Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)

Chip Canggih Sang Mafia(Kurcil Smart)
Sugesti Pelangi


__ADS_3

"Nana!"


"Eum, ada apa Pe?"


"Kamu bosan nggak di sini terus?" Pelangi sudah mulai melancarkan otaknya.


"Bosan, sangat! apalagi aku meninggalkan pekerjaanku. Aku mau kerja!" Keluh Gerhana, curhat.


Pe seketika mendekatkan bibirnya ke Nana.


"Kalau bosan, kamu ajak aja Topan jalan jalan, atau kalau mau kerja, kamu tinggal ngomong aja ke Topan dengan taktik air mata. Kalau masih tidak dikabulkan, kamu bujuk Topan dengan rayuan. Pasti akan luluh deh."


"Rayuan?" bingungnya. "Seperti apa tuh?"


Yaelah, pura pura polos lagi. Kenapa Vay tidak bertanya ke Nana tadi tentang efek bercinta itu ke Nana, sakit atau enggak? Pe membatin. Dia baru ingat kalau Gerhana katanya sudah pernah ehm bersama Topan. Bukannya Topan pernah mengakuinya?


"Ya, rayuan! Tapi merayunya bukan hanya untaian kata-kata saja, melainkan harus disertai pergerakan yang sedikit agresif."


Mampus! gue kerjain lo, Topan. Batin Pelangi bersorak kegirangan karena Gerhana main angguk angguk saja.


"Baiklah! Demi pekerjaan ku yang upahnya tidak seberapa, tapi sangat ditunggu-tunggu oleh banyak orang, aku akan melakukannya. Lagian siapa Topan itu yang sok berkuasa merantai kebebasan ku. Huuu, awas saja!"


"Benar amat! mari berjuang demi kebebasan dari rantai tak kasat mata itu." Pe memprovokasi. Padahal demi kebebasannya sendiri.


Tapi tunggu...? Entah apa yang dimaksud oleh Gerhana yang ditunggu-tunggu banyak orang? Pe penasaran, tap tidak mau bertanya banyak, yang penting Gerhana begitu mudah disugesti.


"Di mana sekarang si batu itu, Pe?" Gerhana sudah berdiri, siap beranjak.


"Di ruangan kerjanya, lantai dua, pintunya ada tulisan nama Topan. Kamu masuk saja dan langsung melakukan apa yang barusan aku ajarin." Terang Pelangi. Dalam hatinya berkata... Semoga Gerhana bisa membuat Topan pusing.


"Ok!" sahut Gerhana dengan jempol dia angkat. Ternyata Pe tidak seseram seperti awal berjumpa, yang mampu membuatku terpipis-pipis. Batinnya. Dia tersenyum hangat.


Gerhana pun akhirnya menelusuri ruangan dan tangga menuju lantai dua, mencari pintu yang ada nama si batu itu.

__ADS_1


Nona, ada yang bisa kami bantu?


Pertanyaan ini itu yang dilontarkan oleh beberapa anak buah Topan terdengar mengiringi langkahnya bila berpapasan.


Tidak!


Dan hanya satu kata itu yang bisa dikatakan Gerhana. Dia tidak mau merepotkan orang, lagian serem semua wajah-wajah mafioso Topan, iiiihh. Selain itu, dia 'kan sudah besar, masa nyari ruangan saja butuh dibimbing. 'Kan kata Vay, dia sudah termasuk penghuni markas ini karena sistem jebakan sudah tidak mendeteksinya sebagai penyusup. Jadi....Aman sentosa!


Ceklek...


"Cari mati ka___"


Topan menelan kembali kesarkasannya saat melihat pelaku yang membuka pintu ruangannya tanpa adanya ketukan pintu.


"Cari kebebasan," kata Gerhana seraya menutup pintu. Topan terdiam saat Gerhana mulai duduk di hadapan meja kerjanya, amat santai macam ruangan pribadi sendiri.


Mimik Topan sangat datar beut, padahal keponya minta ampun. Apa yang diinginkan Gerhana, hingga berani masuk ke tempat kerjanya.


Lima menit, sepuluh menit, bahkan lima belas menit berlalu. Gerhana tak kunjung bersuara, hanya diam membisu, disertai bibir manyun beberapa senti, matanya hanya memperhatikan Topan dengan sesekali berkedip. Topan yang lagi mengecek kerjaan perusahaan sebagai CEO, jadi tidak konsentrasi.


"Katakan keinginan mu?"


Akhirnya Topan tidak sabar juga.


"Aku mau jalan jalan." Gerhana cuma berdusta, dia mau kabur setelah berada di tempat umum. Cerdaskan?


"Jalan jalan?" Alis Topan terangkat satu. Gerhana manggut-manggut antusias.


"Ya, jalan jalan! Kamu punya uang banyak 'kan untuk memenuhi segala keinginan ku? Sebagai... katanya, pacar tuh jangan pelit!" Kenapa hanya berucap pacar berat amat bagi lidah Gerhana.


Ah, lihat saja...Gerhana akan membuat hati Topan kesal dengan tingkah lakunya yang dibuat-buat. Saran Pe tadi membuatnya punya keberanian untuk mengerjai si batu yang main klaim dirinya pacar. Rasakan pembalasan ku!


"Jangan mengecohku dengan alasan jalan jalan, aku amat tahu otak udang mu itu.Ck, pasti mau kabur setelah dikeramaian, kan?" Topan berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.

__ADS_1


Pokoknya, nyebelin tingkat dewa bagi Gerhana lihat.


Hais, Apa doi kata? otak udang? ah, mau marah tapi benar, aku orang lemot. Gerhana membatin, antara kesal tapi benar adanya. Giginya ingin sekali menggigit leher Topan macam drakula. Dongkol uih!


"Hiks, hiks, hiks! aku bosan di sini, ayolah Topan! kita nyari angin segar dengan pemandangan indah," hiks...hiks...hiks.


Cara kedua! Gerhana menangis terisak seperti sugesti Pelangi. Kudu menangis, katanya. Oke! sekarang lagi menangis paksa nih.


Lantas, Topan mengalihkan pandangannya ke gadis manis tapi sedikit konyol itu. Gerhana kini terisak-isak bohong dengan wajah dia tenggelamkan di atas meja kerja Topan, ke-dua lipatan tangannya menjadi penopang. Intinya sih, biar Topan tidak bisa membaca air mukanya yang penuh akting dusta.


"Gerhana! Sudahlah! Tidak akan mempan bagiku. Suara jelek mu itu tidak pintar berakting untuk membohongi ku. Aku tahu nangis kejer yang penuh perasaan itu seperti apa, dan sebaliknya pun sama. Suara tangis mu ini seperti kucing keselek tulang ikan, terlalu dibuat-buat." tandas Topan. Dalam hatinya, Topan tersenyum geli akan sikap Gerhana yang penuh akting bodoh. Entah siapa yang sudah mensugesti gadis polos ini? awas saja ketahuan orangnya!


Huawwwaa... Gerhana makin menjadi jadi isakannya karena Topan amat jeli dan juga cuek pakai benget. Ada palu nggak sih buat ketuk-ketuk kepala Topan? rasanya, Gerhana ingin menghancurkan kepala itu. Ah, dia pun mau ngemilin batu bata merah aja saking kesalnya.


Topan sampai menyumpel kedua telinganya menggunakan tissue yang sebelumnya sudah di gulung-gulung kecil, membiarkan Gerhana nangis kejer sesuka hatinya. Dia tidak mau mengambil resiko besar, kalau benar adanya Gerhana lolos kabur darinya? bahaya! nanti juga akan berhenti nangis bila mana sudah capek. Jadi, santai!


Hiks...


Capek nangis tidak jelas yang tidak dihiraukan oleh si batu, Gerhana akhirnya mengangkat wajahnya dari meja itu. Dia mendelik sinis ke Topan yang santai beut.


Ya ampun, pantas si batu kagak congean, dia nyumpel telinganya. Dasar, batu ! nyebelin.


"Haus, Nana? ini, ambillah air minum ku, masih utuh." Topan menawarkan segelas air putih amat santai tanpa dosa. Dia tahu Gerhana pasti menyumpahi dirinya dalam hati. Bomat dianya sih.


"Ambilah!" tawarnya lagi dengan melirik gelas cantik tinggi miliknya.


"Aku maunya segalon!" Gerhana menarik gelas itu sedikit kasar sehingga airnya ada yang membasahi file Topan.


Glek...Glek...


Gerhana meneguk cepat air itu hingga tandas. Topan yang melihat itu tersenyum tipis yang masih duduk santai di kursi kerjanya. Lucu juga teman kecilnya ini, lirihnya. Punggung itu dia senderkan ke kursi saat Gerhana berdiri dari kursi hadapannya.


"Mau kemana?" tanyanya. Dia pikir Gerhana akan keluar ruangan. Padahal gadis itu kian mendekat ke duduknya. Gerhana akan menerapkan cara ketiga dari sugesti Pe... Merayu manja dengan tindakan.

__ADS_1


Kamu pasti bisa, Gerhana! raba-raba rahang doang pasti bisa... Semangat! Gerhana menyemangati dirinya sendiri.


__ADS_2