
Sebelum kedatangan pemimpin sihir api ke bendungan. Pagi itu setelah kepergian Raja Bhian dan Zhia ke bendungan untuk melihat air di sana.
Panglima Qai pergi ke tempat di mana para gadis dan anak perempuan yang sakit di rawat beberapa jam setelahnya.
Di sana tidak ada siapapun yang menjaga bahkan mendekat saja tidak boleh kalau pagi hingga siang nanti. Itupun keluarga hanya di ijinkan melihat anak mereka sampai sore hari saja. Malam hingga pagi tidak ada yang di boleh melihat apa lagi mendekat pada area rumah perobatan itu.
Panglima Qai mendekati rumah perobatan bersama dua orang wanita yang merupakan tabib dari daerah sebelah. Sengaja di panggil oleh Panglima Qai untuk mengatasi penyakit aneh di sini, atau lebih tepatnya hanya untuk membantu para gadis dan anak-anak memulihkan diri nantinya.
"Sunyi sekali tempat ini, bahkan hawanya saja mengherankan, terkadang panas terkadang dingin, tidak punya pendirian sama sekali" gerutu Panglima Qai pelan dan hanya di dengar olehnya sendiri.
Pintu rumah pengobatan terbuka sedikit dan memunculkan tubuh seorang pria yang merupakan tabib di sana. Pelan-pelan pria itu keluar dari dalam menghadap Panglima Qai yang sudah hampir mendekati pintu.
"Ada apa Panglima datang kemari pagi-pagi sekali?" tanya tabib itu dengan suaranya yang pelan dan terdengar sopan.
Cih! pintar sekali merubah wajah, dasar bermuka dua batin Panglima Qai geram.
"Yang Mulia meminta saya untuk memeriksa keadaan di sini" sahut Panglima Qai berjalan maju hendak masuk, tapi langkahnya terhenti karena di tahan oleh tabib.
"Maaf Panglima! tapi di dalam kondisinya sedang tidak baik jadi saya harap Panglima tidak masuk ke dalam" cegah tabib sedikit gugup namun bisa di tutupi.
Panglima Qai menyadari itu tapi tetap diam agar rencana yang sudah di susunnya dengan sang Raja berjalan sempurna.
"Justru karena sedang tidak baik saya harus masuk" paksa Panglima Qai.
"Tidak bisa Panglima, kalau anda masuk saya tidak bisa menjamin keselamatan anda" kekeh tabib menahan Panglima Qai dan rombongannya agar tidak masuk.
Kemarin saja ketika kedatangan Raja Bhian, tabib itu sudah sangat ketakutan kalau-kalau sang Raja akan menyadari apa yang sebenarnya terjadi di tempat itu. Namun tabib bisa bernapas lega karena tidak ada satu orangpun yang menyadari keanehannya.
__ADS_1
Meski Putri Zhia sempat memegang seorang gadis, tabib yakin kalau Putri Zhia tidak akan menyadari apa keanehan yang terjadi di sana. Karena tabib yakin kalau Putri Zhia sama dengan para Putri Raja lainnya yang tidak bisa apa-apa selain bermanja dan menunjukkan kekuasaan.
Namun ketika tabib mendekati Zhia, hawa yang di rasakan tabib cukup tenang dan kuat namun misterius. Itu sebabnya tabib sangat penasaran dan ingin menyentuh tangan Zhia untuk bisa merasakan langsung apa yang istimewa dari gadis itu.
Apalah daya kalau Raja Bhian tidak memberinya kesempatan untuk menyentuh Putri Zhia walau dengan berbagai alasan. Tabib juga berniat melakukan sesuatu sebenarnya kalau bisa menyentuh tangan Zhia walau sedikit saja agar bisa mendapatkan sesuatu yang di rasanya istimewa itu.
Bahkan ketika malam tiba, tabib itu diam-diam menyelinap ke tempat penginapan Raja Bhian dan Putri Zhia. Berharap dapat mengetahui apa yang membuatnya penasaran dari kemisteriusan Putri Zhia. Dengan kemampuannya tabib itu bisa masuk dengan mudah tanpa di sadari siapapun.
Tapi sayang aksinya tidak membuahkan hasil karena hujan turun cukup deras, jadi tabib yang sebenarnya adalah pemimpin sihir api itu meminta salah satu pengikutnya untuk mengawasi sekitar penginapan Raja Bhian dan membuang air yang tertampung di sana jika ada.
Pengikut yang mendapat perintah seperti itu tidak bisa mengekuarkan sihir api karena hanya sekedar pengikut. Mereka hanya bisa mengeluarkan hawa panas saja untuk menguapkan air yang mereka buang.
Meski pada akhirnya tabib harus pergi setelah tanpa sengaja menyenggol sesuatu hingga membuatnya tersiram air yang entah dari mana datangnya. Karena takut ketahuan akibat sudah berteriak tadi, tabib memutuskan untuk segera pergi. Biarlah ia menembus hujan dengan pakaian seadaanya, nanti setelah sampai di tempatnya ia akan kembali memulihkan tenaganya yang sudah terkuras karena terkena hujan.
Tabib masih menunggu kedatangan pengikutnya karena tidak sabar untuk mendengarkan kabar yang akan di sampaikan. Tapi bukannya kabar baik yang di dapatkannya, malah salah seorang anak yang menjadi tumbal dari pengikutnya batuk dan suhu tubuhnya mulai memanas normal secara perlahan.
"Sial! siapa yang sudah membunuh pengikutku? siapa yang berhasil mengetahui keberadaannya? hanya orang yang memiliki sihir saja yang bisa merasakan kehadirannya, apa Raja muda itu memiliki sihir juga? akh sial!" ucapnya marah kala menyadari hal itu.
Mulia dari saat itu tabib mulai berhati-hati dan sedikit melakukan sesuatu untuk menutupi kelakuannya yang sesungguhnya sekaligus siapa dirinya yang sebenarnya.
Kembali pada Panglima Qai yang masih berdiri di depan pintu bersama tabib yang menghalanginya.
"Kalau keselamatan saya tidak bisa di jamin, lalu kenapa anda keluar dari dalam sana tabib? apa anda bisa menjamin keselamatan diri sendiri? lagi pula penyakit itu hanya menular pada gadis dan anak perempuan sajakan! saya ini pria normal dan asli jadi tidak akan tertular walau saya memeluk mereka" ucap Panglima Qai membuat tabib itu bungkam dengan mata yang bergerak-gerak mencari alsan.
"Tapi Panglima membawa dua wanita itu, saya khawatir nanti akan tertular juga" alibinya melihat kedua wanita di belakang Panglima Qai.
"Oh! mereka berdua itu tabib, walaupun harus mati karena penyakit demi menyelamatkan orang lain itu lebih baik dari pada hanya bisa menghalangi orang lain" sindir Panglima Qai halus tersenyum miring.
__ADS_1
"Apa mereka berdua masih gadis Panglima?" bisik tabib dengan mata berbinar.
Panglima Qai mengangguk pasti.
"Ah! kalau begitu mari masuk" ajak tabib membuka pintu lebar membiarkan Panglima Qai masuk bersama kedua wanita itu.
"Lihat dan periksalah mereka, saya sudah kehabisan cara bagaimana cara untuk menyembuhkannya" lirih tabib menatap kedua wanita itu penuh minat.
Tabib merasa memiliki mangsa baru untuk pengikutnya agar lebih banyak lagi. Kedua wanita itu terus melihat keadaan para gadis dan anak-anak disana yang terbaring lemah.
Panglima Qai terus memperhatikan tatapan tabib itu yang mengarah pada kedua wanita yang di bawanya. Hingga tiba-tiba senyum penuh minat di bibir tabib itu memudar kala ada beberapa gadis yang batuk hingga mengeluarkan sedikit darah dan sesuatu berbentuk bulat. Lalu tubuh mereka berangsur normal secara perlahan.
Tubuh dingin mereka mulai memanas karena walau belum sepenuhnya sehat karena masih lemah.
"Gadis ini kondisinya mulai membaik Panglima" seru tabib wanita yang bersama Panglima Qai tadi.
"Hm tolong bantu mereka membersihkan darah yang keluar dan rawat baik-baik sampai benar-benar pulih" ucap Panglima Qai di angguki oleh tabib wanita itu.
Beberapa prajurit juga ikut membantu kedua tabib itu.
"Apa.. apa yang terjadi sebenarnya?" tanya tabib pria itu sedikit panik karena beberapa gadis itu yang mengeluarkan sesuatu dari batuk mereka yang bercampur darah itu.
Itu artinya pengikutnya ada yang tewas.
"Siapa yang melakukan ini?" kagetnya tidak percaya kala mendapati gadis-gadis itu yang menjadi tumbal untuk pengikutnya yang bekerja di bendungan mengeringkan air.
Wah sepertinya Yang Mulia dan Tuan Putri sudah mulai beraksi gumam Panglima Qai dalam hati.
__ADS_1