia. Tapi itu bukan masalah untuknya karena yang ada di pikirannya saat ini hanya bagaimana reaksi Zhia nantinya.


Lumayan lama mereka menunggu hingga terdengar suara pintu utama ruangan di buka. Zhia masuk dari pintu utama dengan wajah tegasnya, meskipun hatinya bahagia dan sangat ingin tersenyum tapi di sembunyikan senyuman itu karena ia tahu di ruangan itu banyak orang.


Raja Bhian merasa sedikit aneh dengan kedatangan Zhia yang masuk dari pintu utama. Karena di sana ada pintu yang khusus untuk Raja dan keluarga Raja lewati. Melihat mata Zhia yang sedang menyiratkan kebahagiaan, Raja muda itu yakin pasti sudah terjadi sesuatu yang menyenangkan hingga membuat gadis itu bahagia.


Zhia memberi salam pada Raja Bhian, pria itu melambaikan jarinya pada Zhia meminta gadis itu mendekat. Zhia menurut saja mendekat, Raja Bhian menarik gadis itu hingga jatuh di pangkuannya untuk menunjukkan pada semua bawahannya kalau hanya Zhia seorang yang di inginkannya.


Walau sempat tersentak kaget dan hampir memberontak, tapi tatapan mata Raja Bhian dan pelukan eratnya membuat Zhia tidak bisa bergerak dan hanya diam saja.


"Kenapa memintaku kesini?" tanya Zhia pada Caminya pelan hingga hanya mereka berdua yang dapat mendengarnya.


"Ada yang ingin mereka sampaikan padamu" Raja Bhian menatap tajam pada para pria di depannya yang menatap Zhia dengan pandangan kagum dan suka.


Walaupun sudah pernah melihat sebelumnya, tapi sosok Zhia sangat membuat mereka penasaran. Wajah cantik menawan Zhia sangat menghipnotis mereka, bahkan Panglima Qai yang baru pertama kali melihatnya pun sampai tercengang.

__ADS_1


Sangat cantik, pantas saja Yang Mulia mau di jodohkan dan sangat keberatan dengan usulan pernikahan politik tadi gumamnya dalam hati seraya terus menatap Zhia dan Raja nya yang nampak sangat mesra.


__ADS_2