
Di pijakan terakhirnya Zhia malah di kagetkan dengan daun teratai yang lebar membentuk sebuah mangkuk besar dan membawanya naik ke atas lalu menjatuhkannya begitu saja layaknya air yang di tuang dari cawan.
Gadis itu berteriak kaget karena kejadian yang tiba-tiba itu. Tangan Zhia bergerak cepat hendak menarik air yang akan di jadikan pijakan agar tubuhnya tidak jatuh ke tanah. Tapi belum terlaksana apa yang akan di lakukannya, seseorang sudah lebih dulu menangkap tubuh Zhia dan membanya kedalam pelukan.
Zhia melihat pria yang merupakan calon suaminya itu dengan wajah yang masih kaget. Setelah Raja Bhian menapakkan kakinya di tanah, Zhia tidak di turunkan dari gendongannya dan keduanya juga maish saling pandang.
"Hah! Cami! bikin jantungan aja sih" kesal Zhia memukul dada pria yang menggendongnya tanpa rasa bersalah itu.
"Sudah cukup teratainya Catri, Cami kasih teratai di atasnya supaya airnya tidak mudah menguap atau lebih tepatnya untuk mengurangi penguapan air di sana, kalau kebanyakan teratainya malah kurang bagus juga" jelas Raja Bhian.
"Tur..."
"Sst.."
Secepat kilat Raja Bhian membawa Zhia bersembunyi di atas pohon yang ada di dekat bendungan itu. Raja Bhian bisa merasakan hawa panas yang semakin dekat dengan tempat mereka dan bisa di pastikan kalau umpan sudah di makan oleh ikan besar yang mereka incar.
"Kenapa?" tanya Zhia pelan melihat ke bawah sana dengan seksama.
"Ada yang datang" bisik Raja Bhian menatap tajam ke bawah.
Benar saja kalau ada yang datang ke sana, lima orang dengan ilmu sihir api mendekati bendungan yang sudah terisi penuh air dan ada bunga teratai di atasnya.
"Kurang ajar! siapa yang bisa melakukan ini? kemana semua prajuritku yang bertugas menggeringkan bendungan ini?" marah salah satunya yang bisa di pastikan kalau dialah ketua dari pemilik sihir api yang menyebabkan semua masalah di daerah Parean itu.
Kedua orang yang sedang bersembunyi itu saling pandang kala mengetahui siapa yang menjadi pimpinan kelompok itu. Ternyata orang yang mereka curigai memang menjadi pelaku utamanya.
"Memang dia" bisik Zhia tepat di telinga Raja Bhian yang di angguki pria yang masih fokus ke bawah itu.
__ADS_1
"Dasar tidak berguna! cepat keatas permukaan air dan keringkan bendungannya dengan cepat" perintah orang itu.
Terdapat sepuluh orang pengikut pemilik sihir api itu yang terbang dan berputar tepat di atas permukaan air. Mengeluarkan hawa panas milik mereka untuk menguapkan air di bendungan.
Bahkan hawa panas yang mereka keluarkan dapat terlihat menyala merah di atas air.
"Teratainya bisa kering terpanggang" bisik Zhia lagi pada Raja Bhian.
"Sst tenanglah, lihat saja apa yang akan terjadi nanti" balas Raja Bhian berbisik pula.
Zhia mengangguk dan kembali mengamati apa yang terjadi di bawah sana.
Air menguap perlahan namun hanya sedikit karena banyak yang terhalang oleh daun teratai yang cukup lebar. Meski daun teratai itu kering karena panas dari anak buah pemilik sihir api. Daun teratai baru akan muncul lagi dengan cepat menggantikan yang sudah mati.
Begitu terus hingga membuat pemimpin sihir api itu marah.
Tentu saja sebagai pemilik sihir dirinya tahu segala hal tentang sihir lainnya dan bagaimana dampaknya. Sesuatu yang di buat menggunakan sihir tidak akan mudah di hancurkan meski dengan sihir lainnya, apa lagi kalau si pemilik mempunyai kemampuan yang mumpuni.
Maka tidak akan mudah mengalahkan sihir kuat itu, itu sebabnya pula tidak banyak orang yang memiliki kemampuan sihir.
"Wih apinya kalau di pake buat bakar ikan mantap juga tuh, tidak perlu repot-repot lagi buat bara" celetuk Zhia tanpa sadar mengeluarkan suaranya kala melihat bagaimana hawa panas dari api mengeringakan daun teratai hingga hancur jadi abu.
Suara Zhia itu di dengar oleh pemimpin sihir api yang langsung melihat ke arah satu-satunya pohon paling besar di sana yang menjadi tempat persembunyian Raja Bhian dan Zhia.
Raja Bhian yang mendengar ucapan Zhia menghela napas. Terkadang kepolosan gadis itu bisa keluar di saat-saat genting seperti ini. Apa lagi Zhia yang suka sekali dengan olahan makanan bakar. Melihat sihir api seperti itu tentu akan menggugah jiwa polosnya untuk bicara sesuai apa yang di lihatnya.
Dengan cepat Raja Bhian mengerakkan tangannya mengarahkan daun daun yang berputar bersama angin menyerang pemimpin sihir api. Setelahnya membawa Zhia turun dari atas pohon.
__ADS_1
Begitu memijak tanah, Zhia langsung menggerakkan air di bendungan untuk naik dan mengepung para prajurit sihir api. Zhia mendekati air yang sedang membumbung tinggi itu lalu menggerakkan air untuk mengurung prajurit sihir api yang nampak kebingungan karena terjebak di tengah banyak air.
Zhia menjentikkan jarinya membuat air jatuh menghepas memusnahkan prajurit sihir api yang tadi bekerja mengeringkan air. Jeritan kesakitan para prajurit itu mengangetkan pimpinan mereka yang baru lolos dari kepungan daun dan angin setelah mengeluarkan apinya untuk mmebakar daun-daun itu.
Di lihatnya Zhia yang sudah berdiri di atas air dengan santainya, menggerakkan kakinya bermain air. Sedangkan Raja Bhian sudah duduk manis di pinggir bendungan dengan tanah sebagai dudukannya.
"Sudah ku duga kalau kamu wanita yang istimewa, hanya yang tidak ku sangka kalau ternyata kamu pemilik sihir air" ucap pria yang merupakan tabib di daerah Parean itu.
Tabib yang selama ini di percaya oleh warga ternyata menjadi dalang utama bencana di sana.
"Saya juga sudah menduga kalau kamu itu penjahat" ucap Zhia dengan wajah datarnya menatap pria paruh baya di bawah sana yang menatapnya penuh minat.
Tabib itu terkekeh mendengar ucapan Zhia tidak ada rasa takut sama sekali yang di rasakannya meski mendapat tekanan dari Raja Bhian yang menatapnya tajam dan siap menerkam hidup-hidup.
"Aroma tubuhmu sangat manis nona, sejak pertama melihat dan mendekatimu aku sudah merasa kalau kamu istimewa tapi sayang, tidak mudah menyetuhmu" kata tabib itu.
"Ikutlah denganku nona, kita bisa bersenang-senang bersama, air dan api akan menjadi sihir paling kuat tanpa tanding kalau menjadi satu, setelah tubuh kita saling terikat dalam satu jiwa maka kekuatan kitapun akan tanpa tanding" lanjutnya dengan tersenyum memikat pada Zhia.
Zhia yang mendengar ucapan tabib itu serta melihat senyuman yang di berikan untuknya merasa malas.
"Hah.. entah apa maksud perkataanmu" ucapnya.
Raja Bhian menggerakkan tanah yang di pijak tabib itu untuk terbelah dan menelan pria yang sudah lancang berbicara tidak pantas pada calon istrinya. Hati pria mana yang tidak akan panas kala mendengar dan melihat sendiri jika wanitanya di goda seperti itu oleh pria lainnya.
Tabib pemimpin sihir api itu berhasil menghidar, tapi yang tidak di sadarinya adalah datangnya pusaran angin yang membawanya menjauh dari bendungan itu.
"Kemana dia?" tanya Zhia melihat tabib itu menjauh di bawa angin sembari berteriak.
__ADS_1
"Ayo, tidak mungkin kita bertarung di sini, nanti ada warga yang melihat" Raja Bhian memeluk Zhia dan membawa gadis itu pergi mengejar angin yang membawa tabib tadi.