
Lama Pelangi mengabaikan tangan Guntur, dia malah celingukan sana sini macam nyari sesuatu. Lantas membuat Guntur mengikuti arah pandang Pelangi.
"Excuse me, Miss. Tangan saya ada di sini!" tangan Guntur ogah turun sebelum Pelangi menyambutnya. Bodo amat deh ah sesemutan juga.
"Aku tahu!" ketus Pelangi. "Mana kekasih nenek sihir mu yang telah melukai kaki ku?" tanya Pelangi dengan nada kurang bersahabat.
"Dia sepupu ku, bukan kekasih ku. Dan maafkan lah dia," pinta Guntur.
"Hm, ogah__ah, baiklah..." Pelangi meralat. Dia tersenyum licik. "aku akan memaafkannya tapi perbaiki dulu ban mobil ku," syaratnya. Gadis pintar itu tidak mau mempunyai hutang balas jasa, bila mana Guntur membantunya cuma cuma, itu bukannya sama dengan hutang berat?
"Plus berkenalan," Guntur pun menawar keinginannya. Sungguh, dia penasaran ke wanita satu ini. Seperti tidak asing baginya.
"Kerjakan dulu." ujar Pelangi sedikit menggeser posisinya agar Guntur bisa membetulkan ban mobilnya. Dia sudah mengenali siapa laki laki di hadapannya yang tidak banyak berubah wajah itu, sejak remaja sampai dewasa saat ini.
" Guntur, namanya? itu berarti wajah si onta ini adalah Guntur yang dulu memberikan masalah satu malam penculikan itu dong?" Batin Pe mencoba meyakinkan dirinya. Tapi benar kayaknya? Kejeliannya tidak kalah hebat kok oleh si manusia dingin...Topan.
Pelangi berdiri santai di sisi jongkok Guntur yang bersusah payah mendongkrak ban mobilnya. Bibirnya tersenyum manis, akhirnya dia menemukan teman lain di Negara asing ini selain para Kurcil.
"Uh, sudah selesai, Nona."
Setelah beberapa menit, perjuangan Guntur telah selesai. Dia menghela keringat di dahinya, sehingga ada noda hitam bekas ban kotor menempel di jidat itu.
__ADS_1
"Hahahaha, lucu. Dahi mu..." Pelangi tertawa riang. Guntur ikut tersenyum seraya matanya tidak lepas dari wajah cantik alami itu.
"So...nama mu siapa?" Guntur menagih janji dengan tangan kembali menjulur setelah telapaknya dia bersihkan asal asalan menggunakan kain sapu tangannya.
"Aku Pe__ Shiiit, AWAS!"
Alih-alih menyambut tangan itu, Pelangi justru mendorong kuat Guntur untuk menjauh di tengah jalan yang di pijari mereka. Ada mobil Topan yang sepertinya mau menghantam Guntur karena berani mau menyentuh kulitnya, walaupun sekedar berjabat tangan. Bagi Topan itu adalah kejahahatan tidak bisa di maafkan, memang luar biasa kembarannya itu. Luar biasa nyebelinnya maksudnya.
"Pan!" Bentak Pe saat jendela mobil Topan terbuka.
"NAIK CEPAT!" Topan tak kalah keras membentaknya. "Dan siapa pun kamu, jangan berani mendekati dia," sambung Topan ke Guntur yang berdiri di sisi jalan berawalan posisi Pe. Mobil Topanlah pembatas Pe dan Guntur saat ini. Mata Topan memancarkan permusuhan. Guntur yang melihat itu hanya memasang wajah datar bak tembok, padahal jujur dalam hatinya penasaran. Siapakah laki laki itu? Pacar si gadis yang membuatnya tertarik bak punya magnet atau sudah menjadi suaminya. Ah... boleh jadi pebinor nggak sih?
"Iya!" ketus Pelangi terpaksa menurut, karena percuma pun melawan kepala batu seperti yang dimiliki Topan. Dia pun pergi tanpa mempedulikan Guntur lagi tentang janji memberitahukan namanya.
Topan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pe tau, Topan marah karena dia keluyuran plus melihat Guntur ingin mengajaknya berkenalan. Memang menyebalkan Topan itu bagi Pelangi.
"Itu ada jurang di belokan tajam di depan sana, bagaimana kalau kita terjun bersama mobil ini?" Pe sengaja mengolok kekesalan kembarannya.
"Ide bagus!" Topan menyahut datar, dia semakin menginjak pedal gasnya membeli ledekan Pelangi.
"TOPAN, STOPPOOO BEGOOO... AAARGH!" Pelangi yang memberi saran, tapi dia pula yang ketakutan sendiri di saat Topan benar benar ingin mengabulkan saran terjun bebas ke jurang. Dia menjerit seraya memejamkan matanya karena takut dengan kegilaan hakiki Topan.
__ADS_1
Ckiiiitt...
Braaak...
Hanya bemper depan mobil itu yang terbentur besi pembatas jalan. Sedikit saja Topan telat me-rem mobilnya maka duarrr... pintu alam lain sudah menunggunya lewat jurang di depan sana.
"Huuu..." lemas pelangi dengan tangan mengelus dadanya. Jantungnya sudah mau copot. "GILA, NYET!"
Topan hanya menyunggingkan bibirnya akan teriakan umpatan Pe di sisi telinganya.
"Jangan pernah membantah ku lagi. Dan siapa laki laki sialan tadi?" Topan mengintimidasi adiknya.
"Dia cuma___"
"Lupakan, dia tidak penting."
Pelangi speechless, saudaranya memang aneh membangongkan. Bertanya tapi tidak mau di jawab. "Aku ingin makan daging manusia!" saking kesalnya, Pe menggigit kesal punggung tangannya sendiri dengan mata teramat sinis menghardik wajah Topan yang malah tersungging devil.
"Akan ku kabulkan setelah memotong tangan pria tadi yang mau menyentuh tangan indah mu. Atau setelah Charel menemukan wanita yang membuat kaki mu terluka." Topan kembali melajukan mobilnya.
"GILA, GUE YANG GILA. BUKAN ELU!" Pe ingin menangis jadinya. Topan sangat menyebalkan di dalam hidupnya. Dia pun sudah melupakan apa itu kata aku kamu yang sudah terganti Lo gue.
__ADS_1