Calon Ratu

Calon Ratu
07


__ADS_3

Malam dingin tidak berarti suana dingin saja, seperti Zhia yang saat ini sedang merasa kepanasana akibat kabar yang di dengarnya siang tadi. Ingin menolak sudah wasiat dan hanya dia perempuan satu-satunya, mau pasrah tapi ia kesal saat ingat ucapan Raja Bhian sore tadi saat mereka di tinggalkan berdua untuk saling mengenal.


Flashback


Zhia yang tidak mudah akrab dengan orang yang baru di lihatnya hanya diam saja tampa bicara namun mulutnya terus mengunyah melampiaskan perasaan di hatinya yang sedang gundah gulana.


Raja Bhian juga hanya diam sembari menatap intens calon istrinya itu, yang sama sekali tidak melihatnya kecuali. Dan baru sekali ia di lihat itupun hanya sebentar saja.


Apa pesonaku sudah luntur? aku rasa tidak batin Raja Bhian masih betah dengan kegiatannya.


Hingga sore hari tiba dan Zhia sudah benar-benar bosan menunggu pria di hadapannya bicara, tapi hanya kebisuan yang ada.


"Kalau tidak ada yang penting aku pergi" ucap Zhia akhirnya berdiri dan hendak pergi.


"Jadi ini putri Zhia kesayangan keluarga kerajaan Month" seru Raja Bhian menahan langkah Zhia.


"Apa maksudmu?" tanya Zhia tanpa berbalik menatap Raja Bhian.


"Putri yang tidak banyak di ketahui oleh banyak orang, tapi namanya sudah banyak di ketahui orang sebagai putri yang lemah lembut dan manja, tapi yang aku lihat justru berbeda" Raja Bhian berdiri lalu mendekati Zhia dan berhenti tepat di belakang Zhia.


"Yang mana dirimu sebenarnya Putri Zhia!" Zhia kaget akibat suara berat yang terdengar di dekat telinganya bersamaan dengan hembusan napas hangat dari Raja Bhian.


Karena posisi mereka yang sangat dekat membuat Zhia tanpa sadar mencium bibir Raja Bhian. Tentu saja hal itu mengagetkan keduanya karena sebelumnya tidak pernah mereka alami ciuman seperti ini. Bahkan mereka saja tidak pernah dekat dengan wanita atau pria lain selain keluarga.


Sadar dari kagetnya, Raja Bhian bukannya melepaskan ciuman itu tapi justru menggigit kecil bibir Zhia untuk menyadarkan gadis yang masih tertegun itu. Merasakan gigitan kecil di bibirnya sontak saja membuat Zhia melepaskan ciuman tidak sengaja itu dan menjauh.


Tapi bukannya menjauh justru malah semakin rapat dan menempel pada tubuh tinggi dan besar milik Raja Bhian. Ya, Bhian yang melihat zhia akan menjauh langsung menariknya kepelukannya untuk melihat bagaimana reaksi gadis itu setelah menciumnya dna di peluk olehnya.


"Lepas, apa yang kamu lakukan hah?" berontak Zhia di pelukan Raja Bhian.


"Memelukmu, seperti tadi kamu menciumku" ucap Raja Bhian dengan senyum jahilnya menatap Zhia.


"Itukan tidak sengaja" protes Zhia masih berusaha berontak.


"Benarkah! tapi aku rasa tadi kamu sengaja menciumku dan mengambil ciuman pertamaku"


"Memangnya kamu saja! itu juga ciuman pertamaku tahu" kesal Zhia masih berupaya lepas dari pelukan Raja Bhian.


"Wah beruntung sekali aku mendapatkan ciuman pertama dari gadis galak sepertimu, dan kamu sendiri yang memberikannya" ucap Raja Bhian dengan wajah mengejeknya.


Zhia yang sudah sangat kesal sekaligus malu langsung saja mencoba menyerang Raja Bhian. Zhia melayangkan pukulan kewajah tapi di tidak berhasil karena Raja Bhian sudah lebih dulu menagkapnya.


"Ternyata kamu bisa galaknya pake banget ya!" seru Raja Bhian yang semakin memantik kekesalan Zhia.

__ADS_1


Zhia kembali melayangkan tangan yang satu lagi tapi kembali di tahan. Tidak patah semangat semangat Zhia melawan dengan kakinya yang kembali berhasil di balas oleh Raja Bhian.


"Lepaskan tanganku!" sentak Zhia dengan wajah dinginnya.


"Tidak" sahut Raja Bhian santai.


"Lepas"


"Tidak, kamu sendiri yang memberikannya padaku kan"


Terjadilah aksi saling tarik menarik tangan antara mereka hingga saat Zhia menarik tangannya dengan kuat Raja Bhian justru melepaskannya. Zhia yang tidak siap dengan itu hampir saja terjatuh jika Raja Bhian tidak kembali menariknya kepelukannya.


"Cobalah untuk lebih anggun lagi calon Ratuku" bisik Raja Bhian lalu melepaskan pelukannya dan berlalu pergi.


Namun baru dua langkah Raja muda itu berbalik arah bersamaan dengan Zhia yang juga berbalik kehendak memarahi Raja Bhian. Tapi yang ada justru Raja Bhian yang kembali membungkam Zhia dengan ciumannya.


"Bibirmu manis dan lembut, aku suka calon Ratuku" Bhian langsung pergi cepat-cepat setelahnya sebelum Zhia membuka suaranya.


Flashback off


"Haduh dasar menyebalkan, ngeselin, kurang ajar, mesum, lagian ini bibir ngapain lagi pakek acara nyium-nyium segala, kan malu" gerutu Zhia seraya menyentuh bibirnya. Bahkan ciuman tadi sore itupun seolah masih terasa dan seakan masih melekat di bibirnya.


Zhia menggosok-gosok bibirnya untuk menghilangkan perasaan masih menempel itu.


"Aakkh ini semua gara-gara perjodohan dari kakek, kenapa sih nenek tidak punya anak perempuan dulunya, kan jadi Zhia yang kena" gerutu Zhia merasa frustasi dengan adanya perjodohan itu.


Zhia melangkah mendekati pintu kamarnya dan membukanya. Saat akan keluar langkahnya di hentikan oleh para penjaga yang berjaga di depan pintu kamarnya. Penjagaan ketat terhadap Zhia memang maish di berlakukan hingga nanti ia dan Raja Bhian resmi bertunagan.


"Maaf tuan putri, tuan putri mau kemana?" tanya salah satunya.


Zhia memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan bodoh dari pengawal itu.


"Ya mau keluar" ketus Zhia.


"Maaf tuan putri, ibu Ratu tidak mengijinkan tuan putri keluar dari kamar kalau sudah waktunya tidur dan kami tidak di perkenankan membiarkan tuan putri pergi" jelas pengawal itu.


Apa lagi saat ini Zhia sudah mengenakan pakaian tidurnya yang berwarna putih dan rambutnya yang di gerai begitu saja. Dan waktu memang sudah saatnya untuk tidur tapi putri Zhia seperti masih memiliki amunisi untuk tetap beraktifitas.


"Ck! saya cuma ingin menemui Zhio, apa masih tidak boleh juga hah? saya punya urusan pribadi dengan kakak saya sendiri dan kalian masih menghalangi juga" kesal Zhia menatap nyalang para pengawal itu yang menunduk.


"Maaf tuan putri kami hanya menjalankan perintah"


"Kalau begitu ini perintah dariku, menyingkir dari hadapanku sebelum aku habisi kalian semua" ucap Zhia dengan tegas dan dingin menatap tajam pada pengawal di hadapannya.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya seseorang yang muncul tiba-tiba di tengah ketegangan itu.


Zhia melihat orang tersebut dan semakin merasa kesal saat di dapatinya Raja Bhian yang mendekat.


"Kenapa marah-marah?" tanya Raja Bhian berdiri di samping Zhia.


Ini dia sumber masalahku sejak tadi gumam Zhia dalam hati.


Malas menjawab pertanyaan Raja Bhian, dan niat menemui kembarannya pun hilang. Zhia memilih masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan orang-orang yang masih di depan kamarnya.


Saat akan menutup pintu gadis itu terkesiap karena Raja Bhian yang ikut masuk ke dalam kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zhia galak pada Raja Bhian.


"Masuk" sahutnya santai seraya menatap sekeliling kamar Zhia.


Sangat rapi dan bersih, juga wangi khas gadis itu tercium kuat di dalamnya, tentu saja Raja Bhian ingat aroma dari Zhia walaupun hanya beberapa menit saja mereka berdekatan tadi sore.


"Keluar! dasar tidak sopan, masuk kekamar gadis seenaknya saja" ucap Zhia ketus.


"Dan gadis itu sendiri calon istriku, bahkan jika aku ingin tidur di sini berbagi ranjang juga tidak masalah" sahut Raja Bhian lalu duduk di sofa yang ada di kamar Zhia sembari menatap gadis yang masih berdiri seraya melipat kedua tangannya di dada.


"Siapa yang mau berbagi ranjang denganmu? pergi sana sebelum ayah datang ke sini" gertak Zhia berharap Raja muda itu segera keluar.


"Justru ayah mertua yang menyuruhku untuk tidur di sini, berbagi ranjang dengan putrinya agar semakin dekat"


"Tidak mungkin! ayah tidak mungkin mengatakan itu padamu"


"Sayangnya itu benar"


"Cih dasar menyebalkan, pasti kamu memaksa ayah untuk itukan!" tuding Zhia.


"Tidak"


Malas berdebat lagi dengan Raja Bhian, Zhia mendekati pria itu dan menarik paksa tubuhnya keluar.


"Pergi dari kamarku"


Tubuh besar Raja Bhian bahkan tidak bergerak akibat tarikan dari Zhia itu. Justru kini terbalik, Zhia lah yanh di tarik Raka Bhia ke pangkuannya dan menotok bagian di leher Zhia hingga gadis itu tidak sadarkan diri.


Raja Bhian mengangkat tubuh Zhia ke atas ranjang dan meletakkannya di sana kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Zhia.


"Cantik dan manis" gumam Raja Bhian yang masih betah memandangi wajah Zhia dengan tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2