
Waktu berlalu dan kini saatnya acara pertandingan terakhir.
Zhia sudah siap dengan pakaiannya yang membuatnya terlihat berbeda dari sebelumnya. Tapi bagi Raja Bhian, Zhia yang seperti ini justru terlihat cantik dan ganas.
"Ayo" ajak Zhia pada pria yang maish menatapnya dalam diam.
Keduanya berjalan keluar dari kediaman utama menuju tempat pertarungan. Para pelayan yang ada di kediaman menatap Zhia terpesona, wajahnya sungguh membuat mereka tidak percaya. Aura tampan juga terlihat jelas dari Zhia yang berpakaian seperti pria.
Kalau saja tidak tahu sejak awal yang menggandeng Raja mereka itu seorang wanita dan merupakan calon istri sang Raja. Sudah bisa di pastikan kalau mereka akan jatuh cinta dengan Zhia yang tak kalah tampan dengan Raja Bhian.
Para prajurut saja kaget melihat Zhia yang tampan seperti Raja mereka. Kalau tidak ada anting berbentuk bulan di telinga Zhia sudah pasti mereka akan terkecoh. Seperti halnya dengan Kasim Mora yang merasa kalau Zhia itu pria.
"Siapa pria itu Yang Mulia?" tanyanya kaget.
Raja Bhian dan Zhia saling pandang mendengar pertanyaan dari Kasim Mora. Apa lagi pandangannya yang menuju pada Zhia sungguh membakar hati sang Raja.
"Pria mana yang kamu maksud?" sarkas Raja Bhian menatap datar bawahannya itu.
"Dia" Kasim Mora menunjuk Zhia yang berada di samping Raja Bhian dengan wajah polosnya yang mengira Zhia laki-laki.
Sontak saja Zhia tertawa mendengarnya, ternyata orang-orang bisa salah sangka padanya saat baru melihatnya memakai pakaian seperti pria.
"Apa saya setampan itu Kasim? sampai kamu mengira saya ini pria, atau jangan-jangan yang lainnya juga mengira saya pria juga" kekeh Zhia geli.
Raja Bhian menatap tajam semua prajuritnya dan pelayan yang menatap Zhia kagum.
"Jaga pandangan kalian kalau masih ingin melihat dunia" gertaknya kesal menarik Zhia berjalan lagi.
Zhia masih saja terkekeh lucu, dirinya memang akan terlihat seperti Zhio kalau tidak memakai gaun. Hanya rambutnya saja yang berbeda dengan kembarannya itu, kalau Zhia memiliki rambut yang lebih panjang dan tebal seperti ibunya sedangkan Zhio rambutnya hanya sepunggung dan sedikit tipis.
Bahkan di istana dirinya bisa dengan mudah menipu prajurit kala tidak memakai gaun. Para prajurit akan mengira dirinya Zhio dan itu selalu berhasil membuat Zhia bisa keluar istana.
Hahahaha
__ADS_1
Tawa Zhia pecah membayangkan bagaimana kalau dirinya melakukan trik yang sama di sini seperti di kerajaan ayahnya. Apakah dirinya bisa lolos dan jalan-jalan di luar istana atau malah di tangkap karena di sangka penyusup batin Zhia.
Raja Bhian kaget akan tawa Zhia menghentikan langkahnya dan melihat gadis di sebelahnya yang berusaha meredam tawanya.
"Apa yang lucu?" tanya Raja Bhian heran.
"Ah tidak" sahut Zhia kaget juga mendengar pertanyaan pria di sampingnya yang tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
"Jangan berpikiran aneh-aneh atau hukuman akan menanti" bisik Raja Bhian yang merasa kalau Zhia seperti sedang merencanakan sesuatu di luar dugaannya yang entah apa.
Jadi sebelum gadis itu bertindak ancaman paling mujarab di keluarkan lebih dulu oleh Raja Bhian untuk antisipasi.
"Apa sih! siapa juga yang berpikiran aneh-aneh" sangkal Zhia mengcubit pelan lengan Raja Bhian yang di sejak tadi di gandenganya seperti biasa kalau mereka berduaan.
Raja Bhian hanya mengangkat kedua bahunya dengan wajah meragukan ucapan Zhia dan itu terlihat sedikit mengesalkan bagi gadis itu yang hanya bisa menghela napas saja.
Keduanya terus berjalan di ikuti pelayan Zhia dan para prajurit dari keduanya yang sudah pasti akan mengikuti kemana perginya atasan mereka.
Memasuki area pertandingan yang sudah di ubah, di sana sudah berkumpul para peserta pertandingan. Para panitia acara pertandinganpun juga ada di sana.
Para wanita peserta itupun di buat terpesona olehnya juga.
"Siapa itu yang berjalan bersama Yang Mulia? dia tampan sekali" ucap salah satunya.
"Benar, tidak dapat Yang Mulia asal bisa mendapatkannya aku rela"
"Apa dia saudara Yang Mulia"
"Yang Mulia tidak punya saudara laki-laki"
"Mungkin dia seorang Panglima muda yang baru"
"Di hatiku tetap Yang Mulia"
__ADS_1
"Tetap Yang Mulia yang pertama"
"Yang Mulia tidak tergantikan"
Mereka mengeluarkan argumen masing-masing yang bisa di dengar oleh Zhia dan Raja Bhian yang melewati mereka. Bahkan karena keterpesonaan mereka dengan Zhia membuat mereka tidak menyadari kalau tangan Zhia sedang mengapit lengan Raja yang mereka kagumi itu.
Apa mereka tidak melihat kami yang sedekta ini ya? tangan kami yang begini mesranya juga tidak di lihat, wah harus periksa mata mereka tuh gumma Zhia dalam hati kala para wanita itu terus mengeluarkan kekaguman padanya dengan mengatakan tampan tanpa menyadari di mana tangannya.
Raja Bhian dan Zhia duduk di kursi yang sudah di sediakan. Mereka nampak kaget melihat orang yang datang bersama Raja Bhian duduk di kursi yang seharusnya untuk Putri Zhia.
"Maaf tuan, tapi kursi ini untuk Tuan Putri Zhia" ucap kasim Oni yang belum menyadari siapa orang yang sudah duduk itu.
Raja Bhian menahan tawanya dengan wajah yang semakin datar agar tidka lepas si tawa. Sedangkan pelayan Zhia dan mereka yang sudah tahu menahan tawa juga karena ucapan kasim Oni. Zhia sendiri memegang kepalanya sembari menggeleng karena tidak habis pikir dengan semua orang yang mengira dirinya laki-laki.
"Lihat baik-baik wajah ini baik-baik" tegas Zhia memajukan wajahnya ke hadapan kasim Oni sembari melotot.
Kasim Oni menatap lekat wajah Zhia tapi akhirnya menggeleng karena baginya wajah di depannya ini memang mirip Putri Zhia tapi juga seperti laki-laki. Tidak mungkin Tuan Putri itu bisa merubah wajah kan batinnya.
"Tanyakan saja padanya" tunjuk Zhia pada pelayan di belakangnya.
Kasim Oni melihat pelayan Zhia dengan heran karena baru sadar juga kalau ada kedua pelayan Zhia di sana beserta prajurit penjaga Zhia.
"Kasim Oni, orang yang anda dan kalian semua kira laki-laki ini adalah Tuan Putri Zhia" jelas pelayan Zhia membuat semua orang kaget.
Bagaimana mungkin batin mereka.
"Be benarkah!" ucap Kasim Oni belum percaya.
Kembali Kasim itu menatap lekat wajah Zhia yang menurutnya seperti laki-laki sesungguhnya. Tapi juga seperti Taun Putri nya, ah aneh sekali apa mataku bermasalah batin Kasim Oni lagi yang masih belum bisa menerima kenyataan di depannya.
"Kapan acara di mulai?" tanya Raja Bhian yang sudah mulai tidak risih dengan tatapan semua wanita di sana yang mengarah padanya.
Meski memang ingin mengulur waktu juga tetapi dengan tatapan mendamba dari para wanita semakin lama semakin membuat risih hati dan jiwa pria tampan itu. Memang resiko jadi orang tampan ya seperti itu, selalu jadi pusat perhatian batin Raja Bhian.
__ADS_1
"Sekarang akan saya mulai Yang Mulia" gugup Kasim Oni menjawab.
Dirinya mencoba tenang dan menguasai diri dari kekagetan yang di landanya dan fokus pada pekerjaan walau hatinya masih gamang akan Putri Zhia yang benar-benar seperti pria.