Calon Ratu

Calon Ratu
26


__ADS_3

Zhia sedang duduk memandang wajahnya yang sedang di hias oleh pelayan. Rambutnya di tata dan di beri penjepit dan di pasangi mahkota kecil seorang putri Raja miliknya yang di bawa dari kerajaan Month. Saat nanti sudah menjadi seorang Ratu barulah mahkota itu akan di ganti.


"Sudah selesai tuan Putri" ucap pelayan tersenyum puas dengan hasilnya.


"Terimakasih" ucap Zhia tersenyum kecil.


"Sama-sama tuan Putri" sahut kedua pelayan itu.


"Yang Mulia sangat beruntung ya mendapatkan calon istri secantik tuan putri"


"Sangat cantik dan menawan, bahkan baru kali ini saya melihat gadis secantik tuan Putri" puji kedua pelayan itu bergantian.


"Sudah jangan bicara begitu lagi, kalian juga jangan mudah menilai seseorang hanya sekali lihat atau belum lebih mengenalnya, nanti bisa jantungan sendiri saat tahu seperti apa orang itu sesungguhnya" ucap Zhia.


Walaupun masih kurang paham maksud Zhia tetapi kedua pelayan itu mengangguk patuh saja.


Pintu kamar terbuka dan menampakkan seorang pria yang tinggi dan kekar, rahangnya yang kokoh dan wajah rupawan yang mampu membuat siapapun meleleh walau ekspresinya datar.


"Sudah selesai!" Raja Bhian mendekati Zhia yang masih duduk di tempatnya.


"Sudah Yang Mulia" sahut kedua pelayan itu.


Sedangkan Zhia hanya melihat sekilas saja pada Cami nya. Gadis itu memainkan jepitan rambutnya yang ada bunga-bunga kecilnya. Cantik dan manis kala di kenakan oleh Zhia, jepitan itu di berikan oleh Ibu Suri untuknya tadi malam.


Kata ibu suri jepitan itu dulunya di dapatkannya dari sang suami saat mereka baru saja menikah. Dan kini jepitan rambut itu di berikannya kepada pasangan putranya.


"Ayo" ajak Raja Bhian berdiri di samping Zhia.


Zhia berdiri sedikit kesulitan karena pakaiannya yang cukup besar, pakian khas seorang putri Raja. Masih tampak baru karena jarang di pakai oleh Zhia.


"Catri beli baju baru?" tanya Raja Bhian membantu Zhia berdiri.

__ADS_1


"Tidak, ini pakaian lama" sahut Zhia.


Keduanya berjalan keluar kamar dengan tangan kanan Zhia yang mengapit lengan kiri Raja Bhian yang sedikit di tekuknya.


"Tapi ini kelihatan masih bagus dan baru" ucap Raja Bhian tidak percaya dengan jawaban Zhia tadi.


"Yang ini tidak pernah di pakai"


"Kenapa?" Raja Bhian menatap Zhia heran, bagaimana mungkin pakaian yang bagitu bagus tidak pernah di pakai.


"Cami kan tahu sendiri kalau selama ini Catri itu tidak pernah mau ikut kalau ada urusan atau pertemuan antar kerajaan, bahkan kalau tidak ada perjodohan kita juga mungkin tidak akan pernah bertemu" kata Zhia menatap Raja Bhian balik.


"Iya sih, tapi kalau masalah bertemu, kalau sudah takdir kita bersama bagaimanapun caranya pasti kita akan bertemu, benarkan!" Raja Bhian tersenyum tipis.


"Benar, bagaimana ya kalau seandainya kita bertemu lebih dulu sebelum adanya pertemuan karena perjodohan itu?" Zhia melihat kedepan sembari mencoba membayangkan apa yang baru saja di ucapkannya.


"Mungkin Cami akan berpikir kalau Catri itu gadis jalanan bar-bar" mata Zhia melotot mendengar kalimat calon suaminya.


"Kenapa Cami bisa berpikir begitu?"


Zhia menghela napasnya mengangguk kecil.


"Catri juga heran, kenapa bisa begitu ya? apa karena sudah terbiasa bermain dan berlatih bersama kakak-kakak ya! jadi sikap Catri sedikit mirip pria" gumam Zhia menerawang sikapnya yang seperti pria dan apa sebabnya.


"Kalau yang seperti Catri itu bukan sedikit lagi namanya, tapi kamu memang pria sejati, kalau aja Catri berpakaian seperti pria pasti banyak orang yang akan tertipu kalau saja wajah kamu tidak cantik"


"Ini adalah anugrah dan berkah, keturunan ayah dan ibu memang berkualitas kan!" Zhia menaik turunkan kedua alisnya menatap pria di sampingnya.


Raja Bhian yang melihat ekspresi Zhia itu memalingkan wajahnya seraya berdehem untuk menahan senyum di bibirnya. Apa lagi banyak orang di sana, bisa-bisa kesan Raja datar yang di berikan rakyat padanya akan runtuh hanya karena dirinya tersenyum. Untuk sekarang dirinya ingin mempertahankan gelar dari rakyatnya itu. Selain itu hanya Zhia lah yang akan di berikan senyumannya.


"Sudah jangan bercanda lagi! kita akan segera keluar, banyak orang yang melihat" bisik Raja Bhian pada Zhia yang mengangguk sembari menahan senyumnya melihat wajah datar Raja Bhian yang sedikit merah karena menahan tawa.

__ADS_1


Keduanya berjalan keluar dari kediaman utama dan melewati beberapa lorong yang di sampingnya banyak bunga-bunga mekar.


"Apa nanti kita bisa ketaman bunga?" tanya Zhia pada Raja Bhian.


"Bagaimana kalau ke taman buah saja? kamu pasti akan suka" tawar Raja muda itu.


"Di sini ada taman buah? wah tentu saja mau, apa pohonnya berbuah?" senang Zhia mendengar penawaran menggiurkan itu.


"Tentu saja, bukankah sekarang sedang musim buah dan besok kita harus ke salah satu desa di pinggir kota untuk menghadiri pesta buah di sana"


"Mau mau, pasti nanti akan ada banyak buah di sana, senangnya" Zhia tersenyum manis menatap pria di sampingnya yang tidak bisa lagi menahan senyum melihat kebahagiaan di wajah Zhia.


Raja Bhian tersenyum tipis pada Zhia dan mencubit pelan ujung hidung gadis itu dengan gemas. Zhia semakin mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Raja Bhian. Bahkan tangan yang satunya ikut memegang juga.


"Kita mau kemana ini sebenarnya?" tanya Zhia kala mereka sampai di dekat tembok besar dan Raja Bhian bahkan sudah menaikkan satu kakinya keatas anak tangga yang menuju atas.


"Kita akan naik ke atas dan dari sana Cami akan bertemu rakyat" jelas Raja Bhian di angguki Zhia yang sudah paham.


Gadis itu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga bersama Raja Bhian yang tangannya sudah berpindah ke pinggang Zhia dan melangkah dengan hati-hati.


Sampai di atas Zhia dapat melihat dan mendengar sendiri betapa rakyat kerajaan Sun sangat mengagungkan Raja mereka. Walau sepertinya tidak semua rakyat bisa datang karena terkendala jarak, tetapi yang ini saja sudah sangat ramai batin Zhia.


"Rakyatku sekalian, hari ini saya akan mengumumkan sesuatu kepada kalian semua, sesuatu yang selama ini selalu menjadi pertanyaan kalian dan selalu kalian tunggu" Raja Bhian menjeda ucapannya lalu mengalihkan pandangannya dari rakyatnya ke Zhia.


"Di samping saya ini ada seorang gadis, putri dari kerajaan Month, putri Zhia Mandu, calon istri saya sekaligus calon Ratu kerajaan kita" lanjut Raja Bhian memegang tangan kanan Zhia dengan tangan kanannya di depan.


"Tiga bulan lagi kita akan mengadakan acara pernikahan di sini sekaligus pengangkatan Putri Zhia sebagai Ratu, jadi sebagai bentuk kebahagiaan dari saya pribadi maka saya akan membagikan uang untuk setiap rumah" ucapan Raja Bhian itu mendapat banyak sambutan dari rakyat.


"Selamat datang di kerajaan Sun tuan Putri Zhia" ucap semua rakyat di bawah sana menyambut kedatangan Zhia dengan gembira.


Tentu saja Zhia merasa sangat terharu mendapat sambutan tersebut.

__ADS_1


"Terimakasih atas sambutannya" Zhia sesikit menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormatnya pula kepada rakyat, yang mana hal itu membuat rakyat tak kalah tersentuh pula.


Seorang putri yang akan menjadi Ratu mereka mau menundukkan kepala demi mengucapkan terimakasih. Banyak rakyat yang memuji Zhia yang hanya di balas senyuman oleh gadis itu. Meski rakyat tidak bisa melihat senyuman calon ratu mereka namun mereka tetap senang.


__ADS_2