
Tingg.....
Di sisi lain, Guntur yang sibuk mencari info keberadaan Mommy-nya. Tiba tiba mendapat video berdurasi singkat.
"Mommy, Mom." Saraf tangan Guntur serasa mati. Gawai yang dipegangnya terjatuh begitu saja saat durasi waktu itu mati.
Leher Mommy-nya telah digantung. Itulah yang ada di dalam rekaman singkat tersebut.
"Matiiiinn...." Teriak Guntur prustasi.
Ting...
Gawainya berbunyi lagi, tetapi kali ini hanya sebuah pesan.
Segera tangkap salah satu Kurcil Smart atau kalau tidak, tali itu akan mencekik Mommy-mu!
Simalakama, itulah yang di rasakan Guntur saat ini. Antara Mommy-nya atau menabuh genderang perang bersama si Kurcil kalau kalau dia bergerak. Bagaimana dong? posisinya sangat terdesak, bagai hidup tapi tidak bebas untuk bernafas.
"Aku akan membantumu, tenanglah!"
Dari belakang, Embun menepuk pundak Guntur yang merosot lemah. Dia sudah melihat isi video dan pesan itu.
"Aku juga ada," kata seorang laki laki yang wajahnya mirip dengan Embun. laki laki itu adalah adik kesayangan Embun... Erlan.
"Terima kasih!" ungkap Guntur dengan nada bergetar. Dia amat lemah kalau sudah disangkut pautkan keselamatan sang Mommy.
Dan mereka pun berdiskusi mencari jalan tengahnya. Namun tidak ada! ujungnya buntu kecuali.....?
...*****...
"Woyyy, berani baraninya kamu__"
Dor...
"Dibi, sialan!" Pekik Topan seraya berlompat cepat menghindari tembakan Dibi, yang sengaja membidik kakinya. Hingga, tembakan itu hanya mengenai lantai.
Hahahaha...
Bagaimana Topan tidak marah, Dibi telah membawa pergi keluar Pelangi. Dengan pulang pulang merangkul pundak adiknya. Enak saja main sentuh. Dia tidak terima, dengan itu dia maju bermaksud untuk memberi jab ke Dibi. Tapi sialnya, seorang polisi itu juga sigap menyerangnya duluan menggunakan senjata ber-legalnya.
Mana sang Kurcil menertawakannya, selain Badai yang datar tetapi matanya juga menghardik tangan Dibi.
Pe sendiri hanya menggeleng cuek. Topan dan Dibi dari kecil memang seperti guguk dan meong. Tetapi, dalam hati...Pe tau kalau ada kasih sayang kerabat di antara dua pria itu, cuma hanya gensih satu sama lain untuk mengakuinya.
Gerhana sampai speechless melihat semuanya. Bercandanya serem, pakai senjata dan kekerasan, tapi siapa lagi pria yang bersama Pe, ya? batin Gerhana dengan mata memperhatikan Dibi. Jujur, dia sebenarnya ngeri ngeri sedap berada di antara mereka. Rupawan tapi aslinya mempunyai sisi iblis masing masing.
"Jangan sentuh adik ku," tajam Topan seraya berdecak pinggang. Dibi hanya tercengir bodoh di depan pintu itu.
"Elaaah, rangkul begini aja pelit amat. Bagaimana kalau aku cium saja. Iya nggak Pe?"
Bukannya takut, Dibi malah semakin lancang menggoda dengan tangannya seketika merangkul mesra pinggang Pelangi.
Dibi tidak tau saja, kalau Pe sudah berdebar keras setiap Dibi menyentuhnya.
__ADS_1
"Dibi!" teriak Topan. Anak sahabat orang tuanya minta senggol bacok rupanya.
Dibi yang merasa cukup bercandanya karena Topan benar benar marah, segera melepaskan rangkulannya dan maju tanpa takut ke hadapan Topan yang membara.
Kurcil lainnya hanya diam menonton dengan duduk santai nya masing-masing. Pe pun mengambil duduk di dekat Vay yang muram terus tu wajah. Vay masih menaruh kesal ke Petir.
Tuinggg...
"Dulu, lo itu berada di gendongan gue. Dot sus*, gue yang megangin setiap lo minta ngempeng, ingus dan eces lo, gue pula yang bersihin. Popok yang berisi pup Lo, kadang gue yang di suruh buang ke tong sampah sama Oma Vane dan Oma Rose. Ck, setelah besar begini, mau mukul gue? Berani amat lo! mau aku borgol, hah? Dan Pe itu sudah menjadi adik gue juga, jangan parno, bocah!"
Dibi menoyor gemas jidat Topan, setelahnya berketus ria menjabarkan perjuangannya ngasuh si Triplets, yang waktu bayi si Triplets tidak mendapat belaian tangan seorang Ibunda karena Mentari waktu itu koma setelah melahirkan mereka.
"Ck, borgol dan senjata SNI lo kagak ngaruh di Negara ini." Ledek Topan. "Dan andai kita bukan kerabat, gue ledakin mulut lo itu menggunakan coklat Ama." Ketusnya seraya berjalan sengit, menabrak bahu Dibi, lalu duduk di sisi Gerhana dengan wajah kembali datar.
"Kata siapa, eum?" Dibi pun duduk di salah satu sofa kosong itu, bersisian dengan si Twins.
"Ini surat kuasa untuk bertugas di Negara ini, kak Dibi?" Bhumi merebut surat kuasa itu yang telah di pamerkan Dibi. Dan sang empu mengangguk pelan dengan tatapan meledek Topan.
Semuanya pun diam dan roman romannya, Dibi bukanlah berkunjung biasa melainkan punya tugas. Itulah tebakan kompak si Kurcil.
"Kenapa? ada masalah apa?" tanya Badai penasaran.
"Bolehkah kita berbicara serius di ruangan tertutup? khusus Kurcil saja." Dibi melirik Gerhana. Dia baru menyadari ada personil baru di antara bocah bocah nakal itu. Bagi Dibi, semua Kurcil itu masih kanak-kanak yang sama, anak anak nakal yang dulu pernah main kabur kaburan dari para orangtuanya, dan sialnya.... Dibi-lah yang rugi, masa kabur kagak bawa duit, masuknya ke mall lagi. Pan dompet dia yang terkuras habis oleh kenakalan sepuluh orang itu.
"Aku ke kamar saja, kalian lanjutkan pembicaraan seriusnya." Gerhana mengerti maksud Dibi. Dia pun berlalu yang sebelumnya ditahan Topan. Tetapi dia kekeuh tidak mau menggangu.
"Kita ke ruang bawah tanah saja," usul Angkasa. Dan di setujui oleh semuanya.
"Neng Bule, kok dari tadi diam saja? apa perlu aku kasih vitamin ehem supaya jadi semangat," bisik nakal Petir di sela langkahnya. Vay berhenti sejenak, lalu menendang kesal bokong Petir.
"Aaww," ringis Petir. Dia mengelus-elus bokongnya seraya menatap punggung Vay yang cuek kembali berlenggok mengikuti teamnya.
Untung sayang, kalau tidak... beeh, gue pites lo. dumel Petir gemas.
Sampai di ruangan khusus, Kurcil berikut Dibi duduk di meja bundar besar itu, dengan wajah tidak ada lagi raut kejahilan.
Kalau dalam keseriusan, hal pribadi mereka kesampingkan demi keprofesionalan.
"Katakan!" sungut Badai tidak sabar.
"Saya di sini dalam misi seperti kalian. Bedanya, kalian mencari chip itu, sedangkan saya datang dalam bertugas untuk mematahkan organisasi mafia yang telah berani menyelundupkan narkoba besar besaran ke teritori ku."
Air muka Dibi sudah memancarkan kesangarannya, dia juga sudah mulai berbicara formal, pertanda dia dan sang Kurcil bukan lagi persahabatan melainkan rekan dalam pekerjaan.
"Dan hasil penyelidikan ante ante saya, organisasi itu digadang-gadang berasal dari Negara besar ini. Dan saya di sini, sudah mendapat wewenang penuh dari pihak petinggi setempat untuk melumpuhkan mereka."
Seraya berucap, Dibi menatap penuh arti Vay. Yang ditatap hanya menyeringai tipis.
"Terus, apa hubungannya dengan kami?" ketus Topan pura pura bodoh.
"Ck, Ada! bantu saya untuk mengungkapkan kejahatan mereka, aku hanya mempercayai kalian, bukan kepolisian setempat yang aku yakini...ada campur tangannya karena penyelundupan itu amat apik sampai ke Negara kita."Terang Dibi.
"Dan Vay, saya yakin... kamu sudah tahu dengan hacker mu, tentang siapa orang yang telah saya bicarakan," tebak Dibi. Vay mengangguk kecil karena sebelumnya dia dan Kurcil sudah pernah mendeteksi siapa saja yang memiliki organisasi bawa tanah yang ada di Negara ini.
__ADS_1
"Jerry Harper, salah satu Mentri penting di Negara ini, pria ambisius___"
"Yang pernah saya mutilasi anaknya karena sudah berani melukai Pelangi," potong Badai dengan amat santai mengakui kekejiannya di depan seorang polisi.
Dibi sampai melototkan matanya saat mendengar penuturan itu.
Glekk..
"Mutilasi?" tanya Dibi meyakinkan pendengarannya. Dia paham kalau semua Kurcil itu mempunyai sisi kejam nan baik, tetapi dia baru mengetahui kalau kekejaman mereka menyetarai Dajjal.
Badai mengangguk santai. "Dan siapa pun yang berani melukai fisik serta hati saudari ku, maka greeekk." Badai membuat pergerakan menggorok lehernya sendiri seraya menatap Dibi dan Pelangi bergantian.
Topan sendiri menyunggingkan senyum devilnya, setuju dengan pernyataan Badai.
"Ya, kalian memang sikopet gila. Dan kamu Pe, siap siap saja jadi perawan tua," ledek Dibi ke sekaligus si kembar tiga itu. Pe yang jadi topik, ngenes juga hatinya mendengar perawaan tua.
"Kembali ke topik utama," kata Ama. "Jadi, Kurcil harus memulai dari mana untuk membantu mu, Pak Polisi?"
Dan Dibi pun menceritakan sedetail-detail rencananya ke Kurcil.
"Ok, dimengerti, asal tidak melibatkan polisi setempat di Negara ini, aku sih setuju saja. Tau sendiri kalau ada polisi, urusannya harus formal... buat apa coba berperang kalau ujung ujungnya hanya dapat borgolan, iye kan? Kagak seru, enak tuh...lempar bom duar duar ada yang mati." Si mulut cerewet-Ama antusias. Dia sudah lama tidak menggunakan bom-nya, hingga semangatnya dua kali lipat.
"Cih, kapan kapan saya akan menskakmat coklat buatan mu itu, Ama. Itu pasti ilegal, non-izin dari pihak pemerintah."
"Hehehe, Piisss babe. Jangan, oke! saya 'kan menggunakannya dengan hal baik seperti saat ini akan membantu kak Dibi." Ama cengengesan. Benar kata Dibi, dia bak ******* yang membuat bom tanpa izin dari Negara.
"Cukup, bercanda nya. Kita mulai sekarang!" Petir menengahi.
"Ya, kita harus bisa menyelesaikan urusan kak Dibi secepatnya. Karena kami pun sedang konsen mencari cara aman untuk mengeluarkan chip itu dari tubuh Gerhana," ungkap Badai sebagai team medis Kurcil.
"Jadi chip itu sudah ditemukan?" Dibi baru tahu.
Dan Guruh pun menjelaskannya secara singkat.
"Kenapa membedahnya tidak di Indonesia saja? aku bisa membantu kalian di sana?" tawar Dibi.
"Tetapi sayangnya, kami sudah berpikir panjang untuk tidak melakukan kebodohan itu. Sama saja kita akan bunuh diri, kalau membawa musuh masuk ke rumah. Cermati, chip itu punya GPS aktif otomatis bila mana dikeluarkan dari tubuh Nana. Dampaknya, bisa saja keluarga kita pun akan menjadi sasaran musuh. Anda mau itu, Pak Polisi?" Lautan menjelaskan alasan Kurcil untuk tidak membedah Gerhana di Negara mereka.
"Yap, paham. Maaf, saya tidak berpikir panjang dulu. Jadi, mari mulai bantu saya sekarang juga." Dibi berdiri, mengakhiri pembicaraan misinya.
"Hal seru akan terjadi, asyik." Antusias Pe. Tetapi dia kembali duduk, ketika semua Kurcil berikut Dibi menatapnya tajam.
"Kamu tidak boleh ikut, ingat luka mu belum sembuh," Lerai Badai.
"Tapi__"
"Titik!" telak Topan melerai.
Hah, Pe hanya membuang nafas kasar nya. Itu tandanya dia akan berbosan bosan ria di dalam markas.
"Bye, Pe. Kita akan bersenang-senang. Kamu.... hahahaha." Ama meledek dengan sengaja menggantung ucapannya.
"Yaaakh, sana! pergilah kalian. Dasar nyebelin." ketus Pe meninggalkan segerombolan itu.
__ADS_1