Calon Ratu

Calon Ratu
50


__ADS_3

Zhia yang mendengar ucapan Wiya sontak tertawa. Bukan tawa yang pelan ataupun kuat hanya saja cukup membuat Wiya kesal dan tidak suka karena merasa di remehkan, padahal menurut Zhia sudah lain lagi.


"Apa yang kamu tertawakan hah? tidak ada yang lucu di sini" ucap Wiya tidak suka akan tawa Zhia.


Bukannya menghentikan tawanya, Zhia malah menyembunyikan wajahnya di balik lengan Raja Bhian masih dengan tawanya yang teredam si balik lengan itu.


"Lihatlah kelakuannya kak! wanita bar-bar itu bahkan menertawaiku" rajuk Wiya mengadu pada Raja Bhian yang sama sekali tidak berekspresi.


"Heh putri bar-bar! dengar-dengar siapa yang bisa menang di pertandingan akan berhadapan denganmu bukan! jadi ayo kita bertarung untuk menentukan siapa pemenangnya" tantang Wiya pada Zhia.


Sengaja Wiya langsung menantang Zhia karena dirinya yang kesal di abaikan oleh kakak sepupu tercintanya. Sekaligus ingin menunjukkan kalau dirinya lebih hebat dari pada Zhia di hadapan sang kakak sepupu.


Zhia yang mendengar tantangan dari Wiya mengulum bibirnya menahan tawa. Di lihatnya Wiya yang berwajah serius walau tetap nampak meremehkannya.


"Apa yang hadiah untuk pemenangnya?" tanya Zhia.


"Kalau Saya yang menang maka posisi Ratu akan menjadi milikku dan kamu harus mau jadi pelayan pribadiku setelah bersujud di kakiku hingga keningmu berdarah" sinis Wiya kala mendapati wajah kaget Zhia.


Sebenarnya bukan kaget yang sungguhan di tunjukkan oleh Zhia. Hanya kaget mainan saja untuk meyakinkan Wiya kalau memang dirinya serius mau bertandinh dengan wanita itu. Tapi tidak lama kekagetan itu berpindah ke pada Wiya yang memang benar-benar kaget mendengar ucapan Zhia.


"Dan kalau Saya yang menang maka mulutmu harus jadi milik saya karena saya ingin belajar menyulam dengan menjadikan bibir itu sebagai pengganti kainnya" smirk Zhia melihat Wiya menelan ludah kasar dengan wajah kagetnya.


Wiya dengan cepat mencoba menekan rasa takutnya dan bersikap biasa saja. Dia yakin kalau itu hanya gertakan saja dan merasa dirinya tidak akan kalah dari Zhia dalam pertandingan nantinya.


"Siapa juga yang mau memberikan mulutku untukmu hah? mulutku ini sangat bagus dan tidak ada duanya jadi jangan harap bisa memilikinya" sombong Wiya menyentuh bibirnya sensual seraya melirik pria di samping Zhia yang hanya diam bak patung.


"Siapa juga yang tertarik dengan mulutmu yang bau itu? tidak ada niatan juga untuk mengambilnya" sahut Zhia santai.


Wiya menatap marah Zhia karena sudah mengatai mulutnya bau. Bibirnya yang seksi dan menggoda itu di hina telak oleh Zhia, sedangkan orang-orang banyak yang mengatakan iri dengan bibirnya yang bagus. Zhia malah mengatai bau dan akan menyulam bibirnya.

__ADS_1


"Jangan sembarangan mengatai mulut saya bau ya! dasar putri bar-bar" marah Wiya.


"Haduh tutup mulut baumu yang berisik itu pengganggu" ucap Zhia sembari mengipasi area hidungnya lalu menarik Raja Bhian untuk peegi.


"Ayo pergi suamiku, ada kuman disini" Raja Bhian yang sudah sangat gatal ingin pergi sejak tadi tanpa kompromi langsung mengangkat tubuh Zhia di kedua lengannya dan menyandarkan tubuh mungil itu di dadanya yang bidang.


Berjalan melewati Wiya yang kaget melihat aksi kakak sepupunya. Apa lagi dirinya di tinggalkan tanpa kata.


"Tunggu!" lagi, Wiya menghentikan langkah Raja Bhian.


"Kak kami belum selesai membahas perta..."


"Acara sudah selesai, pergilah! jangan mengganggu" Raja Bhian melangkah lagi dengan kakinya yang panjang itu meninggalkan Wiya yang cengo mendengar ucapannya.


"Sudah selesai!" gumamnya tidak percaya.


Baru kemarin malam dia dengar kabar kalau di istana ada pertandingan untuk mencari Selir dan Permaisuri istana. Dan hari ini adalah pertandingan terakhirnya, itu sebabnya dirinya datang ke istana cepat-cepat untuk mengikuti pertandingan dan menantang Zhia secara langsung untuk merebut posisinya.


Sedangkan Zhia yang berada di gendongan Raja Bhian mengintip Wiya yang masih menatap kearah mereka. Dengan sengaja Zhia menjulurkan lidahnya lalu menarik bagian bawah matanya mengejek Wiya yang sudah kalah sebelum berperang.


Bukan sebelum berperang, tapi dirinya yang terlambat ikut perang namun tidak tahu dan berakibat besar mulut dengan taruhan besar. Namun hasil yang di dapatkan malah membuatnya harus menahan malu dengan harga diri yang terbanting tidak terhingga.


Kedua tangannya terkepal erat dengan wajah merah karena menahan marah dan kesalnya. Sudah di abaikan, tidak di pandang, kini di tinggalkan pula oleh orang yang di cintainya. Bahkan tidak ada pembelaan sama sekali yang di dapatkannya dari orang tercintanya itu, yang ada hanya ejekan dari orang yang di anggapnya musuh terbesar dalam mendapatkan perhatian dan posisi di hati serta samping Raja Bhian.


Tunggu pembalasanku putri bar-bar batin Wiya.


Wanita itu memutuskan untuk pergi sebelum datang pasukan untuk mengusirnya. Atau bahkan lebih parahnya lagi dirinya akan di kirimkan pulang kekediaman mereka dan ayahnya akan memarahinya karena sudah mengganggu sepupunya.


Zhia yang melihat Wiya pergi tidak mengikuti apa lagi menghentikan langkah merekapun tersenyum tipis lalu kembali melihat wajah di atasnya yang masih nampak dingin dengan sorot mata tajamnya.

__ADS_1


"Hey calon suami! si berisik pengganggu itu sudah pergi kenapa wajah kamu masih saja seperti itu?" Zhia menarik kedua sudut bibir pria yang menggendongnya hingga membentuk senyuman lalu melepaskannya.


Bukan senyuman yang di dapatkan Zhia, tapi wajah yang kembali seperti sebelumnya dan bibir yang lurus tanpa senyuman. Zhia melakukan lagi apa seperti yang tadi, menarik kedua sudut bibir prianya hingga membentuk senyuman.


Namun saat di lepas akan kembali sperti semula.


"Hah wajah kamu sudah mirip seperti papan hukuman ibu Nila, lurus" gumam Zhia pelan menyamakan wajah datar calon suaminya seperti papan kecil yang selalu di gunakan Ratu Nila untuk memberi hukuman pukul pada pelayan yang melakukan kesalahan dalam bekerja. Sekaligus menghukum anak-anaknya yang melakukan kesalahan besar.


"Beri ciuman dulu baru ada senyuman untuk kamu" ucap Raja Bhian setelah diam beberapa saat.


Zhia melihat cepat pada pria yang menggendongnya itu. Pandangannya memicing kesal pada pria itu.


"Dasar tidak tahu malu, maunya itu saja dan tidak tahu tempat pula, kalau begitu kamu pantasnya di sebut Raja mesum gila cium" gerutu Zhia bersedekap di gendongan Raja Bhian seakan tidak takut kalau-kalau dirinya akan di jatuhnya.


Zhia justru terlihat santai di gendongan Raja Bhian itu.


"Tidak salahkan meminta ciuman pada pasangan sendiri!" ucap Raja Bhian membela diri.


"Memang tidak salah, yang salah itu kamu tidak tahu tempat kalau melakukannya, bahkan di hadapan orang lainpun kamu berani melakukan itu, astaga Catri tidak percaya itu, apa yang di inginkan ibu dulu saat hamil kamu Cami sampai bisa jadi semesum itu"


Raja Bhian mengangkat kedua bahunya tidak tahu dan tidak perduli dengan apa yang dulu di inginkan sang ibu saat hamil dirinya. Yang dia tahu hanya saat ingin mengecup bibir Zhia yang menyenangkan untuknya maka di manapun dan bagaimanapun tempat serta kondisinya pati akan di lakukannya saat itu juga.


Peduli orang lain akan memikirkan apa tentangnya yang penting dirinya melakukannya dengan orang yang memang menjadi pasangannya sendiri. Bukan pasangan orang lain apa lagi milik orang lain.


Sesampainya di kediaman utama Raja Bhian menuju ruang makan dan baru menurunkan Zhia di kursi yang biasa di gunakan gadis itu.


"Hari ini cobalah untuk makan nasi walau hanya sedikit" ucap Raja Bhian memberikan nasi sedikit di atas piring Zhia yang mulai di isi gadis itu dengan potongan daging.


"Tidak mau" tolak Zhia tapi tidak menyingkirkan nasinya.

__ADS_1


"Makan, tidak ada yang akan mengganggu kamu di sini, Cami akan marah dan mengganggu kalau tidak mau makan nasi bahkan bisa lebih parah dari apa yang pernah di lakukan oleh Zhio dulu sampai kamu nanti tidak mau makan malah kalau Cami yang mengganggu ucap Raja Bhian tegas.


Dengan bibir yang sedikit maju Zhia mulai menambahkan sayur di piringnya dan makan nasi yang sudah di letakkan di atas piringnya. Bukannya tidak suka nasi, hanya saja sudh terbiasa makan tanpa nasi saat melihat ada di atas piringnya terasa malas saja pikirnua.


__ADS_2