
Sang Surya terbit malu malu di pagi hari ini padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Para Kurcil sudah mulai berpencar untuk mencari keberadaan Pelangi.
Di sisi Embun dan Badai, keduanya masih terpulas bersama dengan tubuh masih dalam keadaan naked.
"Uuh."
Embun melenguh pelan. Terbangun mendahului Badai. Nafasnya sedikit susah, entah ada apa yang menimpa perutnya yang rasa rasanya berat sekali menindihinya.
Mata itu pun membulat ketika sadar penuh dari alam tidurnya, ternyata ada tangan seorang pria yang melingkar nyaman dibagian perut, terus wajah pria ini bertengger nyaman di dekat balonnya.
"Astaga! Apa yang___aarghh, gila! Aku dan pria ini sudah__" Gumaman batin Embun terjeda. Dia mencoba mengingat ingat kejadian di club seraya menatap lekat lekat wajah Badai yang masih tertidur kelelahan.
" Pria ini memang pria sama yang aku sosor? Gila kamu, Embun! Bego kok dipelihara!"
Karena merasa dirinya yang bersalah yang telah memancing ikan kakap itu terlebih dahulu, Embun merasa bingung. Mau menyalahkan pria ini pun percuma, yang ada masalah baginya. Cukup hari ini dia membiarkan pria ini selamat dari nya, tapi bila suatu saat berurusan alot lagi....dia akan mengeluarkan sikopetnya. Lihat saja, nanti!
" Anggap aja buang sial! Dan semoga kita tidak bertemu lagi, Pria asing!"
Embun pun bergegas beranjak pelan dari kasur. Sialnya lagi, dress mahal nan cantik miliknya sudah setara lap sobek sobek yang baru dipungutnya.
"Aku pakai apa dong?" lirihnya mengeluh.
Ide bagus, Embun meraih kemeja putih Badai. Setelah terpasang yang hanya sebatas paha, dia pun bergegas pergi tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Lima menit kepergian Embun tanpa permisi, Badai terbangun dari tidurnya. Kepalanya amat pening. Dia pun menarik tubuh polosnya segera duduk seraya memegangi pelipisnya.
"Kok aku telanj__ Ishh!" Badai tetiba meringis pelan ketika kesadarannya sudah seratus persen terkumpul. Akhirnya pertanyaannya terjawab sendiri akan tubuh polosnya saat melihat ada bercak darah kering di atas seprai putih di sisi duduknya.
"Kemana dia? Apa dia tidak tertarik kepada uang yang ku janjikan? Dah Oh astaga.... Pelangi! aku harus mencari dia lagi."
Karena mengingat nama saudarinya, akhirnya Badai tidak mempedulikan wanita asing tersebut yang sudah sangat memuaskan dirinya. Badai beranjak dari kasur. Mencari cari seluruh benangnya namun sialnya, kemejanya ada di mana?
Tidak mau pusing, Badai mencari-cari smartphonenya.
"Halo, Miko! tolong datang ke tempat yang sudah aku kirim alamatnya ke ponsel mu. Bawakan satu pakaian lengkap untuk ku."
__ADS_1
" Siap, Bos!"
...****...
"Hai, sudah bangun, Pe?"
Di Villa, Guntur menyapa langsung wanita yang baru membuka matanya setelah operasi pengeluaran peluru kemarin.
Dia tersenyum manis ke Pelangi yang masih dalam posisi tengkurap.
"Aku ada di mana?" parau Pelangi langsung menyadari kalau ruangan ini bukanlah rumah sakit, apalagi kamar nuansa pinknya. Dia ingin duduk tapi segera di tahan oleh Guntur.
"Kamu masih lemah, dan tenang saja... kamu berada di tempat yang aman." terang Guntur seraya membantu Pelangi untuk duduk karena memaksa bergerak.
"Aku mau pulang!" Pelangi main copot jarum infus yang melukai tangannya.
"Jangan!"
Guntur kalah cepat melerainya, dia gemas jadinya. Mau marah tapi Pelangi itu keras kepala, tidak bisa dilerai bila mana sudah ingin berbuat.
Dan...betul adanya, Pelangi memang merasakan tubuhnya masih dalam keadaan payah, tetapi dia memikirkan para rekannya. Pasti mereka telah panik mencarinya.
"Aku sudah membaik, ku mohon jangan menahan ku atau aku tidak mau mengenalmu sebagai teman." Pe mengancam. Guntur hanya menghela nafas berat. Sejujurnya, dia amat senang apabila Pelangi ada di dekatnya. Tetapi dia tahu batasannya yang memang bukan siapa-siapanya gadis keras kepala ini.
"Baiklah, aku akan mengantarmu," pasrah Guntur. Pe menggeleng tidak mau. Jelas, Pe menolak. Dia tidak mau Guntur yang orang asing mengetahui markas si Kurcil. Walaupun orang di hadapannya ini kenalannya sedari kecil, tetapi itu belum menjanjikan kalau Guntur selalu baik. Pria ini sedari kecil adalah orang misterius, datang dan pergi begitu saja seperti kuyang.
"Cukup telpon Top__Badai saja, biarkan dia yang menjemput ku!"
Insting Pelangi tentang Topan akan mengamuk bila mana bertemu Guntur, dengan itu dia lebih memilih Badai saja yang masih bisa menahan amarahnya walaupun sedikit.
Lagi lagi, Guntur hanya pasrah. "Handphone ku ada di kamar pribadi ku, tunggu sebentar!"'
Tangan Guntur reflek mengelus lembut rambut Pelangi, seraya tersenyum manis kepadanya.
Dan Entah kenapa Pelangi merasakan ada hal aneh ke Guntur yang merasa si anak onta itu memperlakukannya sedikit istimewa.
__ADS_1
"Jangan kepedean, Pe!" Pelangi menggeleng meledek diri sendiri dengan mata menatap Guntur yang sudah menuju pintu.
Di luar kamar, Guntur berpapasan dengan Embun yang terlihat baru pulang.
"Mbun, kamu berantakan begini dan memakai baju seorang pria. Kamu habis dari mana, eum?"
Guntur meneliti penampilan Embun dari atas sampai bawah. Sialnya dia melihat banyak tanda merah di leher sahabatnya, plus tadi juga Guntur melihat Embun sedikit meringis dalam langkahnya yang terlihat aneh cara jalannya.
"Habis memangsa buaya." Embun tersenyum paksa ke Guntur yang menatapnya iba seketika akan pernyataan blak blakannya.
"Ayolah, aku menikmatinya! hitung hitung sudah membuang perasaan ku kepada mu, jangan menatap kasihan kepada ku. By the way, apakah gadis mu itu sudah sadar?"
Embun meringis dalam hatinya saat mengatakan menikmatinya. Dia berdusta karena menyadari tatapan iba Guntur. Maaf, dia memang menyukai dan sangat mencintai Guntur, tetapi dia sangat anti dikasihani.
"Embun, jangan merusak diri sendiri___"
"Ayolah! aku baik baik saja dan akan selalu begitu. Sudah ya, aku mau mandi. Setelahnya aku akan datang ke kamar Pelangi untuk memeriksa lukanya."
Embun segera berlalu cepat. Dia tidak mau Guntur melihat matanya yang sudah memanas menahan tangis, karena sakit didua sisi.... antara, tidak terbalas cintanya dan naasnya, mahkotanya raup begitu saja. Dia kecewa pada dirinya sendiri.
Guntur hanya menatap punggung Embun dengan tatapan iba.
"Apakah aku salah menolaknya? Dia memang wanita baik, tapi perasaan tidak bisa dipaksakan, bukan? Maafkan aku, Embun." Gumam Guntur merasa tidak enak pada Embun.
Kini, di dalam kamar mandi. Embun mematuk penampilan polosnya di depan cermin. Dia menggosok kasar lehernya agar tanda cinta pria asing itu hilang. Bukan hanya di leher, tapi hampir seluruh tubuh bagian dada itu penuh dengan tanda merah laknat.
"Aaaarghhhh, hiks hiks hiks, sialan! bodoh! kamu wanita bodoh, Embun!"
Embun menjerit, terisak-isak seraya mengacak-acak peralatan alat mandinya. Dia tidak marah ke pria asing tersebut, melainkan marah dan kecewa pada dirinya dan takdirnya.
Sementara di ruangan lainnya, Guntur sibuk menelpon nomer Badai sesuai keinginan Pelangi.
"Dua kali sambungan tapi diabaikan, Pe!" kata Guntur memamerkan gawainya itu yang saat ini Pelangi duduk lemas di kasur.
"Sekali lagi!" pinta Pelangi dengan suara paraunya. Bibir itu terlihat pucat karena memang belum pulih. Pe hanya merasa bersalah karena pasti semua rekannya dibuat repot karenanya.
__ADS_1
"Baiklah!" Guntur menurut patuh seraya mengambil duduk tenang di sisi Pelangi.