Calon Ratu

Calon Ratu
75


__ADS_3

Raja Bhian langsung berdiri dari duduknya kala melihat sebuah pedang yang bergerak menghabisi salah satu dari kedua orang yang sedang bertarung tadi.


"Ups.. maaf ya kebiasaan pedangku suka menghabisi siapapun tanpa sengaja, sepertinya aku harus memberinya mata dulu supaya tidak asal membunuh lagi" kata Zhia seakan merasa bersalah.


Pada hal wajahnya terlihat tanpa dosa dan biasa saja. Zhia memang sengaja mengeluarkan pedangnya dan langsung menyerang Pado dengan cepat sebelum pria itu menyerang duluan dengan senjatanya.


Zhia membersihkan pedangnya yang berdarah dengan air baru menyimpannya.


Raja Bhian diam-diam berdecak kagum dengan kecepatan Zhia dalam bergerak mempertahankan diri.


"Ayo pulang" ajak Zhia melangkah keluar bersama Raja Bhian.


"Tunggu!" cegah pria itu membuat Zhia melihatnya heran.


"Kenapa?" tanya Zhia.


Raja Bhian melihat pria yang tadi dia tendang bersimbah darah di bagian belakang kepalanya. Dengan sihir anginnya Raja Bhian memasukkan pria itu ke dalam rumah kecil di mana tuannya yang sudah tewas juga ada di sana.


"Kenapa di masukkan ke sana?" tanya Zhia penasaran dengan apa yang ingin di lakukan pria di depannya.


"Lihat saja" sahut Raja Bhian santai.


Setelah pria itu masuk ke dalam, rumah kecil itu langsung di rambati tumbuhan merambat yang cukup banyak hingga seluruh sisi rumah tidak terlihat lagi.


beberapa tanaman merambat itu juga berduri dan nampak menyeramkan dengan ujung duri yang runcing.


"Hih.. itu durinya kalau untuk menyakiti orang lain pasti rasanya aduhai" gumam Zhia yang dapat di dengar Raja Bhian.


"Mau coba!" tawar Raja Bhian menatap Zhia yang melotot padanya.


"Terimakasih atas penawarannya, anda duluan saja kalau mau" ketus Zhia melangkah pergi.


Raja Bhian tersenyum tipis melihat Zhia yang berjalan semakin menjauh. Raja Bhian bertepuk tangan dua kali, Zhia menghentikan langkahnya dan melihat Raja Bhian yang masih berdiri di tempat tadi.


"Ayo! kamu mau di situ aja? mau gantiin singa jadi Raja hutan?" tanya Zhia yang malah mendapat senyuman dari Raja Bhian.


"Bukan Raja hutan, tapi Raja paling tampan" sahut Raja Bhian santai dengan percaya dirinya.


"Cih! percaya diri sekali anda tuan" kata Zhia tersenyum tipis.


Sangat jarang mereka bisa bercanda lagi seperti ini berdua saja semenjak beberapa minggu ini.

__ADS_1


"Itu memang kenyataan nyonya Bhian, buktinya tanpa melakukan apa-apa banyak para wanita yang menatapku penuh kekaguman" bangga Raja Bhian pada dirinya sendiri.


"Kalau begitu kenapa kamu sampai sekarang belum punya istri?" tanya Zhia dengan polosnya.


"Karena calon istriku sangat nakal dan butuh waktu untuk menjinakkannya sampai dia bisa jadi penurut" kata Raja Bhian menatap jahil pada Zhia.


Mata Zhia memicing menatap Raja Bhian yang tersenyum padanya.


"Apa maksud kamu?" tanya Zhia yang maish memahami.


Raja Bhian hanya menatap Zhia saja tanpa menjawab. Sampai akhirnya kedua mata Zhia melotot karena dia kini sadar dengan maksud pria di depannya.


"Enak aja bilang aku nakal! aku ini anak baik-baik" protes Zhia.


"Ya jelas baik-baik karena kamu tidak sakit-sakit" kata Raja Bhian.


"Ish.." kesal Zhia hendak melangkah pergi tapi tertahan kala tiba-tiba tubuhnya sudah di peluk oleh Raja Bhian.


"Apa sih? jangan peluk-peluk" tolak Zhia memberontak di pelukan Zhia.


Raja Bhian melepaskan pelukannya dan Zhia langsung menatapnya nyalang.


"Pada hal burung Nae sudah di atas, ya sudah kalau ti..."


"Ya mau pergilah, masa tinggal di sini, mau perlu apa lagi? gantiin singa jaid raja hutan? ya mana mungkin" sindir Raja Bhian yang membuat Zhia kesal seketika.


"Ck! pergi sana" usir Zhia dengan wajah masam.


Gadis itu berbalik badan dan melangkah dengan cepat meninggalkan Raja Bhian yang tersenyum lebar karena sudah berhasil mengerjain Zhia.


Bahkan gerutuan gadis itupun masih dapat di denga roleh Raja Bhian yang mengikuti langkahnya pelan-pelan.


"Di pikir aku takut apa jalan sendirian! tidak ya!"


"Ini di hutan mana lagi, jauh banget perasaan, gak ada jalan keluar apa ya? kemana arahnya ya?" langkah kaki Zhia terhenti dan mulai melihat kanan kiri kemana kira-kira dia akan mengambil arah.


Akh


Cup


Zhia berteriak kaget saat tiba-tiba tubuhnya melayang ke udara dengan seseorang yang mendekapnya. Sontak saja tangannya akan melayangkan pukulan saat satu kecupan mampir di pipinya hingga membuatnya diam.

__ADS_1


Apa lagi kala melihat siapa yang melakukan itu padanya dan senyuman menawan yang dapat di lihatnya dari bawah benar-benar melumpuhkan sesaat.


Setelah tersadar Zhia langsung mencubit dada Raja Bhian kuat hingga mengaduh.


"Akh sakit! apa yang kamu lakukan nanti kita jatuh?" ucapnya.


"Rasain! siapa suruh tadi bikin kaget hah?" ketus Zhia.


"Siapa yang bikin kaget? bikin minuman lebih seger" kata Raja Bhian.


"Ihh.."


"Aduhh.. aduh.. nanti kita jatuh beneran"


Zhia melepaskan tangannya dari hidung mancung Raja Bhian dan melihat ke adaan sekitarnya.


Ternyata mereka sedang berada di punggung burung Nae yang terbang mulai tinggi.


"Sejak kapan kita ada di atas burung raksasa ini?" tanya Zhia yang posisi duduknya sudah membelakangi Raja Bhian.


"Sejak kamu cubit aku" kata Raja Bhian.


"Nikmati aja, makanya jangan buat kesel jadi laki-laki" ucap Zhia.


"Makanya jangan mudah bawa perasaan jadi perempuan" balas Raja Bhian yang membuat Zhia melihat kebelakang.


"Denger ya Cami alias calon suami, sebagai calon suami yang baik dan sebagai pria yang tangguh lagi bertanggunh jawab kamu itu harus nurut sama satu petuah yang mengatakan kalau laki-laki itu harus mengalah" kata Zhia.


"Kamu juga denger ya Calon istriku yang paling cantik, laki-laki itu tidak semua harus mengalah atas sesuatu apapun, ada saat di mana kami harus tegas, mengalah, membimbing, mengingatkan dan memberi juga menerima, semua itu harus seimbang, kalian para perempuan juga harus begitu jangan hanya menyalahkan kami saja para pria" jelas Raja Bhian.


"Iya tahu kalau semua itu harus seimbang, dan laki-laki itu juga harus tegas, tapi ada saat di mana kalian harus mengalah pada kami para perempuan untuk menyenangkan hati kami yang mudah tersentuh ini" kata Zhia tidak mau kalah.


Raja Bhian menghembuskan napasnya panjang, akan semakin panjang lagi pembahasan mereka dan pastinya tidak akan selesai kalau terus di tanggapi semua yang Zhia katakan.


Seperti sekarang ini contohnya, Zhia masih saja terus mengeluarkan semua petuahnya pada Raja Bhian.


"Kamu paham tidak Cami!" kata Zhia akhirnya.


"Iya ibu Ratu terhormat, hamba paham" sahut Raja Bhian.


"Kok gitu sih kamu jawabnya? tidak senang ya? marah ya? hah" tubuh Zhia berputar demi bisa melihat raut wajah Raja Bhian.

__ADS_1


"Tidak biasa saja" ujar Raja Bhian malah mendapatkan lirikan mematikan dari Zhia sembari memutar tubuh ke seperti semula lagi.


Hah! para wanita dan semua petuahnya, aku bisa apa kalau hati udah ikut campur, untung cinta batinnya.


__ADS_2