
"Apa? seranganku di tahan dengan tanah! tapi kenapa tanah itu tidak hancur?" heran wanita itu melihat tanah penahan yang di buat Raja Bhian untuk perlindungan mereka hanya rusaks edikit saja.
"Apa pria itu pemilik sihir tanah? tapi yang mana di antara mereka berdua? dia harus ku dapatkan" tekat wanita itu ingin memiliki pria dengan sihir tanah itu.
Sebagai pemilik sihir tentu mendapatkan pasangan yang juga memiliki sihir akan sangat menguntungkan baginya. Apa lagi jika di lihat dari kekuatan tanah pelindung itu yang hanya rusak sedikit oleh api sihirnya yang sudah meningkat meski belum sampai puncak.
Dengan cepat wanita penuh ambisius dan hasrat membara bagai api itu langsung keluar dari goa tempatnya bersemedi selama beberapa bulan ini. Padahal seharusnya wanita itu belum keluar dari goa dan belum saatnya menghentikan meditasinya.
Tapi demi memiliki pria yang memiliki sihir itu, wanita itu rela meninggalkan meditasinya demi mangsa besar yang sangat menggiurkan. Tanpa memikirkan resiko yang akan di terimanya jika membiarkan kekuatannya yang sudah setengah jalan itu harus terhenti begitu saja tanpa di selesaikan.
"Semoga saja si tampan rupawan itu yang memiliki sihir tanah" doanya seraya bergerak keluar mengejar pria yang sudah mebarik perhatiannya itu.
Raja Bhian dan Panglima Qai segera keluar kala api menyembur kearah mereka. Meski Raja Bhian sempat membuat perlindungan, tapi memancing wanita itu keluar lebih baik agar bisa menhadapinya di tempat yang luas.
Tentu saja Raja Bhian yakin kalau wanita itu akan mengikutinya. Karena biasanya kalau seorang pria atau wanita yang memiliki sihir akan mengejar lawan jenisnya yang memiliki sihir pula.
Itu kodratnya bagi pemilik sihir yang akan merasa semakin sempurna jika memiliki pasangan sesama pemilik sihir walau berbeda.
"Wanita itu tidak mengikuti kita Yang Mulia" ujar Panglima Qai kala tidak mendapati wanita tadi mengejar mereka.
"Tunggu saja" sahut Raja Bhian santai tapi masih dengan ekspresi datarnya.
Panglima Qai mengangguk sebagai respon dari ucapan Rajanya. Pandangannya terus melihat kearah dalam Goa yang sudah tidak trrang lagi karena api di dalamnya sudah padam karena di padamkan oleh yang punya sendiri.
Raja Bhian tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang sangat familiar di hatinya. Hingga akhirnya semakin dekat perasaan itu membuatnya hanya bisa menahan senyum seraya geleng kepala.
Dasar nakal batinnya.
"Dia datang Yang Mulia" seru Panglima Qai kala matanya melihat seseuatu yang terang bergerak keluar.
Raja Bhian tetap diam di posisinya tanpa melihat kehadiran orang yang mereka tunggu.
__ADS_1
"Hahaha... rupanya kalian masih disini para pria tampan" ucap wanita itu senang karena yang di carinya malah menunggu dirinya.
"Perkenalkan namaku Moa, wanita paling cantik pemilik sihir api yang sebentar lagi akan mendapatkan simbol mahkota" pamernya berharap pria yang memiliki sihir mau angkat bicara dan menjadikannya pendamping.
"Masih akan saja sudah sombong, bagaimana kalau sudah dapat? pasti besar kepala kamu nanti" cibir Panglima Qai.
"Tentu saja saya harus sombong, karena pemilik sihir itu langka apa lagi yang memiliki simbol mahkota, orang yang memiliki sihir dengan simbol mahkota akan dapat menggunakan sihir walau dalam keadaan apapun, bahkan tidak akan ada yang bisa mengalahkannya dengan mudah" ucapnya sombong lagi.
"Cih! api bisa di lawan dengan air, bahkan tanahpun bisa memadamkan api, daun yang masih hijau pun bisa di jadikan alat memadamkan api" ejek Panglima Qai.
Mata Moa menyala marah, dirinya jadi yakin kalau pasti yang memiliki sihir tanah adalah Panglima Qai. Karena sejak tadi yang menjawab semua ucapannya hanya Panglima Qai terus, sedangkan Raja Bhian hanya diam saja.
Padahal Moa sangat berharap kalau pemilik sihir tanah itu pria yang lebih tinggi dari kedua pria itu. Yaitu Raja Bhian yang sangat tampan rupawan dan gagah.
Tanpa sadar kalau tebakannya salah Moa meremehkan Raja Bhian yang di anggapnya mudah di dapatkan. Walaupun Raja Bhian bukan pemilik sihir tapi dirinya tetap akan mendapatkan pria itu.
Dan untuk Panglima Qai, Moa berencana untuk menyegel sihir pria itu agar tidak jadi ancaman untuknya.
"Ah! sangat kaku dan beku tapi itu yang saya suka, akan saya cairkan kamu dengan api cinta yang membara ahahaha" Moa bergerak mendekati Raja Bhian untuk menangkapnya.
Tapi langsung di hadang oleh Panglina Qai yang menyambut serangan dari Moa. Kedua orang itu bertarung dengan tangan kosong tanpa senjata.
Tentu saja Moa kalah dengan Panglima Qai yang memang seorang Panglima perang yang sudah sering ikut Raja Bhian berperang. Sedangkan Moa hanya memiliki sihir api karena keturunan dan dia membangkitkannya dengan cara memberi tumbal.
Itu sebabnya Moa hanya bisa menggunakan sihir saja tanpa bisa bertarung seperti layaknya pemilik sihir lainnya yang memang membangkitkan sihir mereka dari pengumpulan tenaga dalam dan kekuatan serta ketangkasan diri.
"Hah, kurang ajar sekali kamu!" bentaknya pada Panglima Qai yang berhasil memukul mundur dirinya.
"Lebih baik kurang ajar dari pada kurang makan nona" balas Panglima Qai dengan senyum miringnya yang semakin membuat marah Moa.
Moa mengangkat tangannya ke atas hingga naiklah bola api kecil ke langit lalu meledak di atas. Sama seperti yang di lakukan tabib pemilik sihir di desa Parean.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan? kalau mau menerangi langit nanti malam saja pasti lebih cantik di lihat" ejek Panglima Qai memancing emosi wanita di depannya yang sudah mengeluarkan darah dari mulutnya karena tadi mendapatkan pukulan di dadanya dari Panglima Qai.
"Ayahku akan datang untuk menghabisimu, bersiap saja kamu" balas Moa menatap remeh Panglima Qai.
Sedangkan yang di tatap remeh tidak takut dan malah semakin memasang wajah mengejek pada Moa.
"Tidak takut, kalian mau bersama-sama menggunakan api untuk membakar saya pun tidak takut, atau kalian mau menjadikan saya daging panggang! silahkan" Panglima Qai merentangkan kedua tangannya seolah pasrah.
Moa menggenggam erat kedua tangannya marah. Merasa Sangat di remehkan oleh lawannya dan yang di tunggupun tak kunjung datang.
Lagi, Moa meledakkan bola api di langit untuk memanggil ayahnya.
"Kemana ayah? apa dia bersenang-senang dengan gundiknya di desa itu?" gumamnya merasa geram.
Panglima Qai yang mendengar gumaman musuhnya langsung menangkap satu hal.
"Jadi kamu anak dari si tabib tua itu?" Moa langsung melihat Panglima Qai tidak suka.
"Ayah saya belum tua" bentaknya tidak suka karena ayahnya di bilang tua.
"Jelas saja belum terlihat tua karena ayahmu menggunakan darah gadis untuk menjadikannya tetap muda" ejek Panglima Qai.
Moa mengkerutkan keningnya kaget mendengar ucapan musuhnya itu. Bagaimana dia bisa tahu tentang ayah batinnya.
"Darimana kamu tahu hal itu hah? apa yang sudah kamu lakukan pada ayah saya?" bentak Moa marah sampai wajahnya memerah.
"Kami sudah mengirimnya jauh"
Bukan Panglima Qai yang menjawab pertanyaan itu, melainkan seseorang yang sedang duduk santai di atas goa bagian depan.
Muncul juga gadis nakal itu, hah batin Raja Bhian.
__ADS_1