Calon Ratu

Calon Ratu
58


__ADS_3

Raja Bhian dan Zhia sudah bersiap untuk pergi menuju suatu tempat. Tapi sebelum itu ada sesuatu yang sedang jadi pembicaraan di antara Raja Bhian dan Panglima Qai di dalam kamar yang di tempati oleh sang Raja.


Zhia yanh di minta menunggu di luar hanya menurut saja tanpa harus tahu apa yanh sedang di bicarakan oleh para pria itu. Ingat akan air yang tadi malam di tampung membuat Zhia bergegas menuju luar.


Pintu di buka dengan pelan oleh Zhia mulai melangkah di mana semalam mereka menarih tempat air itu. Zhai dengan cepat menyembunyikan tubuhnya dengan mundur satu langkah.


Bersembunyi di balik tembok dan melihat hal yang ada di depannya sana cukup membuat matanya membola kaget.


Benarkah itu? batin Zhia menatap tidak percaya kedepan sana.


Di sana, tempat air yang semalam di letakkan oleh Panglima Qai untuk menampung air. Wadah itu bergerak pelan hingga miring menumpahkan air di dalamnya yang penuh hingga akhirnya terguling. Yang mengagetkannya lagi, di hari yang masih gelap ini air yang tumpah ke tanah langsung langsung kering tanpa sisa.


Menyadari ada sesuatu yang aneh di depan sana Zhia langsung bergerak cepat menggerakkan tangannya hingga menciptakan gelombang air di sekitar tempat wadah tadi. Zhia mendekati tempat itu lalu menggenggam tangannya hingga gelombang air tadi tumpah menutup area yang di kelilinginya.


Byurr


Arrgh


Terlihatlah seseorang berbaju hitam yang berbaring di tanah dengan tubuh basahnya dan terbatuk-batuk.


"Tepat sasaran" gumam Zhia tersenyum miring.


"Tangkap dia!" tunjuk Zhia pada orang yang masih batuk di atas tanah itu dengan tidak berdayanya.


Prajurit yang baru datang langsung bergerak mengikuti perintah Zhia menangkap orang yang di maksud.


Raja Bhian datang dengan napas memburu kala mendengar suara teriakan cukup keras tadi. Dirinya sudah takut terjadi sesuatu pada Zhia hingga langsung berlari. Meski dirinya sendiri sudah dekat dengan pintu keluar tadi.


"Ada apa? apa yang terjadi? kamu baik-baik sajakan Catri?" cecar Raja Bhian memeriksa tubuh Zhia takut terjadi sesuatu.


"Tenanglah Cami, Catrimu ini baik-naik saja" ucap Zhia santai.


"Yang Mulia" panggil Panglima Qai yang sudah berdiri di dekat orang yang tadi di tangkap prajurit.


Raja Bhian dan Zhia melihat kearah Panglima Qai dan mendapati seorang pria yang wajahnya melepuh dan tubuhnya nampak mengeluarkan asap.

__ADS_1


"Dia.." kaget Raja Bhian kala mengerti siapa yang di tahan prajuritnya.


"Jadi ini wujud dari pemilik sihir api! kenapa jelek sekali wajahnya?" ucap Zhia dengan polosnya.


Raja Bhian dan yang lainnya menatap kaget pada Zhia yang masih melihat pria yang di tahan itu.


"Tapi kalau dia pemilik asli seharusnya tidak semudah itu wajahnya rusak kena air kan! pasti dia cuma pengikutnya, itu artinya ketua mereka masih belum di temukan" lanjut Zhia dengan jari telunjuk di dagunya.


"Eh kenapa?" kaget Zhia melihat dirinya yang di tarik masuk oleh Raja Bhian.


Setelah sampai di kamar mereka, Raja Bhian mengunci pintu dan menatap Zhia dengan serius.


"Catri! apa kamu memiliki sihir?" tanyanya tegas.


"Darimana Cami tahu?" bukannya menjawab Zhia malah balik bertanya dengan wajah polosnya itu.


"Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu masalah sihir dan yang berkaitan dengan itu, sekalipun anak seorang Raja atau sang Raja sekalipun tidak semua tahu dan tidak sembarangan orang yang memilikinya".


"Jadi Catri, apa kamu memiliki sihir juga seperti Pangeran Ballu dan Raja Hilla?" tanya Raja Bhian menatap lekat mata Zhia.


Bahkan di dalam dirinya tidak mengenal takut apa lagi pantang menyerah dalam menghadapi suatu masalah dan pertarungan. Wanita seperti itu akan menjadi seorang Ratu yang bijak sana dan menjadi pendamping yang tepat untuk seorang Raja seperti Raja Bhian.


Betapa beruntungnya dulu kakek membuat perjodohan itu yang akhirnya jatuh padaku batin Raja Bhian merasa bahagia. Selain karena dirinya yang merasa Zhia adalah wanita yang memang pantas untuknya sejak awal bertemu. Ternyata ada rahasia lain di balik bersatunya mereka ini.


Raja Bhian menarik sedikit kerah bajunya hingga menampakkan sesuatu di bahunya.


"Ituu.." Zhia menatap tidak percaya pria di depannya yang tersenyum manis padanya.


"Kamu.."


"Iya, Cami punya tiga sihir, angin, tanah dan kayu" ucap Raja Bhian melanjutkan kalimat Zhia yang terhenti.


"Benarkah!" Raja Bhian mengangguk pasti.


"Kamu punya tanda jugakan!" Zhia mengangguk dan dengan polosnya menarik bajunya bagian depan hingga menampakkan sesuatu yang membuat Raja Bhian panas dingin.

__ADS_1


Bukan karena simbol yang di tunjukkan Zhia fokusnya, melainkan sesuatu tempat simbol itu melekat. Sesuatu yang terlihat menyembul di balik pakaian Zhia itu membuat Raja Bhian salah tingkah.


Di hembuskannya napas panjang dengan pandangan yang beralih pada hal lain agar tidak melihat pemandangan indah di depannya yang walau hanya terlihat sedikit saja sudah mampu membuat dirinya bergejolak.


Raja Bhian menarik tangan Zhia yang tadi menarik bajunya dan memegangi tangan itu, takut kalau tangan itu di gunakan untuk menunjukkan sesuatu itu lagi.


Senyum miring Zhia muncul membuat pria di depannya mengerutkan kening heran. Tanpa tahu apa yang tadi di lakukannya sudah membuat pria di depannya berdebar.


"Kenapa? apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Raja Bhian.


Zhia mengangguk pasti dan matap.


"Catri berpikir semua yang terjadi di daerah ini pasti ada hubungannya dengan orang yang memiliki sihir api, jadi Catri mau kita selesaikan masalah di sini secepatnya" semangat Zhia.


Raja Bhian tersenyum dan mengangguk pasti.


"Ayo kita selesaikan bersama, tapi jangan sampai orang-orang tahu kemampuan sihir kamu, mengerti" Zhia mengangguk.


"Ayo pergi" keduanya keluar dari kamar bergandengan tangan untuk pergi melanjutkan misi.


Sesampainya di luar, Panglima Qai mendekati Rajanya.


"Yang Mulia, orang itu sudah kami habisi" lapornya.


"Apa kalian menyiramnya dengan air sampai tewas?" tanya Zhia di angguki Panglima Qai.


"Benar Tuan Putri, hanya begitu cara paling ampuh untuk memusnahkan mereka sekaligus menyiksa mereka" ucap Panglima Qai.


"Pergilah ke tempat orang-orang yang di rawat, pastikan mangsa mengejar umpan, kita harus menyelesaikan masalah ini secepatnya" kata Raja Bhian.


"Baik Yang Mulia, saya akan melaksanakan tugas sebaik mungkin, ikan pasti akan mengejar umpan dengan baik" semangat Panglima Qai ikut berjalan keluar.


Raja Bhian naik ke atas kuda putih kesayangannya yang memang di bawa sebagai penarik kereta kuda bersama beberapa kuda lainnya.


Pasangan muda itu bergerak pergi meninggalkan penginapan dengan satu kuda. Zhia duduk di depan dan Raja Bhian di belakangnya. Begitu semangatnya keduanya ingin segera menyelesaikan masalah yang sudah berlarut-larut dan sudah sangat meresahkan warga juga sang Raja sendiri sebagai pemimpin kerajaan.

__ADS_1


__ADS_2