
"Apa maksud ucapan kamu tadi Catri?" tanya Raja Bhian yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Saat ini ruangan aula pertemuan tadi sudah sunyi dan hanya meninggalkan Raja Bhian dan Zhia juga Panglima Qai yang berdiri di belakang mereka mengikuti sang Raja.
"Memangnya Cami tidak mau memiliki Selir dan Permaisuri! kan lumayan untuk menambah koleksi" ucap Zhia melirik jahil pada Raja Bhian.
Raja Muda itu mencubit pelan ujung hidung Zhia gemas.
"Kamu pikir wanita itu barang apa! harus di koleksi segala, bagi Cami mu ini satu pasangan hidup saja sudah cukup tidak perlu yang lain" sahut Raja Bhian tegas menatap Zhia yang malah nyengir.
"Catri tahu kok kalau Cami tidak menginginkan pernikahan itu, tenang saja" kata Zhia santai tersenyum kecil pada pria di sampingnya.
"Jadi kenapa kamu malah kasih kesempatan untuk mereka supaya..."
"Stt" Zhia meletakkan jari telunjuknya di bibir Raja Bhian.
Zhia menghentikan ucapan calon suaminya yang ternyata berpikiran sama dengan yang lainnya. Mereka berpikir kalau Zhia pasti akan mencari Selir dan Permaisuri untuk Raja Bhian, itulah sebabnya para pria tua tadi sangat terlihat bahagia tanpa tahu apa maksud dari Zhia melakukan hal itu.
"Memangnya kamu pikir Catri mau apa punya temen berbagi suami! maaf ya Catri tidak berminat untuk hal itu dan kalau Cami pun berniat untuk memiliki Selir, Catri pastikan kamu tidak akan pernah bisa menemuinya nanti dan kamu juga tidak akan bisa memerintah lagi di kerajaan kamu sendiri" ancam Zhia pada Raja Bhian.
Bukannya marah atau kesal mendengar ucapan Zhia, Raja Bhian malah tersenyum tipis dan ingin mendengar lagi apa yang akan di lakukan gadis itu kalau sampai ia memilih Selir atau Permaisuri.
"Gimana caranya kamu melakukan itu?" tanya Raja Bhian dengan sebelah alis terangkat naik.
"Sebelum kamu memilih Selir itu maka Catri akan meminta di nobatkan jadi Ratu dan akan mengajukan beberapa hal sebagai kekuasaan sang Ratu, salah satunya berkuasa penuh terhadap Raja dan segala keputusan Raru tidak pernah salah dan tidak bisa di bantah, karena sejatinya wanita itu tidak pernah salah" Zhia terkikik geli dengan ucapannya sendiri.
Bagaimana mungkin seorang manusia tidak pernah salah? itu hanya ucapan para wanita yang ingin selalu merasa benar dan tidak ingin di salahkan saja. Serta apa yang di inginkannya sebisa mungkin di turuti.
"Wah cukup berat juga kalau begitu memiliki Ratu ya! tapi ya sudahlah, kamu bisa mengatur segala kebutuhan dan kepentingan istana selama itu tidak melanggar peraturan dan masih di batas normal yang sewajarnya" ucap Raja Bhian mengelus rambut Zhia pelan.
Zhia mengangkat jempolnya dengan tersenyum, lagian dirinya juga masih sadar diri untuk tidak bertindak berlebihan. Dirinya bahkan baru berencana untuk melakukan sesuatu dua hari lagi sebagai balasan atas hinaan yang di terimanya dari para pria gila jabatan yang kemungkinan akan mengirimkan anak gadis mereka untuk ikut jadi Selir atau Permaisuri Raja.
"Jadi, bisa kamu beritahu apa yang sedang kamu rencanakan untuk dua hari kedepan" ucap Raja Bhia yang benar-benar merasa penasaran dengan maksud gadis di sampingnya.
__ADS_1
"Hanya ingin menunjukkan pada mereka semua kalau tidak ada wanita lain yang pantas menjadi pendamping Raja Bhian selain Putri Zhia seorang, entah itu jadi Selir atau Permaisuri tidak ada wanita lain yang bisa berada di sisi Raja Bhian" sahut Zhia santai.
"Tapi Cami merasa kalau akan ada pembalasan atas penghinaan terhadap Catri tadi" gumam Raja Bhian dengan ekspresi seperti sedang berpikir.
"Hanya sedikit kok, selebihnya untuk menyadarkan mereka supaya tidak berkhayal terlalu tinggi untuk bisa berada di samping Raja" kata Zhia yang memang mendengar gumaman pria di sampingnya.
"Baiklah, Cami percaya kalau Catri bisa mengatasinya dan pastikan juga kalau mereka tidak akan bisa menjadi yang kedua atau ketiga dan seterusnya ya" canda Raja Bhian tersenyum tipis pada Zhia yang mengangguk setuju.
Keduanya terus melangkah meninggalkan ruangan pertemuan hingga mereka keluar gedung. Raja Bhian melotot dengan kaget melihat keberadaan kuda kesayangannya yang sedang memakan bunga-bunga di dekatnya yang menurutnya enak di makan.
"Qai!" panggila Raja Bhian dengan suara dinginnya.
Dirinya memang tidak suka kalau kuda kesayangannya di keluarkan dari kandang tanpa seijinnya, dan bukan dalam keadaan perawatan.
"Maaf Yang Mulia, saya..saya juga tidak tahu" takut Panglima Qai akan kemarahan Rajanya.
"Kemana pengurusnya? kenapa dia bisa membiarkan si Hitam berkeliaran? apa dia sudah bosan bekerja?" kesal Raja Muda itu.
Zhai yang melihat kemarahan calon suaminya hanya karena kuda hanya bisa menghela napas saja. Ternyata calon suaminya itu sama dengan sang kakak Ballu yang akan marah jika kuda kesayangannya tidak di rawat dengan baik.
"Jangan bilang kalau kamu yang bawa si Hitam kesini!" Raja Bhian memicingkan kedua matanya melihat Zhia yang maish nampak santai.
Tentu saja Raja Bhian bisa mengatakan hal itu karena tadi Zhia yang mengatakan ingin berkuda. sudah pastilah kalau Zhia sang pelaku yang sudah membawa si Hitam ke depan ruangan aula rapat.
"Ya, tadi Catri masih berkuda naik si Hitam, tapi Kasim kamu malah manggil supaya datang kesini, jadi ya sudah sekalian si Hitam di bawa supaya cepat karena memang lagi naik dia tadi "santai Zhia menjawab tanpa takut.
Raja Bhian menghela napas sejenak, sudah ku duga pikirnya.
Pria itu menarik tangan Zhia mendekati si Hitam, lalu mengangkat tubuh Zhia di naikkan ke atas si Hitam. Raja Bhian juga naik setelah Zhia duduk di atas si Hitam tanpa menolak.
Kini keduanya sudah berada di atas kuda dan mengarahkan si Hitam untuk kembali ke area kandang.
"Si Hitam tidak menyakitimu kan! biasanya dia tidak suka di dekati orang lain dan akan menendang atau mengibaskan ekornya hingga mengenai orang yang mendekatinya" jelas Raja Bhian.
__ADS_1
"Jangankan si Hitam, Koko milik kak Ballu yang sangat ganas saja bisa Catri taklukan" ucap Zhia memasang wajah bangganya karena ia memang bisa menjinakkan kuda kakaknya yang sangat ganas itu hanya dalam sekali pertemuan saja.
Bahkan sang pengurus kuda saja butuh waktu beberapa bulan untuk di terima oleh Koko si kuda milik Pangeran Ballu. Kalau si pemilik jangan tanya lagi, Pangeran Ballu butuh waktu seminggu untuk bisa menundukkan kuda ganas yang pernah membunuh prajuritnya saat akan menangkapnya di hutan dulu sebagai buruan.
Awalnya Pangeran Ballu takut kalau Zhia bisa di sakiti, tapi ternyata si Koko tidak menunjukkan reaksi ganas pada zhia dan malah terkesan baik karena hanya sekedar menolak saja saat akan di sentuh tanpa menyakiti.
"Ya sepertinya kamu lebih cocok menjadi gadis pengurus kuda "canda Raja Bhian.
"Pengurus kuda paling cantik tentunya" sahut zhia terkekeh membalas candaan Raja Bhian.
Tentu saja Raja Muda itu terkekeh juga karena Zhia bukanlah gadis yang mudah marah hanya demgan candaan seperti itu. Zhia bisa membedakan candaan dan ucapan serius, jadi Raja Bhian tidak harus repot membujuk hanya karena Zhia merajuk dengan candaannya.
Setelah tiba di kandang kuda, Raja Bhian dan Zhia turun. Si Hitam di biarkan masuk kandang lagi sementara kedua sejoli itu kembali melangkah meninggalkan area kandang menuju kediaman utama.
------------
Hay teman teman semua...
Sembari menunggu cerita ini update, yuk baca juga cerita lainnya punya Author.
Author banyak promosi ya hehehe
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak juga ya😁😁
__ADS_1
Bagi yang sudah pernah membaaca, TERIMAKASIH.