
Ting...
"Video?" lirih Vay bersuara sendiri di hadapan layarnya. Padahal saat ini, Kurcil, Dibi dan Gerhana pun, sedang membahas tentang siapa musuh yang sebenarnya mereka hadapi.
Guntur kah? atau orang lain? Itulah yang menjadi perdebatan Topan cs diruangan itu.
"Penasaran, isinya apa ya?" Vay memberanikan membuka video tersebut diantara diskusi mereka.
Deg...
Mata, mulut melongo serta semua mimik air muka Vay saat ini merespon terkesiap.
Tanpa berkata apa-apa karena lidah nya keluh seketika, Vay menyambungkan video tersebut ke layar proyektor.
"Vay, kita sedang membahas yang penting, kenapa becanda dengan memutar video___" Petir yang ingin melerai Vay, terjeda. Ketika video itu mulai berputar.
Deg...
"Pelangi...." kompak mereka terkejut. Di awal video, mata mereka disuguhkan Pelangi yang berdiri dalam keterbelengguannya akan sebuah rantai.
Ruangan hening seketika, Vay sengaja menjeda video yang belum memperlihatkan kekejian mereka terhadap Pelangi. Lantas, mata tanda tanya sang rekan telah menghardiknya.
"Kuatkan mata, hati dan jantung kalian," warning Vay dengan suara getarnya. Dia sudah melihat separuh isi video tersebut, hingga membuat perasaannya sudah kacau. Entah bagaimana reaksi si Triplets dan Twins bila sudah melihatnya? Vay yakin... Sebagai saudara kandung, hati mereka pasti akan terenyuh sakit.
"Lanjutkan," titah Topan dan Badai kompak. Jangan ditanya air muka si kembar lagi, sudah mengeras marah. Padahal baru awal video.
"Baiklah!" ujar Vay kembali menekan tombol K sebagai putar/jeda video itu.
Video pun berlanjut, memperlihatkan kekerasan Jerry yang telah menampar keras pipi Pelangi. Dan adegan itu mampu membuat Kurcil, Dibi dan Gerhana mengumpat kasar ke Jerry.
Anji**!!!! Itulah umapatan mereka.
Adegan demi adegan video itu berputar, selalu disertai lolongan memilukan dari semua yang menontonnya. Badai dan Topan sampai menangis tanpa suara, air mata itu reflek jatuh. Tidak kuat melihat kembarannya dicambuk membabi buta.
Twins sudah menangis dengan saling berpelukan.
Bukan hanya si kembar yang mengeluarkan air mata, semuanya pun demikian, iba melihat Pe disakiti.
__ADS_1
"Aaaarghhhh...."
Saat Pelangi melolong keras di video itu, Topan dan Badai kompak menjerit pula. Seakan-akan, keduanya merasakan kesakitan yang dialami kembarannya.
Topan yang tidak pernah menangis seumur hidupnya didepan orang lain, saat ini sudah meraung raung dengan tangan terus meninju ninju tembok. Dia ingin sekali membunuh wanita sialan yang sudah berani melukai adik tersayangnya.
Hati Topan dan Badai saat ini bak disayat sayat oleh pisau tumpul. Sakit, tetapi tak kunjung berdarah.
Seinci kulit Pe adalah emas bagiku, sementara kalian begitu berani melukainya. Darah Topan bak air rebus yang mendidih luber di atas kompor saat ini.
Badai sendiri sesekali membenturkan kepalanya ke meja meeting besar yang terbuat dari kayu berkualitas. Emosinya sama saja sudah senggol bacok.
Tidak ada yang melerai si Triplets untuk berhenti bertingkah melukai fisik sendiri, karena jujur, kepala orang orang di ruangan itu juga sama saja melampiaskan kemarahannya dengan cara menggebrak meja yang ada dihadapan mereka.
Gerhana ngeri sendiri melihat kemarahan tertahan orang-orang disekitarnya.
"Cukup!" Vay kembali menekan tombol K untuk menjeda video yang belum habis. Dia tidak kuat untuk menyaksikan kekerasan terhadap Pe.
"Jangan di jeda, lanjutkan! biarkan mataku diberi percikan cabe. Netra ku ingin merekam cara mereka melukai adikku," seru Topan melarang Vay untuk mematikan video. Sanggup tidak sanggup, dia harus melihat itu semuanya.
Vay mau tidak mau juga kembali memutar video itu, sampai detik detik Pe membenturkan kepalanya ke wajah Belen dan berakhir Pe kembali lagi dicambuk hingga tidak sadarkan diri.
"Topan!" seru semuanya. Gerhana ingin meraih tangan itu bermaksud mau mengobati, tertahan oleh penolakan Topan.
"Jangan! biarkan berdarah." Dingin Topan merasa tidak sakit apapun, padahal darah segar sudah menetes amat deras. "Aku bersumpah akan membalas mereka dengan cara lebih sadis," janjinya berkata dengan bola mata memerah sangat marah.
"Kalau ini infeksi, maka siapa yang akan menolong adik mu?" Gerhana pun keras kepala ingin membalut luka itu. Dan akhirnya, Topan pasrah saja dengan tatapan nanarnya ke darah segarnya.
"Vay, lacak titik pengirim video itu." Dibi mentitah setelah menetralkan perasaan cemasnya ke Pe.
"Tanpa kak Dibi pinta pun, aku sudah mencobanya. Tetapi mereka juga pintar kak, mereka sengaja mengirimkannya di tempat umum. Lihatlah, ini adalah bangunan pusat perbelanjaan. Dan sialnya, musuh langsung merusak jaringan elektronik yang mereka gunakan___" Ting... "Eh, ada panggilan video, apakah mereka?"
" Cepat terima dan sambungkan ke layar proyektor," pinta Ama.
Topan yang di obati tangannya oleh Gerhana pun tidak sabaran, begitu juga lainnya yang sudah sangat ingin berperang detik ini juga.
Vay menerimanya dan benar adanya, terlihat Matin dan Jerry lah yang terlihat tersenyum jahat di layar proyektor itu.
__ADS_1
" Halo The Kurcil!" sapa Jerry dengan nada mengejek.
"Bagaimana video kiriman kami, seru bukan?" tanya Matin. " Pastinya!" ujarnya kemudian.
Jangan ditanya, Kurcil dan Dibi... mereka ingin sekali meremuk redamkan dua orang itu.
" Katakan, apa mau kalian?" tanya Topan, sengit. Gigi itu terdengar beradu saking marahnya.
Secepatnya, jari jemari Vay segera mencoba meretas titik lokasi Jerry dan Matin. "Ajak mereka berbicara lebih lama," lirih Vay berbisik di telinga Petir yang berada didekatnya.
"Eum," sahut Petir berdehem kecil.
" Mau kami?" ulang Matin. " oh, ayolah! kalian bukanlah orang orang yang lola. Tentu saja kami menginginkan chip milik kalian." kata Matin dengan nada menyebalkan bagi Kurcil dengar. Mata Matin dan Jerry pun seketika menatap Gerhana yang duduk di dekat Topan. Dua pria itu menginginkan Gerhana.
"Jangan harap!" tolak Petir.
"Adanya, yang akan kalian dapatkan adalah neraka." Ama menimpali.
"Kalian tidak akan selamat dari kami," sambung Guruh.
"Mari berperang pria tua!" Twins kompak bersuara.
"Hanya banci-lah yang bermain kucing-kucingan." Lautan tak kalah sinis. Dia sampai menodongkan senjatanya ke layar. Dan itu malah membuat Jerry dan Matin tertawa ejek.
Dibi dan Badai tidak bersuara karena lebih memilih menyimpan tenaganya buat nanti.
" Straight to the point, Kurcil! kami ingin anak Xian. Sebagai gantinya.... ambilah wanita tersayang kalian." Jerry sudah muak dengan kata kata bocah di seberang layarnya, hingga menyampaikan niatnya. Selain ingin memiliki chip itu yang masih tertanam di dalam tubuh Gerhana, dia juga ingin membawa Gerhana untuk dipersembahkan kepada Xian yang masih ditahannya sampai saat ini. Jerry ingin menyiksa Xian melalui Gerhana.
Xian? mendengar itu, Gerhana terpaku. Mata orang orang pun menatapnya kompak.
"Kenapa aku? apakah aku punya salah kepada kalian?" bingung Gerhana bertanya ke Jerry dan Matin.
" Hahahaha, kamu tidak punya masalah apapun kepada kami, Nona cantik. Tetapi di dalam tubuh mu ada chip kecil yang kami incar sejak dulu," sahut Matin.
Lantas membuat Gerhana terkejut bukan main. Ternyata itulah penyebab orang orang menjadikannya sebagai buronan dari para penjahat? Dan Topan, itulah pula alasannya hingga menjaga diri nya amat ketat?
Saat ini, banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang muncul di otak lemot Gerhana. Dia speechless sendiri tidak bisa berkata apapun tentang kenyataan yang baru dia ketahui.
__ADS_1
Seperkian detik, tidak ada yang mampu menjawab permintaan musuh. Gerhana pun diam, dia ingin mendengar apa keputusan Topan yang terlihat dilema besar. Antara cinta kekasihnya, atau kasih sayang besar pada adik tercintanya. Topan tidak bisa memilih itu. Seakan-akan, dia sedang makan buah simalakama.