
Beberapa menit yang lalu...
Ketika awal para kurcil baru meninggalkan markas. Pe membuka matanya dari tubuh lemah yang di penuhi luka cambuk.
Sekonyong konyongnya, dia bangun dari rebahannya secara paksa dari penjagaan Dibi.
"Aku mau pergi membantu mereka, Kak Dibi!" ujarnya setelah Dibi selesai menceritakan keberadaan Kurcil saat ini yang lagi otw berperang di sebuah pulau.
" Tapi, Pe....! kamu masih sakit! Kakak tidak akan mengijinkanmu!" larang Dibi seraya menahan bahu itu yang memaksa turun dari bed.
Namun sia sia saja, Pe yang sama saja berwatak keras kepala tidak mengindahkan larangan tersebut.
"Maaf....! Kak Dibi tidak bisa melarangku. Belen dan Jerry harus mati oleh campur tanganku juga." Mata Pelangi memancarkan dendam dan amarah yang menggebu, tatkala mengingat aksi kedua nama itu yang berani menyiksanya dalam keadaan terikat. PECUNDANG! umpatnya dalam hati dengan wajah cantik itu sudah menyeringai devil.
" Tetapi....Lukamu, bagaimana?" tanya Dibi cemas. Dia yakin, Pe pasti akan kesusahan dalam bertarung dengan keadaan luka luka cambuk.
"Ini luka kecil, aku punya obat anti nyeri sesaat, dengan cairan itu...rasa perih dan rasa sakit yang ada ditubuhku tidak akan terasa dalam jangka waktu tertentu." terang Pe. Dia pun menepis tangan Dibi yang setia menahan bahunya dan berjalan menuju ke lemari kaca yang terisi cairan cairan khusus miliknya.
Setelah meminumnya, Pe pun bersiap siap untuk pergi menyusul kurcil di temani Dibi yang hanya pasrah saja, karena Dibi tahu sifat Pe yang selalu memaksa bila mana sudah menghendaki sesuatu.
Semoga Topan tidak menyalakan aku... hadeeh! Batin Dibi yang sudah di atas helikopter. Pengoperasian mesin terbang itu pun, Pe yang mengendalikan dengan laju terbang di atas rata rata.
"Jangan sampai kita berakhir berenang di laut," sindir Dibi.
" Cerewet!" Pe menyahut malas.
"Beeeh, kasihan amat nanti yang akan menjadi suami mu. Dapat istri yang budek diberi tau." Dibi terkekeh setelah meledek adik bukan sedarahnya.
"Ck... Seraya mengemudi helikopter ini, kaki ku masih sanggup menendang kak Dibi. Biar berenang bersama dugong di laut lepas."
Mendengar nada tidak bersahabat Pe yang biasanya kalau dibecandai olehnya akan tersenyum, Dibi lebih memilih menzipper bibirnya daripada Pe betul betul mengindahkan ancamannya.
" Oke, oke! kakak tutup mulut! toh... orang waras memang harus menga___ tidak jadi." Dibi menelan kembali ledekannya dikala Pe melirik horor.
...******...
__ADS_1
Kembali pada waktu saat ini....
Di luaran sana masih terdengar kacau, letusan dari bom dan senjata masih terdengar ngeri masuk ke dalam indera Embun, yang sedang berusah melepaskan adik serta rekannya.
Bughhhh...
Dari belakang, satu anak buah Belen berhasil menyerangnya diam diam, hingga tendangan bertuan mengenai punggungnya, mampu membuat Embun terjerambab ke lantai.
"Kak/ Mbun....Awasss!" Seru dari Erlan dan Guntur dari dalam sel yang melihat musuh itu ingin menskakmat Embun dengan senjata api.
"Jangan harap!" Embun yang dapat peringatan segera berguling ke samping, seraya melempar pisau medis yang dibawanya untuk jaga jaga dalam keadaan genting seperti ini.
Musuh mati, pisau bedah kecil namun tajam itu, tertancap di dahi musuh.
Embun pun bangkit, lalu mengambil pistol sang musuh sebagai senjatanya. Setelahnya, dia meraih sebuah kunci dari mayat yang barusan dibunuhnya.
"Di luar sedang kacau! Kurcil sudah datang menyerang," terang Embun yang saat ini sedang berusaha membuka kunci jeruji dengan cara menjajal satu persatu kunci yang cocok.
Guntur yang mendengarnya, bernafas lega. Beda dengan Erlan yang tidak senang mendengarnya.
"Iya, Embun! Di mana Pe sekarang? biar aku yang menolongnya, kita bagi tugas!" kata Guntur yang merasa harus bertanggung jawab oleh kekacaun yang ditimbulkannya.
"Aku tidak tau keberadaan Pelangi. Yang penting, kalian keluar dulu dari penjara ini," sahut Embun. Sejurus, dia pun berhasil membuka pintu itu.
"Terima kasih," kata Guntur. Embun tidak menjawab karena terburu buru ingin kembali lagi ke Gerhana yang ditinggalnya.
"Mau kemana, Kak?" tanya Erlan.
Lantas membuat Embun berhenti lalu menyahut, "Aku diruang medis, lagi membeda Gerhana. Kalian menyebarlah, mana tau dipenjara ini ada Mommy-mu juga." Embung menatap Guntur ketika mengatakan Mommy-mu.
"Baiklah! hati hati, Embun!" seru Guntur yang tidak mau Embun pun dalam keadaan bahaya.
"Eum." Setelah menjawab singkat, Embun pun kembali berjalan menuju keruangan Gerhana.
Erlan dan Guntur pun berpisah dengan niat berbeda. Guntur ingin mencari Mommy-nya serta Pe sekaligus yang dikiranya Pe masih ada di dalam sekapan Matin.
__ADS_1
...****...
"Yuhuuuuu!"
Sreeettt... Srreet...
Aaaarghhhh...
Vay, sangat menikmati olahraga malamnya yang sedang berkolaborasi bersama Petir. Keduanya berada diposisi utara. Ujung katana mereka pun sudah dilumuri darah korbannya.
Diakui ke-duanya, kalau anak buah Matin dan Jerry sangat banyak dengan bela diri cukup terlatih.
Tetapi, sorry dorry strawberry....kata Vay. Dia dan Petir juga teman kompak untuk membantai musuh.
Seperti kinciran, tangan kiri Vay telah diputar oleh Petir, dengan tangan kanan Vay sedang memasang tajamnya katana itu. Hingga, semua musuh yang bodoh karena maju, auto mati mengenaskan walaupun hanya terkena segoresan saja, karena semua senjata The Kurcil berikut anak buahnya sudah diberi racun khusus racikan Pelangi.
"Inilah arti keseruan sesungguhnya," seru Vay yang sudah terlepas dari putaran reflek yang dilakukan seenak jidat Petir.
"Dan aku suka melihat cara mu berputar, sangat seksi!" Kemesuman Petir tidak tahu situasi dalam menggoda Vay.
Vay yang mendengar untaian frontal Petir. Seketika menendang keras tulang kering Petir, hingga anak Senja itu meringis aww...
"Rasakan, kalau tau kamu masih jahil menggoda tak kenal waktu dan tempat, aku lebih memilih Twins yang menjadi rekanku. Daripada bersama mu yang jelek banget. Tidak ada bagus bagusnya jadi manusia."
Setelah berketus ria, Vay pun melangkah maju yang didepan sana, anak buahnya serta mafioso Matin sedang beradu otot. Petir yang mengekor malah cengengesan diberi kata kata sarkas Vay, namun karena sudah cinta... kesarkasan itu terdengar pujian indah...Taiii ayam pun tercium harum. Cacat logika.
Booommm....
Di sisi Ama, ratu Bill Of Material itu, senang sekali melempar bomnya ke arah gerombolan yang akan maju menantangnya.
"Haiss, Ama! lihatlah... ujung katana kami masih bersih. Menyebalkan sekali kamu ya!"
Angkasa, dia malah protes karena Ama tidak memberi kesempatan baginya dan Bhumi untuk senggol bacok karena ledakan Ama yang sudah membunuh musuh duluan.
"Hehehe, mending kalian tidur saja gih," seloroh Ama seraya kembali melempar bomnya ke arah musuh yang tidak ada habis habisnya, datang terus dari arah markas yang memang belum berhasil masuk ke markas Matin.
__ADS_1
"Ck," decih Bhumi. Dalam hati Twins, keduanya menyesal sudah berkolaborasi dengan Ama. Sebiji keringat pun tidak ada yang menetes dari pori porinya. Begitu pun anak buah nya yang hanya mengekor bak rombongan yang tidak berguna. Itu karena Ama lah yang bekerja terus dengan hanya mplung bom.