
Sudah lewat beberapa hari setelah acara pertandingan. Para wanita juga sudah kembali kekediaman maisng-masing setelah di berikan hadiah sebagai apresiasi atas semangat mereka yang pantang menyerah melakukan pertandingan meski kesulitan.
Pagi ini setelah makan pagi pasangan muda yang semakin di landa asmara itu sudah bersiap untuk pergi melakukan perjalanan jauh.
"Berapa lama peejalanan ke daerah itu?" tanya Zhia sebelum mereka naik ke atas kereta kuda istana yang sudah menunggu.
"Naik dulu nanti baru bicara lagi" ucap Raja Bhian mengarahkan Zhia agar naik.
Setelah Zhia naik barulah pria itu naik juga duduk di samping Zhia yang sudah menunggunya.
Kereta kuda bergerak meninggalkan istana dengan di iringi hormat para prajurit dan pelayan yang kala kereta kuda melewati mereka yang berdiri melihat kepergian sang Raja untuk bertugas.
"Sekarang jawab pertanyaan Catri tadi" tuntut Zhia yang sangat ingin tahu.
Sebelum keberangkatan mereka ini memang pernah Raja Bhian mengatakan kalau mereka akan pergi ke suatu daerah yang sedang di landa musibah. Tapi Raja muda itu tidak mengatakan di mana daerah yang di landa musibah itu, Zhia sendiripun lupa bertanya.
Hingga saat inilah gadis itu menanyakannya selagi ingat.
"Nama daerah itu Parean, itu satu-satunya daerah di kerjaaan ini yang sangat sulit untuk maju dan berkembang, daerah yang masih banyak tertinggal" kata Raja Bhian.
"Kenapa bisa begitu? bukannya daerah lain sudah banyak yang maju bahkan berkembang, dari yang Catri lihat sewaktu kita terbang hampir seluruh daerah sudah sangat terlihat ramai dan baik, ya walaupun dari atas mereka terlihat kecil"
"Itu penampakan dari atas Catri, dan tidak semua daerah sudah kita lewati sewaktu datang ke kerjaaan ini dulu, dan mulai sekarang kamu akan banyak melihat kekurangan dari kerjaan Sun ini, salah satunya di daerah Parean itu"
"Kenapa daerah itu sulit berkembang? apa dananya kurang atau banyak pejabatnya yang menggelapkan dananya?" tanya Zhia yang benar-benar ingin tahu.
"Daerah Parean selalu terkena masalah setiap satu masalah baru saja selesai, padahal dulunya daerah itu sangat makmur dan menjadi penghasil padi terbesar, tapi entah kenapa setahun belakang ini sangat banyak bencana yang melanda daerah itu dengan tidak wajar" ungkap Raja Bhian semakin membuat Zhia penasaran.
"Tidak wajarnya!"
"Setiap baru selesai satu masalah pasti tidak lama setelahnya masalah baru datang dengan cepat dan langsung menyebar dengan cepat pula"
"Misalnya!"
__ADS_1
"Misalnya wabah penyakit, baru selesai teratasi sudah datang lagi masalah kekeringan padahal sedang musim hujan tapi sepertinya air-air itu tidak ingin menggenang atau bertahan di satu tempat setelah jatuh maka akan langsung lenyap" jelas Raja Bhian.
Zhia mengkerutkan keningnya heran, kenapa bisa seperti itu. Baru kali ini ada fenomena ajaib seperti itu.
"Trus apa kamu sudah pernah ke sana sebelumnya Cami?" tanyanya menatap pria di sampingnya.
"Sudah dulu di bulan kedua saat masih wabah penyakit, tapi karena bukan hanya mengurus satu daerah itu saja jadi Cami tidak lama di sana hanya tiga minggu saja setelahnya harus pergi ke daerah lain lagi, sempat ada laporan juga dari sana kalau semua yang mereka alami seperti kutukan yang datang dari seorang wanita"
Alis Zhia terangkat mendengar kalimat terakhir dari Raja Bhian itu.
"Kutukan! memangnya kutukan itu nyata?" tanya Zhia tidak percaya, karena baginya hal semacam itu hanya terjadi pada zaman dahulu yang masih sangat kental akan hal-hal mistis.
Ya walaupun di dalam dirinya sendiri ada hal yang tidak bisa di lakukan oleh orang lain karena hanya keturunan asli para Raja saja yang bisa melakukannya. Itupun tidak semua Raja bisa mendapatkan hal mistis seperti itu.
"Percaya tidak percaya sih, tapi nyatanya hal semacam itu masih terus di anggap nyata dan benar adanya"
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Raja Bhian yang memikirkan bagaimana cara menghentikan masalah di Parena yang tiada hentinya itu. Sedangkan Zhia masih merasa gamang dengan kata kutukan itu sendiri. Dirinya yakin kalau pasti ada sebab lainnya yang mengakibatkan masalah tiada hentinya di daerah Parena itu.
"Berapa lama perjalanan menuju kesana?" tanya Zhia buka suara setelah terdiam cukup lama.
"Kalau tidak ada kendala bisa memakan waktu hanya dua hari saja, tapi kalau ada masalah di perjalanan bisa sampai tiga atau empat hari juga"
Zhia mengangguk.
"Bisa mintakan sesuatu pada mereka untuk di makan, rasanya bosan sekali kalau hanya duduk diam seperti ini tanpa melakukan sesuatu" ucapnya membuat Raja Bhian menatap nakal pada Zhia dengan senyuman miringnya.
"Kamu mau sesuatu yang tidak membosankan Catri?" tanya Raja muda itu di angguki polos oleh Zhia.
Tanpa berpikir atau berkata apapun lagi Raja Bhian langsung menyambar bibir Zhia. Menciumnya intens dengan satu tangan di kepala gadis itu sedangkan satu tangan lainnya memeluk pinggang Zhia erat agar gadis itu tidak berontak.
Zhia diam akibat kaget dari serangan dadakan yang di lakukan Raja Bhian. Ciuman lembut itu membuat Zhia terbuai dan hanya diam saja karena dia tidak tahu harus merespon bagaimana kalau mendapatkan ciuman selain diam menerima saja.
Sampai akhirnya sesuatu yang tidak terduga di lakukan oleh Zhia setelah dirinya merasakan sesuatu dari Raja Bhian.
__ADS_1
"Akh kenapa menggigitnya keras sekali?" keluh pria itu memegangi bibir bawahnya yang terasa berkedut karena gigitan cukup kuat dari Zhia. Bahkan terlihat merah dan membengkak di area yang di gigit Zhia itu.
"Kan Cami duluan yang gigit ya Catri balas lah" polos Zhia.
Raja Bhian hanya bisa menghela napas panjang mendengar jawaban Zhia itu. Entah Zhia yang kelewat polos atau memang karena tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu. Zhia yang merasakan gigitan di bibir atasnya dari Raja Bhian dengan repleks cepat menggigit balik bibir pria itu tanpa kira-kira hingga menyakiti si pemilik bibir.
"Ya tapi jangan kuat juga Catri! nih lihat akibatnya" Raja Bhian memajukan bibir bawahnya yang bengkak dan merah kehadapan Zhia yang memundurkan sedikit tubuhnya.
"Jangan di majuin juga dong Cami, Catri bisa lihat juga walau tidak di majukan bibirnya" ucap Zhia mendorong sedikit tubuh besar Raja Bhian.
"Makanya lain kali kalau cium jangan main gigit-gigit kan jadi ke gigit" lanjutnya.
"Kamu yang gigit ini bukan ke gigit" sanggah Raja Bhian.
"Kan sama saja Cami"
"Beda Catri, ke gigit itu ulah sendiri yang tidak di sengaja tapi kalau di gigit itu baru sengaja, bisa ulah sendiri atau ulah orang lain seperti kamu ini, sudah mirip kena sengatan lebah" Raja Bhian melihat bibirnya yang masih bengkak dan masih terasa berkedut.
"Enak aja bilang gigitan Catri mirip sengatan lebah, nanti di sengat lebah beneran baru tahu rasa"
"Kalau kamu yang jadi lebah sih Cami mau aja di sengat" ucap Raja Bhian dengan tatapan menggoda Zhia yang membuat gadis itu mendengus.
"Sudah diam saja, Cami mau minta sesuatu dulu sama mereka untuk mengobati itu" tunjuk Zhia pada bibir yang bengkak.
Gadis itu membuka tirai di sampingnya dan mendapati seorang prajurit yang sedikit kebelakang dari jendela kereta kuda itu.
"Perlu sesuatu Tuan Putri?" tanya prajurit itu mendekati jendela kereta kuda.
"Mintakan makanan pada pelayan di belakang ya" ucap Zhia di angguki prajurit itu yang memelankan laju kudanya hingga di bagian belakang kereta kuda yang ada kedua pelayan Zhia di sana bersama semua kebutuhan makanan sang Raja dan Tuan Putri.
Melihat ke dalam lagi, Zhia baru ingat kalau lupa meminta obat juga untuk calon suaminya.
Kembali Zhia membuka tirai dan memunculkan kepalanya melihat belakang.
__ADS_1
"Mintakan tempat obat juga pada mereka ya" ucap Zhia sedikit berteriak hingga membuat semua prajurit menghentikan perjalanan dan melihat sumber suara.