
Waktu terus berlalu hingga tidak terasa tiga hari lagi acara yang sudah di persiapkan sejak lama akan segera berlangsung. Dan hari ini keluarga kerjaan Month akan datang.
Zhia yang mendengar kabar kedatangan keluarganya tentulah sangat senang dan sudah menunggu di halaman utama dengan tidak sabarnya.
"Mungkin mereka masih jauh, kenapa sudah menunggu di sini?" tanya Raja Bhian yang berdiri di samping Zhia.
"Aku sangat merindukan mereka" sahut Zhia.
"Belum genap sebulan tidak bertemu kamu sudah tidak sabar, bagaimana kalau nanti setahun hanya bisa bertemu sekali atau bahkan tidak bisa bertemu sama sekali setelah kamu jadi Ratu?" ujar Raja Bhian menatap jahil pada Zhia.
"Itu sudah lain lagi ceritanya, kalau sudah jadi Ratu itu artinya tugasku akan banyak dan tidak bisa terlalu bersantai jadi mungkin tidak akan terlalu terbawa perasaan rindu walaupun ingin bertemu" kata Zhia.
"Terdengar cukup dramatis juga, tapi tidak ada yang salah juga" seru Raja Bhian membuat Zhia mendengus saja.
Seorang pelayan datang membuat perhatian Raja Bhian dan Zhia teralihkan.
"Maaf Yang Mulia, Tuan Putri Zhia, makanan sudah siap Tuan Putri juga belum makan sejak pagi tadi hamba khawatir kesehatan Tuan Putri bisa terganggu" ucap pelayan itu yang membuat Zhia langsung mendapatkan lirikan tajam dari Raja Bhian yang tidak suka jika Zhia melewatkan makannya.
"Oh jadi ada yang tidak makan tadi pagi tapi masih punya keinginan untuk berdiri di sini, apa berencana mengadu pada ayah mertua kalau tidak di beri makan?" Zhia yang sejak ketahuan belum makan sejak pagi sudah memandang hal lain langsung melihat pria di sampingnya.
"Atau ingin mereka tahu kalau calon suamimu ini bersikap pelit hem!" Raja Bhian mengangkat Zhia ke dalam gendongannya dan membawa gadis itu masuk ke dalam istana.
"Aku hanya terlalu semangat menunggu kahadiran mereka bukan karena ada maksud lain" sangkal Zhia berontak di gendongan Raja Bhian.
"Turunkan aku Cami!"
"Tidak! gadis yang tidak patuh harus di beri hukuman" tegas Raja Bhian yang membuat Zhia diam dan menatap curiga pria yang menggendongnya itu.
"Terdengar seperti ada yang tidak beres di sini" mata Zhia sedikit menyipit melihat Raja Bhian yang hanya memasang wajah datar tapi menyimpan senyum penuh misteri.
"Uhm..."
"Hmm..."
__ADS_1
"Lagi Catri"
"Umm..."
"Makan siang yang sangat lezat bukan!" smirk Raja Bhian saat ia berhasil menyuapkan makanan pada Zhia.
Bukan suapan biasa, hukuman yang di dapatkan Zhia adalah harus menyuapi Raja Bhian makan lalu Raja Bhian sendiri akan menyuapi Zhia makanan yang ada di mulutnya pada Zhia. Layaknya sedang berciuman sembari makan mereka melakukan itu sampai makanan di piring Zhia habis.
Untung tidak banyak makanan yang di ambil gadis itu tadi. Kalau banyak sudah pasti Raja Bhian akan sangat senang karena bisa mendapatkan kesempatan mencium Zhia lebih lama.
"Hukuman apa itu? kamu hanya mencari kesempatan untuk menciumku saja" gerutu Zhia setelah mengunyah makanan di mulutnya.
Suapan terakhir dari Raja Bhian menggunakan mulutnya.
"Hukuman itu sangat cocok untuk gadis yang tidak patuh seperti kamu Catri, jadi lain kali lakukanlah ke salahan yang sama maka aku akan senang menghukummu" kata Raja Bhian tersenyum tipis dengan satu alis yang di naik turunkan menggoda Zhia.
"Dasar kamu saja yang mesum, mencari kesempatan dalam kesempitan" gerutu Zhia lagi.
"Itu bukan kesempatan dalam kesempitan Catri, tapi kesempatan dari hukuman, kan kamu sedang mendapatkan hukuman dan hukumannya seperti itu, kalau dalam kesempitan bukan seperti itu yang Cami inginkan" ucap Raja Bhian yang semakin membuat Zhia merasa jengah karena terus di goda oleh pria di sebelahnya.
"Hanya padamu" bisik Raja Bhian lirih sembari meniup pelan telinga Zhia.
Yang mana membuat gadis yang baru memasukkan potongan ikan itu tersedak hingga batuk.
"Eh pelan-pelan Catri, masih banyak ikannya tidak ada yang merebut juga" kaget Raja Bhian mengulurkan segelas air yang langsung di habiskan oleh Zhia.
"Aku sudah kenyang, kamu habiskan sendiri makanannya" ucap Zhia cepat-cepat keluar dari ruang makan itu karena jantungnya yang sudah berdebar tidak karuan.
Raja Bhian yang masih dapat melihat kalau Zhia nampak gugup di wajahnya tersenyum tipis dengan hati yang sangat senang.
"Dia sangat imut kalau gugup" gumamnya sembari melanjutkan makan beberapa potong sayur lagi sebelum pergi.
Zhia yang sudah keluar dari ruang makan berjalan-jalan di taman samping istana untuk mencari udara segar. Sekaligus menenangkan jantungnya yang masih berdebar hingga membuatnya cukup gugup.
__ADS_1
"Hah dasar pria itu! bagaimana mungkin dia bisa melakukan seperti itu di saat sedang makan bahkan di sana juga ada banyak pelayan dan pengawal, uh malunya" Zhia memegangi ke dua pipinya dengan perasana malu yang coba di tutupinya.
"Apa kalian sudah dengar gosip terbaru yang sedang panas-panasnya?" ucap seseorang yang membuat Zhia menolehkan pandangannya dan mendapati beberapa pelayan berkumpul.
"Kabar apa?" tanya yang lain penasaran.
"Ada kabar dari kediaman Perdana Mentri Ji kalau putri Wiya di kirim ke akademi sosial dan namanya juga di ganti menjadi nona Wiwi" ucap pelayan yang pertama bergosip tadi.
"Benarkah!? tapi apa yang terjadi sampai putri Wiya di kirim ke sana? itukan tempat untuk menertipkan orang-orang yang sudah tak terkendali dan juga orang-orang yang ingin memiliki adab baik"
"Apa kau pikir putri Wiya memiliki sikap yang baik? dia sangat sombong"
"Iya benar dan juga sangat semena-mena"
"Sangat di sayangkan ya seorang putri perdana mentri sekaligus sepupu Yang Mulia memiliki sikap begitu sampai harus di kirim ke sana"
"Mungkin karena dia sudah melakukan ke salahan besar, mentri Ji tidak mungkin melakukan itu tanpa alasan"
"Iya benar bahkan aku dengar-dengar seorang anak bangsawan di daerah sana juga ada yang di kebiri karena telah melakukan tindakan tidak menyenangkan"
"Mungkin kah ada hubungan mereka berdua?"
"Entahlah"
"Sudahlah itu bukan urusan kita, jangan bicarakan hal ini lagi kalau masih ingin hidup" salah seorang pelayan mengakhiri sesi gosip mereka dan kemudian mereka pergi saat menyadari keberadaan Zhia yang sedang berjalan tidak begitu jauh dari mereka.
"Salam Tuan Putri Zhia" ucap mereka kala berpapasan dengan Zhia.
Zhia hanya mengangguk dan tersenyum kemudian meberuskan langkahnya menuju halaman depan lagi untul menyambut keluarganya.
"Ada hal besar seperti itu terjadi jika sampai tersebar keluar itu hanya akan mempersulit paman dan sedikit menggoyangkan nama baiknya" gumam Zhia.
"Apa cami sudah tahu tentang masalah ini ya? ah tapi tidak mungkin dia tidak tahu, dia kan Raja sekaligus keponakan kandung paman mana mungkin diam saja kan, tapi... terserahlah" Zhia mengangkat kedua bahunya tidak perduli.
__ADS_1
Belum saatnya dia terlalu ikut campur urusan istana dan segala hal yang berhubungan dengan itu. Meski statusnya sudha tunangan Raja tapi Zhia tidak ingin bertindak sesukanya saja.